Ini adalah hari terakhir di bulan September. Setelah
penantian yang lama, akhirnya bulan ini segera berakhir. Hanya satu bulan, tapi
rasanya seperti seratus tahun lamanya. Perasaanku seakan terkuras habis untuk menantikan
berakhirnya bulan ini, dan sekarang rasanya aku hampir lega karena September
akan berakhir kurang dari 24 jam. Oke, aku tahu ini berlebihan. Aku benci bulan
September, padahal dulu aku sangat menyukai bulan ini. Aku sadar, penyebab aku
membenci September adalah karena aku pernah sangat menyukainya. Dan sekarang aku sangat
kecewa karena September tak hanya memberiku kenangan yang indah tapi juga
kenangan pahit. Rasanya seperti dipaksa minum jamu paling pahit tanpa penawar,
rasa pahitnya akan hilang dalam jangka waktu yang sangat lama, dan aku harus
bisa menerimanya, karena rasanya hanya itu yang dapat kulakukan.
Ini karena September mengingatkanku akan banyak hal yang membahagiakan
dan menyedihkan. Bahagia karena di bulan ini pertama kalinya aku bertemu dengannya
dan sedih karena pada akhirnya aku dan dia benar-benar harus berpisah di bulan
ini juga. Bahkan hal-hal membahagiakan itu sekarang juga membuatku sedih karena
aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan kesempatan lagi bahkan untuk sekadar
mengobrol sebagai teman biasa. Aku tak sanggup. Aku ingin melupakan semua ini. Semuanya. Tapi tentu saja tak mungkin semudah itu, aku tahu. Belakangan ini aku
lebih banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri, mengurung diri di kamar,
bermalas-malasan, memutar ulang ingatan-ingatan, merasakan semua kesedihan, mencoba
menikmati rasa nyeri di dalam dada sambil tanpa sadar mataku sudah berair dan
semakin lama semakin banyak sehingga kelopak mataku yang kecil ini tak mampu
menampungnya. Air mataku jatuh tak terelakkan. Semua ini kerap terjadi setiap
kali tanpa sadar aku mengingat kenangan-kenangan itu. Dan yang merepotkanku, seringkali
hal ini terjadi secara tiba-tiba, di manapun aku berada, seperti ketika aku sedang berjalan
kaki sendiri di kampus, saat sedang makan sendirian, saat harus mengerjakan tugas, bahkan
di jalan raya ketika aku sedang menyetir motor. Biasanya ketika ini terjadi di
tempat umum, aku akan mati-matian berusaha menahannya, meski kadang mataku
sudah terlanjur panas dan aku yakin pasti warnanya sudah memerah. Jika sudah
begitu, aku hanya bisa berharap tak ada temanku atau siapapun yang melihatku. Karena
itu, jika sedang tak ada urusan di luar, kupikir akan lebih baik jika aku
menyendiri di dalam kamar kosku sementara ini.
Aku bertemu dengannya pada bulan September dua tahun yang
lalu dalam perjalanan untuk menyaksikan matahari terbit di sebuah tempat yang tak jauh dari kota di mana aku menetap beberapa tahun ini. Dia bersama rombongannya dan aku bersama rombonganku. Waktu itu dia bergerombol
bersama teman-temannya. Dia termasuk orang yang mudah dikenali karena badannya
lebih terlihat berisi dari pada yang lain, ramah dan mudah akrab dengan orang-orang
yang baru dikenalnya. Karena aku jarang berolahraga dan berjalan jauh tentu
saja aku kewalahan. Aku merasa kelelahan padahal belum terlalu jauh dari tempat start. Mungkin karena terburu-buru aku lupa mengatur nafas sehingga membuatku
mual dan rasanya ingin muntah. Padahal katanya perjalanan masih jauh dan jalurnya cukup terjal. Aku berhenti untuk beristirahat, meminum sedikit
air dan mengatur nafas. Semua orang menungguiku. Tiba-tiba dia menawarkan
bantuan untuk membawakan tasku. Meski baru mengenalnya, entah kenapa aku
percaya saja dan langsung menyerahkan tasku padanya. Lagi pula aku terlalu pusing untuk memikirkan apakah tasku akan aman di tangannya atau tidak. Aku baru tahu kemudian bukan dia sendiri
yang membawanya, dia menyerahkan tasku untuk dibawa temannya yang lain. Yang paling penting, dia bertanggungjawab dan mengembalikan tasku dalam keadaan utuh.
Tak berapa lama setelah pertemuan pertama itu, kami menjadi
dekat dan sering bertukar pesan pendek. Dalam waktu yang singkat, kami pun
saling menyukai. Terlalu cepat? Kurasa tidak. Sesungguhnya jatuh cinta adalah
proses yang cepat, entah itu antara dua orang yang baru berkenalan atau memang sudah saling mengenal sebelumnya baru jatuh cinta. Yang membuatnya lama biasanya karena kita tak langsung
menyadarinya, atau sudah menyadarinya tapi tak ingin mempercayai perasaan kita
sendiri. Sehingga bukan menerimanya tapi justru mati-matian menghindarinya, berusaha
menyangkal apa yang sudah terjadi. Ada juga yang sudah jatuh cinta tapi
banyak sekali yang dipertimbangkan. Padahal, meski sudah ditimbang dan ternyata seseorang itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, jatuh cinta itu sendiri bukanlah
sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja. Aku sendiri adalah tipe yang tak suka membohongi
diri sendiri. Aku merasakannya dan aku tak meragukan perasaanku. Aku menyukainya,
dia baik dan senang bercanda. Tipe orang yang dengan mudah menghadirkan suasana
hangat di mana pun dia berada. Aku senang dia pun menyukaiku.
Suatu hari, aku menyadari sesuatu. Ada hal yang membuatku
tiba-tiba merasa jauh darinya. Hal yang sudah lama ada sebelum kami saling
mengenal, bahkan jauh sebelum itu. Pada akhirnya aku tahu hal itu membuatku tak bisa
bersamanya selamanya. Perbedaan yang sering menjadi masalah bagi dua orang yang saling jatuh cinta di negeri ini. Ya, kami berbeda keyakinan. Masalah klasik, memang. Perbedaan kami adalah takdir
yang harus kami jalani, kami tak bisa memilihnya, bahkan tak mampu lari
darinya. Rasanya kepalaku menjadi pening setiap kali memikirkannya. Hal yang
sudah pasti terjadi saat itu adalah, kami saling jatuh cinta. Kemudian, hal
yang bisa dipastikan selanjutnya adalah, kami akan mengalami patah hati. Cepat
atau lambat.
Meski dengan kesadaran bahwa hubungan kami bisa berakhir
sewaktu-waktu, kami tetap menjalani hari-hari kami dengan normal. Menghabiskan
waktu berdua atau ramai-ramai bersama teman-teman kami, saling bertukar kabar dan
banyak hal. Dia sering mengerjaiku. Beberapa kali dia seolah tak bisa ikut acara
bersama teman-teman, tapi kemudian dia muncul dan membuatku terkejut. Rasanya
menyebalkan sekali. Tapi tentu saja aku senang dengan kehadirannya. Suatu hari
aku pernah membalasnya dan aku berhasil membuatnya kaget seperti yang sering
dia lakukan selama ini padaku. Salah satu yang paling berkesan untukku adalah
ketika malam pergantian tahun. Aku dan teman-temanku berkemah bersama di sebuah tempat dengan banyak pohon di kaki gunung. Karena udara sangat dingin, kami menghangatkan diri
dengan membuat api unggun, membakar jagung dan ubi untuk disantap dan memasak
air untuk membuat kopi atau teh hangat. Suasana di tempat itu ramai sekali,
apalagi saat malam tahun baru. Tiba-tiba dia muncul di hadapanku, setelah
sebelumnya memberi tahuku bahwa dia tak bisa datang karena harus pergi ke tempat
lain. Dia selalu membuatku kesal dan senang sekaligus. Aku melakukan semacam protes kecil dan dia hanya tertawa-tawa saja. Dia mengajakku berjalan-jalan di sekitar situ, mengunjungi teman-temannya yang lain yang juga berkemah di tempat itu. Sambil mengobrol, kami makan malam bersama dengan menu ikan bakar yang dimasak oleh teman-temannya itu. Selesai makan, kami berjalan-jalan lagi menikmati suasana malam tahun baru dalam udara dingin di antara
pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Tepat pukul 12 malam, seketika kami berhenti karena kembang
api yang berwarna-warni mulai meledak-ledak di langit malam. Semua orang
serentak mendongak ke atas, tak terkecuali aku dan dia. Dia merangkul pundakku
dan kami menatap ke arah langit. Udara dingin tak lagi kurasakan. Justru ada kehangatan yang terasa di dalam hatiku. Aku merasa hatiku seperti kembang api itu,
meledak-ledak dan berwarna-warni menghiasi langit pada malam pergantian tahun.
Aku bahagia, rasanya aku tak dapat menahan perasaanku. Kembang apinya banyak
sekali dengan bentuk dan warna yang bervariasi, meriah sekali. Selama beberapa
menit kembang api terus meletup-letup tak habis-habis. Biarlah. Akupun tak
ingin saat-saat seperti ini segera berakhir, pikirku.
Tanpa sadar aku mulai mengingat lagi kenangan-kenangan itu, dan rasanya menyebalkan. Berkali-kali aku berusaha memberitahu kepada diriku sendiri bahwa
sekarang semuanya sudah berakhir dan kami tak mungkin bersama lagi. Kami resmi berpisah
pada bulan Mei, dengan perasaan yang masih ada untuk satu sama lain. Ini yang
paling menyedihkan, kami berpisah bukan karena tak saling cinta lagi, tapi
karena keadaan yang memaksa kami. Aku tetap sedih meski sudah tahu akan berakhir begini. Siap
atau tidak, hal yang menyedihkan tetap saja menyedihkan, kita tak mungkin
menghindari perasaan sedih itu. Beberapa bulan kemudian, pada bulan September, dia menikah
dengan seseorang. Kenapa secepat itu? Iya benar, rasanya terlalu cepat.
Keluarganya ingin dia menikah tahun ini dan dia tak mungkin menolaknya. Aku tak
bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan agar dia bahagia dengan hidup barunya.
Selanjutnya aku berharap agar waktu segera berlalu sehingga aku dapat menjalani
hari-hariku lagi dengan perasaan yang lebih damai.
Seperti yang kubilang tadi, rasanya seperti dipaksa minum
jamu paling pahit tanpa penawar, yang rasa pahitnya akan hilang dalam jangka
waktu yang sangat lama. Aku akan menunggu dengan sabar sampai rasa pahit itu
benar-benar hilang. Tapi seperti yang semua orang ketahui, jamu yang pahit itu adalah
sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan orang yang meminumnya. Begitupun kesedihan dan kepahitan hidup yang bisa dirasakan manusia, bukan berarti tak ada manfaatnya. Kita mendapatkan pelajaran
dari semua kesedihan. Bahwa justru kesedihan yang paling sedihlah yang menghasilkan pelajaran hidup yang paling berharga. Aku bersyukur telah dipertemukan dengannya, dia menjadi bagian dari kisah hidupku, aku menjadi bagian dari kisah hidupnya, saling berbagi kebaikan dan banyak hal. Aku pun
akan berusaha menjadi lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Dia pasti juga
menginginkan kebaikanku, kebahagiaanku. Kami akan sama-sama bahagia meski tak
bersama. Semua ini adalah pelajaran agar aku bisa menjadi lebih dewasa dalam
menyikapi masalah dan terlatih untuk menghadapi ujian-ujian hidup selanjutnya.
Sampai jumpa lagi September, sedikit berbaik hatilah padaku tahun depan.
Sampai jumpa lagi September, sedikit berbaik hatilah padaku tahun depan.
*cerpen ini saya tulis untuk seorang kawan