Rabu, 30 Maret 2016

Menikmati Kebersamaan

Mengapa kita tak bisa berteman dengan santai? Seharusnya kita terbuka untuk setiap pertemanan. Jika tujuan pertemanan berbeda tentu kita akan berpisah di persimpangan dan kembali melanjutkan perjalanan masing-masing. Bukankah cepat atau lambat kita memang akan berpisah? Entah atas keinginan sendiri atau memang dipaksa pisah oleh suatu kondisi. Jadi apa yang kita cemaskan? Selagi diberi waktu bersama, mengapa tak kita nikmati saja kebersamaan ini?

Sabtu, 05 Maret 2016

Menerima Perubahan dan Berdamai Dengannya

Sesungguhnya banyak perihal di dunia ini yang tak bisa kita terima. Tapi kita manusia, kita tak mempunyai kewenangan untuk menjadikan semua yang ada di dunia ini sesuai dengan keinginan kita. Hal paling sederhana sekaligus paling sulit yang bisa dilakukan adalah menerimanya. Menerima segala sesuatu yang mungkin menyakiti kita tapi di luar kendali kita. Kita tak mampu berbuat apa-apa kecuali menghadapinya, menerima, kemudian melepaskannya. Setelah kita bisa melakukan semua itu, semestinya hidup kita akan kembali damai.

Sebuah percakapan mampu mengubah banyak hal. Ada hal-hal di luar kendali kita, salah satunya perubahan. Suatu malam saya melakukan percakapan dengan seorang teman lama. Kami tak selalu bertemu, tapi setiap kali bertemu kami akan selalu mempunyai banyak cerita. Kami saling berbagi cerita satu sama lain, mendiskusikan banyak hal, kadang berbeda pendapat tapi tak pernah menghakimi, meski kami menceritakan hal-hal salah yang kami lakukan. Yang kami tahu, jika salah satu dari kami bercerita, yang lain mendengarkan, memberi pendapat dan masukan. Tak pernah memberi ceramah atau nasihat tanpa diminta.

Dia adalah kawan lama yang sudah saya anggap saudara. Saya bahkan bercerita lebih banyak hal padanya dibanding yang saya ceritakan pada keluarga. Sahabat adalah saudara yang kita pilih sendiri. Kami saling menemukan. Saya tak mungkin berteman lama dengannya jika dia sendiri tak membutuhkan saya sebagai temannya. Saya tak butuh teman yang tak butuh saya. Karena hubungan apapun harusnya saling melengkapi, saling menginginkan. Selama ini dia banyak membantu saya mengatasi masalah-masalah saya. Meski tak setiap hari, dia banyak membantu saya menjalani hari-hari saya yang berat sehingga menjadi terasa lebih ringan. Saya merasa mendapat dukungan. Saya senang dia ada untuk saya. Ada seseorang yang menganggap saya ada dan itu membuat saya merasa berarti.

Setiap bertemu setelah sekian lama, selalu ada hal yang berubah-ubah padanya. Misalnya saja suatu hari dia menjadi sedikit lebih religius, kemudian pada hari yang lain setelah lama tak bertemu dia menjadi pribadi yang merasa tak perlu melakukan ibadah apapun, lalu beberapa waktu yang lalu dia kembali taat beribadah. Saya tak pernah mempermasalahkan perubahan-perubahan itu. Sejauh kami tetap bisa saling bercerita dan saling mendengarkan, kami tetap menjalani pertemanan kami. Saya sering merasa, dia akan mengubah diri setiap kali berganti pacar. Dia akan menyerupai pacarnya. Secara sadar atau tidak, dengan perlahan dia terapkan jalan pikiran pacarnya dalam kehidupannya sehari-hari. Itupun bukan masalah untuk saya. Itu haknya untuk menjalani hidup yang dia inginkan dan sama sekali tidak mengganggu pertemanan kami. Lagi pula kegiatan pacaran memang menimbulkan efek saling mempengaruhi yang lebih besar dari kegiatan pertemanan dan saya pikir itu sebuah kewajaran.

Lama kelamaan saya merasa kepekaannya semakin berkurang, tak seperti dirinya yang dulu saya kenal. Saya merasa dia yang sekarang menyerupai orang-orang dewasa pada umumnya, menganggap salah sesuatu yang tak sesuai dengan pendapat mayoritas, yang punya semacam 'pakem' pikiran yang tak bisa diganggu gugat dan merasa semua orang harus mempunyai 'pakem' yang sama. Melupakan bahwa ada banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang padahal tak salah meski tak sesuai jalan pikiran banyak orang. Perlahan saya menyadari, dia sudah menjadi orang dewasa jenis itu dan meninggalkan saya.

Puncaknya adalah percakapan malam itu, dia memperlihatkan dengan jelas perubahannya, menjadi seseorang sama sekali berbeda. Mungkin dia merasa tak melihat kemajuan dalam hidup saya, kemudian merasa lelah, gemas dan bosan dengan cerita saya yang itu-itu saja, hanya berganti nama, meski detailnya tetap berbeda. Dia tak lagi mendengarkan, dia memberi saya saran yang dirasa ideal, bahwa saya seharusnya melakukan seperti yang dia katakan. Saya tahu itu adalah bentuk kepeduliannya. Tapi hal itu justru membuat saya merasa dia menganggap langkah-langkah yang sudah saya ambil itu salah. Padahal saya tak sedang menceritakan masalah, tapi dia memberi komentar seolah saya butuh solusi, dengan nada memaksa. Dia menjadi seperti kebanyakan orang yang sering saya temui, merasa lebih tahu bagaimana seharusnya saya menjalani hidup saya dibanding diri saya sendiri. Saya tak tahu apa yang sudah terjadi pada hidupnya selama kami tak bertemu, sebelumnya dia tak pernah bersikap seperti itu. Sejenak saya merasa dia seperti seseorang yang baru saja insaf karena mendapat hidayah kemudian menjadi amat bernafsu agar orang lain mendapat hidayah yang sama dengannya, saat itu juga. Tapi mungkin saya berlebihan, dia hanya bosan melihat hidup saya yang begitu-begitu saja. Memang, hidup saya terlihat membosankan dan begitu-begitu saja, tapi saya menikmatinya. Setidaknya saya tidak mengeluh, meratap dan menganggap bahwa diri saya adalah orang yang paling menderita di dunia.

Saya selama ini berusaha menerima jalan hidup saya dengan legowo, berusaha melakukan apa yang saya ingin lakukan, berusaha melakukan hal-hal baik, berusaha menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan pikiran jernih, berusaha tak menyakiti manusia lain, dan berusaha mewujudkan cita-cita saya meski dalam perjalanannya tetap muncul masalah di mana-mana. Saya mempersiapkan diri menjalani fase-fase hidup saya selanjutnya yang meski berjalan sangat lambat, saya tak keberatan. Saya percaya bahwa waktu yang tepat untuk setiap orang tentu berbeda. Yang penting saya tahu bahwa saya sedang bergerak maju, meski pelan. Kadang saya sendiri merasa, jika orang lain yang diletakkan di tempat saya sekarang mungkin tak akan mampu menghadapinya setenang saya. Untuk itu saya bersyukur. Karena ketenangan yang terlihat, saya sering dianggap tak punya tujuan hidup, tak punya cita-cita, hidup hanya bermalas-malasan.

Kawan saya tak sadar, kata-katanya justru bisa memicu saya untuk tidak mensyukuri hidup ini hanya karena saya tak sama seperti dia, tak mengambil langkah yang dia ambil, tak sama seperti kebanyakan orang. Padahal langkah-langkah yang saya ambil saat menghadapi masalah itu adalah hasil dari pertimbangan-pertimbangan yang saya pikirkan dalam jangka waktu yang relatif lama, bukan berdasarkan emosi semata. Banyak faktor yang membangun satu permasalahan dan untuk meruntuhkannya pun perlu mempertimbangkan dan menyesuaikan faktor-faktor yang membangunnya. Kawan saya mungkin lupa bahwa setiap manusia mengalami prosesnya masing-masing, tak harus persis sama dan tak harus dalam jangka waktu yang berbarengan.

Saya sadar, manusia akan selalu berubah. Sel-sel tubuh kita saja selalu beregenerasi dan menghasilkan sel-sel baru yang menggantikan sel-sel lama yang telah mati. Bisa dikatakan dalam jangka waktu sepuluh tahun, secara fisik kita bukan lagi orang yang sama (saya pernah membaca ini entah di mana). Secara mental pun kita dapat berubah. Bisa jadi karena masalah-masalah yang kita alami. Tekanan-tekanan dalam masalah-masalah tersebut dapat membentuk kita sedemikian rupa menjadi orang yang sama sekali berbeda, bisa lebih baik atau lebih buruk.

Saya bersyukur, sejauh ini kawan saya tak berubah menjadi lebih buruk, dia tetap baik pada saya, tetap peduli. Saya senang dan menghargai kejujurannya, karena tak banyak orang yang mampu bersikap jujur pada teman dekatnya yang sudah melalui tahun-tahun bersama. Saya hanya sedih menyadari bahwa dia sudah tak lagi berada di tempat yang sama dengan saya. Kita sering kaget dengan perubahan, pada orang lain, bahkan pada diri kita sendiri, tapi yang perlu kita lakukan hanyalah menerimanya, berdamai dengannya.

Selasa, 01 Maret 2016

Ketika Aku Merindukanmu

Ketika aku merindukanmu
Kudengar ulang lagu-lagumu
Kuresapi bunyi melodinya
Kutelaah setiap larik syairnya

Ketika aku merindukanmu
Kubaca ulang percakapan kita
Kujejak lagi setiap kata
Kuharap temukan kode rahasia

Ketika aku merindukanmu
Kuputar ulang pertemuan kita
Kuingat-ingat raut bahagia
Kunanti kehangatan yang sama


2016