Kamis, 16 Agustus 2018

Aku Sudah Menemukanmu

Kau duduk di atas bukit menatap matahari terbit. Aku melihatmu tak jauh dari tempatmu berada. Aku tidak tahu apakah harus mendekatimu atau membiarkanmu menikmati suasana. Kuputuskan untuk berbaring saja, di bawah bayangan pohon paling besar di padang sabana yang luas ini, melihat langit dari sela-sela rantingnya, memperhatikan dengan saksama ayunan dahan-dahan yang sesekali menjatuhkan daun-daun kekuningan. Aku tidak tahu namanya, tapi aku merasa mengenali pohon ini, mungkin aku pernah bertemu pohon ini sebelumnya, di masa lalu, di tempat yang sama. Aku tidak mengingatnya, tapi mungkin pohon ini mengingat semua. “Apa kau megenaliku?”, tanyaku dalam hati seakan pohon itu mendengarnya.

Mereka terus berkata padaku bahwa aku harus mencarimu tapi tidak pernah memberitahuku di mana keberadaanmu. Kau tahu, tanpa mereka menyuruhku pun aku tetap akan mencarimu. Ini semacam misi penting yang diberikan kepadaku bahkan sebelum aku menyadari hidupku sebagai manusia, mungkin jauh sebelum itu. Aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapapun. Bercerita terlalu banyak kepada orang yang tidak benar-benar peduli hanya akan mengacaukan suasana harimu. Mereka akan berkomentar sesuka hati dan tidak akan pernah mau berusaha mengerti.

Aku menoleh ke arahmu yang memakai kaus berwarna ungu, celana pendek berwarna kemiri, tanpa alas kaki. Kau masih tidak bergerak, masih menatap matahari yang semakin lama semakin menyilaukan. “Apakah matamu tidak sakit? Atau kau sedang menahannya?”. Barangkali kau sedang bersenang-senang dalam kesunyian itu. Kesunyian yang belum tentu sepi, kesunyian yang mungkin ramai dan hanya kau yang bisa mendengar keramaian itu. Aku kembali memalingkan wajahku ke arah batang-batang pohon yang bergoyang perlahan mengikuti arah angin. Aku bisa seharian diam dan menikmati suasana tenang semacam ini.

Angin dingin menyapu wajah dan seluruh tubuhku. Kabut tipis turun perlahan menyelimuti seluruh permukaan bukit, menyamarkan rupa pohon berukuran raksasa di hadapanku menjadi siluet berwarna abu-abu. Aku menyukai sekaligus membenci hal-hal samar semacam itu. Aku bisa berlama-lama menikmatinya, namun dalam waktu yang bersamaan, hal itu juga membuatku bertanya-tanya dan merasa bimbang saat jawaban dari rasa penasaranku tak juga kutemukan. Kadang kupikir lebih baik aku melihat keseluruhannya atau tidak melihatnya sama sekali. Kuputuskan untuk memejamkan mata. Seringkali aku merasa bisa melihat dengan lebih jelas saat mataku terpejam.

Aku melihat pohon yang sama, hanya saja daun-daunnya berwarna merah. Kulihat langit bagaikan kubah raksasa berwarna jingga. Mendadak aku merasa hawa menjadi sangat panas. Kulihat tidak ada siapapun di tempat ini kecuali aku. Aku duduk terdiam sambil terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana aku bisa sampai di tempat aneh tapi tidak asing ini. Sebuah tangan muncul di depan wajahku mengulurkan botol kecil berisi air. Sedikit mengagetkanku. Aku menoleh demi mengetahui siapa sosok itu. Seorang laki-laki yang baru pertama kulihat tapi rasanya sudah lama aku mengenalnya, tersenyum akrab. Setelah aku mengambil botol itu dan meminum separuh isinya, laki-laki berkaus kuning itu berkata, “Ayo pulang!”.

Saat aku membuka mata, kabut sudah menghilang. Aku menyadari baru saja aku bermimpi. Aku ingat itu adalah mimpi yang sama yang pernah kualami beberapa kali tahun-tahun belakangan ini. Aku sering mengalami mimpi aneh saat tidur sehingga aku tidak pernah terlalu memikirkan mimpi-mimpi itu sebelumnya karena kupikir itu adalah hal yang biasa. Setelah benar-benar sadar dari tidur, aku melihat ke tempat di mana kau duduk tadi. Tidak ada. Aku menyapu pandanganku mengelilingi bukit, kau tidak ada di manapun. Aku terdiam sejenak. Kuputuskan bahwa aku tidak perlu mencarimu lagi. Aku lelah dan ingin pulang.

Setelah hari itu, hari di mana aku melihatmu di atas bukit, mimpi itu tak pernah lagi kembali. Misiku selesai, aku sudah menemukanmu.