Jumat, 24 Maret 2017

Barangkali Kita Tidak Pernah Sembuh dari Patah Hati

Barangkali tidak ada orang yang benar-benar sembuh dari patah hati, entah itu karena cinta, kecewa pada seseorang, atau suatu keadaan. Kita hanya mengira kita sudah sembuh, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kita hanya berangsur-angsur melupakan kejadian yang tak menyenangkan itu. Bisa jadi kita mengingat kejadian itu dan sudah tak merasakan sakit lagi. Kita kira kita telah sembuh.

Mungkin begini, otak kita telah melupakan (atau menyimpan ingatan itu ke tempat yang tidak terjangkau) kejadian tak menyenangkan tersebut. Kita telah melepaskan ingatan tentang sesuatu yang menyakitkan itu meski tanpa sadar perasaan sakit itu tetap tinggal selamanya dan bisa kambuh sewaktu-waktu. Ketika kambuh, kita seringkali tak mengetahui penyebabnya. Kita melampiaskannya pada sesuatu yang lain yang tak ada hubungannya seperti misalnya marah pada hal-hal sepele. Kita marah pada sesuatu padahal bisa jadi kemarahan itu berasal dari sesuatu yang lain di masa lalu. Mungkin dulu kemarahan itu muncul pertama kali saat kita belum mampu mengingatnya dengan sadar, atau kita ingat dengan sadar tapi merasa telah melupakannya. Dulu mungkin kita pernah terluka, kita lupa pada apa yang menyebabkan luka, tapi bekas lukanya tak pernah hilang, bahkan dapat memunculkan kembali kemarahan yang telah lalu.

Setiap orang pada dasarnya baik, setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci dan tak berdosa. Manusia tumbuh besar dengan melalui berbagai macam keadaan yang akan membentuknya menjadi seorang yang berbeda satu sama lain. Kita dibentuk dengan cara yang berbeda, dididik oleh orang-orang yang berbeda, di lingkungan dan situasi yang berbeda. Setiap kita memiliki sejarah yang tak sama. Itulah sebabnya kita dapat merespon sesuatu yang sama dengan berbeda.

Saya banyak bertemu dengan orang-orang. Ada yang ketus, ada yang ramah, ada yang setiap kali mengucapkan sesuatu seperti orang yang mau marah, ada yang baik hati, ada yang meremehkan. Jika ada orang yang bersikap buruk pada orang lain, saya sering berpikir, mungkin beban hidupnya berat, mungkin dia mempunyai masalah, mungkin dia sering disakiti dan belum mampu berdamai dengan masa lalunya yang pahit. Padahal setiap orang pasti punya masalah, pernah terpuruk dan jatuh, hanya saja tak semua orang pandai menutupi bahwa hidupnya bermasalah, beberapa malah menunjukkannya dengan memperlihatkan kebencian tanpa dasar yang jelas. Kadang orang bisa bersikap baik karena dia mempunyai kepentingan, tapi yang lebih baik tentu saja yang tak punya kepentingan apapun tapi tetap mau bersikap baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar