 |
| Gunung Pangrango yang tertutup kabut |
Selagi belum terlalu lama berlalu saya ingin menuliskan
cerita liburan saya pada bulan April yang sudah saya tunda-tunda terus. Liburan
akhir pekan yang panjang April lalu saya isi dengan mendaki gunung di Jawa
Barat, Gunung Pangrango, dengan ketinggian 3019 mdpl. Gunung Pangrango adalah
gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai dengan ketinggian
3078 mdpl. Saya memang sudah lama ingin mendaki tapi selama ini belum ada
kesempatan untuk mewujudkannya. Kebetulan seorang kawan saya, Ardi yang
mempunyai hobi mendaki mengajak saya. Tentu saja saya penasaran dan ingin
mencobanya meski awalnya sedikit ragu. Sebelumnya, akhir tahun lalu, Ardi juga
mengajak saya mendaki Gunung Semeru, tapi karena pekerjaan saya sedang banyak,
maka saya menolaknya.
Rencana awal, kami akan mendaki pada tanggal 5-6 April 2014,
tapi ternyata kuota sudah penuh untuk tanggal itu, akhirnya mundur menjadi
tanggal 12-13 April 2014 yang pada akhirnya gagal juga. Kawan saya itu
kelihatanya sudah sedikit putus asa karena dua kali rencananya gagal. Waktu itu
saya santai-santai saja karena saya belum membeli tiket kereta. Sampai pada
akhirnya, Ardi memberi tahu saya bahwa kami bisa mendaki akhir minggu ketiga di
bulan April, tanggal 18-19 April 2014. Kebetulan saat itu hari Jumatnya adalah
hari libur nasional. Saya bilang, Oke.
Gunung Pangrango berada di kawasan Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango (TNGGP). Ada 6 pintu wisata menuju kawasan TNGGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri,
Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Saya dan beberapa kawan mendaki
Gunung Pangrango melalui jalur Cibodas. Cibodas berjarak 100 km dari Jakarta.
Saya yang berdomisili di Semarang dan menuju Jakarta menggunakan kereta pada
Kamis Pagi. Sampai di Stasuin Jakarta Pasar Senen pukul 15.00 WIB. Keluar dari
Stasiun Pasar Senen, saya langsung naik bus menuju Terminal Kampung Rambutan
dimana Ardi sudah menunggu saya di sana.
Dari
Terminal Kampung Rambutan, saya dan Ardi langsung naik Bus menuju Puncak Bogor.
Perjalanan kira-kira sekitar 3 jam. Jalanan lumayan padat karena long weekend. Di perjalanan pemandangan
lumayan bagus. Larik-larik awan berpadu dengan senja yang kekuningan menghiasi
penampakan Gunung Salak di kanan jalan tol Jagorawi. Saya juga sempat melihat
penampakan Gunung Gede dan Pangrango di sebelah kiri jalan yang samar-samar
tertutup awan dan kabut sebelum langit berubah gelap. Sisanya? Saya tidur
sampai Ardi membangunkan saya karena sudah hampir sampai di sebuah daerah
bernama Cimacan.
Sesampainya
di Cimacan, Ardi mengajak saya ke rumah salah satu temannya dimana kawan-kawan
lain yang akan ikut mendaki sedang packing
dan mempersiapkan diri. Karena beberapa kali tertunda, tim pendakian kami
menyusut menjadi empat orang saja, Ardi, Ari, Deli dan Saya. Jadi, rencananya kami akan berangkat Jumat pagi, tapi karena satu dan
lain hal, jadinya kami mulai mendaki Sabtu pagi. Kamis malam, kami menginap di
rumah teman Ardi itu.
Jumat
sorenya kami mendirikan tenda dan bermalam di semacam camping ground bernama Komodo,
tak jauh dari pintu masuk TNGGP. Di sana pemandangannya bagus, dimana-mana
hijau. Banyak pepohonan, padang rumput yang lumayan luas, danau lengkap dengan
perahunya dan suhu udara yang tentu saja dingin. Setelah mengisi perut dengan
mie instan yang dimasak oleh Deli kami mengisi waktu dengan bermain kartu, lalu
tak lama kemudian kami tidur.
 |
| Komodo Camping Ground |
Pagi-pagi
sekali kami bangun, membereskan barang-barang dan melipat tenda untuk kemudian
memulai pendakian. Ada beberapa titik menarik yang akan kami lewati dalam
perjalanan kami menuju ke puncak gunung, diantaranya, Rawa Gayonggong, Air
Panas, Camping Ground Kandang Batu dan Kandang Badak.
Kami
melalui jalur berbatu yang menanjak. Pada awal pendakian, langkah saya masih
ringan. Di kanan kiri hanya hutan yang penuh pepohonan, selama beberapa saat
saya melewati jalur dengan bau khas kayu pohon yang segar yang tak saya temukan
pada jalur sebelum dan sesudahnya. Semakin lama tanjakan yang kami lewati
semakin curam dan jarak antara satu batu dengan batu lainnya semakin panjang.
Perlu tenaga ekstra untuk mengangkat kaki dan menjejak satu demi satu bebatuan
yang ada. Tak jarang juga kami beristirahat sebentar untuk minum dan mengatur
nafas. Rasanya seperti berada dalam satu game yang semakin bertambah level,
semakin bertambah pula tantangannya. Tas ransel yang semula tak terlalu berat
rasanya menjadi semakin membebani pundak. Sayapun mengeluarkan keringat,
meskipun rasanya tetap dingin. Kami banyak berpapasan dengan pendaki lain,
saling menyapa dan memberi semangat.
 |
| dari kiri: dua pendaki lain yang juga beristirahat, saya, Deli, Ari dan Ardi |
Saat
melalui Rawa Gayonggong, saya dan kawan-kawan berhenti sebentar untuk
berfoto-foto. Tempat ini memang spot yang bagus untuk berfoto. Rawa Gayonggong
adalah cekungan bekas kawah mati yang sekarang menjadi rawa yang banyak
ditumbuhi rumput gayonggong. Di sepanjang rawa terdapat jembatan panjang yang
berkelok-kelok yang terbuat dari besi dan beton.
Setelah
melalui Rawa Gayonggong sebelum menuju Air Panas, karena jalurnya yang mulai
menguras tenaga, mental saya mulai drop, semakin tak sabar untuk cepat-cepat
sampai, ingin segera merebahkan diri, tapi pada kenyataannya perjalanan masih
sangat jauh. Semakin dekat tempat tujuan, rasanya malah semakin jauh. Langkah
saya mulai pelan, semakin berat rasanya menapakkan kaki pada bebatuan yang
tersusun dengan curam itu. Sebentar-sebentar kaki saya mulai kram. Untuk sesaat
saya berpikir bahwa kapan-kapan saya tak mau mendaki Gunung ini lagi. Pada saat
itu saya tak mungkin berhenti di tengah jalan, apalagi untuk kembali. Bisa saja
sebenarnya saya kembali, tapi saya tak rela karena sudah mendaki separuh jalan
dengan menguras tenaga. Saya sendiri adalah tipe orang yang meskipun dalam
kepala saya terlintas pikiran untuk menyerah, tapi saya tahu saya tidak akan
melakukannya.
Ardi
yang melihat saya kelelahan dan mulai kehilangan orientasi, mencoba membantu
saya dengan menarik tangan saya. Dan kebiasaan saya dalam kondisi yang
kehilangan orientasi seperti itu adalah, bercerita tentang apapun yang ada di
pikiran saya. Apapun. Entah Ardi paham atau tidak dengan segala yang saya
ceritakan. Meskipun saya tahu bahwa banyak bicara malah akan membuat saya
bertambah lelah tapi itu membantu saya mengalihkan pikiran saya dari perasaan
tak sabar saya yang ingin semua ini segera berakhir. Sempat juga Ardi
membawakan tas saya untuk sesaat, tapi saya pikir lagi, dia pasti lelah juga
dan membawakan tas saya hanya akan menambah bebannya, jadi saya meminta tas
saya kembali untuk saya bawa sendiri.
Setelah
melalui Sumber Air Panas, kami sampai di Kandang Batu, kami beristirahat
sebentar dan memasak mie instan untuk makan siang. Saya tiduran sambil melihat
pepohonan hutan, memperhatikannya sambil mengambil beberapa foto. Sebenarnya
kami akan mendirikan tenda di Kandang Batu dan bermalam di situ, tapi tak ada
tanah datar yang cukup nyaman. Kami lalu mendaki lagi lebih tinggi menuju
Kandang Badak yang tidak terlalu jauh, tapi bagi saya yang kelelahan tetap saja
itu jauh sekali, apalagi dengan jalur terjal berbatu dan menanjak itu.
Kondisi
saya masih belum pulih. Selain kaki saya yang otot-ototnya kaku, yang untuk
melangkah saja perlu tekad yang kuat, dan pundak saya yang pegal-pegal,
perasaan ingin menyerah tapi tak mungkin juga masih menghantui. Tapi di sisi
lain, saya juga tak ingin menyusahkan teman-teman saya. Sambil masih ditarik
oleh Ardi, saya bertanya dengan nada putus asa, “Mana siiiih?” (Kandang
Badaknya). Lalu ada seseorang yang berpapasan dengan kami bilang “Sepuluh menit
lagi. Beneran!” Dia bilang “beneran!” berarti kemungkinan besar memang benar.
Masalahnya setiap kami berpapasan dengan pendaki lain, selalu ada yang bilang,
“setengah jam lagi”, “dua belokan lagi”, “satu tanjakan lagi” yang kemungkinan
besar itu bohong, hanya untuk memberi semangat orang-orang yang mulai putus asa
seperti saya. Baiklah, berarti sebentar lagi sampai, asik!
Benar
ternyata apa yang orang itu bilang, tak lama kemudian memang kami sampai di
pertigaan Kandang Badak yang jika kita mengambil jalur ke kanan berarti menuju
puncak Gede, jika ke kiri berarti ke Puncak Pangrango. Sudah banyak sekali
tenda yang berdiri di Kandang Badak. Kami mencari tanah kosong yang datar untuk
mendirikan tenda juga. Akhirnya ketemu, meski sedikit miring dan berbatu, tapi
lokasinya lumayan dekat dengan sumber air. Setelah tenda berdiri dan memasukkan
barang-barang ke dalam tenda, kami masuk juga dan merebahkan diri hingga
tertidur sore itu.
Sebentar
saja saya tertidur karena tak nyaman rasanya tidur diatas bebatuan yang
meskipun kecil-kecil, karena saya kurus jadi tetap saja rasanya sakit. Tak lama
kemudian, beberapa saat sebelum matahari terbenam, yang lain juga bangun dari
tidurnya. Begitu hari sudah gelap, kami memasak makan malam. Atas usul dari
saya, kali ini kami memasak bubur untuk makan malam. Proses memasaknya lama
sekali, bumbunya apa lagi kalau bukan garam dan kecap. Berkali-kali kami
menambah air untuk mendapatkan tekstur yang pas meskipun setelah matang, masih
terasa butiran-butiran beras yang kasar. Yah, namanya juga di gunung, enak atau
tidak, suka atau tidak, apapun tetap dimakan.
Tak
lama setelah makan, kamipun bersiap untuk tidur. Keesokan paginya kami bangun
tak terlalu pagi karena kami sudah memutuskan untuk tak melanjutkan perjalanan
ke puncak gunung Pangrango. Sebenarnya sedih juga karena tinggal sedikit lagi
perjalanan untuk mencapai ke puncak. Tapi karena kaki saya sudah sangat kaku,
bahkan untuk melangkah pada jalan yang datar saja rasanya sakit, ini karena
saya sudah lama tak rutin olahraga, sehingga otot-otot di kaki saya kaget
dengan medan yang sebegitu terjalnya. Selain itu saya sudah memesan tiket
kereta untuk pulang ke Semarang yang berangkat Minggu malam dari Stasiun
Bandung yang kira-kira menghabiskan sekitar 3 jam perjalanan. Jika saja kami
mulai mendaki hari Jumat pagi… Ah sudahlah, tak apa. Saya bilang pada kawan
saya, tak apa-apa saya tak sampai puncak, nanti kapan-kapan saya ke sini lagi.
Iya, saya mau mendaki Gunung Pangrango lagi, saya mau ke Lembah Mandala Wangi
yang saya tau pertama kali dari puisinya Soe Hok Gie yang belum sempat saya
kunjungi itu. Saya Mau.
 |
| atas: Rawa Gayonggong, bawah: perjalanan turun dari Kandang Badak |
Perjalanan
turun Gunung tetap melelahkan, meskipun saya berjalan lebih cepat, bahkan tak
jarang saya berlari. Mental saya sudah pulih. Saya pikir saya berhasil
mengalahkan diri saya sendiri. Bahkan ada seseorang, sesama pendaki yang
mengira saya sudah sering mendaki gunung, karena waktu saya turun terasa cepat
sekali. Sebelum turun kami memang sudah sepakat akan menghabiskan waktu tiga
jam saja untuk turun. Kata Ari, “Turun tiga jam ya?”. Saya bilang, “Oke!”. Di
tengah perjalanan turun hujan yang lumayan deras yang meskipun saya sudah
memakai jas hujan, celana dan sepatu saya tetap saja basah. Kami mulai turun
kira-kira pukul 10.00 WIB dan sampai di pintu gerbang pukul 02.00 WIB. Padahal
kemarin saat naik, kami menghabiskan waktu sekitar enam jam, sepertinya karena
saya kelelahan sehingga kecepatan kami lambat.
Dari
pintu gerbang ke jalan keluar saya berjalan pelan sekali. Tentu saja karena tadi
kaki saya yang masih belum pulih itu saya paksakan untuk berjalan, menuruni
bebatuan terjal dan tak jarang sambil berlari. Kawan saya Ardi malah
menertawakan saya, padahal saya tahu kakinya sakit juga, meski tak sesakit
saya. Kemudian kami menuju rumah orang tua Ardi untuk mandi dan beristirahat
sebentar sebelum akhirnya saya diantar Ardi melanjutkan perjalanan menuju
Bandung.
Ada
sekitar 3 kali naik turun angkot dan bus, berjalan kaki beberapa meter sebelum
akhirnya naik motor menuju Stasiun Bandung. Pas sekali kereta baru akan
berangkat ketika saya tiba. Sepanjang perjalanan pulang ke Semarang saya hanya
tidur saja sambil sesekali terjaga. Saya tiba di rumah sekitar pukul 6 kemudian
istirahat sebentar lalu bersiap untuk berangkat kerja pukul 9.
Selanjutnya
selama beberapa hari saya hanya memakai celana kain saja, karena kegiatan
memakai dan melepas skinny jeans terlalu menyakitkan untuk kaki saya. Oh, dan
saya tak susah tidur lagi malam harinya. Pukul 8 malam saya sudah mengantuk.
Mungkin bagi yang susah tidur di malam hari bisa mencoba mendaki gunung yang
jalurnya sedikit ekstrim, hehehe.
Meskipun
rencana kami untuk sampai puncak gagal, tapi saya tetap senang dan ingin
kembali ke sana suatu hari nanti lagi untuk menyelesaikan misi yang belum
sempat terpenuhi. Selanjutnya, mungkin saya akan mendaki gunung-gunung lain
dulu sebelum kembali ke sana lagi.