Senin, 25 Mei 2020

Janji Harus Dibayar Tuntas

Pada suatu malam sekitar pukul delapan, selesai mandi aku berencana menonton televisi sambil membuka aplikasi jejaring sosial di ponselku. Sesaat setelah aku membuka Twitter tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor tidak dikenal. Selama beberapa detik aku merasa mengenal nomor itu. Setelah menyadari bahwa itu telepon darinya, aku lalu mengangkatnya.

Halo?
Ya… sudah makan belum?
Belum, kenapa?
Aku di depan rumahmu. Kamu bisa ke sini?
Oke aku ke sana.

Di depan rumahku ada sebuah warung makan, Bakmi Surabaya. Sebelumnya dia sudah dua kali memberitahuku bahwa dia sedang makan di situ tapi tidak kutemui entah kenapa, dan ini adalah kali ketiga. Dia tidak pernah sejelas ini memintaku datang untuk menemaninya. Setelah menutup telepon itu aku menghampirinya.

Kami berdua berbincang seperti biasa. Dia menyuruhku memesan makanan, tapi aku hanya memesan es teh. Dia sedikit protes, tapi aku memang sedang malas makan saat itu. Usai menghabiskan makanannya kami berpindah ke teras rumahku dan meneruskan obrolan kami.

Dia sempat berbicara tentang hutangku yang belum kubayar. Beberapa waktu lalu aku memang pernah menjanjikan sesuatu padanya dan belum kulakukan. Dia bilang dia sudah menghapuskannya. Dia sering berkata bahwa aku takperlu membayarnya, tapi aku tentu saja tetap ingin membayarnya karena sudah berjanji, hanya belum menemukan waktu yang tepat saja.

Dia tidak benar-benar menghapuskannya karena dia buru-buru meralat bahwa dia hanya menghapuskan setengahnya saja. Aku pikir percakapan tentang hutang itu hanyalah caranya untuk mengingatkanku bahwa aku memang harus membayarnya.


2012

Kamis, 21 Mei 2020

Pindah Rumah

:)

Pindah rumah adalah suatu kejadian yang baru pertama kali saya alami selama hidup. Rasanya berat sekali harus meninggalkan rumah yang menemani saya tumbuh dari lahir hingga dewasa. Saya sempat stres selama berhari-hari, kehilangan semangat, selera makan, dan tidak bisa tidur dengan tenang. Di satu sisi rasanya berat sekali meninggalkan rumah kami, tapi di sisi lain rasanya sudah tidak nyaman jika memaksakan diri tetap tinggal di sana. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami sekeluarga harus merelakan rumah itu.

Saya memang kadang membayangkan memiliki rumah yang nyaman, asri, dan artsy dengan halaman yang cukup luas untuk ditanami beberapa pohon yang rindang, tanaman-tanaman hias yang cantik, juga kebun sayuran yang hasilnya bisa dipetik langsung sesaat sebelum dimasak. Di antara tanaman-tanaman itu ada meja dan kursi yang bisa dipergunakan untuk bersantai sambil minum teh dan menikmati suasana sore. Iya, pada saat saya membayangkan hal itu, saya tidak berpikir bahwa saya akan kehilangan rumah yang pada saat itu saya tinggali.

Bagaimanapun, peristiwa pindah rumah ini sangat menguras emosi, ditambah lagi semua ini terjadi di tengah pandemi covid-19. Saya sampai merasa bahwa hidup saya telah berakhir. Bagaimana jika energi saya tertinggal di rumah lama? Bagaimana jika saya menjadi orang yang sama sekali berbeda setelah berada di rumah baru? Bagaimana jika saya tidak menyukai tempat tinggal di lingkungan baru? Pikiran saya diliputi bayangan-bayangan tidak menyenangkan. Yang paling saya khawatirkan adalah, bagaimana perasaan kedua orang tua saya? Saya khawatir mereka menanggung beban perasaan yang lebih besar dari pada saya.

Tapi toh pada akhirnya kami pindah juga ke rumah baru, dan hari ini adalah hari ke-21. Untuk sementara kami hanya menyewa rumah yang sekarang selama dua tahun sambil tetap mencari-cari rumah yang akan benar-benar menjadi milik kami. Barangkali rumah itu seperti jodoh, sehingga tidak mudah rasanya mendapatkan rumah yang cocok. Minggu pertama saya masih berusaha menyesuaikan diri, sempat stres lagi, tapi masih bisa diatasi. Kami berusaha beradaptasi. Kami belum pernah menyewa rumah sebelumnya, ini sesuatu yang baru bagi kami. Saya sendiri merasa kurang nyaman karena tahu ini bukan rumah kami, tapi bagaimana lagi?

Seiring waktu, saya mulai menerima, berusaha berteman baik dengan rumah baru kami, sambil menyusun rencana-rencana yang tertunda, mengisi waktu, menyibukkan diri, apalagi karena pandemi, kami juga menghindari bepergian jika memang tidak diperlukan. Tempat kerja saya juga memberlakukan WFH alias kerja dari rumah. Jadilah saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Sepertinya Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi juga akan kami lalui di rumah saja. Meski kadang stres karena merindukan alam dan dunia luar, tapi tetap harus dijalani dengan sabar.

Senin, 11 Mei 2020

Text From The Past

I'll treat you an ice cream.
Wow, thank you. :)

Hey, can I kiss you?
No.
Why?
'cause I've never been kissed.
Wow, it makes me more curious to kiss you.

So, who is your boyfriend now?
No one, I'm alone.

Can I come to your home?
Sure, why not?

Hey Superman... :)
I'm not a Superman.
But you looks like Clark Kent.

Do you like Kungfu Panda?
No, why?
Because his body looks like mine.

Would you like to join me to see a movie?
I can't, I have an appointment with my sister.

Would you like to meet me now?
No, I'm tired, I've been worked a whole day.

Hey, you look great.
Great? What do you mean?
I mean you looks like Chinese Great Wall.

I hope I'll dream about you tonight.

Why don't you reply my text?
'cause there's no question mark.

I miss your voice.
I miss you.


2012


Saya menemukan beberapa catatan lama ketika pindah rumah, entah cerita pendek, atau teks percakapan singkat semacam ini. Membaca tulisan tangan sendiri di buku agenda dari tahun-tahun sebelumnya selalu terasa menarik.

Rabu, 06 Mei 2020

Masa Terberat

Ada sebuah masa yang barangkali paling terasa berat sepanjang hidup di dunia. Mungkin perasaan sedih, cemas, takut, merasa tidak aman, ingin marah, yang dirasakan tidak pernah seperti sebelumnya. Rasanya semua perasaan tak mengenakkan itu berkumpul menjadi satu. Bayangkan, kau tidak bisa hidup dengan tenang, kehilangan selera makan, bahkan tidur yang seringkali bisa membuatmu bisa sejenak menghilang dari kenyataan, tidak dapat dengan mudah kau lakukan. Pada saat itu hampir setiap hari kau terbangun sekitar pukul tiga pagi, dan merasakan kepalamu pusing dan dadamu sakit sekali. Kau tidak bisa menikmati lagu, membaca buku, bercanda, atau mendaki dengan kawan-kawanmu. Semua hal yang biasanya bisa sedikit menghibur seketika lenyap. Kau menjadi lebih sering menangis, bahkan di siang hari. Lalu kau bertanya-tanya, "Apakah saking sedihnya manusia bisa mati?". Tapi kemudian kau menyesal telah berpikir seperti itu. Kau tahu bahwa kau masih bisa berjuang, atau setidaknya bertahan dengan harapan-harapan baik di masa depan.