Rabu, 12 Maret 2014

Datang Ketika Senja, Pulang Pada Senja Berikutnya



Sore itu kira-kira satu tahun yang lalu saya mendapat SMS dari seorang teman, namanya Natalia. Natalia ini teman saya dari SMA, kami cukup dekat dan sering mengobrol tentang banyak hal. Di SMS itu Natalia mengajak saya untuk menonton pertunjukan teater di Muntilan, tepatnya di sebuah desa di kaki gunung Merapi. Dia bilang, dia belum tahu tempatnya dan tidak tahu jalan. Saya langsung membayangkan sebuah desa di tempat yang pelosok dan harus melalui hutan yang gelap gulita. Natalia bilang, kalau saya mau ikut, dia akan menghubungi dua temannya yang berada di Jogja agar kami berdua bisa menumpang motor mereka. Kebetulan saya sedang tidak bekerja karena baru saja resign beberapa hari sebelumnya. Saya bingung juga karena sebenarnya keesokan harinya saya sudah punya acara. Tapi saya justru tertarik dengan ketidakjelasan rencana dadakan Natalia yang tempat tujuannya sepertinya misterius itu. Saya memang sering menyukai hal-hal yang kurang jelas dan berbau petualangan seperti itu. Jadi karena sepertinya seru, saya memutuskan untuk ikut dan membatalkan acara saya sendiri.

Waktu itu rencananya kami akan berangkat sekitar jam 12 siang, tapi karena hujan,  kami baru berangkat jam dua. Perjalanan dari Semarang ke Jogja dengan bus terasa lama sekali. Kebetulan sedang ada perbaikan jalan di jalur itu sehingga macet dan bus mengambil jalan memutar melewati jalur yang lebih jauh. Kami baru tiba di Terminal Jombor di saat senja tiba.

Sesampainya di terminal, kami menunggu dua orang teman Natalia yang dengan baik hati mau mengantarkan kami. Langit sudah gelap dan lampu-lampu di Terminal baru saja menyala ketika teman Natalia yang bernama Danang tiba. Natalia memperkenalkan Danang pada saya lalu kami bertiga menunggu seorang lagi teman Natalia yang bernama Nunu sambil memesan makanan di warung makan di terminal tersebut. Nunu baru datang kira-kira satu jam kemudian. Kami bersalaman, kemudian dia memesan makanan. Sementara itu kami masih belum memutuskan apakah akan tetap datang menonton teater di desa itu atau tidak karena menurut jadwal, acara dimulai pukul 19.30 WIB, artinya setengah jam lagi dan kemungkinan saat kami sampai, acara sudah separuh jalan atau mungkin sudah selesai, ditambah lagi tak satupun diantara kami yang tahu jalan menuju ke sana. Natalia sendiri, yang mengajak kami hanya tahu ancer-ancernya saja. Tadinya kami berpikir untuk menonton acara lain di dalam kota. Saya sendiri sibuk scrolling timeline Twitter, mencari-cari event dalam kota yang mungkin bisa kami datangi. Tapi, pada akhirnya kami memutuskan untuk datang ke pertunjukan teater di desa bernama Tutup Ngisor tersebut.

Kami berangkat kira-kira pukul delapan, menuju utara, ke arah Magelang. Natalia membonceng Danang dan saya membonceng Nunu yang ternyata footstep motor untuk pembonceng tidak dipasang sehingga tidak ada sesuatu yang bisa menopang kaki saya dengan nyaman. Natalia menawarkan saya untuk bertukar boncengan, tapi karena kaki kiri Natalia belum sembuh sepenuhnya dari patah tulang akibat jatuh dari tangga, saya menolaknya. Pegal juga kaki saya karena perjalanan lumayan jauh. Di perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk menanyakan arah jalan. Sempat sedikit tersesat juga, tapi tak lama kami kembali lagi ke jalan yang benar. Bayangan saya tentang hutan yang gelap gulita ternyata salah karena sepanjang perjalanan hanya ada rumah-rumah, sawah, sungai dan Gunung Merapi yang terlihat samar. Dan setelah saya sampai, desa itu bukanlah desa pelosok di tengah hutan seperti yang saya bayangkan.

Kira-kira pukul 21.30 WIB kami sampai di desa tersebut, suasana terlihat ramai, tapi ternyata acara belum juga dimulai. Senang sekali rasanya berada di desa di kaki gunung yang berhawa dingin. Selain itu karena tak terlalu banyak polusi cahaya seperti di kota, bintang-bintang di langit malam terlihat jelas sekali. Bagus. Saya masih ingat ketika para penduduk desa berkata sumuk (gerah), padahal menurut saya dan Natalia, udara di sana dingin sekali. Ya maklum saja kami kan terbiasa tinggal di kota yang panas.

Pertunjukan teater dilaksanakan di semacam pendopo yang tidak terlalu besar. Tak lama setelah kami sampai, pertunjukan dimulai. Saya lupa judulnya, tapi itu adalah cerita yang diadaptasi dari karya William Shakespear yang dimainkan oleh anak-anak SMA di desa itu. Sutradara pertunjukan ini adalah seorang wanita dari Perancis, dan sebenarnya itulah alasan yang membuat Natalia tertarik ingin menonton dan mengajak kami. Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 12 malam kami kembali ke Jogja.

Perjalanan dari Muntilan ke Jogja lumayan cepat dan lancar,tentu saja karena kami sudah mengetahui jalannya jadi tak perlu tersesat lagi. Tadinya saya dan Natalia berencana menginap di rumah saudara Natalia di Magelang, tapi akhirnya kami menginap di rumah kontrakan Nunu. Sebelum menginap di rumah Nunu kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah lama berputar-putar, kami akhirnya memilih untuk makan Ketoprak di Jalan Seturan. Sambil makan kami mengobrol tentang rencana pagi ini akan ke pantai di Gunung Kidul atau di Goa Pindul sambil berpikir apakah kami bisa bangun untuk mengejar matahari terbit, sementara perjalanan ke sana lumayan jauh, sekitar 2-3 jam. Tentu saja rencana ini batal karena kami baru pulang jam 2 pagi dan tidur menjelang subuh sehingga ketika bangun, hari sudah siang.

Siang harinya, selesai mandi dan bersiap-siap kami mencari warung makan untuk mengisi perut kami terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami memutuskan untuk mengunjungi museum yang berada di daerah Kaliurang yang katanya bagus, namanya Museum Ullen Sentalu. Perjalanan dari Jogja kota menuju Kaliurang kira-kira sekitar satu jam. Oh iya, saya tidak lagi membonceng motor Nunu yang tidak ber-footstep itu. Nunu mengendarai motor satunya lagi, semacam Honda CB atau sejenisnya, saya lupa. Tentu saja motor itu ada footstep-nya di bagian pembonceng jadi kaki saya tidak terlalu pegal, tapi sebagai gantinya, sadel tempat memboncengnya terlalu kecil sehingga gantian pantat saya yang terasa pegal dan kaku.

Sesampainya di halaman depan museum, terlihat pintu masuk yang dihiasi akar-akar gantung, seperti gua dalam cerita dongeng yang menyimpan harta karun di dalamnya, sejuk dan asri karena banyak pepohonan. Saya pikir pembangunan Museum itu  menyesuaikan kontur tanah yang naik turun sehingga terlihat alami. Kami lalu membeli tiket masuk dan mulai menjelajahi isi museum deitemani Tour Guide. Isi museum tersebut adalah tentang sejarah Keraton Solo dan Yogyakarta. Dari mulai cerita-cerita tentang keluarga kerajaan, kisah cinta para puteri Keraton, kesenian sampai adat istiadat. Bangunan Museumnya bagus, saya suka. Di sana kami juga mendapat minuman yang pada jaman dahulu diramu oleh salah satu Permaisuri Keraton. Rasanya segar dan hangat, terbuat dari rebusan rempah-rempah tradisional. Selesai tour, kami berfoto-foto sebentar lalu pulang.

Saya di depan pintu masuk Ullen Sentalu

Natalia dan Saya

Foto dulu di depan replika panil Candi Borobudur

Nunu dan Danang foto bareng 'Dum-Dum'

Meski rambut lepek, tetep selfie :p
Hari sudah sore ketika kami meninggalkan Museum Ullen Sentalu. Kami buru-buru pulang karena takut ketinggalan bus. Danang dan Nunu mengantarkan kami kembali ke terminal Jombor. Untung masih ada bus yang belum berangkat. Setelah membeli tiket, saya dan Natalia berpamitan kepada Danang dan Nunu dan mengucapkan terima kasih. Bus mulai berangkat ketika matahari hampir terbenam. Perjalanan terasa lebih cepat, tidak macet dan bus tak mengambil jalan memutar. Saya tiba di rumah sekitar pukul 9 malam dan langsung mandi dan tidur. Esoknya kaki saya pegal-pegal tapi saya merasa senang. Melakukan perjalanan selalu terasa menyenangkan apalagi ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi, terlebih lagi jika kita melakukannya bersama teman yang kita suka, jadi karena keseruannya, kita tak akan pernah lupa.