Dulu waktu masih di Taman Kanak-kanak, saya pernah mewakili sekolah
dalam perlombaan menggambar. Saya lupa di mana perlombaan itu berlangsung, tapi
saya ingat kalau waktu itu saya tidak menjadi juara. Meski begitu, bisa
dikatakan bahwa itu adalah prestasi tertinggi saya di bidang menggambar, menjadi wakil sekolah dalam perlombaan menggambar.
Selanjutnya saya tidak menekuni bidang tersebut. Setiap kali mata pelajaran
seni rupa dan guru memberi kami tugas menggambar, saya memang menyukainya, tapi saya
tidak pernah berniat untuk menggambar dengan serius. Setiap adik saya mendapat tugas
menggambar, biasanya saya jugalah yang mengerjakannya dengan senang hati. Meski
hasilnya biasa-biasa saja, tapi saya senang melakukannya, tentu adik saya juga merasa senang karena dia tidak suka menggambar.
Setelah menyelesaikan proyek menulis selama bulan Februari
2017, saya ingin membuat lagi proyek sejenis, tapi kali ini adalah proyek
menggambar. Sama seperti proyek menulis yang saya lakukan setiap hari, saya
juga akan menggambar setiap hari selama bulan April 2017. Hanya saja saya tidak
akan memposting gambar saya setiap hari di blog ini, saya akan mengunggahnya
beberapa sekaligus secara bertahap yaitu pada tanggal 8, 16, 24 dan 30 April
2017. Saya tidak akan menggambar sesuatu yang rumit, yang sederhana saja. Saya
juga tidak akan mewarnainya, hitam putih saja. Oh iya, proyek ini saya beri
nama #aprilmenggambar saja. Iya, terlalu banyak kata saja. Ya sudah, begitu
saja.
Rabu, 29 Maret 2017
Jumat, 24 Maret 2017
Barangkali Kita Tidak Pernah Sembuh dari Patah Hati
Barangkali tidak ada orang yang benar-benar sembuh dari patah
hati, entah itu karena cinta, kecewa pada seseorang, atau suatu keadaan. Kita hanya
mengira kita sudah sembuh, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kita
hanya berangsur-angsur melupakan kejadian yang tak menyenangkan itu. Bisa jadi kita
mengingat kejadian itu dan sudah tak merasakan sakit lagi. Kita kira kita telah
sembuh.
Mungkin begini, otak kita telah melupakan (atau menyimpan ingatan itu ke tempat yang tidak terjangkau) kejadian tak
menyenangkan tersebut. Kita telah melepaskan ingatan tentang sesuatu yang
menyakitkan itu meski tanpa sadar perasaan sakit itu tetap tinggal selamanya
dan bisa kambuh sewaktu-waktu. Ketika kambuh, kita seringkali tak mengetahui
penyebabnya. Kita melampiaskannya pada sesuatu yang lain yang tak ada
hubungannya seperti misalnya marah pada
hal-hal sepele. Kita marah pada sesuatu padahal bisa jadi kemarahan itu berasal
dari sesuatu yang lain di masa lalu. Mungkin dulu kemarahan itu muncul pertama kali saat kita
belum mampu mengingatnya dengan sadar, atau kita ingat dengan sadar tapi merasa
telah melupakannya. Dulu mungkin kita pernah terluka, kita lupa pada apa yang
menyebabkan luka, tapi bekas lukanya tak pernah hilang, bahkan dapat memunculkan kembali kemarahan yang telah lalu.
Setiap orang pada dasarnya baik, setiap bayi dilahirkan
dalam keadaan suci dan tak berdosa. Manusia tumbuh besar dengan melalui
berbagai macam keadaan yang akan membentuknya menjadi seorang yang berbeda satu
sama lain. Kita dibentuk dengan cara yang berbeda, dididik oleh orang-orang
yang berbeda, di lingkungan dan situasi yang berbeda. Setiap kita memiliki
sejarah yang tak sama. Itulah sebabnya kita dapat merespon sesuatu yang sama
dengan berbeda.
Saya banyak bertemu dengan orang-orang. Ada yang ketus, ada
yang ramah, ada yang setiap kali mengucapkan sesuatu seperti orang yang mau
marah, ada yang baik hati, ada yang meremehkan. Jika ada orang yang bersikap
buruk pada orang lain, saya sering berpikir, mungkin beban hidupnya berat, mungkin
dia mempunyai masalah, mungkin dia sering disakiti dan belum mampu berdamai
dengan masa lalunya yang pahit. Padahal setiap orang pasti punya masalah, pernah terpuruk dan jatuh, hanya
saja tak semua orang pandai menutupi bahwa hidupnya bermasalah, beberapa malah
menunjukkannya dengan memperlihatkan kebencian tanpa dasar yang jelas. Kadang
orang bisa bersikap baik karena dia mempunyai kepentingan, tapi yang lebih baik
tentu saja yang tak punya kepentingan apapun tapi tetap mau bersikap baik.
Kamis, 09 Maret 2017
Keinginan yang Menanti untuk Terwujud
Salah satu hal yang kadang terasa berat dalam hidup adalah
bagaimana kita tersiksa oleh keinginan kita sendiri. Keinginan-keinginan yang perlu
usaha ekstra keras untuk mewujudkannya. Ada kalanya saya merasa bingung dengan
keinginan-keinginan saya sendiri, bagaimana keinginan itu seringkali membuat
saya merasa lelah dan kadang putus asa dalam menjalani kehidupan. Meski rasanya
sudah berusaha keras tapi kenyataannya ada faktor-faktor lain di luar diri yang
terasa menghalangi karena saya tidak punya kuasa mengaturnya mempermudah jalan saya. Padahal hal
tersebut sangat saya butuhkan keberadaannya untuk membantu memudahkan
terwujudnya keinginan saya.
Kadang saya berpikir, bagaimana orang lain bisa mendapatkan
sesuatu yang saya inginkan dengan mudah padahal rasanya bagi saya sepertinya tidak
pernah semudah itu. Memang rasanya orang-orang lain bisa mendapatkan sesuatu
yang sangat kita inginkan dengan begitu saja, namun belum tentu dia tidak berusaha, seringkali kita tidak
pernah mengetahui seberapa kerasnya dia berusaha. Memang
ada yang benar-benar mendapatkannya dengan sangat mudah dan pada kenyataanya memang tanpa banyak berusaha. Tapi saya pikir dunia ini adil, hidup
manusia tidak selalu mudah pun tidak selalu susah. Kita diberi kemudahan dalam
satu hal dan diberi kesusahan pada hal lain. Ketika kita diberi kesusahan atau kemudahan
pasti karena ada sesuatu yang harus kita pelajari dari kesusahan dan kemudahan itu.
Yang sering terasa melelahkan adalah penantian yang rasanya
tak berkesudahan. Sudah berusaha keras dengan melakukan semua hal yang saya bisa,
tapi tak kunjung mendapatkan apa yang saya inginkan. Rasanya satu-satunya pilihan
yang bisa saya lakukan adalah bertahan, menjaga kondisi fisik dan mental yang
meski telah jatuh berkali-kali harus tetap punya kekuatan untuk bangkit lagi
dan lagi. Setelah lelah melakukan usaha yang kita kira sudah maksimal, pada
akhirnya yang harus dilakukan selanjutnya adalah menambah daya upaya untuk
mewujudkan keinginan, cita-cita dan impian itu, tak lupa diiringi dengan doa agar selalu
diberi kemudahan. Yang paling menyenangkan adalah munculnya perasaan lega setelah keinginan-keinginan itu terwujud.
Langganan:
Komentar (Atom)