Halo A,
Apa kabar? Semoga kau
sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Sudah lama sekali aku tak menulis surat kepada seseorang. Seingatku terakhir kali menulisnya saat aku masih
duduk di bangku Sekolah Dasar sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau
tak salah, surat itu kutuliskan di kertas wangi berwarna biru muda. Kutujukan
suratku kepada Bibiku yang tinggal di kota Jakarta. Kata Bibiku, seharusnya aku
mengirimkannya kepada sepupuku yang seusia denganku, tapi kupikir, lebih baik
aku mengirimkan padanya saja karena aku lebih merasa nyaman dengannya dibanding
sepupu-sepupuku. Beberapa hari setelah aku mengirimkannya, surat balasan dari
Bibiku datang. Aku segera melaporkan kepada guruku bahwa suratku telah dibalas.
Awal bulan November lalu
aku meneleponmu, terdengar nada tunggu, lalu kumatikan karena operator yang
menjawab. Kau tahu, aku ingin meneleponmu, bukan operator itu. Kemudian
kuputuskan untuk menunggu teleponmu saja tapi kau tak juga meneleponku.
Seminggu kemudian aku meneleponmu lagi tapi lagi-lagi dijawab oleh operator.
Kali ini ia berkata bahwa nomormu sedang tak aktif, kutelepon nomormu yang lain
pun sama. Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan pendek yang meski kau baca,
kau tetap tak mau membalasnya. Belakangan memang sulit sekali rasanya untuk
bisa sekadar mengobrol atau bertemu denganmu. Kadang aku merasa kau sengaja
bersikap menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah kau sengaja melakukannya untuk
mendapatkan perhatian atau sengaja menjauh agar aku mendekatimu? Atau kau ingin
menyudahi semua tapi terlalu malas untuk mengatakannya? Tidakkah kau berpikir
itu bukanlah sikap yang bertanggungjawab? Bukan begitu cara orang dewasa
menyelesaikan masalah. Ah, tapi mungkin semua itu hanya pikiran negatifku saja.
Mungkin kau memang sedang mempunyai banyak masalah, jadi saat itu kuputuskan untuk
menunggumu sembuh dari apapun masalahmu. Aku tak mau banyak bertanya karena tak
ingin memperkeruh suasana. Kupikir kau butuh ketenangan.
Saat akhirnya kau
mengirimiku pesan dan berkata “lama tak ada kabarnya”, rasanya aku ingin
menjawab, “Bagaimana mungkin aku memberimu kabar sementara kau menutup akses
komunikasi?”. Rasanya aku ingin berkata, “Sudah terlalu sering kau pergi tanpa
pamit, membuatku merasa bahwa bagimu aku bukanlah seorang yang penting.”
Padahal dalam keadaan marah pun aku tetap memberi tahumu ketika aku akan pergi
dengan temanku. Aku tetap mengangkat teleponmu dan membalas pesan-pesan
pendekmu meski dalam hati aku sedang kesal dengan semua kata-kata dan sikapmu
yang menyebalkan dan terkadang terasa meremehkan. Tapi sudahlah, aku tak ingin membuat
masalah baru. Aku ingin terlebih dahulu memastikan bahwa kau sudah benar-benar
sembuh sebelum aku bertanya baik-baik tentang apa yang terjadi padamu. Meski
akhirnya kita berkomunikasi lagi dan kau sedikit memberitahuku tentang apa yang
terjadi, tapi sampai aku menulis ini sepertinya tak ada perkembangan yang
berarti. Kau sepertinya belum benar-benar sembuh. Bahkan sikapmu lagi-lagi
membuat sakit hatiku kambuh, sehingga segala perilaku yang menyebalkan darimu sejak kita saling mengenal muncul kembali dalam pikiranku, terakumulasi dan
membuatku ingin tak lagi peduli. Sampai akhirnya aku menyadari, mungkin kita
sedang sama-sama sakit dan ego kita terlalu tinggi untuk mau menyelesaikan
masalah ini.
Mengenai bukumu, kau
benar, aku belum selesai membacanya. Kalau tak salah aku baru membacanya sampai
malam ke-477. Seringkali aku membacanya sebelum tidur di malam hari. Biasanya
setelah beberapa lembar aku akan mengantuk dan tidur beberapa saat kemudian.
Kebanyakan ceritanya tentang kehidupan di negara-negara Timur Tengah pada masa
Khilafah, banyak diantaranya disisipkan kisah-kisah cinta. Menurut
pengamatanku, seringkali tokoh-tokoh di dalamnya tidak butuh waktu lama untuk
menyadari dan merasa yakin bahwa mereka sedang saling jatuh cinta, biasanya
karena melihat rupa yang cantik atau tampan, dan kaya. Bagaimana bisa semudah
itu ya? Jika rasa cinta mereka hilang, atau mereka tak lagi cantik, tampan, dan
kaya, apakah mereka akan tetap saling bersikap manis satu sama lain? Akankah
mereka bisa saling menghargai satu sama lain dalam keadaan tidak sedang jatuh
cinta? Apakah dalam keadaan tak sedang jatuh cinta, rasa toleransi mereka akan
sama tinggi seperti saat mereka sedang jatuh cinta? Apakah mereka bisa tetap
bersikap baik satu sama lain saat tak lagi memiliki apapun yang sebelumnya
menjadi kebanggaan mereka? Apakah mereka bisa saling jatuh cinta tanpa syarat? Entahlah.
Beberapa waktu yang lalu
aku mengembalikan bukumu meski belum selesai kubaca karena aku tidak ingin
mempunyai beban menyimpan barang pinjaman yang seharusnya kukembalikan. Aku semakin
tak mengerti dengan sikapmu dan kau begitu sulit dihubungi. Kupikir jika di
kemudian hari kau memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan (seperti yang sudah
sering kau lakukan) dan tak kembali lagi, aku tak ingin menyimpan barang yang
kupinjam darimu. Bagiku rasanya sangat mengganggu ketika aku meminjam sesuatu
dan tak mampu mengembalikannya. Juga ketika aku sudah berkata akan memberi
sesuatu untukmu, maka aku harus memberikannya. Karena itu milikmu, maka harus
kuberikan padamu. Aku tak ingin mempunyai semacam hutang. Aku ingin menjadi
orang yang bisa bertanggung jawab dan menepati kata-kataku.
A, jika menurutmu aku
perlu mengetahui sesuatu atau kau mempunyai gagasan tentang apapun itu, kau
bisa mengatakannya padaku. Jika kau tak setuju dengan sikap dan
pikiran-pikiranku atau kau tersinggung dengan kata-kataku, kau bisa
memberitahuku. Kau tahu, komunikasi itu penting dan sudah lama kita tak
berdiskusi dengan pikiran terbuka. Namun jika kau merasa tak perlu menjelaskan
apapun, tentu aku tak bisa memaksamu. Mungkin kalimat di awal surat ini
terlihat seperti basa-basi, tapi aku benar-benar mendoakan agar kau sehat dan
baik. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Jika kau sedang punya banyak
masalah, semoga kau mau berusaha menyelesaikannya satu per satu, karena jika
kau membiarkannya, itu justru akan mempersulit hidupmu sendiri. Jika hatimu
sedang terluka, semoga ia lekas sembuh dan menjadikanmu lebih kuat dari
sebelumnya. Apapun yang kau lakukan, semoga itu adalah hal-hal yang baik dan
bermanfaat. Terima kasih sudah mau
meluangkan waktu untuk membaca surat ini.
Salam,
R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar