Senin, 20 Juli 2020

Sehari Setelah Penyair Itu Pergi

: Sapardi Djoko Damono

Sehari setelah penyair itu pergi, kau melamun lagi. Memikirkan kematian. Suatu hal yang telah pasti, tapi tetap saja kau pikirkan. Orang-orang berusaha mempersiapkan hati untuk mati, atau ditinggal orang-orang yang mereka cintai. Kau kira telah siap, tapi tak akan pernah, percayalah.

Sehari setelah penyair itu pergi, kau menangis lagi. Memikirkan kesedihan. Suatu hal yang seringkali menemuimu diam-diam di malam hari. Kau pikir kau orang paling sedih di dunia. Kau kira hanya kau yang menderita. Padahal semua orang merasakannya. Kuberi tahu, untuk setiap luka, rasa sakitnya memang tak dapat ditunda.

Sehari setelah penyair itu pergi, kau menulis lagi. Memikirkan kata-kata. Suatu hal yang mampu menyentuh bagian terdalam hatimu. menemanimu di situasi-situasi sulit, di malam-malam paling gelap. Kata-katanya mampu menusuk dan secara aneh justru menyembuhkanmu. Membuatmu ingin menuliskan perasaanmu dengan cara sederhana sepertinya.


ratnanhyt
20 Juli 2020

Kita dan Waktu

waktu berjalan cepat
orang-orang berusaha mengejar
untuk setidaknya menjajarinya
tapi mereka gagal

aku berjalan
tak cukup cepat bagi orang-orang
tak hendak melampaui waktu
karena tahu tak akan mampu

pelanku membuatku bertemu
angin, awan, hujan, dan matahari
aku tak berlomba dengan sesuatu
hanya diriku

orang-orang pergi
mengejar yang mereka mau
orang-orang lain datang
lalu pergi juga kemudian hari

kita dipertemukan dengan siapa
lalu berjalan bersama
untuk berpisah sementara
atau selamanya


Semarang, 20 Juli 2020