Sabtu, 28 Desember 2024

Membaca Laut

Setelah lama sekali hari-hariku tidak diisi dengan membaca buku, akhirnya aku berkawan lagi dengan buku. Buku sebelumnya di akhir tahun 2018 yang baru separuh aku baca belum kulanjutkan. Aku mungkin akan mengulang dari awal untuk buku itu, tapi kapan-kapan. Tidak tahu juga kapan tepatnya.

Buku yang kubaca setelah enam tahun tidak membaca itu berjudul ‘Laut Bercerita’ yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Selama ini aku sudah sering melihat buku itu di toko buku dan bersliweran di linimasa media sosial para pecinta buku. Namun karena belum berjodoh, aku belum sempat membacanya. Seorang kawan yang sebelumnya membaca buku tersebut menawarkan bukunya padaku untuk kupinjam. Akupun mengiyakan.


Buku "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori


Ternyata buku 'Laut Bercerita' adalah salah satu jenis buku dengan gaya penulisan yang aku suka. Tokoh-tokoh di dalamnya memiliki karakter yang kuat dan terasa nyata. Buku ini menceritakan tentang kegiatan aktivisme sekelompok mahasiswa di tahun 90-an. Untukku, dunia aktivisme merupakan perihal yang sulit dan sangat menyita tenaga. Aku selalu salut pada orang-orang yang mau menyediakan waktu, pikiran, tenaganya, dan bahkan tanpa dibayar untuk selalu siap membela dan berpihak kepada masyarakat rentan dan membutuhkan pertolongan.

Di luar kegiatan aktivisme yang dilakukan dengan sangat serius oleh para tokoh di dalam buku, mereka juga menjalankan hidup mereka dengan sepenuh hati. Hubungan antar keluarga dan pertemanan mereka juga terasa hangat. Di tengah dinamika konflik yang terjadi, aku bisa merasakan bahwa mereka tetap menikmati hidup dengan menghasilkan karya dan menuangkan perasaan yang mereka miliki di dalamnya.

Selalu menyenangkan melihat orang-orang memiliki gairah untuk berkarya dengan bersungguh-sungguh dan menjalankannya sebagai bagian dari hidup. Aku bisa merasakan bagaimana tokoh Laut bersungguh-sungguh saat membuat tulisan dan memasak makanan untuk keluarga dan kawan-kawannya, atau tokoh Alex yang digambarkan seolah memberi nyawa pada gambar-gambar yang dihasilkan dari kameranya. Energi yang disampaikan penulis melalui tokoh-tokohnya dapat dirasakan hanya dengan membacanya saja.

Sudah lama aku tidak merasakan kesan yang dalam saat membaca, jadi aku bersyukur 'Laut Bercerita' menjadi buku pertama yang kubaca setelah hiatus beberapa lama. Tentu saja aku berharap masih ada banyak buku yang akan kubaca selanjutnya.

Jumat, 18 Oktober 2024

Kenapa Tidak dari Dulu?

Belakangan ini ketika seseorang menanyakan pertanyaan “Kenapa tidak dari dulu?” padaku, aku akan menjawabnya dengan “Tidak bisa.” Jika suatu hal baru terjadi sekarang, karena memang harus terjadi sekarang, bukan di masa lalu, bukan sekarang, bukan juga di masa depan. Katanya semua hal akan terjadi di saat yang tepat. Jika itu terjadi sekarang, artinya sekaranglah saat yang tepat. Jika kau mempercepat sesuatu agar terjadi sesuai dengan keinginanmu, sebelum mengusahakannya dengan lebih keras, pastikan semua hal yang berhubungan dengan hal tersebut siap, jika tidak, akan ada konsekuensi yang mengikutinya dan bisa jadi justru memberatkan di kemudian hari.

Aku ingat saat SMA kelas tiga, aku tiba-tiba menjadi akrab dengan guru perempuan di akhir semester kedua. Aku menjadi lebih sering bertanya tentang materi-materi pelajaran matematika karena aku menyadari hari ujian akhir tinggal sebentar lagi. Sebelumnya aku tidak pernah dekat dengan guru manapun. Aku bukan murid yang pintar, dan tidak terlalu rajin di sekolah. Biasanya di sekolahku guru-guruku akan dekat dengan murid-murid yang pandai, atau kaya. Aku adalah murid yang biasa-biasa saja, dan aku tidak akan dekat dengan siapapun yang terlihat tidak ingin dekat denganku. Dengan guruku ini kupikir juga hanya akan mengobrol tentang materi-materi ujian saja. Sampai suatu hari ketika sekolah hanya tanggal beberapa bulan saja, aku menjadi sering mengobrol dengan guru matematikaku tersebut, kemudian di suatu percakapan beliau berkata, “Ratna, ternyata kamu lucu ya? Kenapa ga dari dulu ya kenal sama kamu?”. Aku hanya tertawa, tidak tahu harus menjawab apa, apalagi aku tidak merasa bahwa diriku lucu.

Setahun lalu kawanku menikah dengan seseorang yang dikenalnya belasan tahun sebelumnya. Hanya saja mereka tidak sempat dekat. Ia bercerita padaku bagaimana dulu mereka saling mengenal dan tidak pernah berpikir untuk berteman atau menjalin hubungan. Mereka dipertemukan kembali bertahun setelahnya dan menjadi dekat hingga akhirnya menikah. Kawanku terlihat sedikit menyesal dan berkata kepadaku, “Kenapa tidak dari dulu?” Kujawab, “Tidak bisa, dulu kamu dan dia adalah orang yang berbeda. Kalian harus menjalani hidup, melalui waktu, mengalami berbagai peristiwa yang membuat diri kalian berkembang untuk bisa menjadi kalian yang hari ini.” Mungkin saja jika kedekatan mereka terjadi di masa lalu, belum tentu hasilnya akan sama seperti hari ini. Mereka bisa bersama hari ini, karena mereka sama-sama sudah siap bagi satu sama lain.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama berkata, ia ingin kehidupannya hari ini terjadi pada sepuluh tahun lalu. Tentu saja tidak bisa. Sepuluh tahun lalu dia tidak bisa melihat sesuatu seperti caranya melihat sesuatu hari ini. Aku mengenalnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Yang kutahu, ia yang dulu bukanlah orang yang berpikir dengan cara yang sama seperti dirinya hari ini. Ia harus bertemu dengan banyak hal terlebih dahulu sebelum ia menjadi dirinya yang hari ini. Itulah, tanpa pilihan-pilihan hidup yang pernah dia ambil sebelumnya, dan segala hal yang dia pernah alami, ia tidak akan memiliki pikiran, perasaan, dan kebijaksanaan yang ia miliki hari ini. Barangkali ia menyesali kenyataan bahwa ia tidak bertemu dengan dirinya yang hari ini lebih cepat.

Jadi kenapa tidak dari dulu? Ya karena tidak bisa. Untuk banyak hal yang terjadi kita perlu menyiapkan diri, dengan atau tanpa disadari, dan bukan hanya tenaga dan pikiran, persiapan juga membutuhkan waktu untuk berproses. Banyak hal yang kita inginkan saat ini tidak terjadi seketika karena belum waktunya, belum siap, dan belum boleh terjadi. Suatu hal tidak berdiri sendiri, kita harus siap dengan peristiwa yang terjadi dan hal-hal lain apapun yang mengiringi peristiwa tersebut.

Minggu, 28 Januari 2024

Hidup Baru yang Baik-Baik Saja, Semoga.

Aku sudah pindah lagi ke rumah baru. Rumah orang tuaku yang dibangun selama beberapa bulan. Aku ikut serta dalam prosesnya yang kulalui dengan perasaan babak belur. Lelah sekali. Entah bagaimana, tapi begitulah, aku tidak ingin menceritakannya secara penuh, karena terus terang saja aku sedikit trauma.

Ada persoalan-persoalan yang meskipun kau sudah berusaha mengatasinya dengan sederhana, tapi tetap saja beberapa hal rasanya terlalu rumit untuk diselesaikan meskipun akhirnya teratasi juga dengan "berdarah-darah". Begitulah jika kau berurusan dengan beberapa manusia dengan pikiran-pikirannya yang kadang "ajaib" dan sedikit merepotkan. 

Kami pindah sejak akhir Oktober 2023. Rumah ini lebih jauh dari pusat kota, tapi sejauh ini cukup nyaman. Aku selalu merasa keadaan ikut berubah setiap kali kami pindah. Bukan hanya rumah yang berbeda, suasana yang berbeda, tapi kehidupan juga menjadi berbeda. Aku menjalani kehidupan yang sama dengan situasi yang berbeda. Setiap hari yang kulalui tidak lagi sama. Seperti memasuki fase lain dalam kehidupan.

Seperti umumnya manusia ketika memasuki kehidupan yang baru, tentu saja aku punya banyak sekali rencana. Tapi jangan tanya apakah aku akan mewujudkannya atau tidak. Yang pasti aku sedang berusaha. Usahaku mungkin sangat kecil, tapi aku berusaha. Pelan. Sangat pelan. Jika kau melihatku, mungkin kau tidak akan sabar.

Aku tidak tahu kemana lagi kehidupan akan membawaku. Peristiwa-peristiwa apa lagi yang akan membentur dan membentukku. Aku harap aku masih punya jatah bahagia, atau setidaknya hidup yang baik-baik saja. Jika kau membaca ini, aku berharap yang sama untukmu juga.