Kita hidup pada zaman di mana arus informasi begitu deras
menerpa kita. Kita bisa mendapatkan informasi dengan mudah dari media cetak,
elektronik, terlebih di dunia digital informasi dapat dengan mudah menyebar. Kadang
kita menganggap informasi itu penting atau tidak penting sama sekali,
tergantung dari kebutuhan kita. Bahkan tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di dunia digital, informasi yang tidak
benar pun bisa cepat tersebar. Biasanya tulisan seseorang dari media tak resmi
atau opini berbentuk broadcast message
yang ditulis oleh entah siapa. Jika informasi itu berguna tentu tak apa, tapi
jika membuat kita bertindak tanpa berpikir maka berpotensi mengajak kita kepada
keburukan yang seolah baik, dan cepat atau lambat akan menimbulkan kekacauan pola
pikir. Korbannya biasanya adalah pembaca bertipe reaktif yang dengan serta
merta mudah dipengaruhi melalui bahasa yang persuasif. Tanpa memastikan
kebenaran tulisan; Apakah masuk akal? Apakah tulisan tersebut ditulis
berdasarkan data dan fakta? Apakah didapat dari sumber yang jelas? Apakah hal
tersebut bermanfaat? Tanpa berpikir ulang kemudian secara emosional
menggandakannya dan membagikannya kepada banyak orang. Orang-orang seperti ini
seringkali mudah dimanipulasi.
Tak hanya mudah dimanipulasi, orang-orang ini juga menutup
diri pada informasi lain yang bertentangan. Padahal untuk mengetahui kebenaran,
kita harus mengetahui sebanyak-banyaknya informasi. Ketika informasi-informasi yang
dirasa perlu sudah dikumpulkan, barulah kita bisa mempelajari kumpulan data tersebut dengan teliti. Susah memang menghadapi orang-orang yang terbiasa menelan
informasi mentah-mentah, menelan kalimat bulat-bulat, dengan cara pandang yang masih
sebatas permukaan. Orang-orang jenis ini adalah orang yang tidak suka berpikir,
barangkali karena terasa terlalu merepotkan. Padahal segala sesuatu tentu ada
prosesnya. Tak ada salahnya jika meluangkan waktu lebih lama untuk berpikir
sebelum mengaplikasikan pikiran kita dalam bentuk perkataan dan
perbuatan. Agar pada akhirnya ketika kita berkata dan berbuat, kita telah
benar-benar mengerti dan memahami bahwa perkataan dan perbuatan kita itu tidak
membawa keburukan, tapi justru memberikan manfaat.
Ada banyak cara untuk melatih pikiran, salah satunya dengan
kesenian. Untuk itulah kesenian itu perlu, karena seni membuat kita berpikir,
berimajinasi, menebak-nebak maksud seniman yang disampaikan melalui karyanya,
entah itu karya lukis, tari, musik, film maupun sastra. Dalam kesenian, setiap
orang dapat dengan bebas menginterpretasikan karya seni. Dalam kesenian,
seseorang bebas menerjemahkan maksud. Seringkali antara satu orang dengan orang
lainnya bisa menginterpretasikan karya seni dengan berbeda. Memang setiap orang
bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda tergantung dari rasa ketertarikan,
latar belakang pengalaman, dan referensi acuan. Jika terjadi perbedaan sudut
pandang, dalam seni hal itu sudah biasa. Kesenian membuat kita tidak
terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Kesenian juga mengajarkan kita bahwa
sesuatu dapat dilihat dari berbagai macam sisi yang ketika melihat salah satu
sisi, kita bisa menganggap penilaian kita benar, namun tidak otomatis membuat
pandangan dari sisi lainnya menjadi salah. Bahkan dua orang yang melihat sisi yang sama bisa mempunyai pandangan yang berbeda. Tak ada yang mutlak benar atau salah
dalam seni, yang penting saling menghargai pandangan masing-masing. Seni
mengajarkan kita bahwa perbedaan pandangan justru memperkaya. Seni membuat kita
terbiasa berpikir dan tak mudah dimanipulasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar