Selasa, 25 November 2014

Waktu Singkat

Terakhir kita bertemu, aku menyesal waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya aku bisa memperlambatnya. Maksudku, aku bisa saja mencari alasan untuk bersamamu lebih lama. Harusnya aku mengajakmu menemaniku makan saat itu, karena sebelumnya perutku lapar sekali. Lagi pula langit sedang gerimis, pasti suasana akan terasa romantis. Tapi saat kita berjalan berdua di waktu yang singkat itu, aku tak ingat kalau aku sedang sangat lapar. Aku bahkan tak ingat untuk meminta nomor teleponmu. Aku juga tak memperhatikan ekspresi wajahmu. Rasanya aku tak peduli apapun saat itu, karena terlalu menikmati momen itu. Untuk sesaat aku lupa diri. Sampai saat aku menulis ini, waktu singkat itu sudah kuputar ulang berkali-kali.

Semarang, 2014

Di Pikiranku

Aku sering berpikir, membayangkan tanpa sengaja tiba-tiba bertemu denganmu di jalan saat kau sedang berjalan-jalan sendirian, lalu dengan spontan kita memutuskan untuk makan siang bersama. Sambil menunggu pesanan, kita akan mengobrol tentang banyak hal. Saat pesanan sudah datang, kita tetap mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Sampai tak terasa makanan kita sudah habis, kita tetap mengobrol, sambil tertawa-tawa bahagia. Senang sekali bertemu denganmu siang itu. Di Pikiranku.

Semarang, 2014

Selasa, 04 November 2014

Percakapan Malam-Malam

Kenapa malam?
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.

Kenapa malam?
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.

Kenapa malam?
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.

Kenapa malam?
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.

Kenapa malam?
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.

Kenapa malam?
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.

Kenapa malam?
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.

Kenapa malam?
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.


Semarang, 2014