Hai!
Tentunya aku sedang menyapa pembaca blog ini, termasuk aku
sendiri (atau mungkin malah aku satu-satunya pembaca? Hehe). Aku kadang suka
membaca tulisanku sendiri. Ada beragam perasaan ketika membaca ulang
tulisan-tulisanku. Kadang merasa aneh, merasa tulisanku tidak penting, merasa
senang, atau bahkan takjub dengan tulisan-tulisan sendiri. Kadang menggumam
dalam hati, “Bisa-bisanya aku menulis seperti ini?” atau “Ga jelas banget deh tulisan
ini!”. Begitulah. Beberapa tulisan-tulisan di sini memang kebanyakan ekspresi
perasaan, puisi-puisian, cerpen, prosa, atau surat yang ditujukan untuk
seseorang yang tidak bisa dijangkau lagi keberadaannya. Untuk yang terakhir aku
sebutkan, tidak ada dendam atau apapun ya, aku cuma ingin menuang kata-kata
untuk mereka di sini.
Hari ini sebenarnya aku ingin menulis tentang kekecewaan
(lagi). Semoga kamu ga bosan ya? Haha. Tapi kalau dipikir-pikir aku yang bosan
sebenarnya. Bosan merasakannya. Bisa ga pas merasa bahagia, dijadiin permanen saja
perasaannya? Pertanyaan barusan sebenarnya sudah ada jawabannya di
tulisan-tulisan sebelum ini. Ya kadang aku memang suka menanyakan pertanyaan
yang aku sudah tahu jawabannya, sebagai bentuk mengomel ke diri sendiri. Hehe.
Aku ga jadi menulis tentang kekecewaan deh, mau ngobrol sama
kamu aja boleh? Kamu apa kabar? Gimana suasana hatimu hari ini? Lagi ada
masalah ga? Sini cerita biar aku ga merasa jadi satu-satunya orang yang punya
masalah. Hehe. Eh tapi, kalau kamu lagi bahagia juga boleh cerita lho, siapa
tahu aku juga ikutan bahagia.
Ngomong-ngomong, semua orang
berpotensi melakukan hal yang mengecewakan sih, termasuk aku dan kamu. Tapi ada
hal yang menentukan kekecewaan itu akan menjadi sesuatu yang menjauhkan atau
mendekatkan tergantung bagaimana kita menanganinya. Entah disengaja atau
tidak, kita bisa membuat orang lain kecewa. Keadaan barangkali bisa menjadi
lebih baik, jika kedua pihak secara sadar ingin memperbaikinya. Jika tidak ya mau tidak mau kita harus berusaha memperbaiki suasana hati kita sendiri.
Sebenarnya kita bisa mencegah kekecewaan yang mungkin
kita timbulkan kepada orang lain. Caranya dengan menjadi manusia yang
bertanggung jawab, saling menghargai, punya empati yang tinggi, berperilaku
yang tidak mengganggu dan merugikan. Kalau telanjur bersikap mengecewakan ya
minta maaf dan berusaha tidak mengulangnya. Sederhana kan sebenarnya? Memang
kadang yang membuatnya jadi rumit adalah ego kita sendiri. Aku pikir hal-hal
dasar semacam itu harusnya diketahui semua orang, tapi kenyataannya banyak yang
tidak tahu, atau tahu tapi tidak peduli. Menyebalkan memang. Kenapa orang-orang
bisa hidup tenang dengan meninggalkan perasaan tidak nyaman kepada orang lain?
Maaf aku mengomel lagi, haha.
Eh, kamu masih baca kan? Kan? Hehe. Maaf ya, padahal tadi
aku meminta kamu bercerita, malah aku sendiri yang cerita. Tapi terima kasih lho
kamu sudah mau membaca. Pokoknya kalau kamu mau cerita, cerita aja. Tapi kalau
kamu bersikap mengecewakan dan tidak berusaha memperbaikinya, mungkin kita akan
kembali menjadi orang asing. Mungkin. Kalau itu sampai terjadi, ya sudah,
semoga kamu bisa hidup dengan lebih baik dan tidak mengulangnya ke orang lain
lagi.
Sudah dulu ya, sampai ketemu lagi di lain kesempatan!