Terakhir
kita bertemu, aku menyesal waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya aku bisa memperlambatnya. Maksudku, aku bisa saja mencari alasan untuk bersamamu lebih lama. Harusnya aku
mengajakmu menemaniku makan saat itu, karena sebelumnya perutku lapar sekali. Lagi
pula langit sedang gerimis, pasti suasana akan terasa romantis. Tapi saat kita
berjalan berdua di waktu yang singkat itu, aku tak ingat kalau aku sedang
sangat lapar. Aku bahkan tak ingat untuk meminta nomor teleponmu. Aku juga tak
memperhatikan ekspresi wajahmu. Rasanya aku tak peduli apapun saat itu, karena
terlalu menikmati momen itu. Untuk sesaat aku lupa diri. Sampai saat aku
menulis ini, waktu singkat itu sudah kuputar ulang berkali-kali.
Semarang, 2014
Selasa, 25 November 2014
Di Pikiranku
Aku sering berpikir, membayangkan tanpa sengaja tiba-tiba bertemu denganmu di
jalan saat kau sedang berjalan-jalan sendirian, lalu dengan spontan kita memutuskan untuk makan siang bersama. Sambil
menunggu pesanan, kita akan mengobrol tentang banyak hal. Saat pesanan sudah
datang, kita tetap mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Sampai tak
terasa makanan kita sudah habis, kita tetap mengobrol, sambil tertawa-tawa
bahagia. Senang sekali bertemu denganmu siang itu. Di Pikiranku.
Semarang, 2014
Semarang, 2014
Selasa, 04 November 2014
Percakapan Malam-Malam
Kenapa malam?
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.
Kenapa malam?
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.
Kenapa malam?
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.
Kenapa malam?
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.
Kenapa malam?
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.
Kenapa malam?
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.
Kenapa malam?
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.
Kenapa malam?
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.
Semarang, 2014
Langganan:
Komentar (Atom)