Selasa, 03 Mei 2016

Kita Masih Saling Mencari

Kita masih saling mencari. Kemudian merasa amat lelah ketika di penghujung hari belum juga saling menemukan. Entah sudah berapa kali kita berpapasan di jalan namun tak saling memerhatikan. Sejak kau hilang aku tak betah duduk berlama-lama di taman tempat kita biasa bertegur sapa dan bercerita. Sebelum bertemu denganmu aku bisa berjam-jam duduk diam memerhatikan sekitar, memandang ke arah birunya langit yang terhalangi pohon-pohon yang daunnya gemerisik tertiup angin, tempat di mana burung-burung bermain dengan riang.

Suatu hari, ketika  tanpa sengaja kita duduk di bangku yang sama, mengobrol berjam-jam sampai lupa waktu, semua terasa menyenangkan. Langit terlihat lebih indah, angin terasa lebih sejuk, nyanyian burung-burung terdengar lebih merdu. Beberapa kali tanpa sengaja kita duduk berdua, menghabiskan sore dengan bercerita, sesekali tertawa. Namun sejak kita tak saling berjumpa semua tak lagi sama. Barangkali kita masih sering mengunjungi taman yang sama, namun di waktu yang berbeda. Masih saling mencari, namun belum juga saling menemukan. Kini langit indah berwarna biru, angin yang menyejukkan kalbu dan nyanyian burung yang merdu di taman itu tak lagi dapat kunikmati seperti dahulu. Aku merasa gelisah setiap kali duduk sendiri di tempat kita biasa menghabiskan hari-hari.

Aku tahu, kita selalu dapat memutar ulang kenangan. Sesering mungkin. Sesuka kita. Tapi semakin lama dan semakin sering kuputar semakin terasa kurang. Aku ingin kenangan baru. Tidak. Aku membutuhkannya. Aku butuh kenangan baru. Barangkali memang benar bahwa manusia tak pernah merasa puas. Selalu merasa kurang, bahkan kadang sampai lupa bersyukur atas apa yang sudah dipunya. Tapi bukankah manusia harus punya keinginan dan harapan untuk tetap hidup? Tentu aku bersyukur sudah diijinkan memiliki dan memutar-mutar ulang kenangan. Tapi hidup terus berjalan, kita tetap harus membuat kenangan-kenangan baru, agar hati kita tetap penuh.

Kita masih saling mencari namun belum juga saling menemukan. Aku sudah mengumpulkan cukup banyak hal untuk kuceritakan. Namun selagi kita belum juga saling menemukan, aku akan menceritakannya pada diriku sendiri. Tapi tenanglah, aku akan tetap menceritakannya padamu nanti, saat pada akhirnya kita dipertemukan kembali.

Senin, 02 Mei 2016

Pertemanan Bisa Kedaluwarsa?

Apakah pertemanan bisa kedaluwarsa? Jika mengacu pada kalimat 'tak ada yang abadi' tentu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: bisa.

Apa itu kedaluwarsa? Menurut KBBI, kata kedaluwarsa memiliki tiga makna:

         1. Tidak model lagi (terkait baju, kendaraan dan sebagainya); tidak sesuai dengan
       zaman
         2. Sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya); habis
       tempo
         3. Terlewat dari batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (tentang
       makanan)

Dalam konteks pertemanan, makna kedaluwarsa yang cocok adalah yang kedua, ‘sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya); habis tempo’.
Mengapa pertemanan bisa kedaluwarsa, penyebabnya tentu bermacam-macam, beberapa diantaranya:

         1. Tidak ada kepentingan lagi
         2. Tidak cocok lagi secara pemikiran/kebiasaan (ada konflik)
         3. Bosan
         4. Punya teman (pacar) baru / sudah menikah
         5. Tak butuh teman lagi 

     Ada beberapa gejala yang terjadi saat teman kita tak ingin lagi berteman, diantaranya:

         1. Sering menolak ajakan, dengan alasan yang terlalu banyak
         2. Membatalkan janji tanpa reschedule
         3. Mengabaikan chat/telepon kita

Jika tak ada keinginan untuk berteman lagi namun tetap dipaksakan, yang akan terjadi adalah rasa canggung, obrolan tidak nyambung, kaku, dan lain sebagainya. Namun meski sudah kedaluwarsa, teman kita bisa tiba-tiba muncul karena beberapa hal:

         1. Butuh bantuan
   2. Ada urusan yang belum selesai
         3. Mengirim undangan pernikahan
         4. Kurang kerjaan
         5. Kesepian
   6. Sebab lain

Apakah pertemanan yang sudah kedaluwarsa bisa diperbarui? Tentu bisa jika ada keinginan dan usaha dari kedua belah pihak.

Itu semua berdasarkan pengamatan kecil saya. Saya sendiri inginnya hubungan pertemanan saya tak akan pernah kedaluwarsa. Saya ingin bisa berteman selamanya sampai tua, atau lebih baik dari itu. Jika saya ingin tetap berteman tapi teman saya tidak, ya apa boleh buat, saya tentu tak mau memaksa. Karena, hubungan apapun termasuk pertemanan, seharusnya saling menginginkan.

*kalau ada yang mau menambahkan silakan di kolom komentar