Selasa, 27 Oktober 2015

Selasa Nelangsa


Hari ini saya sedang malas. Jika teman-teman saya mendengar saya berkata seperti itu pasti mereka akan berkomentar, “Bukannya kamu memang setiap hari sudah malas?”. Iya, memang hampir setiap hari saya malas. Saya ingat salah satu teman saya ada yang berkata, “Saya tahu kapan kamu tidak malas, yaitu ketika kamu sakit perut dan ingin buang air besar.”, saya hanya tertawa dan berkata, “Tentu saja! Itu adalah hal yang hampir tak mungkin ditahan.".

Saya termasuk orang yang moody, mood saya bisa berubah-ubah dalam hitungan detik. Saya bisa senang, sedih, marah, malas, melankolis dan bersemangat dalam satu hari. Tapi memang yang paling banyak dilihat oleh teman-teman saya adalah saya yang pemalas. Ah sudahlah, saya memang sedang malas hari ini. Hari ini suasana hati saya sedang didominasi oleh rasa malas. Itu artinya hari ini saya lebih malas dari hari-hari biasanya.

Kadang saya berpikir bahwa hidup saya berantakan sekali, dan tentu ada keinginan untuk merapikannya. Jika pikiran saya terasa penuh hingga mengganggu pekerjaan sehari-hari, baru terasa bahwa saya mempunyai masalah yang harus diselesaikan. Maka saya akan berusaha menyelesaikan masalah saya satu per satu. Tiba-tiba saya bisa bersemangat.

Tapi yang namanya permasalahan, tak semua bisa diselesaikan dengan mudah dan begitu saja. Kadang ketika faktor dari dalam diri kita sudah bersiap akan menyelesaikan masalah, ada saja faktor dari luar yang tak mendukung. Misalnya saja seperti orang-orang yang berhubungan langsung dengan pokok permasalahan tidak dapat meluangkan waktunya untuk membantu kita menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal yang kita tahu dia adalah satu-satunya orang yang dapat membantu. Tapi tentu kita tak mungkin memaksa. Kadang memang susah berhubungan dengan manusia. Kalau sudah begini rasanya jadi lemas, tak bersemangat lagi. Seperti sudah jauh berjalan di jalan yang kita yakini benar, tapi ternyata buntu. Melelahkan.

Lelah, tak ingin melakukan apapun. Rasanya tenaga langsung terkuras oleh harapan yang ternyata kosong. Saya menjadi lebih banyak diam, berpikir, dan sambil menunggu hati saya pulih, saya melakukan tugas-tugas saya dengan malas-malasan. Mirip seperti orang patah hati. Tentu saya akan bersemangat lagi, mencapai keinginan dan cita-cita saya lagi, tapi kan itu perlu waktu, dan ini adalah masa transisi. Eh, bukankah mood saya mudah berubah? Berarti ini tak akan lama. Akan selalu ada jalan. Tentu jalan yang kita pilih adalah yang baik dan tak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.

*Iya, saya tahu judulnya memang berlebihan, tulisan ini tak senelangsa itu. :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar