Sebagai seorang yang tinggal di ibukota provinsi, saya sudah
terbiasa dengan hiruk pikuk kota. Meski kota yang saya tinggali sejak saya
kecil, Semarang, dulu terkenal sebagai kota yang tenang dan jauh dari kerusuhan.
Saking tenangnya sampai-sampai beberapa acara musik tingkat nasional malas
menjadikan kota ini sebagai tempat tujuan roadshow karena antusiasme warganya
cenderung rendah. Namun seperti kota-kota lain di Indonesia, Semarang pun
menjadi kota yang mengalami perkembangan yang pesat. Salah satu tandanya dapat
dilihat dari jumlah kendaraan bermotor di jalan. Pada hari-hari tertentu dan
jam-jam tertentu kendaraan-kendaraan tersebut tumpah ruah ke jalanan yang menyebabkan
kemacetan, terutama di pusat kota. Hal ini tidak hanya terjadi di Semarang, tapi juga di kota-kota lain
di Indonesia. Sekarang ini di mana tempat yang tidak macet? Bahkan di gunung-gunung
populer saat musim liburan, orang-orang harus mengantre saat sedang mendaki.
Di jalanan, terutama di tengah kemacetan kita bisa melihat
berbagai macam tipe orang. Jalanan macet seringkali mampu membuat kita
mengeluarkan sisi buruk kita. Misalnya memotong jalan dengan semena-mena,
melewati marka sampai memenuhi badan jalan untuk arah yang berlawananan,
menekan klakson berkali-kali seolah dia adalah satu-satunya orang penting yang harus didahulukan, meneriaki orang yang dianggap salah, bahkan
mengumpat. Barangkali jalanan macet adalah tempat potensial yang dapat membantu
manusia-manusia perkotaan untuk melampiaskan emosi mereka meski seringkali
tidak pada tempatnya. Mereka tak suka didahului, mereka tak suka berhenti meski
hanya satu-dua detik untuk mendahulukan para penyeberang jalan. Dan ketika itu
terjadi, mereka marah dan memaki.
Di traffic light seringkali saya melihat orang-orang
tidak sabar menanti lampu merah berubah menjadi hijau. Terlihat dari mereka
yang sudah berjalan sebelum lampu hijau menyala, memutar-mutar/menginjak gas kendaraan bak
pembalap hingga membunyikan klakson dengan emosional, seolah semua orang
di sana buta dan tuli. Manusia-manusia modern itu ingin semua serba cepat tanpa peduli bahwa orang-orang lain di sana juga ingin melalui jalan yang sama dengan lancar. Saking ingin cepatnya, mereka kehilangan kepedulian satu sama lain. Kesabaran dan empati menjadi sesuatu yang langka di jalanan.
Barangkali semua itu terjadi karena kita semua tak suka
menunggu, meski sebentar. Itu sebabnya budaya jam karet menjadi sesuatu yang
biasa. Karena kebanyakan dari kita berpikir, “Dari pada menunggu, lebih baik datang
terlambat”. Padahal dalam hidup, ada kalanya kita harus menunggu. Selalu ada
hal-hal yang membuat kita harus menunggu. Bukan. Bukan karena kita tak mau
berusaha maju, tapi karena untuk beberapa hal tertentu yang bisa kita
lakukan hanyalah menunggu. Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, memang.
Tapi kita selalu bisa melakukan hal-hal lain sembari menunggu, melakukan
hal-hal yang kita suka, misalnya. Lebih baik lagi jika sesuatu yang kita
lakukan adalah hal yang berguna juga untuk orang-orang di sekitar kita.
Kemudian selalu ada pertanyaan “Sampai kapan akan menunggu?”.
Pertanyaan itu biasanya muncul saat kita merasa lelah, bosan dan hilang
kesabaran. Tentu kita sendiri yang tahu jawabannya. Kita bisa menunggu sampai yang ditunggu datang atau sampai kita merasa tak perlu lagi menunggu.