Perasaan manusia itu rumit ya? Apa mungkin hanya menurut
saya saja? Entahlah. Dulu saya mengira bahwa dalam hidup, saya hanya butuh
kebahagiaan. Setelah melalui banyak hal saya menyadari bahwa bahagia tidak akan
ada tanpa kesedihan. Jadi bahagia dan sedih ada dalam satu paket yang bernama perasaan.
Bahagia yang terjadi terus-menerus tanpa diselingi kesedihan hanya akan menjadi
hal yang biasa dan tidak lagi membahagiakan.
Saya pernah merasa sangat bahagia, juga pernah merasa sangat
sedih hingga tidak dapat mengontrol perilaku saya. Saya pernah melompat-lompat,
mondar-mandir, terus-terusan tersenyum karena terlalu bahagia. Saya juga pernah
mengurung diri, menghindar dari semua orang, menangis seperti orang gila karena
terlalu sedih. Rasanya ada energi yang meluap sehingga saya tidak mampu
mengendalikan diri sendiri. Barangkali hal semacam itu wajar, barangkali yang saya
lakukan itu adalah untuk menjaga kewarasan, semacam mengeluarkan sampah dari
dalam diri agar saya bisa kembali menjalani kehidupan dengan nyaman setelahnya.
Perasaan memang harus disalurkan karena memendam perasaan
tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, saya berpikir
barangkali yang saya butuhkan adalah kemampuan bersikap tenang. Bahwa ketika
saya sedang bahagia, sedih, atau marah, saya mampu menghadapinya dengan tenang.
Mengatur bagaimana energi yang saya rasakan dapat disalurkan pada hal lain dan
mengendalikan ritmenya sehingga tidak menjadi terlalu meledak-ledak.