Minggu, 25 Desember 2022

Tenat

kepalaku jatuh
badanku mau rubuh
cakraku habis dicuri
dengan alat pancing
urashiki otsutsuki

aku ingin pulang cepat
mandi dengan cepat
makan dengan cepat
agar bisa segera
fokus bersedih saja

kenapa untuk merasa
sedikit baik-baik saja
aku harus mencari
seseorang atau sesuatu?

katanya untuk kembali
menjadi aku yang bahagia
semua soal waktu
padahal sembuh juga belum tentu

kenapa seringkali
istirahat atau tidur
yang katanya menyembuhkan
tetap saja tidak membantu?


oktober 2022

Senin, 24 Oktober 2022

Kemarahan, Diskriminasi, dan Kebebalan

Aku jarang membicarakan tentang kemarahan. Seperti halnya kesedihan, atau kegembiraan, kemarahan juga perlu diakomodasi, agar tidak menjadi pemicu dan menjadi bentuk-bentuk keburukan lain yang mengganggu. Tentu saja, perasaan marah adalah suatu yang tidak nyaman, apalagi jika didiamkan begitu saja. Tapi kita juga tidak dapat melampiaskan kemarahan kepada sesuatu yang tidak seharusnya. Hal-hal yang mengacu pada perbuatan abusif hendaknya dihindari, karena tentu saja hal itu merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Kadang ketika kau bertemu orang-orang, berbincang dengan mereka, tidak bisa dihindari ketika tiba-tiba mereka mengatakan sesuatu atau memberi opini yang diskriminatif lalu membuatmu marah. Bukan, bukan karena kau tidak menyetujui perbedaan pendapat, tapi karena pola pikir mereka beracun dan berdampak buruk bagi rasa keadilan siapapun yang menjadi bagian dari masyarakat yang rentan dan seringkali terkena dampak buruknya.

Ada jenis orang-orang yang mengecilkan orang lain hanya untuk merasa lebih baik. Sebagian besar bahkan melakukannya tanpa sadar. Mereka barangkali merasa hal-hal semacam itu normal dilakukan. Memberi label kepada orang lain, menggeneralisasi dari jenis kelamin, tingkat pendidikan, atau status sosialnya, lalu mengejek hanya karena dirinya bukan bagian dari kelompok tersebut.

Orang-orang kebanyakan tidak memiliki kemampuan untuk berempati. Mereka bahkan tidak akan mengerti sebelum benar-benar mengalami, atau telah mengalami tapi menyangkal perasaannya sendiri. Mereka tidak memahami bahwa diskriminasi terjadi setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil. Mereka kadang menjadi korban, kadang menjadi pelaku, dengan atau tanpa mereka sadari. Tentu saja lingkungan semacam itu bukanlah tempat yang bagus bagi siapapun untuk menjalani hidup.

Rasanya bukan hal yang mudah untuk mengubah sesuatu yang telah dianggap normal dan telah tumbuh di masyarakat selama bertahun-tahun lamanya dan masih diwariskan secara turun temurun hingga kini. Kau tidak bisa lahir ke dunia ini dan tiba-tiba ingin mengubah tatanan yang ada—bahkan meski tatanan itu berdampak buruk bagi semua makhluk. Perlu usaha kolektif yang memerlukan waktu yang panjang dan melelahkan. Masalahnya tidak semua orang memiliki energi yang cukup besar untuk berhadapan dengan kebebalan.

Senin, 22 Agustus 2022

Hai Kamu

Hai!

Tentunya aku sedang menyapa pembaca blog ini, termasuk aku sendiri (atau mungkin malah aku satu-satunya pembaca? Hehe). Aku kadang suka membaca tulisanku sendiri. Ada beragam perasaan ketika membaca ulang tulisan-tulisanku. Kadang merasa aneh, merasa tulisanku tidak penting, merasa senang, atau bahkan takjub dengan tulisan-tulisan sendiri. Kadang menggumam dalam hati, “Bisa-bisanya aku menulis seperti ini?” atau “Ga jelas banget deh tulisan ini!”. Begitulah. Beberapa tulisan-tulisan di sini memang kebanyakan ekspresi perasaan, puisi-puisian, cerpen, prosa, atau surat yang ditujukan untuk seseorang yang tidak bisa dijangkau lagi keberadaannya. Untuk yang terakhir aku sebutkan, tidak ada dendam atau apapun ya, aku cuma ingin menuang kata-kata untuk mereka di sini.

Hari ini sebenarnya aku ingin menulis tentang kekecewaan (lagi). Semoga kamu ga bosan ya? Haha. Tapi kalau dipikir-pikir aku yang bosan sebenarnya. Bosan merasakannya. Bisa ga pas merasa bahagia, dijadiin permanen saja perasaannya? Pertanyaan barusan sebenarnya sudah ada jawabannya di tulisan-tulisan sebelum ini. Ya kadang aku memang suka menanyakan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya, sebagai bentuk mengomel ke diri sendiri. Hehe.

Aku ga jadi menulis tentang kekecewaan deh, mau ngobrol sama kamu aja boleh? Kamu apa kabar? Gimana suasana hatimu hari ini? Lagi ada masalah ga? Sini cerita biar aku ga merasa jadi satu-satunya orang yang punya masalah. Hehe. Eh tapi, kalau kamu lagi bahagia juga boleh cerita lho, siapa tahu aku juga ikutan bahagia.

Ngomong-ngomong, semua orang berpotensi melakukan hal yang mengecewakan sih, termasuk aku dan kamu. Tapi ada hal yang menentukan kekecewaan itu akan menjadi sesuatu yang menjauhkan atau mendekatkan tergantung bagaimana kita menanganinya. Entah disengaja atau tidak, kita bisa membuat orang lain kecewa. Keadaan barangkali bisa menjadi lebih baik, jika kedua pihak secara sadar ingin memperbaikinya. Jika tidak ya mau tidak mau kita harus berusaha memperbaiki suasana hati kita sendiri.

Sebenarnya kita bisa mencegah kekecewaan yang mungkin kita timbulkan kepada orang lain. Caranya dengan menjadi manusia yang bertanggung jawab, saling menghargai, punya empati yang tinggi, berperilaku yang tidak mengganggu dan merugikan. Kalau telanjur bersikap mengecewakan ya minta maaf dan berusaha tidak mengulangnya. Sederhana kan sebenarnya? Memang kadang yang membuatnya jadi rumit adalah ego kita sendiri. Aku pikir hal-hal dasar semacam itu harusnya diketahui semua orang, tapi kenyataannya banyak yang tidak tahu, atau tahu tapi tidak peduli. Menyebalkan memang. Kenapa orang-orang bisa hidup tenang dengan meninggalkan perasaan tidak nyaman kepada orang lain? Maaf aku mengomel lagi, haha.

Eh, kamu masih baca kan? Kan? Hehe. Maaf ya, padahal tadi aku meminta kamu bercerita, malah aku sendiri yang cerita. Tapi terima kasih lho kamu sudah mau membaca. Pokoknya kalau kamu mau cerita, cerita aja. Tapi kalau kamu bersikap mengecewakan dan tidak berusaha memperbaikinya, mungkin kita akan kembali menjadi orang asing. Mungkin. Kalau itu sampai terjadi, ya sudah, semoga kamu bisa hidup dengan lebih baik dan tidak mengulangnya ke orang lain lagi.

Sudah dulu ya, sampai ketemu lagi di lain kesempatan!

Selasa, 07 Juni 2022

Untuk L

Dear L,

Aku tidak tahu bagaimana kabarmu, tapi semoga kamu aman, sehat, tidak kurang apapun. Maaf kalau aku sering mengganggu dengan menanyakan kabarmu. Sejujurnya aku bingung harus melakukan apa. Aku sering merasa bingung tentang apakah aku harus menjangkaumu atau tidak. Tapi yang pasti aku merasa buruk jika tidak melakukannya. Di sisi lain aku juga takut jika ternyata pesan-pesan pendekku justru menjadi beban untukmu. Maaf jika benar demikian.

Barangkali kamu sedang, atau masih menjalani hari-hari yang tidak mudah, aku berharap kamu punya cukup energi untuk memproses apa yang terjadi, untuk beristirahat dari apapun yang membuatmu lelah, untuk menyembuhkan diri atas masalah yang sedang kamu hadapi. Beberapa kali aku berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah aku bisa membantu? Dengan cara apa? Apakah aku bagian dari masalahmu? Atau mungkin aku justru lebih membantu jika diam saja dan membiarkanmu memproses semua sendiri?".

L, jika suatu hari kita bertemu lagi, aku pastikan tidak akan bertanya "Kenapa?", kamu boleh bercerita jika kamu merasa nyaman, atau tidak bercerita sama sekali tentang apa yang terjadi jika memang tidak ingin. Kita bisa fokus melakukan hal lain, atau bercerita tentang hal-hal lainnya yang membuatmu nyaman, itupun jika kamu berkenan. Misalkan kita tidak bertemu lagi, aku berharap kamu bisa menjalani kehidupan yang kamu inginkan dengan baik dan aman.

Maaf untuk hari-hari tidak menyenangkan yang kita lewati, dan terima kasih untuk hari-hari baik yang kita alami.

 

Salam,

R