Senin, 25 Oktober 2021

Hidup dan Bergerak

Hidup senantiasa bergerak, bahkan saat tubuh kita diam, jantung kita tetap berdetak dan pikiran kita tetap mampu berkelana ke bermacam dunia. Pergerakan dalam kehidupan adalah suatu keniscayaan sehingga kegiatan berpindah adalah sesuatu yang alami terjadi. Kita bergerak maju, berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain.

Selama hidup, saya tidak pernah menetap di kota selain Semarang. Ketika teman-teman saya pindah dan menetap di luar kota untuk melanjutkan kuliah atau bekerja, saya tetap setia pada kota ini. Pengalaman berpindah tempat yang saya alami kebanyakan adalah semacam perjalanan singkat ke suatu tempat, dan kembali lagi ke tempat yang sama, pulang ke rumah.

Di awal pandemi covid-19, saya akhirnya punya pengalaman pindah rumah. Saya merasakan pulang ke rumah yang berbeda, di lingkungan dan situasi yang berbeda. Karena ini pengalaman pertama pindah rumah, tentu saja saya merasakan perasaan yang sama sekali baru. Meski merasa aneh pada awalnya, saya mencoba berteman dengan perasaan itu. Sekarang kami sudah berteman akrab dan baik-baik saja.

Ketika kantor tempat saya bekerja harus pindah lokasi, saya jadi tidak terlalu kaget. Pindah ke tempat yang baru, dengan suasana baru, bertemu orang-orang baru tentu akan membuat kita mengalami banyak hal baru. Sesuatu yang barangkali sebelumnya tidak pernah tertangkap indera tiba-tiba muncul begitu saja dalam keseharian yang selain menambah pengalaman, juga memperkaya pengetahuan.

Dalam perjalanan kehidupan, akan banyak perhentian demi perhentian, pertemuan, juga perpisahan. Ada banyak kenangan yang akan tetap tinggal di kepala dan kita akan membuat kenangan-kenangan yang lebih seru di tempat yang baru. Seringkali kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya kita mampu memelihara harapan-harapan. Semoga ada banyak hal indah setelah kita pindah.

Selasa, 25 Mei 2021

Barangkali Kita Sedang Rindu

Pagi tadi aku bicara lagi denganmu yang tinggal di kepalaku. Sudah beberapa tahun kau tinggal di situ, hanya saja dalam satu tahun terakhir aku tidak pernah mengajakmu bicara karena aku merasa kau tidak ingin lagi ada di situ. Kita bicara lagi, pagi tadi. Seperti biasa kau mendengarkan ceritaku dan mengomentari apa yang perlu. Barangkali kau sedang rindu.

Mataku mengarah ke dinding kamarku, tapi tatapannya menembus ruang dan waktu. Entah di titik mana pandangan kita bertemu, menembus pikiran dan hatimu. Bicara denganmu selalu membuatku lupa waktu. Seperti sudah lama waktu berjalan, tapi belum semua kubicarakan. Masih banyak sekali dan rasanya tak akan pernah habis. Ah. Barangkali aku sedang rindu.

Pada suatu waktu pandangan kita akhirnya benar-benar bertemu. Kita saling bicara dan menatap dalam ruang dan waktu yang satu. Waktu berhenti saat itu, dua jam terasa seharian. Kita seperti masuk ke dimensi waktu lain yang berjalan lebih lama, tapi sesungguhnya hanya sekejap saja. Sedikit bicara, banyak peristiwa terbuka, meski tetap saja rasanya kurang lama. Ya. Barangkali kita sedang rindu.

Rabu, 27 Januari 2021

Lima

Tidak ada rumah

Hidup semakin tidak menyenangkan ya, kataku padaku. Tidak ada rumah. Tidak dalam bentuk bangunan, atau seseorang. Meski begitu kurasa mengusahakan bangunan rumah lebih mudah dari pada berusaha menghadirkan seseorang dalam hidup. Berurusan dengan manusia lain lebih merepotkan dari pada dengan benda mati. Barangkali itulah sebabnya banyak orang yang menginginkan pasangan penurut yang mudah diatur dan tidak banyak bersuara, seperti benda yang bisa kita atur dan pindahkan semau kita. Barangkali dengan begitu hidup akan terasa lebih mudah baginya, tapi tidak bagi pasangannya. Sebagai gantinya, mereka akan kehilangan rasa.


Bubur ayam

Suatu pagi di akhir pekan aku makan bubur ayam, sendirian. Ada dua warung bubur ayam yang sering menjadi pilihanku, Bubur ayam Ryan, dan Bubur ayam Risky. Sebenarnya masih banyak warung bubur ayam lain tapi hanya dua itu yang sering kulihat. Mungkin karena aku lebih sering melewati tikungan tempat mereka melapak. Atau mungkin karena dua nama itu mengingatkanku pada masa lalu. Aku akan makan di salah satu warung tersebut jika sedang ingin makan bubur. Aku makan Bubur ayam Ryan. Sendirian. Barangkali ada orang yang merasa aneh melihat orang lain makan sendirian.


Tidak cukup sabar

Pernahkan kau memikirkan bahwa kau tak cukup sabar untuk menunggu seseorang yang kau inginkan lalu berakhir dengan orang lain yang menyebalkan? Aku pernah. Aku lebih suka melakukan sesuatu sendirian dari pada harus melakukannya bersama orang menyebalkan. Barangkali orang-orang lain tidak pernah memikirkan hal semacam ini, sampai mereka merasakannya sendiri, berakhir dengan orang menyebalkan. Yang seringkali terjadi, mereka hanya diam dan berusaha terlihat baik-baik saja sambil bersikap sinis kepada apapun yang dilakukan orang lain dalam hidupnya.


Teman imajinasi

Aku adalah teman imajinasi. Aku ada dalam imajinasimu, aku hanya muncul jika kau mencariku. Suatu hari saat imajinasimu tidak bekerja lagi, kau tidak akan menyadari bahwa aku telah pergi. Kau mungkin tidak akan pernah melihatku lagi. Aku hilang karena kau tak mencariku. Keberadaanku hanyalah semu.


Hidupmu yang tanpaku

Jika kau meminta izin untuk pergi dari hidupku, aku akan mengizinkanmu, bahkan meski kau tidak serius mengatakannya. Aku tidak akan melarangmu menyusun rencana hidupmu tanpaku. Jika kau berharap aku melarangmu pergi, baiknya dari awal kau tidak menanyakannya. Kau pikir aku orang menyebalkan yang akan melarang-larang keinginan orang lain? Ingatlah untuk tidak meminta sesuatu yang tidak kau inginkan. Kau tidak mengenalku karena telanjur menganggap aku sama dengan yang lainnya. Sekarang, nikmati saja hidup yang kau pilih sendiri, hidupmu yang tanpaku.

Selasa, 05 Januari 2021

Seorang yang marah pada keadaan

ia menyakiti manusia lain
dan dirinya sendiri
menyangkal hidupnya bermasalah
dan butuh ditolong
perilakunya membuat orang lelah
dan ingin menjauh
 
tak berapa lama ia berkata:
semua orang membenciku,
aku terpuruk
dan mereka meninggalkanku
 
mereka ingin membantumu
tapi kau usir,
kataku


Semarang, 2021