Suasana akhir tahun selalu terasa seperti libur panjang meski sebenarnya tidak ada bedanya dengan akhir pekan biasa di mana aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Suasana hujan dengan udara sejuk selalu mengingatkanku pada hari-hari di mana aku pergi mendaki. Rasanya menyenangkan sekali meski hanya dengan mengingatnya.
Dulu saat remaja aku ingin punya teman yang banyak, membuat
rencana bersama mereka di setiap akhir pekan, berkumpul dan merayakan tahun baru
di suatu tempat yang menyenangkan. Kenyataannya aku baru mengalami hal seperti
itu saat kuliah. Waktu SMA aku belum terlalu percaya diri untuk keluar rumah
sendirian dan pulang malam, masih merasa terlalu kecil dan tidak ingin membuat
orang tuaku khawatir. Selain itu, aku tidak punya kendaraan jadi terlalu
merepotkan setiap kali pulang malam. Waktu itu juga belum ada ojek online.
Ayahku ingin membelikanku motor tapi aku menolaknya karena yang kuinginkan
adalah mobil. Aku cukup keras kepala soal keinginanku. Meski begitu, aku tidak
marah atau mengamuk karena tidak dibelikan mobil. Aku tetap naik angkutan umum
dan jalan kaki dengan senang hati. Saat remaja aku sudah punya pendirian dan
pengendalian diri yang baik, berusaha untuk tidak merepotkan dan membuat orang
lain cemas.
Saat SMP dan SMA aku hanya pulang malam ketika nonton konser
dengan kakak perempuanku dan tentu saja berakhir dengan amarah orang tua saat
kami pulang. Oh tunggu, aku ingat pernah pulang malam dari pesta ulang tahun
kawanku yang ke-17, waktu itu aku diantar teman, dan ayahku marah dan berkata
“Apa kata tetangga?”, aku menjawab dengan, “Kenapa lebih peduli dengan kata
tetangga daripada kata anak sendiri?”, dan sejak itu ayahku tidak pernah
membawa-bawa tetangga lagi ketika memarahiku.
Waktu aku kuliah, hari-hariku di kampus rasanya lebih bebas.
Aku sering pulang malam karena ikut organisasi kampus dan sibuk nongkrong
dengan teman-teman "touring"-ku. Meski rasanya cemas kalau akan dimarahi karena pulang
malam, tapi tetap saja kulakukan. Aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka
di luar kampus.
Suatu malam tahun baru, aku dan kelompok pertemananku yang lain yang di antaranya ada beberapa kawan SMA, mengadakan acara tahu baru di rumah salah satu dari kami. Meski tidak berencana
pulang pagi tapi rasanya malas pulang, pikirku karena ini tahun baru harusnya tidak
apa-apa jika aku pulang pagi, kuterima saja kalau nanti dimarahi. Saat aku pulang,
sesuai dugaan, orang tuaku marah habis-habisan. Barangkali mereka takut aku
terjerumus dan melakukan hal-hal buruk seperti pergaulan bebas. Tentu saja hal
itu tidak terjadi karena aku pintar dan tidak mudah terpengaruh. Aku sama sekali tidak sedih atau takut
dimarahi, tapi aku mengerti rasa khawatir mereka, apalagi ini pertama kali aku
pulang pagi. Sejak hari itu aku malah sering mengulanginya, orang tuaku
akhirnya tidak memarahiku lagi, barangkali bosan, atau mungkin sudah mulai
menaruh rasa percaya. Meski begitu, setiap kali aku pulang terlambat atau
pulang keesokan harinya, aku akan tetap memberi kabar, aku mencemaskan perasaan mereka.
Aku membuat mereka khawatir lagi pada saat aku pergi sendiri
ke luar provinsi untuk mendaki. Itu pertama kalinya aku pergi jauh dan harus
menginap, sendiri. Sejak itu aku bertemu dengan lebih banyak teman, dan
beberapa kali menghabiskan malam tahun baru beramai-ramai di gunung. Kurasa harus
ada yang pertama kali agar orang tuaku tidak perlu terus-terusan
mengkhawatirkanku seumur hidup sehingga mereka bisa memikirkan kebahagiaan
mereka sendiri. Aku berusaha menunjukkan sikap bahwa aku mampu bertanggung jawab atas diriku sendiri, agar mereka percaya bahwa anaknya
ini akan baik-baik saja.
Aku pernah menghabiskan waktu malam tahun baru di jalanan
macet tanpa tujuan, membuat acara bakar-bakaran di rumah teman, pernah berusaha
mencapai puncak tertinggi kota untuk menyalakan kembang api lalu pulang,
berkemah di lereng gunung dengan banyak orang. Setelah mengalami semua itu
ternyata aku tidak cukup menikmatinya. Barangkali karena semua orang terlalu membesar-besarkannya, aku jadi merasa malam tahun baru tidak terlalu spesial. Seperti ganti bulan saja.
Belakangan aku hanya menghabiskan malam tahun baru di rumah,
selayaknya hari biasa di mana aku melewati malam dengan menonton film, atau
mengobrol dengan teman melalui pesan pendek atau telepon, bedanya hanya aku bisa
mendengar suara kembang api dari kamarku, dan kadang melihatnya dari jendela. Aku
akan liburan nanti jika orang-orang sudah selesai dan pulang kembali ke
rutinitasnya.
Bagiku kini pergantian tahun sama saja dengan pergantian
hari. Meski tidak terlalu peduli, kenyataan bahwa orang-orang selalu
membahasnya di hari-hari akhir penghujung tahun, membuatku mengingat beberapa
momen pergantian tahun yang kulalui sendiri atau bersama teman-temanku. Aku
bersyukur bisa melalui berbagai jenis “perayaan” tahun baru yang akhirnya
membuatku mengetahui bahwa bukan bergantinya tahun atau bergantinya hari yang
penting, tapi perasaan kita saat ramai atau sepi, bersama atau sendiri.
Selamat Tahun Baru, semoga berlimpah harapan untuk
menjalani hidup setiap hari.