Sabtu, 31 Desember 2016

Sedikit Catatan di 2016

      1. Menyimpan kemarahan hanya akan menyakiti diri sendiri.
      2. Hidup ini didominasi oleh kesedihan, makanya banyak orang berjuang demi     
    mendapatkan kebahagiaan, meski banyak juga yang memilih diam tanpa usaha dan 
    malah meratapi kesedihannya.
      3. Dalam hidup kita akan terus merasakan kehilangan-kehilangan, yang penting jangan
    sampai kehilangan diri sendiri.
      4. Kita seringkali hanya fokus menginginkan sesuatu tapi lupa mempersiapkan diri 
    (secara mental) untuk itu, jadi ketika keinginan kita menjadi kenyataan, sikap kita 
    justru membuatnya berantakan. Sampai akhirnya kita harus memulai dari awal lagi.
      5. Kita tidak bisa menjalani hari-hari dengan tenang dan berharap masa depan
    akan berjalan lancar sambil meninggalkan persoalan di masa lalu tanpa
    menyelesaikannya. Waktu tak akan bisa menghapus permasalahan begitu saja. Kelak
    saat kita mengira kita sudah hidup bahagia, damai, aman, tentram, sejahtera, pikiran
    kita bisa tiba-tiba memunculkan kembali masalah itu ke permukaan, lalu bagaikan
    hutang, dia datang dan  memaksa minta dilunasi. Ingat, sesuatu yang tak diselesaikan
    tak akan pernah selesai.
      6. Dua orang, berlainan jenis, bisa saling bersikap baik dan bisa berteman tanpa alasan
    apapun kecuali pertemanan itu sendiri adalah sesuatu yang sudah semakin jarang
    terjadi.
      7. Berlebih-lebihan di awal menyebabkan kekurangan di akhir.
      8. Hidup sebagai orang dewasa tidaklah mudah, kadang kita membutuhkan alasan-
    alasan untuk bertahan hidup.
      9Perlu disyukuri ketika orang lain mau bersikap baik dan menghargai kita, tapi 
    sebaiknya hindari berpikir bahwa mereka akan selalu bersikap seperti itu. Sudah 
    sewajarnya manusia berubah, tumbuh, menjadi lebih baik, atau lebih buruk. Tak 
    semua orang berpikir bahwa menjaga hubungan baik itu penting. Saya sudah lama 
    menyadari hal seperti ini, tapi kadang ada satu titik di mana saya lupa bahwa satu-
    satunya orang yang bisa diharapkan hanyalah diri sendiri.

Selasa, 20 Desember 2016

Berjalan Lagi

Foto ini saya ambil saat turun dari Pasar Bubrah 18 Des 2016.

Senang ketika akhirnya memiliki kesempatan untuk mendaki lagi setelah sekian lama. Sebelum ini saya mendaki gunung Ungaran pada bulan Agustus 2016. Baru empat bulan yang lalu tapi rasanya sudah lama sekali. Setelah yang sudah seringkali terjadi beberapa bulan ini, rencana-rencana perjalanan seringkali gagal karena berbagai macam alasan, akhirnya pendakian ke gunung Merapi tanggal 17-18 Desember 2016 ini terealisasi. Ini adalah kali kedua pendakian saya ke gunung Merapi yang ketinggiannya mencapai 2930 mdpl. Rasanya tak ada yang lebih melegakan ketika pada akhirnya kita mampu menyelesaikan sesuatu yang kita rencanakan.

Saya berangkat dari Semarang pukul 08.00 pagi, berdua dengan seorang kawan, kemudian bertemu dengan lima kawan lainnya yang berasal dari kota Solo di Pasar Cepogo. Setelah saling menyapa, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kami menuju Pasar Selo yang searah dengan Basecamp gunung Merapi. Saya makan Soto bersama beberapa kawan, sedangkan beberapa yang lain memilih makan Bakso. Selesai makan, kami menuju Basecamp. Sesampainya di sana, kami mempersiapkan diri, memastikan kembali peralatan dan perbekalan yang perlu dibawa kemudian melakukan registrasi. Setelah berdoa kami memulai pendakian.

Kami berdelapan mulai mendaki sekitar pukul 14.30 dari Basecamp. Awal pendakian berjalan dengan lancar, fisik saya dalam keadaan sehat, kaki saya dalam keadaan baik. Seperti biasa kami mendaki dengan gembira dan saling bercanda satu sama lain. Awal pendakian memang terasa berat dan melelahkan, apalagi bentuk gunung Merapi yang mengerucut membuat jalurnya terus menanjak, minim sekali jalur yang datar, tapi begitu otot-otot kaki dan pernafasan berhasil beradaptasi dengan jalur dan menemukan ritme yang sesuai maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi asal kita bisa mempertahankan ritme tersebut dan tetap berhati-hati dalam melangkah.

Sesekali di tengah pendakian kami berhenti untuk beristirahat, minum air atau sekadar mengatur nafas. Membahagiakan sekali rasanya ketika angin berembus di sela-sela pepohonan, sejuk dan menyegarkan. Meski merasa bahagia, bukan berarti saya jadi melupakan masalah-masalah saya. Saya tetap mengingatnya, hanya saja rasanya menjadi tidak menyakitkan sama sekali. Itu karena pikiran saya lebih terfokus pada bagaimana saya berjalan, bagaimana mengatur nafas, menentukan pijakan, mengangkat beban fisik. Itulah bagaimana ajaibnya berkegiatan fisik di alam terbuka mampu meringankan beban pikiran. Selain itu keberadaan kita di tempat terbuka yang luas penuh dengan pepohonan membuat kita menyadari bahwa alam semesta ini begitu besar dan kita begitu kecil sehingga rasanya masalah kita tak ada apa-apanya.

Menjelang sore, kabut mulai turun, langit berwarna putih, embusan angin mulai kencang dan membawa titik-titik kabut. Menyenangkan ketika perasaan menjadi damai saat terpaan angin dingin seketika dapat menyingkirkan rasa lelah. Selama pendakian kami berhenti sejenak di beberapa pos. Rencananya sebelum hari mulai gelap, kami akan mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah poin terakhir sebelum puncak. Hujan mulai turun dengan deras, kami berhenti untuk memakai jas hujan. Melihat angin yang berembus semakin kencang dan berpotensi badai, kami berpikir untuk mendirikan tenda di wilayah sebelum Pasar Bubrah yang masih ditumbuhi pepohonan. Kami mendirikan tenda di samping kanan jalur pendakian, di dekat batu besar. Ketika hari menjelang gelap, tenda sudah berdiri. Kami mulai merapikan barang-barang dan memasak makanan dan minuman hangat. Langit masih mengguyurkan airnya dengan deras ke arah kami, disertai angin yang berembus dengan semangat sekali, seperti sedang terburu-buru.

Kami memutuskan untuk tidur karena rasanya tak ada yang bisa dilakukan lagi, hujan badai masih juga belum berhenti. Lebih baik menutup tenda agar terlindungi dari angin yang semakin lama semakin bertambah dingin. Saya mulai rebah dalam kantung tidur dan memejamkan mata. Beberapa kali saya terbangun, badai belum berhenti, saya memejam lagi. Tak lama perut saya mual dan rasanya ingin muntah. Saya mencoba menahannya dan berusaha memejam lagi tapi rasanya susah. Akhirnya saya mencari plastik dan saya muntahkan semua makanan yang tadi sudah saya makan. Setelah itu saya berhasil tertidur lagi sampai pagi. Semalaman hujan tak berhenti, ditambah angin yang berkali-kali menabrak tenda-tenda kami. 

Akhirnya pagi menjelang. Badai telah berlalu, berganti dengan langit cerah berwarna biru. Saat melihat ke arah utara, terlihat gunung Merbabu yang letaknya berdekatan dengan gunung Merapi, sedangkan di arah barat saya dapat melihat gunung Slamet, Sumbing, Sindoro dan gunung Prau dari kejauhan. Kami mulai memasak air untuk minum dan memakan makanan ringan kemudian menjemur beberapa barang-barang kami yang basah karena hujan. Beberapa dari kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak gunung, termasuk saya. Dua orang menjaga tenda dan memasak makanan untuk kami semua. Kami berenam mulai berjalan ke arah puncak. Pada setengah perjalanan, saya sedikit merasa tidak enak perut. Rasanya mual lagi. Saya pikir sudah tak ada masalah setelah muntah tadi malam. Saya tetap berjalan menyusuri jalan yang menanjak dengan tenang.

Sampai di Pasar Bubrah saya sempat berkata pada kawan-kawan saya bahwa saya sampai di situ saja, saya akan menunggu mereka sementara mereka berlima melanjutkan ke puncak gunung. Mereka malah mengurungkan niatnya untuk ke puncak. Saya tak ingin jika gara-gara saya mereka jadi tidak sampai puncak, tapi perut saya mual sekali, kemudian saya bilang, “Saya muntah dulu sebentar.”. Setelah muntah, saya bilang, “Ayo ke puncak!”. “Yakin kuat?”, tanya seorang kawan, “Iya, kan sudah muntah.”, jawab saya. Saya kira memang sudah tak apa-apa, tapi belum lama saya mendaki lagi rasanya perut saya kambuh lagi. Angin yang berkali-kali menerpa rasanya membuat fisik saya menjadi semakin lemah. Kemudian saya berkata bahwa saya ingin kembali ke tenda, sendirian saja. Dari raut wajahnya mereka sepertinya agak ragu dengan keinginan saya, sedikit khawatir mungkin. Saya berusaha meyakinkan mereka, “Tak apa, jalurnya ramai dan tak terlalu jauh.”, kata saya. Kemudian saya turun menuju perkemahan kami.

Dalam perjalanan kembali ke tenda saya muntah lagi. Setelah sampai di tenda, saya muntah sekali lagi. Saya belum pernah muntah berkali-kali seperti ini di gunung, padahal saya pikir saya mendaki dengan keadaan fisik yang baik. Badai semalam juga bukan yang pertama kali saya alami. Di tenda saya berusaha untuk memulihkan kondisi, membuat minuman hangat yang kira-kira tidak akan ditolak oleh lambung saya, memakan makanan dan minum Tolak Angin kemudian tidur beberapa saat. Alhamdulillah setelah bangun kondisi saya pulih. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain sudah kembali dari puncak, mereka beristirahat dan mengisi perut, sementara saya dan beberapa yang lain mulai memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk persiapan turun.

Salah seorang kawan yang telah beberapa kali mendaki bersama saya berkata, saya lupa tepatnya tapi intinya begini, “Beban kamu berat ya, padahal setahu saya kamu orang yang kuat.”. Entah apa maksudnya, mungkin agar saya lebih bersemangat. Selama perjalanan turun saya jadi memikirkan kata-kata kawan saya itu. Mungkin saja kata-katanya benar. Saya menginterpretasikan bahwa beban yang dimaksud bukanlah beban fisik, tapi beban pikiran. Saya mendaki dengan kondisi fisik yang cukup baik tapi mengapa tiba-tiba saya menjadi lemah? Saya kira ini mungkin ada hubungannya dengan kondisi psikologis saya. Pada awalnya kondisi fisik saya memang baik, tapi saya mendaki dengan membawa beban pikiran dan itu memengaruhi kondisi fisik saya. Mungkin begitu. Apapun itu, semoga itu adalah pelajaran yang dapat membuat saya menjadi lebih baik.

Selalu ada banyak pengetahuan yang saya dapat seusai melakukan perjalanan. Bagaimanapun, perjalanan selalu bisa menyegarkan kembali pikiran, memperkuat fisik, membantu kita untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Ada satu lagi hal yang sudah sering saya alami tapi saya baru menyadarinya kemarin. Sehari setelah mendaki, ketika bangun dari tidur yang lama, setelah mandi, saat saya makan, makanan di rumah rasanya lebih enak berkali lipat dari biasanya, padahal bukan menu yang istimewa. Kebahagian yang sederhana tapi berharga.

Rabu, 07 Desember 2016

Surat Untuk A

Halo A,

Apa kabar? Semoga kau sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Sudah lama sekali aku tak menulis surat kepada seseorang. Seingatku terakhir kali menulisnya saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau tak salah, surat itu kutuliskan di kertas wangi berwarna biru muda. Kutujukan suratku kepada Bibiku yang tinggal di kota Jakarta. Kata Bibiku, seharusnya aku mengirimkannya kepada sepupuku yang seusia denganku, tapi kupikir, lebih baik aku mengirimkan padanya saja karena aku lebih merasa nyaman dengannya dibanding sepupu-sepupuku. Beberapa hari setelah aku mengirimkannya, surat balasan dari Bibiku datang. Aku segera melaporkan kepada guruku bahwa suratku telah dibalas.

Awal bulan November lalu aku meneleponmu, terdengar nada tunggu, lalu kumatikan karena operator yang menjawab. Kau tahu, aku ingin meneleponmu, bukan operator itu. Kemudian kuputuskan untuk menunggu teleponmu saja tapi kau tak juga meneleponku. Seminggu kemudian aku meneleponmu lagi tapi lagi-lagi dijawab oleh operator. Kali ini ia berkata bahwa nomormu sedang tak aktif, kutelepon nomormu yang lain pun sama. Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan pendek yang meski kau baca, kau tetap tak mau membalasnya. Belakangan memang sulit sekali rasanya untuk bisa sekadar mengobrol atau bertemu denganmu. Kadang aku merasa kau sengaja bersikap menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah kau sengaja melakukannya untuk mendapatkan perhatian atau sengaja menjauh agar aku mendekatimu? Atau kau ingin menyudahi semua tapi terlalu malas untuk mengatakannya? Tidakkah kau berpikir itu bukanlah sikap yang bertanggungjawab? Bukan begitu cara orang dewasa menyelesaikan masalah. Ah, tapi mungkin semua itu hanya pikiran negatifku saja. Mungkin kau memang sedang mempunyai banyak masalah, jadi saat itu kuputuskan untuk menunggumu sembuh dari apapun masalahmu. Aku tak mau banyak bertanya karena tak ingin memperkeruh suasana. Kupikir kau butuh ketenangan.

Saat akhirnya kau mengirimiku pesan dan berkata “lama tak ada kabarnya”, rasanya aku ingin menjawab, “Bagaimana mungkin aku memberimu kabar sementara kau menutup akses komunikasi?”. Rasanya aku ingin berkata, “Sudah terlalu sering kau pergi tanpa pamit, membuatku merasa bahwa bagimu aku bukanlah seorang yang penting.” Padahal dalam keadaan marah pun aku tetap memberi tahumu ketika aku akan pergi dengan temanku. Aku tetap mengangkat teleponmu dan membalas pesan-pesan pendekmu meski dalam hati aku sedang kesal dengan semua kata-kata dan sikapmu yang menyebalkan dan terkadang terasa meremehkan. Tapi sudahlah, aku tak ingin membuat masalah baru. Aku ingin terlebih dahulu memastikan bahwa kau sudah benar-benar sembuh sebelum aku bertanya baik-baik tentang apa yang terjadi padamu. Meski akhirnya kita berkomunikasi lagi dan kau sedikit memberitahuku tentang apa yang terjadi, tapi sampai aku menulis ini sepertinya tak ada perkembangan yang berarti. Kau sepertinya belum benar-benar sembuh. Bahkan sikapmu lagi-lagi membuat sakit hatiku kambuh, sehingga segala perilaku yang menyebalkan darimu sejak kita saling mengenal muncul kembali dalam pikiranku, terakumulasi dan membuatku ingin tak lagi peduli. Sampai akhirnya aku menyadari, mungkin kita sedang sama-sama sakit dan ego kita terlalu tinggi untuk mau menyelesaikan masalah ini.

Mengenai bukumu, kau benar, aku belum selesai membacanya. Kalau tak salah aku baru membacanya sampai malam ke-477. Seringkali aku membacanya sebelum tidur di malam hari. Biasanya setelah beberapa lembar aku akan mengantuk dan tidur beberapa saat kemudian. Kebanyakan ceritanya tentang kehidupan di negara-negara Timur Tengah pada masa Khilafah, banyak diantaranya disisipkan kisah-kisah cinta. Menurut pengamatanku, seringkali tokoh-tokoh di dalamnya tidak butuh waktu lama untuk menyadari dan merasa yakin bahwa mereka sedang saling jatuh cinta, biasanya karena melihat rupa yang cantik atau tampan, dan kaya. Bagaimana bisa semudah itu ya? Jika rasa cinta mereka hilang, atau mereka tak lagi cantik, tampan, dan kaya, apakah mereka akan tetap saling bersikap manis satu sama lain? Akankah mereka bisa saling menghargai satu sama lain dalam keadaan tidak sedang jatuh cinta? Apakah dalam keadaan tak sedang jatuh cinta, rasa toleransi mereka akan sama tinggi seperti saat mereka sedang jatuh cinta? Apakah mereka bisa tetap bersikap baik satu sama lain saat tak lagi memiliki apapun yang sebelumnya menjadi kebanggaan mereka? Apakah mereka bisa saling jatuh cinta tanpa syarat? Entahlah.

Beberapa waktu yang lalu aku mengembalikan bukumu meski belum selesai kubaca karena aku tidak ingin mempunyai beban menyimpan barang pinjaman yang seharusnya kukembalikan. Aku semakin tak mengerti dengan sikapmu dan kau begitu sulit dihubungi. Kupikir jika di kemudian hari kau memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan (seperti yang sudah sering kau lakukan) dan tak kembali lagi, aku tak ingin menyimpan barang yang kupinjam darimu. Bagiku rasanya sangat mengganggu ketika aku meminjam sesuatu dan tak mampu mengembalikannya. Juga ketika aku sudah berkata akan memberi sesuatu untukmu, maka aku harus memberikannya. Karena itu milikmu, maka harus kuberikan padamu. Aku tak ingin mempunyai semacam hutang. Aku ingin menjadi orang yang bisa bertanggung jawab dan menepati kata-kataku.

A, jika menurutmu aku perlu mengetahui sesuatu atau kau mempunyai gagasan tentang apapun itu, kau bisa mengatakannya padaku. Jika kau tak setuju dengan sikap dan pikiran-pikiranku atau kau tersinggung dengan kata-kataku, kau bisa memberitahuku. Kau tahu, komunikasi itu penting dan sudah lama kita tak berdiskusi dengan pikiran terbuka. Namun jika kau merasa tak perlu menjelaskan apapun, tentu aku tak bisa memaksamu. Mungkin kalimat di awal surat ini terlihat seperti basa-basi, tapi aku benar-benar mendoakan agar kau sehat dan baik. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Jika kau sedang punya banyak masalah, semoga kau mau berusaha menyelesaikannya satu per satu, karena jika kau membiarkannya, itu justru akan mempersulit hidupmu sendiri. Jika hatimu sedang terluka, semoga ia lekas sembuh dan menjadikanmu lebih kuat dari sebelumnya. Apapun yang kau lakukan, semoga itu adalah hal-hal yang baik dan bermanfaat. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat ini.


Salam,

R

Jumat, 02 Desember 2016

Mengolah Pikir Melalui Seni

Kita hidup pada zaman di mana arus informasi begitu deras menerpa kita. Kita bisa mendapatkan informasi dengan mudah dari media cetak, elektronik, terlebih di dunia digital informasi dapat dengan mudah menyebar. Kadang kita menganggap informasi itu penting atau tidak penting sama sekali, tergantung dari kebutuhan kita. Bahkan tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di dunia digital, informasi yang tidak benar pun bisa cepat tersebar. Biasanya tulisan seseorang dari media tak resmi atau opini berbentuk broadcast message yang ditulis oleh entah siapa. Jika informasi itu berguna tentu tak apa, tapi jika membuat kita bertindak tanpa berpikir maka berpotensi mengajak kita kepada keburukan yang seolah baik, dan cepat atau lambat akan menimbulkan kekacauan pola pikir. Korbannya biasanya adalah pembaca bertipe reaktif yang dengan serta merta mudah dipengaruhi melalui bahasa yang persuasif. Tanpa memastikan kebenaran tulisan; Apakah masuk akal? Apakah tulisan tersebut ditulis berdasarkan data dan fakta? Apakah didapat dari sumber yang jelas? Apakah hal tersebut bermanfaat? Tanpa berpikir ulang kemudian secara emosional menggandakannya dan membagikannya kepada banyak orang. Orang-orang seperti ini seringkali mudah dimanipulasi.

Tak hanya mudah dimanipulasi, orang-orang ini juga menutup diri pada informasi lain yang bertentangan. Padahal untuk mengetahui kebenaran, kita harus mengetahui sebanyak-banyaknya informasi. Ketika informasi-informasi yang dirasa perlu sudah dikumpulkan, barulah kita bisa mempelajari kumpulan data tersebut dengan teliti. Susah memang menghadapi orang-orang yang terbiasa menelan informasi mentah-mentah, menelan kalimat bulat-bulat, dengan cara pandang yang masih sebatas permukaan. Orang-orang jenis ini adalah orang yang tidak suka berpikir, barangkali karena terasa terlalu merepotkan. Padahal segala sesuatu tentu ada prosesnya. Tak ada salahnya jika meluangkan waktu lebih lama untuk berpikir sebelum mengaplikasikan pikiran kita dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Agar pada akhirnya ketika kita berkata dan berbuat, kita telah benar-benar mengerti dan memahami bahwa perkataan dan perbuatan kita itu tidak membawa keburukan, tapi justru memberikan manfaat.

Ada banyak cara untuk melatih pikiran, salah satunya dengan kesenian. Untuk itulah kesenian itu perlu, karena seni membuat kita berpikir, berimajinasi, menebak-nebak maksud seniman yang disampaikan melalui karyanya, entah itu karya lukis, tari, musik, film maupun sastra. Dalam kesenian, setiap orang dapat dengan bebas menginterpretasikan karya seni. Dalam kesenian, seseorang bebas menerjemahkan maksud. Seringkali antara satu orang dengan orang lainnya bisa menginterpretasikan karya seni dengan berbeda. Memang setiap orang bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda tergantung dari rasa ketertarikan, latar belakang pengalaman, dan referensi acuan. Jika terjadi perbedaan sudut pandang, dalam seni hal itu sudah biasa. Kesenian membuat kita tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Kesenian juga mengajarkan kita bahwa sesuatu dapat dilihat dari berbagai macam sisi yang ketika melihat salah satu sisi, kita bisa menganggap penilaian kita benar, namun tidak otomatis membuat pandangan dari sisi lainnya menjadi salah. Bahkan dua orang yang melihat sisi yang sama bisa mempunyai pandangan yang berbeda. Tak ada yang mutlak benar atau salah dalam seni, yang penting saling menghargai pandangan masing-masing. Seni mengajarkan kita bahwa perbedaan pandangan justru memperkaya. Seni membuat kita terbiasa berpikir dan tak mudah dimanipulasi.