Sabtu, 30 Desember 2017

Musim Semi di Akhir Tahun


Saya bersyukur akhir tahun saya diisi dengan bunga-bunga yang tiba-tiba tumbuh dengan indah, dan perasaan melayang-layang di udara. Haha, menyenangkan sekali kan? Iya, tapi saya sadar perasaan seperti itu tidak akan lama, karena itu hanyalah fase awal jatuh cinta. Selanjutnya? Bunga-bunga itu bisa layu karena tidak disiram, kemudian setelah merasa senang karena melayang-layang saya jatuh dan merasakan sakit karena tidak ada seseorang yang menangkap, atau setidaknya jatuh bersama saya. Kalau sudah begitu, saya hanya berharap akan turun hujan agar bunga-bunga yang sudah tumbuh itu tidak mati, dan tempat jatuh saya adalah danau dengan air yang segar dan tidak ada binatang buas atau kasur yang empuk agar saya tidak terlalu sakit saat mendarat. Kalaupun bunganya harus mati dan saya merasakan sakit sendirian karena terjatuh ya tidak apa-apa. Lagi pula siapa tahu ini hanya perasaan sesaat.

Dari pada memikirkan akhir dari cerita berbunga-bunga ini, saya memilih menikmati saja apa yang sedang terjadi, sensasi menyenangkan dari fase ini. Lagi pula, kemarin-kemarin saya sempat mempunyai keinginan untuk bisa merasakan jatuh cinta lagi meski setelah jatuh cinta seringkali tidak tahu harus melakukan apa. Oh iya, harusnya sih sebelum mengakui kalau jatuh cinta, biasanya orang akan mengalami fase denial. Menyangkal perasaan sendiri, padahal sudah terjadi. Nah, sepertinya saya sudah lama tidak melalui fase denial saat jatuh cinta. Mungkin seiring berjalannya waktu saya bisa lebih jujur kepada diri sendiri, jujur pada perasaan sendiri. Bagi saya tidak terlalu susah menerima perasaan sendiri tanpa takut akan merasa kecewa karena terlalu banyak berharap.

Karena saya senang mendengarkan musik, salah satu hal yang menjadi kebiasaan saya saat jatuh cinta adalah mendengarkan lagu-lagu yang berkaitan dengan jatuh cinta agar lebih menjiwai, hehe. Berikut ini adalah daftar 9 lagu jatuh cinta saya:

Falling in Love at the Coffeeshop – Landon Pigg
Maybe I Love You – Lenka
Smile – Uncle Kracker
Insomniac – Craig David
Perfect Two – Auburn
Take My Heart – Soko
Nothing Like You and I – The Perishers
When Will I See Your Face Again – Jamie Scott
To Be With You – The Honey Trees

Ada banyak lagu lain sebenarnya, tapi saya tulis 9 saja. Jangan lupa juga, jatuh bersama atau sendiri rasanya akan tetap sakit sih. Meskipun kalau jatuhnya bersama setidaknya ada yang menemani dan bisa saling mengobati. Kalau jatuhnya sendirian, nanti obati sendiri saja deh. Kalau ini hanya perasaan sesaat brarti saya tidak akan mengalami pendaratan yang menyakitkan, semua akan hilang begitu saja secara otomatis, tapi tidak apa-apa kan jika tetap disebut dengan jatuh cinta? Jatuh yang tidak sakit karena sebelum mendarat tiba-tiba saya sadar dan ingat bahwa saya punya sayap, hehe. Mau perasaan sesaat atau tidak, jatuh cinta tetap merupakan sesuatu yang perlu disyukuri, jadi ya nikmati saja selagi berbunga.

Selasa, 26 Desember 2017

Satu Teman

Setelah mengisolasi diri beberapa bulan belakangan ini karena kecewa pada banyak hal, saya pikir saya telah kembali ke diri saya yang biasanya. Saya sempat merasa hampa alias tidak merasa apa-apa, menjadi seperti seseorang yang tanpa gairah. Malas melakukan banyak hal termasuk mengobrol dengan teman. Tetap makan, minum, mandi, kerja, tidur, itu juga rasanya seperti robot yang telah diprogram, semua seperti otomatis saja, tanpa rasa. Meskipun begitu, saya tetap berusaha ada ketika ada orang lain yang memerlukan bantuan saya. Berusaha tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri.

Sekarang saya kembali mengobrol dengan orang-orang, menyapa teman lama, dan sebagainya. Saya kembali menikmati hidup, tidak lagi hanya mendengarkan musik yang melankolis saja, tapi juga musik-musik favorit saya yang lain seperti biasa, menonton film dan menjiwai jalan ceritanya, tertawa saat ada yang lucu, menangis saat ada yang menyedihkan dan ikut merasa khawatir saat tokoh di dalam film mengalami masa kritis dan sebagainya. Melegakan bahwa perasaan saya kembali bekerja dengan baik. 

Dari dulu saya selalu merasa membutuhkan teman meskipun saya bisa menerima jika tak ada seorangpun yang menemani saya ketika saya membutuhkan. Maka dari itu saya berusaha untuk selalu menghargai kebersamaan bersama teman, karena itu adalah hal yang tidak dapat diulang, karena menurut saya semua hal hanya terjadi satu kali. Di lain waktu semuanya akan berbeda, padahal lain waktu itu juga belum tentu ada. Hal-hal yang direncanakan saja bisa batal apalagi yang tidak. 

Saya berusaha tidak melewatkan kebersamaan dengan teman-teman. Jika ada ajakan bertemu sebisa mungkin saya datang, meski mungkin saya sedang malas. Karena saya berpikir, ada waktu-waktu ketika saya butuh mereka padahal mereka sedang ingin sendiri misalnya. Sedih juga ketika saya butuh teman tapi tak satupun teman ada bersama saya. Karena itu saya tidak ingin membuat teman saya merasa sedih jika saya tidak menemaninya ketika dia memerlukan kehadiran saya. Hubungan yang baik perlu dipelihara, pertemuan perlu diusahakan.

Kadang kita hanya butuh satu teman yang pas. Satu teman di mana kita bisa saling percaya, merasa nyaman setiap kali berbagi cerita dan mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Saya punya beberapa teman yang pas, tapi mereka tidak selalu ada. Kadang ketika kita merasa butuh, yang kita butuhkan tidak ada, dan sebaliknya. Hal semacam itu biasa terjadi karena memang bukan hanya saya yang hidup dan mempunyai urusan di dunia ini, teman-teman saya pun. Saya hanya berharap setidaknya ada satu saja teman yang pas yang sering (meski tidak selalu) ada untuk saya dan sebaliknya.

Jumat, 15 Desember 2017

A Letter to You


Hi, do you hear me? How are you, I hope everything is fine. In case you wanna know how my life goes, it’s sucks, you know? I keep fighting against my inner self. Actually I really want to tell you that my life is fine and I’m happy, but that’s a lie. You know very well that I don’t like when people lie. So, I have to remain an honest person.

For some time I thought that I won’t ever feel like craving to talk to you. I feel happy then. I feel living in peace. Well, I was wrong. I still want to go back to the time when I was with you. Even though I have a reason not to talk to you again, the desire still exist. I hate this. I mean, I keep saying to myself that you’re not that good, you’re sucks. We even have different points of view in some ways. I keep on thinking the bad things about you, but I realize that you have more good things.

I keep talking to you even if you’re not there. I feel better everytime I did that. You know, I can’t find someone like you. Well, I don’t even searching for another one actually. I don’t believe there’s the same two people in this universe. But it doesn’t matter. Really. It's no longer a problem now, because I've written it down. I hope this kind of feeling towards you will not come back again. But, if sometimes you feel like talking to me too, please let me know. We’re friends, we can heal each other.

Rabu, 06 Desember 2017

Semut-Semut di dalam Sepatu

Tadi pagi saya menemukan sepatu saya penuh dengan semut, lengkap dengan telur-telurnya, padahal sepatunya saya pakai juga kemarin dan semut-semut itu belum ada. Sepertinya mereka baru pindahan tadi malam. Saya baru menyadarinya saat sudah memakainya, serombongan semut berwarna coklat berukuran agak besar, keluar dari sepatu yang saya pakai. Dengan segera saya melepaskan sepatu saya, dan di kaus kaki saya sudah menempel telur-telur semut berwarna putih. Saat saya menumpahkan isi sepatu saya, di dalamnya lebih banyak lagi telur dan semut-semutnya. Bentuknya mirip semut rangrang tapi ukurannya lebih kecil dan warnanya lebih gelap.

Barangkali semut-semut itu sedang mencari rumah baru, kemudian menemukan sepatu saya sebagai tempat yang nyaman. Sayangnya mereka tidak tahu kalau sepatu itu masih saya pakai hampir setiap hari. Seharusnya mereka melakukan observasi dulu sebelum memutuskan untuk pindah ke dalam sepatu. Jika mereka bisa bahasa manusia, mereka bisa bertanya, “Hai Manusia, siapakah pemilik sepatu ini? Apakah pemiliknya masih memakainya? Jika tidak, bolehkah kami memanfaatkannya sebagai rumah kami?”. Tapi karena semut dan manusia tidak dapat berkomunikasi secara verbal, mau tidak mau semut harus mengamati apakah calon rumah baru mereka adalah tempat yang aman? Mungkin saja semut-semutnya sudah melakukan pengamatan, tapi sayangnya terlalu cepat membuat kesimpulan. Kalau menurut saya sendiri sebagai manusia, tinggal di dalam sepatu yang diletakkan di rak repatu jelas tidak aman sama sekali. Tapi semut-semut menganggap bahwa sepatu yang diletakkan semalaman adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat yang aman.

Ada juga jenis manusia yang seperti semut-semut itu, maksudnya jenis yang suka menganggap barang yang sedang diletakkan adalah sesuatu yang tidak berguna. Merasa menemukan sesuatu kemudian memutuskan untuk memilikinya tanpa mencari informasi tentang sesuatu itu. Misalnya tetangga yang mengambil begitu saja sesuatu yang diletakkan di pekarangan rumah, dia berpikir sesuatu itu diletakkan di situ karena tidak dipakai sehingga dia merasa berhak mengambilnya. Pernah juga ada kerabat yang melihat vespa di rumah jarang dipakai sehingga menganggap itu adalah barang yang bisa diminta begitu saja karena menurut dia sudah tidak dipakai, atau sepupu yang melihat di rumah saya ada dua gitar sehingga dia ingin memiliki salah satunya. Maksud saya begini, jika sesuatu itu diletakkan di area rumah, maka sudah pasti ada pemiliknya, entah orang yang menghuni rumah tersebut, atau orang yang kenal dengan penghuni rumah tersebut. Harusnya mereka tahu itu, mereka kan manusia, bukan semut. Sesuatu yang diletakkan di pinggir jalan saja sudah pasti ada pemiliknya, apalagi di rumah.

Mereka tentu boleh mempunyai keinginan memiliki jika mereka tertarik, tentunya dengan terlebih dulu meminta izin kepada pemiliknya. Mereka bisa berkomunikasi secara verbal. Apa susahnya memulai dengan pertanyaan sopan seperti menanyakan siapa pemilik benda itu, atau adakah rencana untuk menjual atau memberikannya kepada seseorang. Kalau menurut saya jika sesuatu masih disimpan, artinya pemiliknya masih membutuhkannya, baik secara fungsi maupun sebagai benda koleksi. Jika tidak pasti benda itu sudah diberikan kepada orang lain atau dibuang ke tempat sampah. Lagi pula jika masih disimpan meski tidak digunakan, siapa tahu karena pemiliknya mempunyai kenangan khusus dengan benda itu. Jadi bukan berarti bisa diambil atau diminta begitu saja.

Saya tidak bermaksud menyamakan manusia dengan semut, tapi kejadian pagi ini mengenai semut dan sepatu jadi mengingatkan saya tentang perilaku beberapa manusia. Tapi semut-semut tadi tidak bersalah, mereka hanya berusaha mencari tempat yang aman untuk tinggal. Lagi pula, barangkali di dunia ini semakin susah bagi semut-semut itu untuk mencari tempat berlindung yang alami. Akhirnya tadi saya memutuskan menggunakan sepatu saya yang lain. Sepatu yang sempat menjadi sarang semut itu saya bersihkan lalu saya jemur di bawah sinar matahari. Sebelum pergi, saya menaruh kapur barus di beberapa sepatu saya yang lain, sebagai tanda bahwa sepatu-sepatu itu ada pemiliknya agar komunitas semut atau serangga-serangga lain tidak berpikir untuk menjadikan sepatu-sepatu itu rumah mereka, sehingga mereka tidak perlu diusir secara paksa karena kepanikan saya. Maaf ya semut-semut.