Senin, 21 Desember 2015

Melakukan Apa yang Seharusnya Dilakukan

Saya lagi capek banget nih, nggak tau kenapa. Padahal tadi udah makan lho, nasi kuning, beli di I-Point. Nggak tau deh, lagi pengen makan nasi kuning aja. Dan di siang hari, saya nggak tau di mana beli nasi kuning, terus inget kalo di I-Point jualan nasi kuning juga. Sayangnya nggak ada lauk kering tempe dan telur dadar iris. Tapi tetep enak sih. Oke cukup bahas nasi kuningnya.

Jadi sebenernya saya lagi capek banget. Sama apa? Sama hidup mungkin. Jadi saya kan kemarin habis patah hati, terus udah sembuh, terus ya udah, balik lagi jadi tawar, nggak ada rasa apa-apa. Nah, pas nggak lagi jatuh cinta atau patah hati, saya jadi ngerasa hidup ini monoton aja. Tiap hari, bangun pagi, kerja, pulang sore agak malem, atau kalo ada ajakan nongkrong saya nongkrong dulu ampe malem terus pulang. Gitu terus. Jadi sebenarnya, jatuh cinta, patah hati atau banyak hal menyenangkan dan menyedihkan lainnya harusnya disyukuri, karena kalo itu nggak terjadi, hidup akan terasa sangat membosankan dan nggak berwarna.

Saya juga nggak tau nih kenapa saya jadi nggak ada semangat? Pada saat seperti ini saya jadi inget kalo banyak hal yang harus saya lakuin tapi belum saya lakuin, kayak cita-cita nulis buku dan bikin film dan banyak lagi sebenernya. Cuma ya itu, saya banyak alasan, dan lagi saya butuh banyak banget energi buat itu (iya saya tau, yang barusan itu juga alasan).

Atau jangan-jangan saya cuma kangen naik gunung. Terakhir kali naik gunung udah lama, dua bulan yang lalu, ke Gunung Lawu. Saya termasuk orang yang kecanduan naik gunung. Orang-orang yang nggak suka naik gunung mungkin heran atau nggak ngerti apa enaknya naik gunung. Tapi terserah mereka aja. Semoga mereka juga punya hobi sendiri dan bisa memaklumi ketika orang lain nggak ngerti hobi mereka.

Tapi mungkin aja saya ngerasa nggak semangat karena saya sering menunda-nunda sesuatu yang jadi keinginan saya. Biasanya sih gitu, karena menunda itu membuat orang jadi malas melakukan apapun. Padahal kalo dilakuin itu bisa bikin tenang hati dan pikiran. Jadi solusinya, sepertinya sekarang saya harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan, beberapa diantaranya yaitu mulai serius berusaha mewujudkan cita-cita saya. Selain itu, nggak lupa naik gunung setiap kali ada kesempatan. :)

Senin, 07 Desember 2015

Rencana-Rencana

Aku punya banyak rencana untuk kita,
kau pasti juga punya yang tak kalah banyaknya.
Sambil menunggumu menyelesaikan urusan-urusanmu,
aku pun menyibukkan diri dengan urusan-urusanku.

Kemudian kita bertemu,
saling menyesuaikan rencana-rencana.
Aku dengan semua cita-citaku,
kamu dan semua impian-impianmu.
Bersama kita meraih asa.

Dunia tentu heran melihat kita,
sebelumnya mereka memandang sebelah mata.
Ketika kita membagi hangat pada dunia,
menebar kebaikan pada sesama,
mereka hanya bisa membelalakkan mata.


Desember, 2015

Minggu, 01 November 2015

Jam-Jam Sibuk

Aku benci bagaimana kau diam-diam memasuki pikiran dan hatiku, lalu menetap di sana tanpa kutahu. Yang lebih menyebalkan lagi, kau seenaknya mengacak-acak ruanganku, disaat aku harus menyelesaikan dengan cepat pekerjaanku. Aku tahu kau tak salah, akulah yang lengah. Aku yang membiarkan pintunya terbuka. Sekarang kau tak mau pergi. Aku sudah mencoba berbicara denganmu, tapi kau tak mau tahu. Kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk berbicara. Aku lelah. Kurasa yang harus kulakukan sekarang adalah, membiarkanmu tetap di situ dan membiasakannya hingga aku merasa bahwa tak ada bedanya ketika kau berada di situ atau tidak.

Selasa, 27 Oktober 2015

Selasa Nelangsa


Hari ini saya sedang malas. Jika teman-teman saya mendengar saya berkata seperti itu pasti mereka akan berkomentar, “Bukannya kamu memang setiap hari sudah malas?”. Iya, memang hampir setiap hari saya malas. Saya ingat salah satu teman saya ada yang berkata, “Saya tahu kapan kamu tidak malas, yaitu ketika kamu sakit perut dan ingin buang air besar.”, saya hanya tertawa dan berkata, “Tentu saja! Itu adalah hal yang hampir tak mungkin ditahan.".

Saya termasuk orang yang moody, mood saya bisa berubah-ubah dalam hitungan detik. Saya bisa senang, sedih, marah, malas, melankolis dan bersemangat dalam satu hari. Tapi memang yang paling banyak dilihat oleh teman-teman saya adalah saya yang pemalas. Ah sudahlah, saya memang sedang malas hari ini. Hari ini suasana hati saya sedang didominasi oleh rasa malas. Itu artinya hari ini saya lebih malas dari hari-hari biasanya.

Kadang saya berpikir bahwa hidup saya berantakan sekali, dan tentu ada keinginan untuk merapikannya. Jika pikiran saya terasa penuh hingga mengganggu pekerjaan sehari-hari, baru terasa bahwa saya mempunyai masalah yang harus diselesaikan. Maka saya akan berusaha menyelesaikan masalah saya satu per satu. Tiba-tiba saya bisa bersemangat.

Tapi yang namanya permasalahan, tak semua bisa diselesaikan dengan mudah dan begitu saja. Kadang ketika faktor dari dalam diri kita sudah bersiap akan menyelesaikan masalah, ada saja faktor dari luar yang tak mendukung. Misalnya saja seperti orang-orang yang berhubungan langsung dengan pokok permasalahan tidak dapat meluangkan waktunya untuk membantu kita menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal yang kita tahu dia adalah satu-satunya orang yang dapat membantu. Tapi tentu kita tak mungkin memaksa. Kadang memang susah berhubungan dengan manusia. Kalau sudah begini rasanya jadi lemas, tak bersemangat lagi. Seperti sudah jauh berjalan di jalan yang kita yakini benar, tapi ternyata buntu. Melelahkan.

Lelah, tak ingin melakukan apapun. Rasanya tenaga langsung terkuras oleh harapan yang ternyata kosong. Saya menjadi lebih banyak diam, berpikir, dan sambil menunggu hati saya pulih, saya melakukan tugas-tugas saya dengan malas-malasan. Mirip seperti orang patah hati. Tentu saya akan bersemangat lagi, mencapai keinginan dan cita-cita saya lagi, tapi kan itu perlu waktu, dan ini adalah masa transisi. Eh, bukankah mood saya mudah berubah? Berarti ini tak akan lama. Akan selalu ada jalan. Tentu jalan yang kita pilih adalah yang baik dan tak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.

*Iya, saya tahu judulnya memang berlebihan, tulisan ini tak senelangsa itu. :p

Senin, 19 Oktober 2015

Rusuh

Aku membencimu,
Kau berbuat rusuh di kepalaku.
Sesungguhnya, aku tak keberatan
kau menetap di situ,
tinggallah selama kau suka
dan kau mau,
tapi diamlah,
jangan acak-acak seluruh ruangan.
Aku lelah
harus merapikannya sering-sering.
Ada banyak hal yang harus kulakukan,
kau tahu?
Jangan menambah rumit hidupku
dengan membuat kerusuhan di kepalaku.


2015

Kamis, 08 Oktober 2015

Angin dan Hujan

Datangnya hujan sedang dinanti
oleh manusia di seluruh penjuru negeri
Kemarau buat dahaga makin menjadi.

Kuamati dari balik terali,
hujan telah lama berdiri
di hadapan pintu kayu jati,
mencoba mengoyak sepi.

"Siapa yang membawamu kemari?", tanyaku.
"Angin.", jawabnya pelan.

Aku sudah lama menyukai hujan.
Aku selalu senang saat hujan datang.
Aku selalu rindu ketika hujan pergi menghilang.
Kini aku tahu, hujan tak pernah datang sendirian.

Angin terlalu pemalu,
enggan muncul di hadapanku.
Namun kehadirannya sejukkan kalbu,
semilirnya buat dinginku tersapu.

Jangan terlalu lama pergi.
Jangan lupa pulang kembali.
Tak perlu sembunyi lagi.
Terima kasih untuk hujan hari ini.


Semarang, 2015

Sabtu, 05 September 2015

Bunga-Bunga Berseri, Kupu-Kupu Menari-Nari

Ada sesuatu dalam diri kita
saling berkomunikasi
dalam bahasa
yang bahkan kita sendiri
tak mengerti.

Aku sudah lama
memutuskan untuk pergi.
Namun tanpa kuduga
kita bertemu lagi.

Seketika bunga-bunga bermekaran
saat senyummu mengembang,
membuat semua kupu-kupu
yang telah lama kubiarkan mati
hidup lagi.

Sesuatu dalam diri kita
kembali saling bicara,
dalam bahasa
yang entah apa.

Meski tak mengerti,
aku tak mampu
untuk tak peduli.
Malah membuatku menanti
hari di mana kita
akan bertemu lagi.

Akan kita buat
lebih banyak lagi
bunga-bunga berseri
dan kupu-kupu
menari-nari.


Semarang, 2015

Minggu, 30 Agustus 2015

Suatu Tempat Terlihat Lebih Indah dengan Merah Putih Berkibar di Langitnya



Di era sosial media seperti sekarang ini kita terbiasa membagikan apa saja yang kita pikirkan dan kita lakukan sehari-hari, tentu saja hal-hal yang menurut kita pantas untuk dibagi. Salah satunya, Kebiasaan kita setelah jalan-jalan atau traveling, yaitu mengunggah foto traveling kita di sosial media. Pertanyaan yang paling sering kita dengar setelah mengunggah foto traveling kita, terutama jika kita pergi ke tempat-tempat yang membuat kita menghela nafas karena takjub adalah, “Itu di mana?” dan jika kita menjawab bahwa tempat di foto itu adalah suatu tempat di Indonesia, tentu banyak yang merasa bangga dan ingin mendatangi tempat itu juga, “wah, ternyata di Indonesia ada tempat seindah itu…”

Bagaimana mungkin Indonesia tidak indah? Tentu saja Indonesia itu Indah, karena Indonesia adalah negara kepulauan, beberapa pulau masih alami, banyak pantai-pantai indah dengan air yang jernih, danau, air terjun dan gunung-gunung berapi yang membuat wilayah sekitarnya subur dan hijau. Dan bukan tak mungkin alam Indonesia lebih indah dari pada tempat-tempat terkenal di luar negeri.

Tentu sebagai warga negara Indonesia kita akan otomatis mencintai negeri kita, dengan segala kebaikan dan keburukannya. Bagaimana tidak? Indonesia adalah rumah kita. Bagaimana mungkin kita tidak mencintai rumah kita sendiri? Tempat kita lahir dan tumbuh besar, tempat kita ingin kembali pulang sejauh apapun kita pergi. Tempat yang akan selalu kita rindukan saat kita jauh di luar negeri. Tak cuma tempat-tempat dan orang-orangnya, tapi juga segala suasananya, adat istiadat dan budayanya, termasuk makanannya.

Puncak Hargo Dumiling Gunung Lawu

Memang tak perlu traveling menjelajahi Indonesia sampai ke pelosok-pelosoknya untuk bisa mempunyai semangat nasionalisme. Tetapi traveling akan membuat kita lebih mencintai Indonesia. Sadar atau tidak, traveling adalah salah satu wujud cinta kita kepada Indonesia, dan dengan traveling kita akan lebih mencintai Indonesia. Ketika kita traveling ke daerah lain, ke kota lain di Indonesia, kita akan melihat banyak hal tentang Indonesia yang sebelumnya belum pernah kita tahu. Suasana yang berbeda dengan tempat kita hidup dan menetap, bahasa yang berbeda, dan tentu saja makanannya. Selain itu banyak sekali hal yang bisa bermanfaat untuk kita dan orang-orang yang kita temui saat traveling. Misalnya saja ketika kita bisa berbagi rejeki pada orang-orang yang bekerja sebagai sopir bis yang kita tumpangi, pemilik rumah makan dan penginapan yang kita singgahi dan banyak lagi. Kita bertemu orang-orang di perjalanan, entah itu sesama traveler atau penduduk lokal. Kadang kita bertukar cerita, mendapatkan ilmu baru dan pengetahuan yang sebelumnya tak kita tahu. Bahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita tentang hidup malah sering kita dapatkan dari orang asing yang kita temui di jalan.

Gunung Sindoro dan Sumbing dilihat dari Gunung Prau

Bagaimana mungkin kita tidak mencintai Indonesia? Saya sendiri sering merasa, tempat-tempat di bumi ini akan terlihat lebih indah jika terdapat bendera Indonesia berkibar di langitnya. Bukan karena keindahannya saja kita mencintai, tapi kita mencintai dengan segala kekurangannya juga. Itulah cinta yang sesungguhnya. Dan tentu dengan semangat nasionalisme kita bisa berusaha untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi, misalnya dengan menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan, mencoret-coret dan merusak fasilitas umum dan yang paling penting, hal tersebut bisa kita mulai dari diri kita sendiri.

*Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia #wego17an

Minggu, 03 Mei 2015

Dunia Ini Semakin Sepi

Dunia ini semakin sepi,
meski kenyataannya,
penghuninya makin bertambah.

Dunia ini semakin sepi,
terutama pada malam hari,
malam buta seperti ini.

Dunia ini semakin sepi,
meski pada malam buta seperti ini,
dunia dalam kepalaku ramai sekali.

Dunia ini semakin sepi,
teman-teman datang,
lalu pergi.


Semarang, 2015

Sabtu, 02 Mei 2015

Hari yang Kelak Kuingat-Ingat

Kita yang duduk berdua
Langit yang terang
Malam yang penuh bintang
Pepohonan yang rimbun
Angin yang melalui sela-selanya
Udara yang dingin
Api yang menyala
Percakapan yang entah
Hangat yang tiba-tiba terasa 
Hening yang lama
Mentari yang terbit terlalu cepat
Hari yang kelak kuingat-ingat


Semarang, 2015

Senin, 13 April 2015

Mata Kita

Sulit sekali berkata-kata
Berat hati kita menahan rasa
Berdua kita tak bersuara
Tak tahu harus berbuat apa

Di sebuah keramaian yang hingar
Tak dapat kita sembunyikan pendar
Mataku dan matamu saling menghindar
Namun tak mampu menahan binar

Mata kita saling bicara
Meski sedetik saja bertatap muka
Saat jumpa tak saling sapa
Ketika pisah kita sengsara

Kepalaku jadi berputar-putar
Ada banyak kau tak mau keluar
Dipendam pun rasa tak akan pudar
Lewat mata akan terus memancar


Semarang, 2015

Rabu, 01 April 2015

Langit Tampak Baik Saja

Langit tampak baik saja
Aku melihat dari balik jendela
Tak banyak arakan awan menghiasnya
Matahari terasa silau di mata

Langit tampak baik saja
Tenang dan sepi di saat yang sama
Sampai saat angin membawa awan hitam
Kemudian terjadilah kegaduhan

Langit tampak baik saja
Namun kesedihan mengalir darinya
Membanjiri alam semesta
Meredupkan api yang nyala


Semarang, 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Di Kedai Kopi

Seorang diri berwajah kelabu
Pandangannya mengarah pintu
Entah siapa yang ditunggu
Yang pasti bukan masa lalu

Ingin hari segera berganti
Oleh hangat pendar mentari
Terangi sepi di sanubari
Halau gelisah tiada tepi

Tetiba hujan turun menderas
Perlahan sikapnya berubah cemas
Rautnya tampak berpikir keras
Energi pun lemas terkuras

Ah, baiknya kini berdiam diri
Menanti jumpa kekasih hati
Sembari menghirup aroma wangi
Dari cangkir di kedai kopi


Semarang, 2015

Selasa, 20 Januari 2015

Sebentar Saja

Aku,
ingin pergi
ke tempat di mana angin berada.
Kemudian memejam
dan merasakan hembusannya.
Setelah itu aku akan pergi
dan membiarkannya mengembara,
menemukan apa yang dicarinya.

Aku,
cukup bahagia
bisa merasakan semilirnya,
meski sebentar saja.


Semarang, 2015