Rabu, 07 Desember 2016

Surat Untuk A

Halo A,

Apa kabar? Semoga kau sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Sudah lama sekali aku tak menulis surat kepada seseorang. Seingatku terakhir kali menulisnya saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau tak salah, surat itu kutuliskan di kertas wangi berwarna biru muda. Kutujukan suratku kepada Bibiku yang tinggal di kota Jakarta. Kata Bibiku, seharusnya aku mengirimkannya kepada sepupuku yang seusia denganku, tapi kupikir, lebih baik aku mengirimkan padanya saja karena aku lebih merasa nyaman dengannya dibanding sepupu-sepupuku. Beberapa hari setelah aku mengirimkannya, surat balasan dari Bibiku datang. Aku segera melaporkan kepada guruku bahwa suratku telah dibalas.

Awal bulan November lalu aku meneleponmu, terdengar nada tunggu, lalu kumatikan karena operator yang menjawab. Kau tahu, aku ingin meneleponmu, bukan operator itu. Kemudian kuputuskan untuk menunggu teleponmu saja tapi kau tak juga meneleponku. Seminggu kemudian aku meneleponmu lagi tapi lagi-lagi dijawab oleh operator. Kali ini ia berkata bahwa nomormu sedang tak aktif, kutelepon nomormu yang lain pun sama. Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan pendek yang meski kau baca, kau tetap tak mau membalasnya. Belakangan memang sulit sekali rasanya untuk bisa sekadar mengobrol atau bertemu denganmu. Kadang aku merasa kau sengaja bersikap menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah kau sengaja melakukannya untuk mendapatkan perhatian atau sengaja menjauh agar aku mendekatimu? Atau kau ingin menyudahi semua tapi terlalu malas untuk mengatakannya? Tidakkah kau berpikir itu bukanlah sikap yang bertanggungjawab? Bukan begitu cara orang dewasa menyelesaikan masalah. Ah, tapi mungkin semua itu hanya pikiran negatifku saja. Mungkin kau memang sedang mempunyai banyak masalah, jadi saat itu kuputuskan untuk menunggumu sembuh dari apapun masalahmu. Aku tak mau banyak bertanya karena tak ingin memperkeruh suasana. Kupikir kau butuh ketenangan.

Saat akhirnya kau mengirimiku pesan dan berkata “lama tak ada kabarnya”, rasanya aku ingin menjawab, “Bagaimana mungkin aku memberimu kabar sementara kau menutup akses komunikasi?”. Rasanya aku ingin berkata, “Sudah terlalu sering kau pergi tanpa pamit, membuatku merasa bahwa bagimu aku bukanlah seorang yang penting.” Padahal dalam keadaan marah pun aku tetap memberi tahumu ketika aku akan pergi dengan temanku. Aku tetap mengangkat teleponmu dan membalas pesan-pesan pendekmu meski dalam hati aku sedang kesal dengan semua kata-kata dan sikapmu yang menyebalkan dan terkadang terasa meremehkan. Tapi sudahlah, aku tak ingin membuat masalah baru. Aku ingin terlebih dahulu memastikan bahwa kau sudah benar-benar sembuh sebelum aku bertanya baik-baik tentang apa yang terjadi padamu. Meski akhirnya kita berkomunikasi lagi dan kau sedikit memberitahuku tentang apa yang terjadi, tapi sampai aku menulis ini sepertinya tak ada perkembangan yang berarti. Kau sepertinya belum benar-benar sembuh. Bahkan sikapmu lagi-lagi membuat sakit hatiku kambuh, sehingga segala perilaku yang menyebalkan darimu sejak kita saling mengenal muncul kembali dalam pikiranku, terakumulasi dan membuatku ingin tak lagi peduli. Sampai akhirnya aku menyadari, mungkin kita sedang sama-sama sakit dan ego kita terlalu tinggi untuk mau menyelesaikan masalah ini.

Mengenai bukumu, kau benar, aku belum selesai membacanya. Kalau tak salah aku baru membacanya sampai malam ke-477. Seringkali aku membacanya sebelum tidur di malam hari. Biasanya setelah beberapa lembar aku akan mengantuk dan tidur beberapa saat kemudian. Kebanyakan ceritanya tentang kehidupan di negara-negara Timur Tengah pada masa Khilafah, banyak diantaranya disisipkan kisah-kisah cinta. Menurut pengamatanku, seringkali tokoh-tokoh di dalamnya tidak butuh waktu lama untuk menyadari dan merasa yakin bahwa mereka sedang saling jatuh cinta, biasanya karena melihat rupa yang cantik atau tampan, dan kaya. Bagaimana bisa semudah itu ya? Jika rasa cinta mereka hilang, atau mereka tak lagi cantik, tampan, dan kaya, apakah mereka akan tetap saling bersikap manis satu sama lain? Akankah mereka bisa saling menghargai satu sama lain dalam keadaan tidak sedang jatuh cinta? Apakah dalam keadaan tak sedang jatuh cinta, rasa toleransi mereka akan sama tinggi seperti saat mereka sedang jatuh cinta? Apakah mereka bisa tetap bersikap baik satu sama lain saat tak lagi memiliki apapun yang sebelumnya menjadi kebanggaan mereka? Apakah mereka bisa saling jatuh cinta tanpa syarat? Entahlah.

Beberapa waktu yang lalu aku mengembalikan bukumu meski belum selesai kubaca karena aku tidak ingin mempunyai beban menyimpan barang pinjaman yang seharusnya kukembalikan. Aku semakin tak mengerti dengan sikapmu dan kau begitu sulit dihubungi. Kupikir jika di kemudian hari kau memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan (seperti yang sudah sering kau lakukan) dan tak kembali lagi, aku tak ingin menyimpan barang yang kupinjam darimu. Bagiku rasanya sangat mengganggu ketika aku meminjam sesuatu dan tak mampu mengembalikannya. Juga ketika aku sudah berkata akan memberi sesuatu untukmu, maka aku harus memberikannya. Karena itu milikmu, maka harus kuberikan padamu. Aku tak ingin mempunyai semacam hutang. Aku ingin menjadi orang yang bisa bertanggung jawab dan menepati kata-kataku.

A, jika menurutmu aku perlu mengetahui sesuatu atau kau mempunyai gagasan tentang apapun itu, kau bisa mengatakannya padaku. Jika kau tak setuju dengan sikap dan pikiran-pikiranku atau kau tersinggung dengan kata-kataku, kau bisa memberitahuku. Kau tahu, komunikasi itu penting dan sudah lama kita tak berdiskusi dengan pikiran terbuka. Namun jika kau merasa tak perlu menjelaskan apapun, tentu aku tak bisa memaksamu. Mungkin kalimat di awal surat ini terlihat seperti basa-basi, tapi aku benar-benar mendoakan agar kau sehat dan baik. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Jika kau sedang punya banyak masalah, semoga kau mau berusaha menyelesaikannya satu per satu, karena jika kau membiarkannya, itu justru akan mempersulit hidupmu sendiri. Jika hatimu sedang terluka, semoga ia lekas sembuh dan menjadikanmu lebih kuat dari sebelumnya. Apapun yang kau lakukan, semoga itu adalah hal-hal yang baik dan bermanfaat. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat ini.


Salam,

R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar