Rabu, 26 Desember 2018

Selalu Ada yang Dominan di Antara yang Acak-acakan

Saat bangun tidur pagi ini saya merasa segar dan muncul banyak hal di pikiran saya. Bukan satu, tapi banyak dan bermacam-macam, bagaikan hutan yang sebelumnya tandus tiba-tiba rimbun dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh dengan subur. Saya menyadari kepala saya yang memang hampir selalu ditumbuhi pikiran-pikiran yang seringkali acak-acakan. Memangnya ada orang yang pikirannya tidak acak-acakan? Barangkali memang ada orang yang punya kemampuan merapikan pikiran-pikirannya seperti saat kita merapikan file-file yang berantakan. Bagi saya, merapikan pikiran tidak sesederhana merapikan file-file di komputer, perlu kemampuan khusus yang sepertinya tidak saya miliki. Meskipun begitu, ketika saya menulis atau berbicara, saya bisa memilah-milah apa yang harus saya tulis atau bicarakan.

Dari sekian banyak hal yang ada di pikiran saya, tentu ada beberapa hal yang sering mucul dan mendominasi, yang secara sadar maupun tidak, minta dipikirkan, minta diperhatikan, dan seringkali membuat tubuh terasa lelah. Rasanya seperti energi yang dihasilkan oleh tubuh sebagian besar dikirim ke otak untuk memikirkan persoalan yang dianggap penting. Sebanyak apapun tubuh kita menghasilkan energi, rasanya masih selalu kurang untuk mikirkan persoalan yang sepertinya tak pernah selesai. Tentu saja kadang saya juga menikmati saat tersesat di pikiran sendiri sampai tidak sadar bahwa waktu terus berlalu.

Saya jadi ingat ketika beberapa platform media sosial membuat kompilasi foto dengan like terbanyak, atau aplikasi pemutar musik yang memberi tahu kita lagu apa yang paling sering kita putar. Di otak saya pasti juga ada satu atau dua hal yang sering mendominasi pikiran belakangan ini. Beberapa hal selalu muncul di pikiran barangkali karena hal itu membuat kita bahagia saat memikirkannya, bisa jadi juga beberapa hal lain merupakan sesuatu yang belum cukup kita pahami sehingga seringkali membuat kita bertanya-tanya karena penasaran. Kita akan terus memikirkannya sampai kita bosan, atau sampai kita merasa telah menemukan jawaban.

Senin, 10 Desember 2018

Kamu, lagi jatuh cinta nggak?

Hai, selamat bulan Desember! Tahun 2018 udah mau habis nih, cepet ya waktu berlalu? Iyalah, selalu terasa cepat kalo kita melihat ke masa yang udah berlalu, makanya namanya flash back. Kalau melihat ke masa depan ya biasanya nggak akan secepat ketika melihat ke belakang, karena kita sendiri belum mengalami, sehingga belum ada banyak memori-memori yang bisa dirangkum secepat kilat seperti flash back. Kalau mau merangkum masa depan ya biasanya yang sifatnya rencana dan angan-angan karena belum terjadi, dan biasanya diakhiri dengan kata ‘aamiin’.

Karena sudah menyebut soal angan-angan, saya pengen bahas soal jatuh cinta. Sepengalaman saya, jatuh cinta itu adalah salah satu hal yang bisa membuat kita berangan-angan. Biasanya otak kita akan dipenuhi dengan dia yang sudah membuat kita jatuh cinta. Kita jadi ingat semua tentang dia termasuk detil terkecil yang ada, seperti caranya senyum, caranya berjalan, baju apa yang dia pake pas terakhir kali ketemu kita, dan banyak hal yang membuat kita senang saat mengingatnya. Padahal dalam keadaan normal (nggak jatuh cinta), bisa jadi ada beberapa sikapnya yang membuat kita kesal. Tapi namanya orang jatuh cinta, semua kekurangannya jadi dimaklumi. Saking otak kita dipenuhi bayangan-bayangan tentang dia yang bikin kita senang, kita jadi berangan-angan pengen ketemu dia lagi, jalan-jalan, makan, nonton, ngobrol, pokoknya menghabiskan waktu bareng dia.

Seneng-senengnya jatuh cinta itu pasti terjadi di fase awal jatuh cinta. Tapi fase itu nggak akan berlangsung terlalu lama, karena kita bakalan ketagihan buat ketemu dan menghabiskan waktu bareng dia lagi. Kalo itu nggak terjadi ya pasti kita akan merasa menderita. Penderitaannya bisa jadi bersifat fisik, misalnya dada sesak, susah bernafas, dan susah tidur di malam hari. Bahasa sederhananya adalah kangen. Biasanya pada fase ini kita akan menyadari kalo kita mungkin sedang jatuh cinta. Cara menghentikan penderitaan karena kangen ya kita harus ketemu dia, minimal mengirim pesan pendek atau telepon, tapi paling efektif ya ketemu, ngobrol, ketawa bareng. Buat orang-orang yang kegedean gengsi, masalah akan diperparah dengan keengganan untuk menghubungi dan mengajak ketemu duluan. Hahaha, makan tuh gengsi!

Yang bikin semua menjadi tambah menyebalkan adalah ketika apapun yang kita lakukan, lihat, baca, tonton, temui, itu selalu mengingatkan kita tentang dia. Misalnya, suatu pagi saat menonton berita di tivi ternyata nama reporternya sama dengan namanya, kemudian di jalan kita melihat orang yang model rambutnya mirip seperti rambutnya, ketika menonton film ternyata gaya si pemeran utama mengingatkan kita padanya. Padahal nggak berusaha memikirkan apalagi mengingat tapi sepertinya sosoknya berkelebat di sekitar kita yang tak jarang membuat kita frustasi. Seperti sedang diyakinkan, “Hey, kamu harus mencarinya untuk segera mengakhiri penderitaan ini”. Udah kayak otak kekurangan narkoba, katanya.

Kenapa saya ngomongin cinta? Entahlah, mungkin ini efek bulan Desember yang sering hujan, bikin perasaan jadi sensitif dan melankolis. Oh, dan ada satu kata dalam bahasa sanskerta yaitu 'cintaka' yang artinya pemikiran atau angan-angan. Jadi nggak salah kan ya saya mengaitkan soal cinta dan angan-angan. Seperti yang udah sering kita dengar atau baca, emang ngomongin cinta itu nggak ada habisnya kan? Jatuh cinta itu menyenangkan, tapi juga menyebalkan. Menyebalkan tapi juga bikin ketagihan. Kamu, lagi jatuh cinta nggak?


*tulisan ini sedikit terinspirasi dari thread-nya dr. ryuhasan di twitter, penjelasan tentang jatuh cinta secara ilmiah, bisa dibaca di sini.