Senin, 10 November 2025

Ketimpangan yang Tidak Tiba-Tiba

Seseorang yang kita kenal tidak tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak kita duga, yang kita kira tidak mungkin. Mereka sangat mungkin melakukan apapun itu. Kita tidak kecewa pada perilaku mereka. Kita kecewa dengan kenyataan bahwa dugaan kita salah. Orang yang bertahun-tahun kita kenal bahkan bisa salah menyimpulkan sesuatu tentang kita. Maka aku sering bingung pada orang-orang yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tentang orang lain. Memang, sering kali ketika kita merasa dekat dengan seseorang, penilaian kita tentangnya menjadi bias. Merasa sangat mengenal orang itu hanya dari beberapa percakapan. Menyimpulkan seseorang hanya dari sedikit yang dilihat dan didengar, ditambah dengan asumsi-asumsi yang muncul di kepala sendiri.

Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita lihat sebelumnya dan kita menjadi terkejut, kita dengan seenaknya berkata bahwa mereka telah berubah. Padahal bisa jadi bukan mereka yang berubah, tapi kita yang baru melihat sisi lain mereka. Kenapa baru terlihat? Karena orang-orang tidak bisa langsung menunjukkan semua sisi yang ia saat belum lama saling mengenal. Bahkan jika relasi itu berlangsung selama bertahun-tahun, bukan berarti kita benar-benar 100% mengenalnya meski kamu mengobrol dengannya setiap hari selama sepuluh tahun. Seseorang biasanya baru bisa menunjukkan sisi tertentu karena baru bertemu dengan situasi yang spesifik.

Kadang ketika semua terasa berjalan dengan lancar, ketika kau percaya bahwa kau punya frekuensi yang sama dengannya, suatu hal yang terlalu melanggar prinsipmu terjadi dan memberimu bukti bahwa dalam satu hal yang sangat mendasar, kalian berbeda pandangan. Semua hal yang tadinya seimbang menjadi timpang, bahkan menyebabkan rasa iritasi pada perasaan. Ini bukan perkara salah atau benar, tapi ini jadi mempengaruhi banyak hal yang akan terjadi selanjutnya. Pada akhirnya kau akan mencari cara bagaimana menghapus ketimpangan itu.

*sebuah pikiran yang tiba-tiba muncul setelah sebuah percakapan dengan seseorang yang telah berkawan denganku selama lebih dari 10 tahun. Kami baik-baik saja, dan masih saling bicara.

Kamis, 16 Oktober 2025

Menonton Konser Foo Fighters, Yay!

Di suatu siang tanggal 21 Mei 2025 aku merasa bersemangat setelah mendengar kabar bahwa Foo Fighters akan mengadakan konser di Jakarta. Aku mengetahui kabar ini di perjalanan saat aku menyetir sambil mendengarkan radio di mobil. Senang sekali rasanya mendengar kabar ini karena konser ini sudah kutunggu-tunggu sejak sangat lama. Foo Fighters sudah pernah mengadakan konser di Jakarta pada tahun 1995, pada saat itu aku masih sekolaah dasar. Ketika aku beranjak remaja aku tumbuh dengan menjadi penonton channel MTV dan Foo Fighters adalah band yang sangat aku nikmati lagu-lagunya, juga video musiknya yang pada saat itu kebanyakan bernuansa komedi. Ketika lagu mereka diputar di MTV, aku akan bernyanyi sambil membayangkan bahwa aku sedang menonton konser mereka. Foo Fighters mulai menjadi band nomor satu yang kusuka, lagu-lagunya, melodinya, liriknya, dan tentu saja cara Dave Grohl menyanyikannya. Mungkin bisa dikatakan, meski musiknya bergenre rock, tapi nada-nada lagunya seperti menghadirkan perasaan semacam saudade untukku.

Pengumuman konser disiarkan hanya beberapa hari sebelum hari penjualan tiket. Aku tahu momen ini akan datang. Pada saat itu rasanya sangat bersemangat dan bersiap untuk perang berebut tiket, dan aku tahu aku harus mendapatkan tiket itu. Mungkin ini berlebihan, tapi rasanya tidak ada orang yang seingin aku menonton konser itu, karena rasanya konser Foo Fighters kali ini memang dibuat untukku, haha. Baru pengumuman saja sudah membuatku bersemangat. 

Tanggal 26 Mei 2025, penjualan tiket dibuka. Aku masuk website penjualan tiket tepat pukul 15.00 WIB. Ada 4137 antrian di depanku. Aku sudah mempersiapkan segala yang diperlukan, aku sudah mengetik nama lengkap, nomor ponsel, alamat email, dan nomor identitas terlebih dahulu agar proses pendaftaran yang kulakukan lebih mudah dan cepat. Aku sudah tahu aku akan memesan tiket CAT 1A karena aku tahu aku harus ada di kategori paling depan, tidak bisa tidak. Beberapa saat kemudian setelah aku berhasil masuk website dan melakukan langkah-langkah pembelian tiket, aku berhasil mendapatkan tiket itu. Yes, tiket CAT 1A sudah berhasil dibeli, haha, senang sekali!

Hari-hari menuju konser berjalan seperti biasa. Aku tidak memberi tahu orang-orang, tidak menulis status atau membagikan poster atau apapun tentang konser Foo Fighters di akun media sosialku, aku juga tidak terlalu mempersiapkan banyak hal. Aku hanya merasa tenang karena aku tahu aku akan menjalani sesuatu yang memang aku inginkan beberapa bulan ke depan.

Aku baru membeli tiket kereta dua hari sebelum konser berlangsung. Beberapa jam sebelum berangkat, aku baru menyiapkan outfit dan perlengkapan yang kubutuhkan untuk menonton konser, juga perlengkapan lain untuk mendaki, karena setelah konser selesai aku akan melanjutkan perjalanan ke Purwakarta untuk mendaki Gunung Lembu. Aku berpikir, aku pergi sedikit jauh dari rumah, maka sekalian saja aku ingin menjelajahi gunung yang tidak terlalu jauh dari sana. Aku akan melakukan Dua hal yang kusukai, menonton konseer Foo Figghters dan mendaki. Aku sangat bersemangat, meski jika kau melihatku secara langsung, aku terlihat biasa saja. Hehe.

 

Kamis, 2 Oktober 2025

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku bangun pagi, mandi, bersiap, berpamitan pada ayah dan ibuku, dan berangkat ke stasiun dengan memesan ojek online. Syukurlah aku tidak ketinggalan kereta, belakangan ini aku memang sering bangun pagi, jadi tidak masalah. Kereta berangkat dari Stasiun Semarang Tawang tepat waktu. Di jalan aku sibuk dengan ponsel, melihat pemandangan, makan sebungkus roti sisir dan sesekali minum air putih yang kubeli di stasiun karena ternyata aku lupa membawa air minum dari rumah. Seorang penumpang laki-laki dengan kaos hitam dan celana cargo yang juga berwarna hitam duduk di kursi di sisi kiri belakang kursiku . Aku pikir sepertinya dia juga akan menonton konseer yang sama karena kulihat tulisan Foo Fighters di kaosnya. Aku sebenarnya ingin menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu-lagu Foo Fighters, tapi aku pikir aku harus menghemat baterai ponselku meski aku bisa mengisi ulang daya di kereta dan membawa dua buah bank daya.

Aku sampai di Stasiun Jakarta Pasar Senen sekitar pukul 13.00 WIB. Waktu kedatangan terlambat setengah jam dari jadwal. Tadinya aku ingin makan siang dulu di Pasar Senen, tapi kubatalkan. Pikirku mungkin aku nanti makan di sekitar stasiun transit saja. Aku turun dari kereta Menoreh dan menuju ke peron pemberhentian Commuter Line. Dari Stasiun Pasar Senen aku menuju Stasiun Kampung Bandan untuk transit dan kemudian kembali naik Commuter Line menuju Stasiun Ancol. Aku tidak jadi makan siang di Stasiun Kampung Bandan karena rasanya tidak berselera. Aku sedang ingin makanan yang seperti masakan rumah, bukan semacam makanan dengan bahan baku makanan beku. Sesampainya di Stasiun Ancol, aku menggunakan ojek pangkalan menuju ke Gerbang Tiket Ancol. Dari sana, aku naik Bus Wara-Wiri bersama dengan orang-orang yang akan menonton konser Foo Fighters lainnya untuk masuk ke dalam area pertunjukan.

Sesampainya di parkiran, aku turun dari bus dan berpikir untuk mencari makanan, tapi kemudian aku tertarik untuk berkeliling lebih dulu ke pantai dan duduk-duduk di bawah pohon menikmati suasana sore. Ketika hari sudah mulai gelap, aku berjalan ke arah area konser dan melewati kantin karyawan. Kupikir aku akan makan di sana saja. Di kantin itu ada banyak prajurit TNI yang memang sedang melakukan persiapan untuk hari ulang tahun TNI pada hari miggunya. Selain tentara, beberapa kulihat juga penonton konser juga makan malam di kantin tersebut.

Selesai makan aku berjalan ke arah area pertunjukan. Di sana sudah lumayan ramai, aku mengambil beberapa foto dan video sambil berjalan ke arah gate. Setelah merasa cukup mengabadikan beberapa gambar, aku masuk ke dalam. Di pintu masuk ini, petugas memeriksa tasku dan melakukan body check, kemudian aku menunjukkan tiket untuk di-scan, kartu identitasku diperiksa untuk mencocokan data pada tiketku, setelah itu petugas memakaikanku gelang. Aku tidak ingin terlambat masuk agar mendapat tempat yang tidak terlalu jauh dari panggung. Ada beberapa booth makanan, booth merchandise yang antriannya sangat panjang, serta beberapa booth sponsor dan berbagai hiburannya. Aku sempat menonton pertunjukan kecil di salah satu booth. Di dekat pintu masuk CAT 1A juga ada backdrop di mana orang-orang sampai mengantre untuk berfoto di situ. Aku tidak ikut mengantre, hanya mengambil video sambil mengamati saja karena aku ingin segera masuk. Di pintu masuk CAT 1A, petugas memeriksa tasku kembali untuk memastikan bahwa aku tidak membawa barang-barang yang dilarang.

Di dalam sudah ramai tapi orang-orang masih duduk-duduk saja. Aku pun mencari tempat dan duduk, tidak terlalu di depan tapi juga tidak di belakang dan tidak terlalu pinggir. Tak lama setelah aku duduk tiba-tiba semua orang berdiri, aku pun ikut berdiri dan maju. Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB. Konser dijadwalkan akan dimulai pukul 20.00 WIB. Kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selesai menyanyi lagu Indonesia Raya bersama, kami menunggu sambil berdiri. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB tapi konser tidak juga dimulai, lama sekali. Lagu-lagu bergenre rock diputarkan sambil menunggu para personel Foo Fighters muncul di atas panggung. Penonton mulai resah dan tidak sabar, tapi tetap menunggu, beberapa sambil mengatakan celotehan seperti “Ayoo, besok kerja!”, “Ga dapet cuti nih!”, “Mana abis ini harus nyetir 4 jam lagi!”.

Sekitar pukul 20.30 WIB para personil Foo Fighters akhirnya muncul. Penonton berteriak bergemuruh menyambut kehadiran mereka di atas panggung, tak terkecuali aku, “AAAAAKKKKKK!!!!”. Mereka langsung membawakan lagu pertama berjudul All My Life. Kami pun bernyanyi dan berteriak bersama, menggerakkan badan mengikuti tempo, dan hampir semua hafal lagunya. Rasanya meski saya datang sendiri tapi tidak merasa sendirian. Setelah membawakan beberapa lagu, Dave baru menyapa penonton. Ia bercerita yang bahwa Foo Fighters baru kembali ke kota ini setelah 30 tahun. Dia juga memberi tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun terbaiknya. Ia berkata, dulu saat pertama kali konser di Jakarta pada tahun 1995 mereka hanya memiliki 12 lagu, sekarang mereka memiliki banyak lagu. Para penonton berteriak menyambut cerita Dave. aku sangat menikmati konser ini, lagu demi lagu dibawakan. Hampir setiap hari aku mendengarkan lagu-lagu mereka sambil bekerja, sambil bersantai, atau saat harus menyetir jarak jauh agar tidak mengantuk, kini aku bernyanyi diiringi Foo Fighters secara langsung bersama banyak orang yang juga menyukai lagu-lagu mereka. Aku menyukai semua lagu mereka. Sebanyak 25 lagu dibawakan selama 2,5 jam, meski rasanya masih kurang. Setelah Everlong dibawakan sebagai lagu penutup, tidak lama kemudian mereka berpamitan, dan lampu panggung dimatikan. Akhirnya kami harus berpisah. Seperti pertemuan, perpisahan juga penting untuk menjaga sesuatu tetap istimewa. Bayangkan jika setiap hari aku menonton konser mereka, mungkin rasanya tidak akan sama seperti hari ini.


Konser selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Penonton membubarkan diri dan berjalan ke arah luar meninggalkan area konser. Semua orang sibuk bersiap untuk pulang. Beberapa berjalan ke parkiran mobil dan motor, beberapa lainnya menunggu ojek atau taksi di area penjemputan. Sedangkan aku mencari seorang kawan yang sudah menungguku. Kami akan mendaki bersama pagi ini. Sekarang kami harus mengejar kereta terakhir di stasiun Jakarta Kota untuk menuju ke Purwakarta. Baru berjalan sebentar ke arah pintu keluar, aku menyadari kemeja yang kugantungkan di tas hilang, jatuh entah di mana. Lalu aku dan kawanku berkeliling Ancol, mencoba untuk mencarinya, tapi sayang tidak menemukannya. Sekarang sudah lebih dari pukul 23.30 WIB, aku hanya punya kurang dari setengah jam untuk mengejar kereta terakhir. Aku mencoba memesan taksi, tapi tidak juga mendapatkannya sementara waktu terus berjalan. Kawanku mencoba bertanya kepada tukang ojek, apakah ada yang bisa mengantarkan kami ke stasiun Jakarta Kota dengan cepat? Kami tidak keberatan jika dia meminta bayaran yang mahal. Ia bersedia dan mengajak satu temannya.

Naiklah aku dan kawanku ke motor mereka. Aku membonceng motor butut yang setiap putaran bannya mengeluarkan suara, dengan lampu yang tidak menyala, dan kami juga tidak memakai helm. Dengan keadaan motor yang mengenaskan seperti itu, yang kecepatan maksimalnya barangkali hanya 40 - 50 km/jam, tukang ojek ini sungguh berdedikasi, meski rasanya saat itu kami seperti dikejar penjahat karena kami melawan arah dan menerobos lampu merah agar bisa secepatnya tiba di Stasiun Jakarta Kota. Bapak ini sungguh cekatan dalam mencari jalan, sangat sat-set dan percaya diri sekali meski begitu banyak pelanggaran lalu lintas yang kami lakukan di Kota Jakarta pada tengah malam ini.

Sementara ojek yang membawa kawanku sering tertinggal dan kulihat beberapa kali oleng. Ternyata motornya juga sejenis motor butut yang bermasalah. Bapak ojek yang memboncengku beberapa kali bertanya “Temennya mana tadi?”, karena tidak terlihat. Bapak tersebut meminta maaf padaku karena bapak ojek yang membawa kawanku itu lansia sehingga kurang cekatan. Sambil menunggu ojek kawanku, Bapak ojekku bertanya,  “Sekarang jam berapa?” “Hampir jam 12 kataku.” “Keretanya jam berapa?” Kereta terakhir sebelum jam 12” Kemudian ia terkekeh sambil berkata, “Ga bisa pulang kamu! Wkwk!” Aku menjawabnya dengan terkekeh juga, “Iya, gpp, wkwk”, jawabku. Tidak lama, kami sampai di Stasiun Jakarta Kota, sebelum jam 12 malam kurang 4 menit tapi saat itu stasiun sudah tutup. Lucu sekali, Aku dan kawanku akhirnya menggunakan taksi online dan melanjutkan perjalanan ke Purwakarta untuk mendaki.

Pengalaman nonton Foo Fighters yang lucu, menyenangkan dan penuh dinamika, dan tentu saja mengisi energiku untuk beberapa waktu ke depan. Terima kasih banyak.

Set List:

  1. All My Life
  2. Times Like These
  3. Rope
  4. Pretender
  5. Stacked Actor
  6. La Dee Da
  7. These Days
  8. Walk
  9. My Hero
  10. Learn to Fly
  11. Rescued
  12. Aurora
  13. Big Me
  14. This Is A Call
  15. No Son of Mine
  16. Shame Shame
  17. White Limo
  18. Under You
  19. Winnebago
  20. Best of You
  21. Weenie Beenie
  22. Alone & Easy Target
  23. Monkey Wrench
  24. Exhausted
  25. Everlong

 

Selasa, 14 Januari 2025

Daya Terisi Penuh

Hai Kamu!

Pernah ga kamu mengalami pagi yang menyenangkan? Pagi yang hadir saat kamu bangun tidur setelah pulang dari melakukan hal-hal seru yang kamu suka di hari sebelumnya.

Kamu tahu kan apa yang aku suka? Berjalan-jalan di hutan, hujan-hujanan, sambil mengobrol, dengan suasana yang menyenangkan, tentu saja bersama orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang kurang-lebih sama. Saat ini aku sedang merasakan pagi seperti itu, setelah lama tidak. Aduh, menyenangkan sekali! Hati dan pikiranku seperti berbunga, penuh dengan ide-ide seru dan harapan-harapan baik tentang hari esok.

Melakukan hal-hal yang kita suka terasa seperti mengisi daya dan aku baru saja mengisi dayaku hingga penuh. Aku berharap energi ini cukup untuk setidaknya satu bulan ke depan. Sekarang aku menulis ini karena merasa energiku sedang besar sehingga aku bingung harus mulai melakukan apa dan dari mana. Jadi kupikir menulis saja dulu tentang perasaan ini.

Pada saat-saat seperti ini hidup terasa akan berjalan dengan baik dan membahagiakan. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dan kesemuanya terasa menyenangkan. Meski sedikit bertanya-tanya tentang bagaimana jika aku mengacaukannya. Kebiasaan terlalu banyak berpikir memang sering kali datang disaat yang tidak tepat. Dasar aku! Padahal hanya perlu melakukannya sesuai rencana kan? Haha.

Ya sudah segini dulu tulisannya. Kamu jangan lupa hidup dengan baik dan jaga kesehatan ya!

Sabtu, 28 Desember 2024

Membaca Laut

Setelah lama sekali hari-hariku tidak diisi dengan membaca buku, akhirnya aku berkawan lagi dengan buku. Buku sebelumnya di akhir tahun 2018 yang baru separuh aku baca belum kulanjutkan. Aku mungkin akan mengulang dari awal untuk buku itu, tapi kapan-kapan. Tidak tahu juga kapan tepatnya.

Buku yang kubaca setelah enam tahun tidak membaca itu berjudul ‘Laut Bercerita’ yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Selama ini aku sudah sering melihat buku itu di toko buku dan bersliweran di linimasa media sosial para pecinta buku. Namun karena belum berjodoh, aku belum sempat membacanya. Seorang kawan yang sebelumnya membaca buku tersebut menawarkan bukunya padaku untuk kupinjam. Akupun mengiyakan.


Buku "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori


Ternyata buku 'Laut Bercerita' adalah salah satu jenis buku dengan gaya penulisan yang aku suka. Tokoh-tokoh di dalamnya memiliki karakter yang kuat dan terasa nyata. Buku ini menceritakan tentang kegiatan aktivisme sekelompok mahasiswa di tahun 90-an. Untukku, dunia aktivisme merupakan perihal yang sulit dan sangat menyita tenaga. Aku selalu salut pada orang-orang yang mau menyediakan waktu, pikiran, tenaganya, dan bahkan tanpa dibayar untuk selalu siap membela dan berpihak kepada masyarakat rentan dan membutuhkan pertolongan.

Di luar kegiatan aktivisme yang dilakukan dengan sangat serius oleh para tokoh di dalam buku, mereka juga menjalankan hidup mereka dengan sepenuh hati. Hubungan antar keluarga dan pertemanan mereka juga terasa hangat. Di tengah dinamika konflik yang terjadi, aku bisa merasakan bahwa mereka tetap menikmati hidup dengan menghasilkan karya dan menuangkan perasaan yang mereka miliki di dalamnya.

Selalu menyenangkan melihat orang-orang memiliki gairah untuk berkarya dengan bersungguh-sungguh dan menjalankannya sebagai bagian dari hidup. Aku bisa merasakan bagaimana tokoh Laut bersungguh-sungguh saat membuat tulisan dan memasak makanan untuk keluarga dan kawan-kawannya, atau tokoh Alex yang digambarkan seolah memberi nyawa pada gambar-gambar yang dihasilkan dari kameranya. Energi yang disampaikan penulis melalui tokoh-tokohnya dapat dirasakan hanya dengan membacanya saja.

Sudah lama aku tidak merasakan kesan yang dalam saat membaca, jadi aku bersyukur 'Laut Bercerita' menjadi buku pertama yang kubaca setelah hiatus beberapa lama. Tentu saja aku berharap masih ada banyak buku yang akan kubaca selanjutnya.

Jumat, 18 Oktober 2024

Kenapa Tidak dari Dulu?

Belakangan ini ketika seseorang menanyakan pertanyaan “Kenapa tidak dari dulu?” padaku, aku akan menjawabnya dengan “Tidak bisa.” Jika suatu hal baru terjadi sekarang, karena memang harus terjadi sekarang, bukan di masa lalu, bukan sekarang, bukan juga di masa depan. Katanya semua hal akan terjadi di saat yang tepat. Jika itu terjadi sekarang, artinya sekaranglah saat yang tepat. Jika kau mempercepat sesuatu agar terjadi sesuai dengan keinginanmu, sebelum mengusahakannya dengan lebih keras, pastikan semua hal yang berhubungan dengan hal tersebut siap, jika tidak, akan ada konsekuensi yang mengikutinya dan bisa jadi justru memberatkan di kemudian hari.

Aku ingat saat SMA kelas tiga, aku tiba-tiba menjadi akrab dengan guru perempuan di akhir semester kedua. Aku menjadi lebih sering bertanya tentang materi-materi pelajaran matematika karena aku menyadari hari ujian akhir tinggal sebentar lagi. Sebelumnya aku tidak pernah dekat dengan guru manapun. Aku bukan murid yang pintar, dan tidak terlalu rajin di sekolah. Biasanya di sekolahku guru-guruku akan dekat dengan murid-murid yang pandai, atau kaya. Aku adalah murid yang biasa-biasa saja, dan aku tidak akan dekat dengan siapapun yang terlihat tidak ingin dekat denganku. Dengan guruku ini kupikir juga hanya akan mengobrol tentang materi-materi ujian saja. Sampai suatu hari ketika sekolah hanya tanggal beberapa bulan saja, aku menjadi sering mengobrol dengan guru matematikaku tersebut, kemudian di suatu percakapan beliau berkata, “Ratna, ternyata kamu lucu ya? Kenapa ga dari dulu ya kenal sama kamu?”. Aku hanya tertawa, tidak tahu harus menjawab apa, apalagi aku tidak merasa bahwa diriku lucu.

Setahun lalu kawanku menikah dengan seseorang yang dikenalnya belasan tahun sebelumnya. Hanya saja mereka tidak sempat dekat. Ia bercerita padaku bagaimana dulu mereka saling mengenal dan tidak pernah berpikir untuk berteman atau menjalin hubungan. Mereka dipertemukan kembali bertahun setelahnya dan menjadi dekat hingga akhirnya menikah. Kawanku terlihat sedikit menyesal dan berkata kepadaku, “Kenapa tidak dari dulu?” Kujawab, “Tidak bisa, dulu kamu dan dia adalah orang yang berbeda. Kalian harus menjalani hidup, melalui waktu, mengalami berbagai peristiwa yang membuat diri kalian berkembang untuk bisa menjadi kalian yang hari ini.” Mungkin saja jika kedekatan mereka terjadi di masa lalu, belum tentu hasilnya akan sama seperti hari ini. Mereka bisa bersama hari ini, karena mereka sama-sama sudah siap bagi satu sama lain.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama berkata, ia ingin kehidupannya hari ini terjadi pada sepuluh tahun lalu. Tentu saja tidak bisa. Sepuluh tahun lalu dia tidak bisa melihat sesuatu seperti caranya melihat sesuatu hari ini. Aku mengenalnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Yang kutahu, ia yang dulu bukanlah orang yang berpikir dengan cara yang sama seperti dirinya hari ini. Ia harus bertemu dengan banyak hal terlebih dahulu sebelum ia menjadi dirinya yang hari ini. Itulah, tanpa pilihan-pilihan hidup yang pernah dia ambil sebelumnya, dan segala hal yang dia pernah alami, ia tidak akan memiliki pikiran, perasaan, dan kebijaksanaan yang ia miliki hari ini. Barangkali ia menyesali kenyataan bahwa ia tidak bertemu dengan dirinya yang hari ini lebih cepat.

Jadi kenapa tidak dari dulu? Ya karena tidak bisa. Untuk banyak hal yang terjadi kita perlu menyiapkan diri, dengan atau tanpa disadari, dan bukan hanya tenaga dan pikiran, persiapan juga membutuhkan waktu untuk berproses. Banyak hal yang kita inginkan saat ini tidak terjadi seketika karena belum waktunya, belum siap, dan belum boleh terjadi. Suatu hal tidak berdiri sendiri, kita harus siap dengan peristiwa yang terjadi dan hal-hal lain apapun yang mengiringi peristiwa tersebut.

Minggu, 28 Januari 2024

Hidup Baru yang Baik-Baik Saja, Semoga.

Aku sudah pindah lagi ke rumah baru. Rumah orang tuaku yang dibangun selama beberapa bulan. Aku ikut serta dalam prosesnya yang kulalui dengan perasaan babak belur. Lelah sekali. Entah bagaimana, tapi begitulah, aku tidak ingin menceritakannya secara penuh, karena terus terang saja aku sedikit trauma.

Ada persoalan-persoalan yang meskipun kau sudah berusaha mengatasinya dengan sederhana, tapi tetap saja beberapa hal rasanya terlalu rumit untuk diselesaikan meskipun akhirnya teratasi juga dengan "berdarah-darah". Begitulah jika kau berurusan dengan beberapa manusia dengan pikiran-pikirannya yang kadang "ajaib" dan sedikit merepotkan. 

Kami pindah sejak akhir Oktober 2023. Rumah ini lebih jauh dari pusat kota, tapi sejauh ini cukup nyaman. Aku selalu merasa keadaan ikut berubah setiap kali kami pindah. Bukan hanya rumah yang berbeda, suasana yang berbeda, tapi kehidupan juga menjadi berbeda. Aku menjalani kehidupan yang sama dengan situasi yang berbeda. Setiap hari yang kulalui tidak lagi sama. Seperti memasuki fase lain dalam kehidupan.

Seperti umumnya manusia ketika memasuki kehidupan yang baru, tentu saja aku punya banyak sekali rencana. Tapi jangan tanya apakah aku akan mewujudkannya atau tidak. Yang pasti aku sedang berusaha. Usahaku mungkin sangat kecil, tapi aku berusaha. Pelan. Sangat pelan. Jika kau melihatku, mungkin kau tidak akan sabar.

Aku tidak tahu kemana lagi kehidupan akan membawaku. Peristiwa-peristiwa apa lagi yang akan membentur dan membentukku. Aku harap aku masih punya jatah bahagia, atau setidaknya hidup yang baik-baik saja. Jika kau membaca ini, aku berharap yang sama untukmu juga.

Rabu, 18 Oktober 2023

Kalimat-Kalimat Hari Ini

 "Tidak ada harapan. beberapa orang tidak tertolong. Bukan karena tidak ada yang bisa menolong, tapi karena mereka tidak mau ditolong untuk menjadi manusia dewasa seutuhnya."

"Ada masanya kau dituntut untuk berkompromi, padahal bukan kau yang mengucap janji sehidup semati."

"Susah payah menyembuhkan diri, untuk kemudian disakiti lagi."

"Kita bisa belajar di kelas yang sama, diajar oleh guru yang sama, diberikan pelajaran yang sama, tapi tetap saja setiap orang memproses pengetahuan dengan berbeda."

"Sikap baik akan selalu mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya."

"Beberapa orang membuat keputusan-keputusan yang salah, lalu menyalahkan orang lain ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginannya."

"Orang dewasa seharusnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan tidak bergantung dan menyusahkan orang lain."

"Kamu boleh menerima kebaikan orang lain, tapi jangan lupa membalas kebaikan tersebut, minimal dengan bersikap baik."

"Memanfaatkan orang lain dengan berlebihan dengan alasan ga mau rugi justru membuatmu lebih merugi di segala aspek kehidupan."

"Selalu ada kemungkinan menjadi bahagia tanpa menyusahkan, tapi tentu saja orang lain belum tentu berpikir sama."