Sore itu kira-kira satu tahun yang lalu saya mendapat SMS
dari seorang teman, namanya Natalia. Natalia ini teman saya dari SMA, kami
cukup dekat dan sering mengobrol tentang banyak hal. Di SMS itu Natalia
mengajak saya untuk menonton pertunjukan teater di Muntilan, tepatnya di sebuah
desa di kaki gunung Merapi. Dia bilang, dia belum tahu tempatnya dan tidak tahu
jalan. Saya langsung membayangkan sebuah desa di tempat yang pelosok dan harus
melalui hutan yang gelap gulita. Natalia bilang, kalau saya mau ikut, dia akan
menghubungi dua temannya yang berada di Jogja agar kami berdua bisa menumpang
motor mereka. Kebetulan saya sedang tidak bekerja karena baru saja resign
beberapa hari sebelumnya. Saya bingung juga karena sebenarnya keesokan harinya
saya sudah punya acara. Tapi saya justru tertarik dengan ketidakjelasan rencana
dadakan Natalia yang tempat tujuannya sepertinya misterius itu. Saya memang
sering menyukai hal-hal yang kurang jelas dan berbau petualangan seperti itu.
Jadi karena sepertinya seru, saya memutuskan untuk ikut dan membatalkan acara
saya sendiri.
Waktu itu rencananya kami akan berangkat sekitar jam 12
siang, tapi karena hujan, kami baru
berangkat jam dua. Perjalanan dari Semarang ke Jogja dengan bus terasa lama
sekali. Kebetulan sedang ada perbaikan jalan di jalur itu sehingga macet dan
bus mengambil jalan memutar melewati jalur yang lebih jauh. Kami baru tiba di
Terminal Jombor di saat senja tiba.
Sesampainya di terminal, kami menunggu dua orang teman
Natalia yang dengan baik hati mau mengantarkan kami. Langit sudah gelap dan
lampu-lampu di Terminal baru saja menyala ketika teman Natalia yang bernama
Danang tiba. Natalia memperkenalkan Danang pada saya lalu kami bertiga menunggu
seorang lagi teman Natalia yang bernama Nunu sambil memesan makanan di warung
makan di terminal tersebut. Nunu baru datang kira-kira satu jam kemudian. Kami
bersalaman, kemudian dia memesan makanan. Sementara itu kami masih belum memutuskan
apakah akan tetap datang menonton teater di desa itu atau tidak karena menurut
jadwal, acara dimulai pukul 19.30 WIB, artinya setengah jam lagi dan
kemungkinan saat kami sampai, acara sudah separuh jalan atau mungkin sudah
selesai, ditambah lagi tak satupun diantara kami yang tahu jalan menuju ke
sana. Natalia sendiri, yang mengajak kami hanya tahu ancer-ancernya saja.
Tadinya kami berpikir untuk menonton acara lain di dalam kota. Saya sendiri
sibuk scrolling timeline Twitter, mencari-cari event dalam kota yang mungkin
bisa kami datangi. Tapi, pada akhirnya kami memutuskan untuk datang ke
pertunjukan teater di desa bernama Tutup Ngisor tersebut.
Kami berangkat kira-kira pukul delapan, menuju utara, ke arah Magelang.
Natalia membonceng Danang dan saya membonceng Nunu yang ternyata footstep motor
untuk pembonceng tidak dipasang sehingga tidak ada sesuatu yang bisa menopang
kaki saya dengan nyaman. Natalia menawarkan saya untuk bertukar boncengan, tapi
karena kaki kiri Natalia belum sembuh sepenuhnya dari patah tulang akibat jatuh
dari tangga, saya menolaknya. Pegal juga kaki saya karena perjalanan lumayan
jauh. Di perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk menanyakan arah jalan.
Sempat sedikit tersesat juga, tapi tak lama kami kembali lagi ke jalan yang
benar. Bayangan saya tentang hutan yang gelap gulita ternyata salah karena
sepanjang perjalanan hanya ada rumah-rumah, sawah, sungai dan Gunung Merapi
yang terlihat samar. Dan setelah saya sampai, desa itu bukanlah desa pelosok di
tengah hutan seperti yang saya bayangkan.
Kira-kira pukul 21.30 WIB kami sampai di desa tersebut,
suasana terlihat ramai, tapi ternyata acara belum juga dimulai. Senang sekali
rasanya berada di desa di kaki gunung yang berhawa dingin. Selain itu karena
tak terlalu banyak polusi cahaya seperti di kota, bintang-bintang di langit
malam terlihat jelas sekali. Bagus. Saya masih ingat ketika para penduduk desa
berkata sumuk (gerah), padahal menurut saya dan Natalia, udara di sana dingin
sekali. Ya maklum saja kami kan terbiasa tinggal di kota yang panas.
Pertunjukan teater dilaksanakan di semacam pendopo yang
tidak terlalu besar. Tak lama setelah kami sampai, pertunjukan dimulai. Saya
lupa judulnya, tapi itu adalah cerita yang diadaptasi dari karya William
Shakespear yang dimainkan oleh anak-anak SMA di desa itu. Sutradara
pertunjukan ini adalah seorang wanita dari Perancis, dan sebenarnya itulah
alasan yang membuat Natalia tertarik ingin menonton dan mengajak kami.
Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 12 malam kami
kembali ke Jogja.
Perjalanan dari Muntilan ke Jogja lumayan cepat dan
lancar,tentu saja karena kami sudah mengetahui jalannya jadi tak perlu tersesat
lagi. Tadinya saya dan Natalia berencana menginap di rumah saudara Natalia di
Magelang, tapi akhirnya kami menginap di rumah kontrakan Nunu. Sebelum menginap
di rumah Nunu kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah lama
berputar-putar, kami akhirnya memilih untuk makan Ketoprak di Jalan Seturan.
Sambil makan kami mengobrol tentang rencana pagi ini akan ke pantai di Gunung
Kidul atau di Goa Pindul sambil berpikir apakah kami bisa bangun untuk mengejar
matahari terbit, sementara perjalanan ke sana lumayan jauh, sekitar 2-3 jam.
Tentu saja rencana ini batal karena kami baru pulang jam 2 pagi dan tidur
menjelang subuh sehingga ketika bangun, hari sudah siang.
Siang harinya, selesai mandi dan bersiap-siap kami mencari
warung makan untuk mengisi perut kami terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami
memutuskan untuk mengunjungi museum yang berada di daerah Kaliurang yang katanya
bagus, namanya Museum Ullen Sentalu. Perjalanan dari Jogja kota menuju
Kaliurang kira-kira sekitar satu jam. Oh iya, saya tidak lagi membonceng motor
Nunu yang tidak ber-footstep itu. Nunu mengendarai motor satunya lagi, semacam
Honda CB atau sejenisnya, saya lupa. Tentu saja motor itu ada footstep-nya di
bagian pembonceng jadi kaki saya tidak terlalu pegal, tapi sebagai gantinya,
sadel tempat memboncengnya terlalu kecil sehingga gantian pantat saya yang terasa
pegal dan kaku.
Sesampainya di halaman depan museum, terlihat pintu masuk
yang dihiasi akar-akar gantung, seperti gua dalam cerita dongeng yang menyimpan
harta karun di dalamnya, sejuk dan asri karena banyak pepohonan. Saya pikir
pembangunan Museum itu menyesuaikan
kontur tanah yang naik turun sehingga terlihat alami. Kami lalu membeli tiket
masuk dan mulai menjelajahi isi museum deitemani Tour Guide. Isi museum tersebut
adalah tentang sejarah Keraton Solo dan Yogyakarta. Dari mulai cerita-cerita tentang
keluarga kerajaan, kisah cinta para puteri Keraton, kesenian sampai adat istiadat. Bangunan
Museumnya bagus, saya suka. Di sana kami juga mendapat minuman yang pada jaman
dahulu diramu oleh salah satu Permaisuri Keraton. Rasanya segar dan hangat,
terbuat dari rebusan rempah-rempah tradisional. Selesai tour, kami
berfoto-foto sebentar lalu pulang.
| Saya di depan pintu masuk Ullen Sentalu |
| Natalia dan Saya |
| Foto dulu di depan replika panil Candi Borobudur |
| Nunu dan Danang foto bareng 'Dum-Dum' |
| Meski rambut lepek, tetep selfie :p |
Hari sudah sore ketika kami meninggalkan Museum Ullen
Sentalu. Kami buru-buru pulang karena takut ketinggalan bus. Danang dan Nunu
mengantarkan kami kembali ke terminal Jombor. Untung masih ada bus yang belum
berangkat. Setelah membeli tiket, saya dan Natalia berpamitan kepada Danang dan
Nunu dan mengucapkan terima kasih. Bus mulai berangkat ketika matahari hampir
terbenam. Perjalanan terasa lebih cepat, tidak macet dan bus tak mengambil
jalan memutar. Saya tiba di rumah sekitar pukul 9 malam dan langsung mandi dan
tidur. Esoknya kaki saya pegal-pegal tapi saya merasa senang. Melakukan perjalanan
selalu terasa menyenangkan apalagi ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi,
terlebih lagi jika kita melakukannya bersama teman yang kita suka, jadi karena
keseruannya, kita tak akan pernah lupa.