 |
| Foto ini saya ambil saat turun dari Pasar Bubrah 18 Des 2016. |
Senang ketika akhirnya memiliki kesempatan untuk mendaki
lagi setelah sekian lama. Sebelum ini saya mendaki gunung Ungaran pada bulan
Agustus 2016. Baru empat bulan yang lalu tapi rasanya sudah lama sekali.
Setelah yang sudah seringkali terjadi beberapa bulan ini, rencana-rencana perjalanan seringkali gagal karena
berbagai macam alasan, akhirnya pendakian ke gunung Merapi tanggal 17-18
Desember 2016 ini terealisasi. Ini adalah kali kedua pendakian saya ke gunung
Merapi yang ketinggiannya mencapai 2930 mdpl. Rasanya tak ada yang lebih
melegakan ketika pada akhirnya kita mampu menyelesaikan sesuatu yang kita
rencanakan.
Saya berangkat dari Semarang pukul 08.00 pagi, berdua dengan
seorang kawan, kemudian bertemu dengan lima kawan lainnya yang berasal dari kota
Solo di Pasar Cepogo. Setelah saling menyapa, kami memutuskan untuk
mengisi perut terlebih dahulu. Kami menuju Pasar Selo yang searah dengan
Basecamp gunung Merapi. Saya makan Soto bersama beberapa kawan, sedangkan
beberapa yang lain memilih makan Bakso. Selesai makan, kami menuju Basecamp.
Sesampainya di sana, kami mempersiapkan diri, memastikan kembali peralatan dan
perbekalan yang perlu dibawa kemudian melakukan registrasi. Setelah berdoa kami
memulai pendakian.
Kami berdelapan mulai mendaki sekitar pukul 14.30 dari
Basecamp. Awal pendakian berjalan dengan lancar, fisik saya dalam keadaan
sehat, kaki saya dalam keadaan baik. Seperti biasa kami mendaki dengan gembira
dan saling bercanda satu sama lain. Awal pendakian memang terasa berat dan
melelahkan, apalagi bentuk gunung Merapi yang mengerucut membuat jalurnya terus
menanjak, minim sekali jalur yang datar, tapi begitu otot-otot kaki dan
pernafasan berhasil beradaptasi dengan jalur dan menemukan ritme yang sesuai
maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi asal kita bisa mempertahankan ritme tersebut dan tetap berhati-hati dalam melangkah.
Sesekali di tengah pendakian kami berhenti untuk beristirahat,
minum air atau sekadar mengatur nafas. Membahagiakan sekali rasanya ketika
angin berembus di sela-sela pepohonan, sejuk dan menyegarkan. Meski merasa
bahagia, bukan berarti saya jadi melupakan masalah-masalah saya. Saya tetap
mengingatnya, hanya saja rasanya menjadi tidak menyakitkan sama sekali. Itu karena
pikiran saya lebih terfokus pada bagaimana saya berjalan, bagaimana mengatur
nafas, menentukan pijakan, mengangkat beban fisik. Itulah bagaimana ajaibnya berkegiatan
fisik di alam terbuka mampu meringankan beban pikiran. Selain itu keberadaan
kita di tempat terbuka yang luas penuh dengan pepohonan membuat kita menyadari
bahwa alam semesta ini begitu besar dan
kita begitu kecil sehingga rasanya masalah kita tak ada apa-apanya.
Menjelang sore, kabut mulai turun, langit berwarna putih,
embusan angin mulai kencang dan membawa titik-titik kabut. Menyenangkan ketika perasaan
menjadi damai saat terpaan angin dingin seketika dapat menyingkirkan rasa lelah.
Selama pendakian kami berhenti sejenak di beberapa pos. Rencananya sebelum hari
mulai gelap, kami akan mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah
poin terakhir sebelum puncak. Hujan mulai turun dengan deras, kami berhenti
untuk memakai jas hujan. Melihat angin yang berembus semakin kencang dan
berpotensi badai, kami berpikir untuk mendirikan tenda di wilayah sebelum Pasar
Bubrah yang masih ditumbuhi pepohonan. Kami mendirikan tenda di samping kanan
jalur pendakian, di dekat batu besar. Ketika hari menjelang gelap, tenda sudah berdiri. Kami mulai merapikan barang-barang dan memasak makanan dan minuman hangat.
Langit masih mengguyurkan airnya dengan deras ke arah kami, disertai angin yang
berembus dengan semangat sekali, seperti sedang terburu-buru.
Kami memutuskan untuk tidur karena rasanya tak ada yang bisa
dilakukan lagi, hujan badai masih juga belum berhenti. Lebih baik menutup
tenda agar terlindungi dari angin yang semakin lama semakin bertambah dingin. Saya
mulai rebah dalam kantung tidur dan memejamkan mata. Beberapa kali saya
terbangun, badai belum berhenti, saya memejam lagi. Tak lama perut saya mual
dan rasanya ingin muntah. Saya mencoba menahannya dan berusaha memejam lagi tapi
rasanya susah. Akhirnya saya mencari plastik dan saya muntahkan semua makanan
yang tadi sudah saya makan. Setelah itu saya berhasil tertidur lagi sampai
pagi. Semalaman hujan tak berhenti, ditambah angin yang berkali-kali menabrak
tenda-tenda kami.
Akhirnya pagi menjelang. Badai telah berlalu, berganti
dengan langit cerah berwarna biru. Saat melihat ke arah utara, terlihat gunung
Merbabu yang letaknya berdekatan dengan gunung Merapi, sedangkan di arah barat
saya dapat melihat gunung Slamet, Sumbing, Sindoro dan gunung Prau dari
kejauhan. Kami mulai memasak air untuk minum dan memakan makanan ringan kemudian menjemur
beberapa barang-barang kami yang basah karena hujan. Beberapa dari kami akan
melanjutkan perjalanan ke puncak gunung, termasuk saya. Dua orang menjaga tenda
dan memasak makanan untuk kami semua. Kami berenam mulai berjalan ke arah puncak.
Pada setengah perjalanan, saya sedikit merasa tidak enak perut. Rasanya mual
lagi. Saya pikir sudah tak ada masalah setelah muntah tadi malam. Saya tetap
berjalan menyusuri jalan yang menanjak dengan tenang.
Sampai di Pasar Bubrah saya sempat berkata pada kawan-kawan saya bahwa saya sampai di situ
saja, saya akan menunggu mereka sementara mereka berlima melanjutkan ke puncak gunung. Mereka malah mengurungkan niatnya untuk ke puncak. Saya
tak ingin jika gara-gara saya mereka jadi tidak sampai puncak, tapi perut saya
mual sekali, kemudian saya bilang, “Saya muntah dulu sebentar.”. Setelah
muntah, saya bilang, “Ayo ke puncak!”. “Yakin kuat?”, tanya seorang kawan, “Iya,
kan sudah muntah.”, jawab saya. Saya kira memang sudah tak apa-apa, tapi belum
lama saya mendaki lagi rasanya perut saya kambuh lagi. Angin yang berkali-kali
menerpa rasanya membuat fisik saya menjadi semakin lemah. Kemudian saya
berkata bahwa saya ingin kembali ke tenda, sendirian saja. Dari raut wajahnya mereka sepertinya
agak ragu dengan keinginan saya, sedikit khawatir mungkin. Saya berusaha
meyakinkan mereka, “Tak apa, jalurnya ramai dan tak terlalu jauh.”, kata saya. Kemudian saya turun menuju perkemahan kami.
Dalam perjalanan kembali ke tenda saya muntah lagi. Setelah
sampai di tenda, saya muntah sekali lagi. Saya belum pernah muntah berkali-kali
seperti ini di gunung, padahal saya pikir saya mendaki dengan keadaan fisik
yang baik. Badai semalam juga bukan yang pertama kali saya alami. Di tenda saya
berusaha untuk memulihkan kondisi, membuat minuman hangat yang kira-kira tidak
akan ditolak oleh lambung saya, memakan makanan dan minum Tolak Angin kemudian
tidur beberapa saat. Alhamdulillah setelah bangun kondisi saya pulih. Tak lama
kemudian kawan-kawan yang lain sudah kembali dari puncak, mereka beristirahat
dan mengisi perut, sementara saya dan beberapa yang lain mulai memasukkan
barang-barang ke dalam tas untuk persiapan turun.
Salah seorang kawan yang telah beberapa kali mendaki bersama
saya berkata, saya lupa tepatnya tapi intinya begini, “Beban kamu berat ya, padahal setahu
saya kamu orang yang kuat.”. Entah apa maksudnya, mungkin agar saya lebih
bersemangat. Selama perjalanan turun saya jadi memikirkan kata-kata kawan saya
itu. Mungkin saja kata-katanya benar. Saya menginterpretasikan bahwa beban yang dimaksud bukanlah beban fisik, tapi beban pikiran. Saya mendaki dengan kondisi
fisik yang cukup baik tapi mengapa tiba-tiba saya menjadi lemah? Saya kira ini
mungkin ada hubungannya dengan kondisi psikologis saya. Pada awalnya kondisi fisik
saya memang baik, tapi saya mendaki dengan membawa beban pikiran dan itu memengaruhi
kondisi fisik saya. Mungkin begitu. Apapun itu, semoga itu adalah pelajaran yang
dapat membuat saya menjadi lebih baik.
Selalu ada banyak pengetahuan yang saya dapat seusai melakukan
perjalanan. Bagaimanapun, perjalanan selalu bisa menyegarkan kembali pikiran, memperkuat
fisik, membantu kita untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Ada satu lagi hal yang
sudah sering saya alami tapi saya baru menyadarinya kemarin. Sehari setelah
mendaki, ketika bangun dari tidur yang lama, setelah mandi, saat saya makan,
makanan di rumah rasanya lebih enak berkali lipat dari biasanya, padahal bukan menu yang istimewa. Kebahagian yang sederhana tapi berharga.