Jumat, 30 September 2016

Sampai Jumpa September

Ini adalah hari terakhir di bulan September. Setelah penantian yang lama, akhirnya bulan ini segera berakhir. Hanya satu bulan, tapi rasanya seperti seratus tahun lamanya. Perasaanku seakan terkuras habis untuk menantikan berakhirnya bulan ini, dan sekarang rasanya aku hampir lega karena September akan berakhir kurang dari 24 jam. Oke, aku tahu ini berlebihan. Aku benci bulan September, padahal dulu aku sangat menyukai bulan ini. Aku sadar, penyebab aku membenci September adalah karena aku pernah sangat menyukainya. Dan sekarang aku sangat kecewa karena September tak hanya memberiku kenangan yang indah tapi juga kenangan pahit. Rasanya seperti dipaksa minum jamu paling pahit tanpa penawar, rasa pahitnya akan hilang dalam jangka waktu yang sangat lama, dan aku harus bisa menerimanya, karena rasanya hanya itu yang dapat kulakukan.

Ini karena September mengingatkanku akan banyak hal yang membahagiakan dan menyedihkan. Bahagia karena di bulan ini pertama kalinya aku bertemu dengannya dan sedih karena pada akhirnya aku dan dia benar-benar harus berpisah di bulan ini juga. Bahkan hal-hal membahagiakan itu sekarang juga membuatku sedih karena aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan kesempatan lagi bahkan untuk sekadar mengobrol sebagai teman biasa. Aku tak sanggup. Aku ingin melupakan semua ini. Semuanya. Tapi tentu saja tak mungkin semudah itu, aku tahu. Belakangan ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri, mengurung diri di kamar, bermalas-malasan, memutar ulang ingatan-ingatan, merasakan semua kesedihan, mencoba menikmati rasa nyeri di dalam dada sambil tanpa sadar mataku sudah berair dan semakin lama semakin banyak sehingga kelopak mataku yang kecil ini tak mampu menampungnya. Air mataku jatuh tak terelakkan. Semua ini kerap terjadi setiap kali tanpa sadar aku mengingat kenangan-kenangan itu. Dan yang merepotkanku, seringkali hal ini terjadi secara tiba-tiba, di manapun aku berada, seperti ketika aku sedang berjalan kaki sendiri di kampus, saat sedang makan sendirian, saat harus mengerjakan tugas, bahkan di jalan raya ketika aku sedang menyetir motor. Biasanya ketika ini terjadi di tempat umum, aku akan mati-matian berusaha menahannya, meski kadang mataku sudah terlanjur panas dan aku yakin pasti warnanya sudah memerah. Jika sudah begitu, aku hanya bisa berharap tak ada temanku atau siapapun yang melihatku. Karena itu, jika sedang tak ada urusan di luar, kupikir akan lebih baik jika aku menyendiri di dalam kamar kosku sementara ini.

Aku bertemu dengannya pada bulan September dua tahun yang lalu dalam perjalanan untuk menyaksikan matahari terbit di sebuah tempat yang tak jauh dari kota di mana aku menetap beberapa tahun ini. Dia bersama rombongannya dan aku bersama rombonganku. Waktu itu dia bergerombol bersama teman-temannya. Dia termasuk orang yang mudah dikenali karena badannya lebih terlihat berisi dari pada yang lain, ramah dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Karena aku jarang berolahraga dan berjalan jauh tentu saja aku kewalahan. Aku merasa kelelahan padahal belum terlalu jauh dari tempat start. Mungkin karena terburu-buru aku lupa mengatur nafas sehingga membuatku mual dan rasanya ingin muntah. Padahal katanya perjalanan masih jauh dan jalurnya cukup terjal. Aku berhenti untuk beristirahat, meminum sedikit air dan mengatur nafas. Semua orang menungguiku. Tiba-tiba dia menawarkan bantuan untuk membawakan tasku. Meski baru mengenalnya, entah kenapa aku percaya saja dan langsung menyerahkan tasku padanya. Lagi pula aku terlalu pusing untuk memikirkan apakah tasku akan aman di tangannya atau tidak. Aku baru tahu kemudian bukan dia sendiri yang membawanya, dia menyerahkan tasku untuk dibawa temannya yang lain. Yang paling penting, dia bertanggungjawab dan mengembalikan tasku dalam keadaan utuh.

Tak berapa lama setelah pertemuan pertama itu, kami menjadi dekat dan sering bertukar pesan pendek. Dalam waktu yang singkat, kami pun saling menyukai. Terlalu cepat? Kurasa tidak. Sesungguhnya jatuh cinta adalah proses yang cepat, entah itu antara dua orang yang baru berkenalan atau memang sudah saling mengenal sebelumnya baru jatuh cinta. Yang membuatnya lama biasanya karena kita tak langsung menyadarinya, atau sudah menyadarinya tapi tak ingin mempercayai perasaan kita sendiri. Sehingga bukan menerimanya tapi justru mati-matian menghindarinya, berusaha menyangkal apa yang sudah terjadi. Ada juga yang sudah jatuh cinta tapi banyak sekali yang dipertimbangkan. Padahal, meski sudah ditimbang dan ternyata seseorang itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, jatuh cinta itu sendiri bukanlah sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja. Aku sendiri adalah tipe yang tak suka membohongi diri sendiri. Aku merasakannya dan aku tak meragukan perasaanku. Aku menyukainya, dia baik dan senang bercanda. Tipe orang yang dengan mudah menghadirkan suasana hangat di mana pun dia berada. Aku senang dia pun menyukaiku.

Suatu hari, aku menyadari sesuatu. Ada hal yang membuatku tiba-tiba merasa jauh darinya. Hal yang sudah lama ada sebelum kami saling mengenal, bahkan jauh sebelum itu. Pada akhirnya aku tahu hal itu membuatku tak bisa bersamanya selamanya. Perbedaan yang sering menjadi masalah bagi dua orang yang saling jatuh cinta di negeri ini. Ya, kami berbeda keyakinan. Masalah klasik, memang. Perbedaan kami adalah takdir yang harus kami jalani, kami tak bisa memilihnya, bahkan tak mampu lari darinya. Rasanya kepalaku menjadi pening setiap kali memikirkannya. Hal yang sudah pasti terjadi saat itu adalah, kami saling jatuh cinta. Kemudian, hal yang bisa dipastikan selanjutnya adalah, kami akan mengalami patah hati. Cepat atau lambat.

Meski dengan kesadaran bahwa hubungan kami bisa berakhir sewaktu-waktu, kami tetap menjalani hari-hari kami dengan normal. Menghabiskan waktu berdua atau ramai-ramai bersama teman-teman kami, saling bertukar kabar dan banyak hal. Dia sering mengerjaiku. Beberapa kali dia seolah tak bisa ikut acara bersama teman-teman, tapi kemudian dia muncul dan membuatku terkejut. Rasanya menyebalkan sekali. Tapi tentu saja aku senang dengan kehadirannya. Suatu hari aku pernah membalasnya dan aku berhasil membuatnya kaget seperti yang sering dia lakukan selama ini padaku. Salah satu yang paling berkesan untukku adalah ketika malam pergantian tahun. Aku dan teman-temanku berkemah bersama di sebuah tempat dengan banyak pohon di kaki gunung. Karena udara sangat dingin, kami menghangatkan diri dengan membuat api unggun, membakar jagung dan ubi untuk disantap dan memasak air untuk membuat kopi atau teh hangat. Suasana di tempat itu ramai sekali, apalagi saat malam tahun baru. Tiba-tiba dia muncul di hadapanku, setelah sebelumnya memberi tahuku bahwa dia tak bisa datang karena harus pergi ke tempat lain. Dia selalu membuatku kesal dan senang sekaligus. Aku melakukan semacam protes kecil dan dia hanya tertawa-tawa saja. Dia mengajakku berjalan-jalan di sekitar situ, mengunjungi teman-temannya yang lain yang juga berkemah di tempat itu. Sambil mengobrol, kami makan malam bersama dengan menu ikan bakar yang dimasak oleh teman-temannya itu. Selesai makan, kami berjalan-jalan lagi menikmati suasana malam tahun baru dalam udara dingin di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Tepat pukul 12 malam, seketika kami berhenti karena kembang api yang berwarna-warni mulai meledak-ledak di langit malam. Semua orang serentak mendongak ke atas, tak terkecuali aku dan dia. Dia merangkul pundakku dan kami menatap ke arah langit. Udara dingin tak lagi kurasakan. Justru ada kehangatan yang terasa di dalam hatiku. Aku merasa hatiku seperti kembang api itu, meledak-ledak dan berwarna-warni menghiasi langit pada malam pergantian tahun. Aku bahagia, rasanya aku tak dapat menahan perasaanku. Kembang apinya banyak sekali dengan bentuk dan warna yang bervariasi, meriah sekali. Selama beberapa menit kembang api terus meletup-letup tak habis-habis. Biarlah. Akupun tak ingin saat-saat seperti ini segera berakhir, pikirku.

Tanpa sadar aku mulai mengingat lagi kenangan-kenangan itu, dan rasanya menyebalkan. Berkali-kali aku berusaha memberitahu kepada diriku sendiri bahwa sekarang semuanya sudah berakhir dan kami tak mungkin bersama lagi. Kami resmi berpisah pada bulan Mei, dengan perasaan yang masih ada untuk satu sama lain. Ini yang paling menyedihkan, kami berpisah bukan karena tak saling cinta lagi, tapi karena keadaan yang memaksa kami. Aku tetap sedih meski sudah tahu akan berakhir begini. Siap atau tidak, hal yang menyedihkan tetap saja menyedihkan, kita tak mungkin menghindari perasaan sedih itu. Beberapa bulan kemudian, pada bulan September, dia menikah dengan seseorang. Kenapa secepat itu? Iya benar, rasanya terlalu cepat. Keluarganya ingin dia menikah tahun ini dan dia tak mungkin menolaknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan agar dia bahagia dengan hidup barunya. Selanjutnya aku berharap agar waktu segera berlalu sehingga aku dapat menjalani hari-hariku lagi dengan perasaan yang lebih damai.

Seperti yang kubilang tadi, rasanya seperti dipaksa minum jamu paling pahit tanpa penawar, yang rasa pahitnya akan hilang dalam jangka waktu yang sangat lama. Aku akan menunggu dengan sabar sampai rasa pahit itu benar-benar hilang. Tapi seperti yang semua orang ketahui, jamu yang pahit itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan orang yang meminumnya. Begitupun kesedihan dan kepahitan hidup yang bisa dirasakan manusia, bukan berarti tak ada manfaatnya. Kita mendapatkan pelajaran dari semua kesedihan. Bahwa justru kesedihan yang paling sedihlah yang menghasilkan pelajaran hidup yang paling berharga. Aku bersyukur telah dipertemukan dengannya, dia menjadi bagian dari kisah hidupku, aku menjadi bagian dari kisah hidupnya, saling berbagi kebaikan dan banyak hal. Aku pun akan berusaha menjadi lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Dia pasti juga menginginkan kebaikanku, kebahagiaanku. Kami akan sama-sama bahagia meski tak bersama. Semua ini adalah pelajaran agar aku bisa menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah dan terlatih untuk menghadapi ujian-ujian hidup selanjutnya.

Sampai jumpa lagi September, sedikit berbaik hatilah padaku tahun depan.


*cerpen ini saya tulis untuk seorang kawan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar