Sabtu, 30 Desember 2017

Musim Semi di Akhir Tahun


Saya bersyukur akhir tahun saya diisi dengan bunga-bunga yang tiba-tiba tumbuh dengan indah, dan perasaan melayang-layang di udara. Haha, menyenangkan sekali kan? Iya, tapi saya sadar perasaan seperti itu tidak akan lama, karena itu hanyalah fase awal jatuh cinta. Selanjutnya? Bunga-bunga itu bisa layu karena tidak disiram, kemudian setelah merasa senang karena melayang-layang saya jatuh dan merasakan sakit karena tidak ada seseorang yang menangkap, atau setidaknya jatuh bersama saya. Kalau sudah begitu, saya hanya berharap akan turun hujan agar bunga-bunga yang sudah tumbuh itu tidak mati, dan tempat jatuh saya adalah danau dengan air yang segar dan tidak ada binatang buas atau kasur yang empuk agar saya tidak terlalu sakit saat mendarat. Kalaupun bunganya harus mati dan saya merasakan sakit sendirian karena terjatuh ya tidak apa-apa. Lagi pula siapa tahu ini hanya perasaan sesaat.

Dari pada memikirkan akhir dari cerita berbunga-bunga ini, saya memilih menikmati saja apa yang sedang terjadi, sensasi menyenangkan dari fase ini. Lagi pula, kemarin-kemarin saya sempat mempunyai keinginan untuk bisa merasakan jatuh cinta lagi meski setelah jatuh cinta seringkali tidak tahu harus melakukan apa. Oh iya, harusnya sih sebelum mengakui kalau jatuh cinta, biasanya orang akan mengalami fase denial. Menyangkal perasaan sendiri, padahal sudah terjadi. Nah, sepertinya saya sudah lama tidak melalui fase denial saat jatuh cinta. Mungkin seiring berjalannya waktu saya bisa lebih jujur kepada diri sendiri, jujur pada perasaan sendiri. Bagi saya tidak terlalu susah menerima perasaan sendiri tanpa takut akan merasa kecewa karena terlalu banyak berharap.

Karena saya senang mendengarkan musik, salah satu hal yang menjadi kebiasaan saya saat jatuh cinta adalah mendengarkan lagu-lagu yang berkaitan dengan jatuh cinta agar lebih menjiwai, hehe. Berikut ini adalah daftar 9 lagu jatuh cinta saya:

Falling in Love at the Coffeeshop – Landon Pigg
Maybe I Love You – Lenka
Smile – Uncle Kracker
Insomniac – Craig David
Perfect Two – Auburn
Take My Heart – Soko
Nothing Like You and I – The Perishers
When Will I See Your Face Again – Jamie Scott
To Be With You – The Honey Trees

Ada banyak lagu lain sebenarnya, tapi saya tulis 9 saja. Jangan lupa juga, jatuh bersama atau sendiri rasanya akan tetap sakit sih. Meskipun kalau jatuhnya bersama setidaknya ada yang menemani dan bisa saling mengobati. Kalau jatuhnya sendirian, nanti obati sendiri saja deh. Kalau ini hanya perasaan sesaat brarti saya tidak akan mengalami pendaratan yang menyakitkan, semua akan hilang begitu saja secara otomatis, tapi tidak apa-apa kan jika tetap disebut dengan jatuh cinta? Jatuh yang tidak sakit karena sebelum mendarat tiba-tiba saya sadar dan ingat bahwa saya punya sayap, hehe. Mau perasaan sesaat atau tidak, jatuh cinta tetap merupakan sesuatu yang perlu disyukuri, jadi ya nikmati saja selagi berbunga.

Selasa, 26 Desember 2017

Satu Teman

Setelah mengisolasi diri beberapa bulan belakangan ini karena kecewa pada banyak hal, saya pikir saya telah kembali ke diri saya yang biasanya. Saya sempat merasa hampa alias tidak merasa apa-apa, menjadi seperti seseorang yang tanpa gairah. Malas melakukan banyak hal termasuk mengobrol dengan teman. Tetap makan, minum, mandi, kerja, tidur, itu juga rasanya seperti robot yang telah diprogram, semua seperti otomatis saja, tanpa rasa. Meskipun begitu, saya tetap berusaha ada ketika ada orang lain yang memerlukan bantuan saya. Berusaha tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri.

Sekarang saya kembali mengobrol dengan orang-orang, menyapa teman lama, dan sebagainya. Saya kembali menikmati hidup, tidak lagi hanya mendengarkan musik yang melankolis saja, tapi juga musik-musik favorit saya yang lain seperti biasa, menonton film dan menjiwai jalan ceritanya, tertawa saat ada yang lucu, menangis saat ada yang menyedihkan dan ikut merasa khawatir saat tokoh di dalam film mengalami masa kritis dan sebagainya. Melegakan bahwa perasaan saya kembali bekerja dengan baik. 

Dari dulu saya selalu merasa membutuhkan teman meskipun saya bisa menerima jika tak ada seorangpun yang menemani saya ketika saya membutuhkan. Maka dari itu saya berusaha untuk selalu menghargai kebersamaan bersama teman, karena itu adalah hal yang tidak dapat diulang, karena menurut saya semua hal hanya terjadi satu kali. Di lain waktu semuanya akan berbeda, padahal lain waktu itu juga belum tentu ada. Hal-hal yang direncanakan saja bisa batal apalagi yang tidak. 

Saya berusaha tidak melewatkan kebersamaan dengan teman-teman. Jika ada ajakan bertemu sebisa mungkin saya datang, meski mungkin saya sedang malas. Karena saya berpikir, ada waktu-waktu ketika saya butuh mereka padahal mereka sedang ingin sendiri misalnya. Sedih juga ketika saya butuh teman tapi tak satupun teman ada bersama saya. Karena itu saya tidak ingin membuat teman saya merasa sedih jika saya tidak menemaninya ketika dia memerlukan kehadiran saya. Hubungan yang baik perlu dipelihara, pertemuan perlu diusahakan.

Kadang kita hanya butuh satu teman yang pas. Satu teman di mana kita bisa saling percaya, merasa nyaman setiap kali berbagi cerita dan mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Saya punya beberapa teman yang pas, tapi mereka tidak selalu ada. Kadang ketika kita merasa butuh, yang kita butuhkan tidak ada, dan sebaliknya. Hal semacam itu biasa terjadi karena memang bukan hanya saya yang hidup dan mempunyai urusan di dunia ini, teman-teman saya pun. Saya hanya berharap setidaknya ada satu saja teman yang pas yang sering (meski tidak selalu) ada untuk saya dan sebaliknya.

Jumat, 15 Desember 2017

A Letter to You


Hi, do you hear me? How are you, I hope everything is fine. In case you wanna know how my life goes, it’s sucks, you know? I keep fighting against my inner self. Actually I really want to tell you that my life is fine and I’m happy, but that’s a lie. You know very well that I don’t like when people lie. So, I have to remain an honest person.

For some time I thought that I won’t ever feel like craving to talk to you. I feel happy then. I feel living in peace. Well, I was wrong. I still want to go back to the time when I was with you. Even though I have a reason not to talk to you again, the desire still exist. I hate this. I mean, I keep saying to myself that you’re not that good, you’re sucks. We even have different points of view in some ways. I keep on thinking the bad things about you, but I realize that you have more good things.

I keep talking to you even if you’re not there. I feel better everytime I did that. You know, I can’t find someone like you. Well, I don’t even searching for another one actually. I don’t believe there’s the same two people in this universe. But it doesn’t matter. Really. It's no longer a problem now, because I've written it down. I hope this kind of feeling towards you will not come back again. But, if sometimes you feel like talking to me too, please let me know. We’re friends, we can heal each other.

Rabu, 06 Desember 2017

Semut-Semut di dalam Sepatu

Tadi pagi saya menemukan sepatu saya penuh dengan semut, lengkap dengan telur-telurnya, padahal sepatunya saya pakai juga kemarin dan semut-semut itu belum ada. Sepertinya mereka baru pindahan tadi malam. Saya baru menyadarinya saat sudah memakainya, serombongan semut berwarna coklat berukuran agak besar, keluar dari sepatu yang saya pakai. Dengan segera saya melepaskan sepatu saya, dan di kaus kaki saya sudah menempel telur-telur semut berwarna putih. Saat saya menumpahkan isi sepatu saya, di dalamnya lebih banyak lagi telur dan semut-semutnya. Bentuknya mirip semut rangrang tapi ukurannya lebih kecil dan warnanya lebih gelap.

Barangkali semut-semut itu sedang mencari rumah baru, kemudian menemukan sepatu saya sebagai tempat yang nyaman. Sayangnya mereka tidak tahu kalau sepatu itu masih saya pakai hampir setiap hari. Seharusnya mereka melakukan observasi dulu sebelum memutuskan untuk pindah ke dalam sepatu. Jika mereka bisa bahasa manusia, mereka bisa bertanya, “Hai Manusia, siapakah pemilik sepatu ini? Apakah pemiliknya masih memakainya? Jika tidak, bolehkah kami memanfaatkannya sebagai rumah kami?”. Tapi karena semut dan manusia tidak dapat berkomunikasi secara verbal, mau tidak mau semut harus mengamati apakah calon rumah baru mereka adalah tempat yang aman? Mungkin saja semut-semutnya sudah melakukan pengamatan, tapi sayangnya terlalu cepat membuat kesimpulan. Kalau menurut saya sendiri sebagai manusia, tinggal di dalam sepatu yang diletakkan di rak repatu jelas tidak aman sama sekali. Tapi semut-semut menganggap bahwa sepatu yang diletakkan semalaman adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat yang aman.

Ada juga jenis manusia yang seperti semut-semut itu, maksudnya jenis yang suka menganggap barang yang sedang diletakkan adalah sesuatu yang tidak berguna. Merasa menemukan sesuatu kemudian memutuskan untuk memilikinya tanpa mencari informasi tentang sesuatu itu. Misalnya tetangga yang mengambil begitu saja sesuatu yang diletakkan di pekarangan rumah, dia berpikir sesuatu itu diletakkan di situ karena tidak dipakai sehingga dia merasa berhak mengambilnya. Pernah juga ada kerabat yang melihat vespa di rumah jarang dipakai sehingga menganggap itu adalah barang yang bisa diminta begitu saja karena menurut dia sudah tidak dipakai, atau sepupu yang melihat di rumah saya ada dua gitar sehingga dia ingin memiliki salah satunya. Maksud saya begini, jika sesuatu itu diletakkan di area rumah, maka sudah pasti ada pemiliknya, entah orang yang menghuni rumah tersebut, atau orang yang kenal dengan penghuni rumah tersebut. Harusnya mereka tahu itu, mereka kan manusia, bukan semut. Sesuatu yang diletakkan di pinggir jalan saja sudah pasti ada pemiliknya, apalagi di rumah.

Mereka tentu boleh mempunyai keinginan memiliki jika mereka tertarik, tentunya dengan terlebih dulu meminta izin kepada pemiliknya. Mereka bisa berkomunikasi secara verbal. Apa susahnya memulai dengan pertanyaan sopan seperti menanyakan siapa pemilik benda itu, atau adakah rencana untuk menjual atau memberikannya kepada seseorang. Kalau menurut saya jika sesuatu masih disimpan, artinya pemiliknya masih membutuhkannya, baik secara fungsi maupun sebagai benda koleksi. Jika tidak pasti benda itu sudah diberikan kepada orang lain atau dibuang ke tempat sampah. Lagi pula jika masih disimpan meski tidak digunakan, siapa tahu karena pemiliknya mempunyai kenangan khusus dengan benda itu. Jadi bukan berarti bisa diambil atau diminta begitu saja.

Saya tidak bermaksud menyamakan manusia dengan semut, tapi kejadian pagi ini mengenai semut dan sepatu jadi mengingatkan saya tentang perilaku beberapa manusia. Tapi semut-semut tadi tidak bersalah, mereka hanya berusaha mencari tempat yang aman untuk tinggal. Lagi pula, barangkali di dunia ini semakin susah bagi semut-semut itu untuk mencari tempat berlindung yang alami. Akhirnya tadi saya memutuskan menggunakan sepatu saya yang lain. Sepatu yang sempat menjadi sarang semut itu saya bersihkan lalu saya jemur di bawah sinar matahari. Sebelum pergi, saya menaruh kapur barus di beberapa sepatu saya yang lain, sebagai tanda bahwa sepatu-sepatu itu ada pemiliknya agar komunitas semut atau serangga-serangga lain tidak berpikir untuk menjadikan sepatu-sepatu itu rumah mereka, sehingga mereka tidak perlu diusir secara paksa karena kepanikan saya. Maaf ya semut-semut.

Jumat, 20 Oktober 2017

Tulisan Lelah

Seharian ini saya mendengarkan lagu Sisir Tanah berulang-ulang, judulnya Lagu Lelah. Saya menulis tulisan ini juga dengan diiringi lagu tersebut. Entah mengapa saya sedang merasa amat lelah sehingga mendengarkan lagu tersebut menjadi semacam usaha untuk menenangkan diri saya sendiri. Berpikir bahwa tentu saya bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang merasa tidak berguna dan merasa lelah dengan kehidupan.
 
Ini bukan kali pertama saya menulis dan bercerita bahwa saya merasa kurang bersemangat dalam hidup. Saya pikir barangkali hal ini merupakan siklus alami, bahwa manusia akan terus mengalami perasaan-perasaan tertentu karena sebab-sebab tertentu. Meskipun rasanya tidak nyaman, tapi saya merasa bahwa saya tidak mempunyai pilihan lain selain menjalaninya. Saya hanya perlu melewatinya dengan baik sebisa saya.

Karena lelah, tentu yang saya perlukan adalah beristirahat, bisa dengan tidur, menangis untuk melepaskan beban, atau hal lain yang dapat membuat saya merasa tenang seperti mendengarkan musik, menulis, menggambar, membaca buku, melakukan perjalanan, ataupun mengobrol dengan teman. Manusia akan terus mengalami kehilangan dan kekecewaan, dengan diselingi kebahagiaan di antaranya. Saya terus memelihara pikiran bahwa tidak mungkin sesuatu berada di tempatnya tanpa memberi manfaat pada sekitarnya.

Sebelum menulis ini saya juga bercerita pada seorang teman. Kami jarang bertemu, tidak tinggal di kota yang sama tapi masih saling menyapa. Saya senang kami masih berkomunikasi satu sama lain. Seringkali sulit rasanya menemukan seseorang yang mau dan mampu mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak pernah pergi. Meski saya hanya bercerita dan teman saya hanya mendengarkan, tapi hal itu dapat melegakan perasaan. Terima kasih.

*Lagu Lelah dari Sisir Tanah bisa didengarkan di sini. Judul tulisan ini juga terinspirasi dari judul lagu tersebut.

Kamis, 28 September 2017

Naik Kereta Api, Dulu, Kini, dan Nanti

Saat ini kereta api bisa dikatakan sebagai alat transportasi umum pilihan bagi kebanyakan orang. Terbukti dari bagaimana susahnya mendapatkan tiket kereta jika sudah terlalu mepet dengan hari keberangkatan, apalagi di musim liburan. Bahkan PT. Kereta Api Indonesia seringkali harus menambah gerbong untuk menampung lonjakan penumpang, terutama pada libur Lebaran dan libur akhir tahun. Ada banyak alasan mengapa orang lebih memilih kereta api dibanding transportasi umum lainnya. Misalnya seperti harga tiket yang relatif terjangkau dan proses pembelian yang mudah, jadwal keberangkatan yang tepat waktu, ruang tunggu yang nyaman serta berbagai macam fasilitas lain yang bisa didapatkan di dalam kereta maupun stasiun kereta.

Stasiun kereta juga merupakan tempat yang sering meninggalkan kesan sendiri. Banyak pertemuan dan perpisahan terjadi di stasiun kereta. Dulu ketika saya masih kecil, saya ingat pernah mengantarkan saudara saya ke stasiun untuk pulang ke kotanya. Para pengantar pada saat itu masih bisa mengantar hingga penumpang memasuki kereta, bahkan masih bisa melambaikan tangan dari jendela. Saya pun melakukan hal tersebut, melambaikan tangan melepas keberangkatan saudara saya hingga kereta menjauh dan tak terlihat lagi. Di beberapa film, hal tersebut sering menjadi adegan yang dramatis. Dulu saya juga pernah bepergian menggunakan kereta dan tidak mendapatkan tempat duduk padahal kami sudah membeli tiket. Kereta begitu penuh sehingga waktu itu saya dan beberapa saudara harus berada di sambungan antar gerbong di dekat pintu. Ketika dewasa, saya baru sadar bahwa itu adalah hal yang berbahaya.

Kini setiap kali melakukan perjalanan menggunakan kereta, tempat duduk favorit saya adalah persis di samping jendela, apalagi jika jendelanya bersih dan berukuran luas. Banyak hal yang dapat dilihat melalui jendela tersebut, pemandangan yang selalu berganti, dari sekelebat aktivitas orang-orang di pemukiman penduduk perkotaan yang padat, suasana pedesaan, sawah, perkebunan, perbukitan, hingga lautan. Jika cuaca sedang bagus, langit berwarna biru cerah menambah pemandangan menjadi lebih indah. Jika sedang musim hujan, titik-titik air yang membasahi jendela juga merupakan hal yang menarik untuk diamati sambil mendengarkan musik. Menempuh perjalanan jauh dengan duduk di dalam kereta menjadi tidak membosankan karena ada banyak hal yang bisa dilakukan, selain melihat pemandangan dan mendengarkan musik, kita juga bisa mengobrol dengan penumpang lain atau membaca buku. Jalur rel kereta yang selalu mulus dan tidak pernah bergelombang atau tiba-tiba melewati jalan yang berlubang seperti ketika menggunakan transportasi darat lainnya juga menambah kenyamanan saat naik kereta.

Banyak orang dan segala aktivitasnya bisa dilihat di stasiun kereta, mereka dengan tujuannya masing-masing ketika datang ke stasiun kereta, mereka yang sedang menunggu kereta datang, mereka yang terburu-buru karena kereta hampir berangkat, orang-orang yang menjemput keluarga atau kerabat, para petugas yang sedang bekerja, orang-orang yang menjual makanan dan minuman, juga para pekerja transportasi lain yang setia menunggu para penumpang di pintu kedatangan. Selain suara orang-orang yang berlalu lalang, saat sedang duduk-duduk menunggu kereta di ruang tunggu, kita pasti sering mendengar semacam bunyi lonceng yang diperdengarkan untuk menandai datangnya kereta, nada yang umum digunakan adalah melodi Westminster Chimes. Seringkali rasanya belum lengkap jika pergi ke stasiun kereta tapi belum mendengarnya. Di beberapa stasiun kereta di Indonesia, nada ini diganti dengan nada lagu daerah, seperti nada lagu ‘Gambang Semarang’ yang ada di Stasiun Semarang Tawang, melodi lagu ‘Di Tepi Sungai Serayu’ di stasiun Purwokerto dan Kroya, juga nada lagu ‘Warung Pojok’ di stasiun Cirebon Kejaksaan. Sangat khas dan memberi kesan tersendiri bagi para penumpang yang mendengarnya.

Di masa depan, kereta api bisa menjadi transportasi umum nomor satu yang yang anti macet dan menjadi pilihan banyak orang. Semua itu dapat dilakukan dengan memelihara secara baik aset yang dimiliki, menambah jalur kereta agar dapat menjangkau ke banyak daerah, menambah kecepatan sehingga dapat mempersingkat waktu tempuh, mengutamakan kenyamanan penumpang dengan pelayanan yang baik dan ramah, serta yang terutama menjaga kebersihan dan kerapian interior dan eksterior kereta dan stasiun kereta. Barangkali suatu hari nanti, kereta tidak hanya dapat digunakan sebagai sekadar alat transportasi, tapi juga menjadi hiburan tersendiri untuk menghilangkan rasa penat dari rutinitas sehari-hari. PT. Kereta Api Indonesia dapat menambah fasilitas hiburan selain perpustakaan, misalnya seperti café dengan live music, atau ruangan khusus seperti bioskop yang memutar film-film yang up to date, khususnya bagi kereta yang menempuh jarak jauh. Orang datang ke stasiun dan menumpang kereta tidak lagi hanya menganggap kereta sebagai alat transportasi semata tapi juga untuk menikmati suasana yang nyaman dan segala fasilitas yang ada di dalam kereta dan stasiun kereta. Menjadikan sebuah perjalanan dengan kereta sebagai pengalaman yang berkesan dan tidak mudah dilupakan.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Mengambil Jeda

mencoba untuk tidak
menginginkan benda-benda
mengharapkan apa-apa
merindukan siapa-siapa
memikirkan segala

dan tetap merasa hidup

Senin, 21 Agustus 2017

Lalu Lalang Pikiran

Ini hari apa dan tanggal berapa, aku tidak tahu dan tidak peduli. Aku tidak sedang menunggu apapun atau siapapun. Aku lapar tapi tak ingin makan. Sebotol air mineral sudah kuhabiskan. Perutku kembung dan sekarang aku ingin pipis tapi malas berjalan ke kamar kecil. Menahan pipis tak baik untuk kesehatan, aku tahu.

Aku hanya sedang tak tahu apa yang kulakukan, aku bosan. Itu sesuatu yang wajar bukan? Di kepalaku banyak pikiran yang berlalu lalang. Aku berbicara pada diriku sendiri. Mungkin kau berpikir aku gila, tapi kalau iya memangnya kenapa? Aku kan tidak merugikan siapa-siapa. Lagi pula, jika aku mengajakmu berbicara memangnya kau mau mendengarkan?

Baiklah aku mengaku, aku merindukanmu meski aku tak tahu kau ada di mana. Barangkali percuma, tapi orang-orang bijak akan berkata, “semua pasti ada hikmahnya”. Aku hanya merindukanmu, bukan menunggumu. Aku sudah bilang kan, aku sedang tidak menunggu apapun atau siapapun. Aku benci harus merasakan hal seperti ini. Tapi apa boleh buat, harus kuterima meski berat.

Sambil mendengarkan musik aku melihat ke langit-langit. Aku pikir mungkin sudah waktunya aku pergi melihat langit yang sesungguhnya dari tempat yang tenang dan damai, langit yang ketika malam penuh bintang dan siangnya berwarna biru dan meneduhkan, kemudian di antaranya ada fajar dan senja yang menyimpan banyak cerita.

Minggu, 13 Agustus 2017

Jatuh Cinta pada Percakapan Pertama

Saya sering mendengar kalimat "Jatuh cinta pada pandangan pertama", dan saya pun pernah mengalaminya. Dulu, saat kuliah, entah bagaimana saya terpesona pada seorang senior di kampus. Dia berjalan di lorong sendirian dengan efek cahaya di belakangnya yang membuat adegan itu terlihat dramatis. Saya yang sedang duduk di ujung lorong takjub melihatnya dan barangkali dengan mulut sedikit menganga. Suasana mendadak senyap dan waktu berjalan lebih lambat. Aneh sekali rasanya mengalami sendiri adegan yang sering saya lihat di film-film. Sewaktu SMP saya juga pernah mengalaminya, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang kakak kelas, tapi saya tidak mengingat dengan jelas adegannya seperti yang saya ingat semasa kuliah.

Seiring berjalannya waktu, saya tak pernah lagi mengalami hal-hal semacam itu. Barangkali karena saya yang sekarang lebih tertarik pada cara berpikir seseorang ketimbang penampilan fisiknya. Cara berpikir seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia menanggapi suatu obrolan, pendapatnya tentang suatu gagasan dan lain sebagainya. Saya pun mengalaminya beberapa kali dan senang bisa jatuh cinta pada seseorang dari percakapan-percakapan yang kami lakukan. Tentu saya senang, perasaan jatuh cinta adalah sesuatu yang harus disyukuri bukan?

Tidak harus jatuh cinta pada percakapan pertama, tentu saja. Tapi jika itu terjadi, dan yang bersangkutan juga merasakan hal yang sama pasti akan sangat menyenangkan karena akan ada banyak percakapan selanjutnya yang barangkali akan membuat saya ketagihan.

Percakapan membangun keakraban

Percakapan menghilangkan kecanggungan
Percakapan memperkaya pengetahuan
Percakapan menyamarkan perasaan
Percakapan menyembunyikan kesedihan

Percakapan menumbuhkan harapan
Percakapan melahirkan saling pengertian

Percakapan membawa kebahagiaan
Percakapan menunda perpisahan


Saya pikir jika dua orang sudah teramat dekat, percakapan tidak selalu terjadi dalam bentuk bahasa verbal. Adakalanya hanya duduk diam berdua rasanya sudah seperti mempercakapkan banyak hal.

Minggu, 30 Juli 2017

Dari Penantian Satu ke Penantian Lain

Awan Altocumulus yang saya foto di Kartasura 29 Juli 2017

Akhir pekan kemarin saya memutuskan untuk bepergian lagi. Tidak jauh, saya berkunjung ke tempat seorang teman di kota Klaten sekaligus mengembalikan sebuah benda yang saya pinjam dari teman saya yang lain yang juga tinggal di Klaten. Awalnya saya ragu untuk berangkat atau tidak, bisa kapan-kapan lagi pikir saya, tapi saya pikir lagi nanti di kesempatan lain barangkali saya, atau malah teman saya yang tak punya waktu. Lagi pula saya tidak ingin terlalu lama menyimpan barang yang saya pinjam. Akhirnya saya berangkat.

Hari sudah siang saat saya beranjak dari rumah, sekitar pukul satu. Saya tahu, perjalanan dengan angkutan umum bisa menghabiskan waktu lebih lama karena saya harus berpindah-pindah angkutan dan faktor lain seperti bus yang sering berhenti untuk penumpang lain yang akan turun atau naik, belum lagi saat angkutan tersebut melewati beberapa titik yang rawan kemacetan. Badan bus yang besar tentu tidak bisa lincah membelah jalanan yang padat merayap. Saya naik bus Jurusan Semarang-Solo. Kira-kira pukul dua, bus yang saya tumpangi mulai meninggalkan Semarang dan baru sampai di Kartasura pada pukul setengah lima.

Saya berjalan kaki dari tempat saya turun dari bus Semarang-Solo menuju ke tempat pemberhentian bus ke arah Yogyakarta. Memang tidak ada bus yang langsung ke arah Klaten dari Semarang. Saya senang berjalan kaki, terutama pada pagi dan sore hari. Berjalan kaki memungkinkan kita untuk melihat lebih jelas keadaan suatu daerah. Saya pikir ini juga salah satu alasan saya senang mendaki. Saya tidak banyak memiliki aktivitas berjalan kaki karena setiap hari saya mengendarai sepeda motor. Kadang saya sengaja berangkat kerja naik angkutan umum hanya agar bisa melakukan aktivitas berjalan kaki sambil menikmati suasana kota di pagi dan sore hari.

Saya menunggu bus Solo-Jogja sekitar satu jam lamanya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat menunggu, misalnya bermain ponsel seperti yang dilakukan oleh seorang laki-laki muda di sebelah kanan saya atau berjongkok sambil mengomel karena bus yang ditunggu tidak juga datang seperti yang dilakukan oleh perempuan muda di sebelah kiri saya. Tidak jauh dari situ ada seorang yang sedang mengobrol dengan teman yang mengantarnya, ada juga ibu-ibu yang menunggu dengan tenang. Saya memilih mengamati mereka semua sambil sesekali melihat ke arah langit dan berkali-kali mengarahkan mata saya ke kelokan di mana bus yang saya tunggu akan muncul.

Saya selalu senang melihat ke arah langit, selalu membuat saya merasa tenang. Tiba-tiba ada yang melintas di pikiran saya pada saat itu, tentang penantian. Bahwa barangkali hidup ini memang terdiri dari penantian-penantian. Kita selalu menanti sesuatu yang kita inginkan, atau sesuatu yang kita pikir akan datang. Kita semua sedang menanti sesuatu, meski tidak semua merasa sedang menanti. Ada yang menanti dengan cemas, ada yang menanti sambil melakukan sesuatu yang lain sehingga tidak terasa sedang menanti. Kira-kira lebih dari satu jam kemudian, bus yang kami tunggu akhirnya datang, orang-orang langsung menyerbu masuk ke dalam bus itu. Saya pun masuk dan mendapat tempat duduk kemudian melanjutkan perjalanan dan kembali melakukan aktivitas menanti di dalam bus.

Kamis, 27 Juli 2017

Gerimis Rindu

Hari ini saya bangun lebih pagi, mengendarai motor menuju salah satu tempat wisata di Semarang. Ada acara Gerakan Sadar Wisata yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata yang saya ikuti. Langit berwarna putih pucat dan redup ketika saya keluar dari rumah. Saya tidak berpikir hari ini akan hujan, barangkali hanya berawan, pikir saya.

Hari perlahan menuju siang, langit masih berwarna putih, matahari muncul sebentar, kemudian bersembunyi lagi di balik awan. Sama sekali tak ada warna biru di langit hari ini. Gerimis kemudian datang, jarang-jarang. Acara tetap berjalan. Saya mengikutinya sampai selesai. Banyak teman-teman pegiat wisata di sana.

Hari hampir sore ketika saya pulang, kembali ke tempat kerja. Gerimis turun sedikit lebih banyak, saya bergegas meninggalkan tempat itu. Saya tidak memakai mantel hujan. Perlahan jalanan menjadi basah. Angin berembus dengan pelan, terasa sejuk. Mengingatkan saya pada perjalanan menuju pendakian. Kalau saya ingat-ingat lagi saya memang lebih sering mendaki pada hari-hari hujan dari pada saat kemarau, mungkin itu sebabnya.

Mengingat bukan berarti merindukan, tapi ingatan tentang jalanan yang basah karena hujan dan angin yang berembus perlahan kali ini membuat saya merasa rindu. Hai kamu, sampai bertemu!