 |
| :) |
Pindah rumah adalah suatu kejadian yang baru pertama kali
saya alami selama hidup. Rasanya berat sekali harus meninggalkan rumah yang
menemani saya tumbuh dari lahir hingga dewasa. Saya sempat stres selama
berhari-hari, kehilangan semangat, selera makan, dan tidak bisa tidur dengan
tenang. Di satu sisi rasanya berat sekali meninggalkan rumah kami, tapi di sisi
lain rasanya sudah tidak nyaman jika memaksakan diri tetap tinggal di sana.
Karena satu dan lain hal, akhirnya kami sekeluarga harus merelakan rumah itu.
Saya memang kadang membayangkan memiliki rumah yang nyaman,
asri, dan artsy dengan halaman yang cukup luas untuk ditanami beberapa
pohon yang rindang, tanaman-tanaman hias yang cantik, juga kebun sayuran yang
hasilnya bisa dipetik langsung sesaat sebelum dimasak. Di antara
tanaman-tanaman itu ada meja dan kursi yang bisa dipergunakan untuk bersantai
sambil minum teh dan menikmati suasana sore. Iya, pada saat saya membayangkan
hal itu, saya tidak berpikir bahwa saya akan kehilangan rumah yang pada saat
itu saya tinggali.
Bagaimanapun, peristiwa pindah rumah ini sangat menguras
emosi, ditambah lagi semua ini terjadi di tengah pandemi covid-19. Saya sampai
merasa bahwa hidup saya telah berakhir. Bagaimana jika energi saya tertinggal
di rumah lama? Bagaimana jika saya menjadi orang yang sama sekali berbeda
setelah berada di rumah baru? Bagaimana jika saya tidak menyukai tempat tinggal
di lingkungan baru? Pikiran saya diliputi bayangan-bayangan tidak menyenangkan.
Yang paling saya khawatirkan adalah, bagaimana perasaan kedua orang tua saya?
Saya khawatir mereka menanggung beban perasaan yang lebih besar dari pada saya.
Tapi toh pada akhirnya kami pindah juga ke rumah baru, dan
hari ini adalah hari ke-21. Untuk sementara kami hanya menyewa rumah yang
sekarang selama dua tahun sambil tetap mencari-cari rumah yang akan benar-benar
menjadi milik kami. Barangkali rumah itu seperti jodoh, sehingga tidak mudah
rasanya mendapatkan rumah yang cocok. Minggu pertama saya masih berusaha
menyesuaikan diri, sempat stres lagi, tapi masih bisa diatasi. Kami berusaha
beradaptasi. Kami belum pernah menyewa rumah sebelumnya, ini sesuatu yang baru
bagi kami. Saya sendiri merasa kurang nyaman karena tahu ini bukan rumah kami,
tapi bagaimana lagi?
Seiring waktu, saya mulai menerima, berusaha berteman baik
dengan rumah baru kami, sambil menyusun rencana-rencana yang tertunda, mengisi
waktu, menyibukkan diri, apalagi karena pandemi, kami juga menghindari
bepergian jika memang tidak diperlukan. Tempat kerja saya juga memberlakukan
WFH alias kerja dari rumah. Jadilah saya banyak menghabiskan waktu di rumah.
Sepertinya Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi juga akan kami lalui di
rumah saja. Meski kadang stres karena merindukan alam dan dunia luar, tapi
tetap harus dijalani dengan sabar.