Senin, 22 Agustus 2022

Hai Kamu

Hai!

Tentunya aku sedang menyapa pembaca blog ini, termasuk aku sendiri (atau mungkin malah aku satu-satunya pembaca? Hehe). Aku kadang suka membaca tulisanku sendiri. Ada beragam perasaan ketika membaca ulang tulisan-tulisanku. Kadang merasa aneh, merasa tulisanku tidak penting, merasa senang, atau bahkan takjub dengan tulisan-tulisan sendiri. Kadang menggumam dalam hati, “Bisa-bisanya aku menulis seperti ini?” atau “Ga jelas banget deh tulisan ini!”. Begitulah. Beberapa tulisan-tulisan di sini memang kebanyakan ekspresi perasaan, puisi-puisian, cerpen, prosa, atau surat yang ditujukan untuk seseorang yang tidak bisa dijangkau lagi keberadaannya. Untuk yang terakhir aku sebutkan, tidak ada dendam atau apapun ya, aku cuma ingin menuang kata-kata untuk mereka di sini.

Hari ini sebenarnya aku ingin menulis tentang kekecewaan (lagi). Semoga kamu ga bosan ya? Haha. Tapi kalau dipikir-pikir aku yang bosan sebenarnya. Bosan merasakannya. Bisa ga pas merasa bahagia, dijadiin permanen saja perasaannya? Pertanyaan barusan sebenarnya sudah ada jawabannya di tulisan-tulisan sebelum ini. Ya kadang aku memang suka menanyakan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya, sebagai bentuk mengomel ke diri sendiri. Hehe.

Aku ga jadi menulis tentang kekecewaan deh, mau ngobrol sama kamu aja boleh? Kamu apa kabar? Gimana suasana hatimu hari ini? Lagi ada masalah ga? Sini cerita biar aku ga merasa jadi satu-satunya orang yang punya masalah. Hehe. Eh tapi, kalau kamu lagi bahagia juga boleh cerita lho, siapa tahu aku juga ikutan bahagia.

Ngomong-ngomong, semua orang berpotensi melakukan hal yang mengecewakan sih, termasuk aku dan kamu. Tapi ada hal yang menentukan kekecewaan itu akan menjadi sesuatu yang menjauhkan atau mendekatkan tergantung bagaimana kita menanganinya. Entah disengaja atau tidak, kita bisa membuat orang lain kecewa. Keadaan barangkali bisa menjadi lebih baik, jika kedua pihak secara sadar ingin memperbaikinya. Jika tidak ya mau tidak mau kita harus berusaha memperbaiki suasana hati kita sendiri.

Sebenarnya kita bisa mencegah kekecewaan yang mungkin kita timbulkan kepada orang lain. Caranya dengan menjadi manusia yang bertanggung jawab, saling menghargai, punya empati yang tinggi, berperilaku yang tidak mengganggu dan merugikan. Kalau telanjur bersikap mengecewakan ya minta maaf dan berusaha tidak mengulangnya. Sederhana kan sebenarnya? Memang kadang yang membuatnya jadi rumit adalah ego kita sendiri. Aku pikir hal-hal dasar semacam itu harusnya diketahui semua orang, tapi kenyataannya banyak yang tidak tahu, atau tahu tapi tidak peduli. Menyebalkan memang. Kenapa orang-orang bisa hidup tenang dengan meninggalkan perasaan tidak nyaman kepada orang lain? Maaf aku mengomel lagi, haha.

Eh, kamu masih baca kan? Kan? Hehe. Maaf ya, padahal tadi aku meminta kamu bercerita, malah aku sendiri yang cerita. Tapi terima kasih lho kamu sudah mau membaca. Pokoknya kalau kamu mau cerita, cerita aja. Tapi kalau kamu bersikap mengecewakan dan tidak berusaha memperbaikinya, mungkin kita akan kembali menjadi orang asing. Mungkin. Kalau itu sampai terjadi, ya sudah, semoga kamu bisa hidup dengan lebih baik dan tidak mengulangnya ke orang lain lagi.

Sudah dulu ya, sampai ketemu lagi di lain kesempatan!