Sabtu, 31 Desember 2016

Sedikit Catatan di 2016

      1. Menyimpan kemarahan hanya akan menyakiti diri sendiri.
      2. Hidup ini didominasi oleh kesedihan, makanya banyak orang berjuang demi     
    mendapatkan kebahagiaan, meski banyak juga yang memilih diam tanpa usaha dan 
    malah meratapi kesedihannya.
      3. Dalam hidup kita akan terus merasakan kehilangan-kehilangan, yang penting jangan
    sampai kehilangan diri sendiri.
      4. Kita seringkali hanya fokus menginginkan sesuatu tapi lupa mempersiapkan diri 
    (secara mental) untuk itu, jadi ketika keinginan kita menjadi kenyataan, sikap kita 
    justru membuatnya berantakan. Sampai akhirnya kita harus memulai dari awal lagi.
      5. Kita tidak bisa menjalani hari-hari dengan tenang dan berharap masa depan
    akan berjalan lancar sambil meninggalkan persoalan di masa lalu tanpa
    menyelesaikannya. Waktu tak akan bisa menghapus permasalahan begitu saja. Kelak
    saat kita mengira kita sudah hidup bahagia, damai, aman, tentram, sejahtera, pikiran
    kita bisa tiba-tiba memunculkan kembali masalah itu ke permukaan, lalu bagaikan
    hutang, dia datang dan  memaksa minta dilunasi. Ingat, sesuatu yang tak diselesaikan
    tak akan pernah selesai.
      6. Dua orang, berlainan jenis, bisa saling bersikap baik dan bisa berteman tanpa alasan
    apapun kecuali pertemanan itu sendiri adalah sesuatu yang sudah semakin jarang
    terjadi.
      7. Berlebih-lebihan di awal menyebabkan kekurangan di akhir.
      8. Hidup sebagai orang dewasa tidaklah mudah, kadang kita membutuhkan alasan-
    alasan untuk bertahan hidup.
      9Perlu disyukuri ketika orang lain mau bersikap baik dan menghargai kita, tapi 
    sebaiknya hindari berpikir bahwa mereka akan selalu bersikap seperti itu. Sudah 
    sewajarnya manusia berubah, tumbuh, menjadi lebih baik, atau lebih buruk. Tak 
    semua orang berpikir bahwa menjaga hubungan baik itu penting. Saya sudah lama 
    menyadari hal seperti ini, tapi kadang ada satu titik di mana saya lupa bahwa satu-
    satunya orang yang bisa diharapkan hanyalah diri sendiri.

Selasa, 20 Desember 2016

Berjalan Lagi

Foto ini saya ambil saat turun dari Pasar Bubrah 18 Des 2016.

Senang ketika akhirnya memiliki kesempatan untuk mendaki lagi setelah sekian lama. Sebelum ini saya mendaki gunung Ungaran pada bulan Agustus 2016. Baru empat bulan yang lalu tapi rasanya sudah lama sekali. Setelah yang sudah seringkali terjadi beberapa bulan ini, rencana-rencana perjalanan seringkali gagal karena berbagai macam alasan, akhirnya pendakian ke gunung Merapi tanggal 17-18 Desember 2016 ini terealisasi. Ini adalah kali kedua pendakian saya ke gunung Merapi yang ketinggiannya mencapai 2930 mdpl. Rasanya tak ada yang lebih melegakan ketika pada akhirnya kita mampu menyelesaikan sesuatu yang kita rencanakan.

Saya berangkat dari Semarang pukul 08.00 pagi, berdua dengan seorang kawan, kemudian bertemu dengan lima kawan lainnya yang berasal dari kota Solo di Pasar Cepogo. Setelah saling menyapa, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kami menuju Pasar Selo yang searah dengan Basecamp gunung Merapi. Saya makan Soto bersama beberapa kawan, sedangkan beberapa yang lain memilih makan Bakso. Selesai makan, kami menuju Basecamp. Sesampainya di sana, kami mempersiapkan diri, memastikan kembali peralatan dan perbekalan yang perlu dibawa kemudian melakukan registrasi. Setelah berdoa kami memulai pendakian.

Kami berdelapan mulai mendaki sekitar pukul 14.30 dari Basecamp. Awal pendakian berjalan dengan lancar, fisik saya dalam keadaan sehat, kaki saya dalam keadaan baik. Seperti biasa kami mendaki dengan gembira dan saling bercanda satu sama lain. Awal pendakian memang terasa berat dan melelahkan, apalagi bentuk gunung Merapi yang mengerucut membuat jalurnya terus menanjak, minim sekali jalur yang datar, tapi begitu otot-otot kaki dan pernafasan berhasil beradaptasi dengan jalur dan menemukan ritme yang sesuai maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi asal kita bisa mempertahankan ritme tersebut dan tetap berhati-hati dalam melangkah.

Sesekali di tengah pendakian kami berhenti untuk beristirahat, minum air atau sekadar mengatur nafas. Membahagiakan sekali rasanya ketika angin berembus di sela-sela pepohonan, sejuk dan menyegarkan. Meski merasa bahagia, bukan berarti saya jadi melupakan masalah-masalah saya. Saya tetap mengingatnya, hanya saja rasanya menjadi tidak menyakitkan sama sekali. Itu karena pikiran saya lebih terfokus pada bagaimana saya berjalan, bagaimana mengatur nafas, menentukan pijakan, mengangkat beban fisik. Itulah bagaimana ajaibnya berkegiatan fisik di alam terbuka mampu meringankan beban pikiran. Selain itu keberadaan kita di tempat terbuka yang luas penuh dengan pepohonan membuat kita menyadari bahwa alam semesta ini begitu besar dan kita begitu kecil sehingga rasanya masalah kita tak ada apa-apanya.

Menjelang sore, kabut mulai turun, langit berwarna putih, embusan angin mulai kencang dan membawa titik-titik kabut. Menyenangkan ketika perasaan menjadi damai saat terpaan angin dingin seketika dapat menyingkirkan rasa lelah. Selama pendakian kami berhenti sejenak di beberapa pos. Rencananya sebelum hari mulai gelap, kami akan mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah poin terakhir sebelum puncak. Hujan mulai turun dengan deras, kami berhenti untuk memakai jas hujan. Melihat angin yang berembus semakin kencang dan berpotensi badai, kami berpikir untuk mendirikan tenda di wilayah sebelum Pasar Bubrah yang masih ditumbuhi pepohonan. Kami mendirikan tenda di samping kanan jalur pendakian, di dekat batu besar. Ketika hari menjelang gelap, tenda sudah berdiri. Kami mulai merapikan barang-barang dan memasak makanan dan minuman hangat. Langit masih mengguyurkan airnya dengan deras ke arah kami, disertai angin yang berembus dengan semangat sekali, seperti sedang terburu-buru.

Kami memutuskan untuk tidur karena rasanya tak ada yang bisa dilakukan lagi, hujan badai masih juga belum berhenti. Lebih baik menutup tenda agar terlindungi dari angin yang semakin lama semakin bertambah dingin. Saya mulai rebah dalam kantung tidur dan memejamkan mata. Beberapa kali saya terbangun, badai belum berhenti, saya memejam lagi. Tak lama perut saya mual dan rasanya ingin muntah. Saya mencoba menahannya dan berusaha memejam lagi tapi rasanya susah. Akhirnya saya mencari plastik dan saya muntahkan semua makanan yang tadi sudah saya makan. Setelah itu saya berhasil tertidur lagi sampai pagi. Semalaman hujan tak berhenti, ditambah angin yang berkali-kali menabrak tenda-tenda kami. 

Akhirnya pagi menjelang. Badai telah berlalu, berganti dengan langit cerah berwarna biru. Saat melihat ke arah utara, terlihat gunung Merbabu yang letaknya berdekatan dengan gunung Merapi, sedangkan di arah barat saya dapat melihat gunung Slamet, Sumbing, Sindoro dan gunung Prau dari kejauhan. Kami mulai memasak air untuk minum dan memakan makanan ringan kemudian menjemur beberapa barang-barang kami yang basah karena hujan. Beberapa dari kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak gunung, termasuk saya. Dua orang menjaga tenda dan memasak makanan untuk kami semua. Kami berenam mulai berjalan ke arah puncak. Pada setengah perjalanan, saya sedikit merasa tidak enak perut. Rasanya mual lagi. Saya pikir sudah tak ada masalah setelah muntah tadi malam. Saya tetap berjalan menyusuri jalan yang menanjak dengan tenang.

Sampai di Pasar Bubrah saya sempat berkata pada kawan-kawan saya bahwa saya sampai di situ saja, saya akan menunggu mereka sementara mereka berlima melanjutkan ke puncak gunung. Mereka malah mengurungkan niatnya untuk ke puncak. Saya tak ingin jika gara-gara saya mereka jadi tidak sampai puncak, tapi perut saya mual sekali, kemudian saya bilang, “Saya muntah dulu sebentar.”. Setelah muntah, saya bilang, “Ayo ke puncak!”. “Yakin kuat?”, tanya seorang kawan, “Iya, kan sudah muntah.”, jawab saya. Saya kira memang sudah tak apa-apa, tapi belum lama saya mendaki lagi rasanya perut saya kambuh lagi. Angin yang berkali-kali menerpa rasanya membuat fisik saya menjadi semakin lemah. Kemudian saya berkata bahwa saya ingin kembali ke tenda, sendirian saja. Dari raut wajahnya mereka sepertinya agak ragu dengan keinginan saya, sedikit khawatir mungkin. Saya berusaha meyakinkan mereka, “Tak apa, jalurnya ramai dan tak terlalu jauh.”, kata saya. Kemudian saya turun menuju perkemahan kami.

Dalam perjalanan kembali ke tenda saya muntah lagi. Setelah sampai di tenda, saya muntah sekali lagi. Saya belum pernah muntah berkali-kali seperti ini di gunung, padahal saya pikir saya mendaki dengan keadaan fisik yang baik. Badai semalam juga bukan yang pertama kali saya alami. Di tenda saya berusaha untuk memulihkan kondisi, membuat minuman hangat yang kira-kira tidak akan ditolak oleh lambung saya, memakan makanan dan minum Tolak Angin kemudian tidur beberapa saat. Alhamdulillah setelah bangun kondisi saya pulih. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain sudah kembali dari puncak, mereka beristirahat dan mengisi perut, sementara saya dan beberapa yang lain mulai memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk persiapan turun.

Salah seorang kawan yang telah beberapa kali mendaki bersama saya berkata, saya lupa tepatnya tapi intinya begini, “Beban kamu berat ya, padahal setahu saya kamu orang yang kuat.”. Entah apa maksudnya, mungkin agar saya lebih bersemangat. Selama perjalanan turun saya jadi memikirkan kata-kata kawan saya itu. Mungkin saja kata-katanya benar. Saya menginterpretasikan bahwa beban yang dimaksud bukanlah beban fisik, tapi beban pikiran. Saya mendaki dengan kondisi fisik yang cukup baik tapi mengapa tiba-tiba saya menjadi lemah? Saya kira ini mungkin ada hubungannya dengan kondisi psikologis saya. Pada awalnya kondisi fisik saya memang baik, tapi saya mendaki dengan membawa beban pikiran dan itu memengaruhi kondisi fisik saya. Mungkin begitu. Apapun itu, semoga itu adalah pelajaran yang dapat membuat saya menjadi lebih baik.

Selalu ada banyak pengetahuan yang saya dapat seusai melakukan perjalanan. Bagaimanapun, perjalanan selalu bisa menyegarkan kembali pikiran, memperkuat fisik, membantu kita untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Ada satu lagi hal yang sudah sering saya alami tapi saya baru menyadarinya kemarin. Sehari setelah mendaki, ketika bangun dari tidur yang lama, setelah mandi, saat saya makan, makanan di rumah rasanya lebih enak berkali lipat dari biasanya, padahal bukan menu yang istimewa. Kebahagian yang sederhana tapi berharga.

Rabu, 07 Desember 2016

Surat Untuk A

Halo A,

Apa kabar? Semoga kau sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Sudah lama sekali aku tak menulis surat kepada seseorang. Seingatku terakhir kali menulisnya saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau tak salah, surat itu kutuliskan di kertas wangi berwarna biru muda. Kutujukan suratku kepada Bibiku yang tinggal di kota Jakarta. Kata Bibiku, seharusnya aku mengirimkannya kepada sepupuku yang seusia denganku, tapi kupikir, lebih baik aku mengirimkan padanya saja karena aku lebih merasa nyaman dengannya dibanding sepupu-sepupuku. Beberapa hari setelah aku mengirimkannya, surat balasan dari Bibiku datang. Aku segera melaporkan kepada guruku bahwa suratku telah dibalas.

Awal bulan November lalu aku meneleponmu, terdengar nada tunggu, lalu kumatikan karena operator yang menjawab. Kau tahu, aku ingin meneleponmu, bukan operator itu. Kemudian kuputuskan untuk menunggu teleponmu saja tapi kau tak juga meneleponku. Seminggu kemudian aku meneleponmu lagi tapi lagi-lagi dijawab oleh operator. Kali ini ia berkata bahwa nomormu sedang tak aktif, kutelepon nomormu yang lain pun sama. Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan pendek yang meski kau baca, kau tetap tak mau membalasnya. Belakangan memang sulit sekali rasanya untuk bisa sekadar mengobrol atau bertemu denganmu. Kadang aku merasa kau sengaja bersikap menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah kau sengaja melakukannya untuk mendapatkan perhatian atau sengaja menjauh agar aku mendekatimu? Atau kau ingin menyudahi semua tapi terlalu malas untuk mengatakannya? Tidakkah kau berpikir itu bukanlah sikap yang bertanggungjawab? Bukan begitu cara orang dewasa menyelesaikan masalah. Ah, tapi mungkin semua itu hanya pikiran negatifku saja. Mungkin kau memang sedang mempunyai banyak masalah, jadi saat itu kuputuskan untuk menunggumu sembuh dari apapun masalahmu. Aku tak mau banyak bertanya karena tak ingin memperkeruh suasana. Kupikir kau butuh ketenangan.

Saat akhirnya kau mengirimiku pesan dan berkata “lama tak ada kabarnya”, rasanya aku ingin menjawab, “Bagaimana mungkin aku memberimu kabar sementara kau menutup akses komunikasi?”. Rasanya aku ingin berkata, “Sudah terlalu sering kau pergi tanpa pamit, membuatku merasa bahwa bagimu aku bukanlah seorang yang penting.” Padahal dalam keadaan marah pun aku tetap memberi tahumu ketika aku akan pergi dengan temanku. Aku tetap mengangkat teleponmu dan membalas pesan-pesan pendekmu meski dalam hati aku sedang kesal dengan semua kata-kata dan sikapmu yang menyebalkan dan terkadang terasa meremehkan. Tapi sudahlah, aku tak ingin membuat masalah baru. Aku ingin terlebih dahulu memastikan bahwa kau sudah benar-benar sembuh sebelum aku bertanya baik-baik tentang apa yang terjadi padamu. Meski akhirnya kita berkomunikasi lagi dan kau sedikit memberitahuku tentang apa yang terjadi, tapi sampai aku menulis ini sepertinya tak ada perkembangan yang berarti. Kau sepertinya belum benar-benar sembuh. Bahkan sikapmu lagi-lagi membuat sakit hatiku kambuh, sehingga segala perilaku yang menyebalkan darimu sejak kita saling mengenal muncul kembali dalam pikiranku, terakumulasi dan membuatku ingin tak lagi peduli. Sampai akhirnya aku menyadari, mungkin kita sedang sama-sama sakit dan ego kita terlalu tinggi untuk mau menyelesaikan masalah ini.

Mengenai bukumu, kau benar, aku belum selesai membacanya. Kalau tak salah aku baru membacanya sampai malam ke-477. Seringkali aku membacanya sebelum tidur di malam hari. Biasanya setelah beberapa lembar aku akan mengantuk dan tidur beberapa saat kemudian. Kebanyakan ceritanya tentang kehidupan di negara-negara Timur Tengah pada masa Khilafah, banyak diantaranya disisipkan kisah-kisah cinta. Menurut pengamatanku, seringkali tokoh-tokoh di dalamnya tidak butuh waktu lama untuk menyadari dan merasa yakin bahwa mereka sedang saling jatuh cinta, biasanya karena melihat rupa yang cantik atau tampan, dan kaya. Bagaimana bisa semudah itu ya? Jika rasa cinta mereka hilang, atau mereka tak lagi cantik, tampan, dan kaya, apakah mereka akan tetap saling bersikap manis satu sama lain? Akankah mereka bisa saling menghargai satu sama lain dalam keadaan tidak sedang jatuh cinta? Apakah dalam keadaan tak sedang jatuh cinta, rasa toleransi mereka akan sama tinggi seperti saat mereka sedang jatuh cinta? Apakah mereka bisa tetap bersikap baik satu sama lain saat tak lagi memiliki apapun yang sebelumnya menjadi kebanggaan mereka? Apakah mereka bisa saling jatuh cinta tanpa syarat? Entahlah.

Beberapa waktu yang lalu aku mengembalikan bukumu meski belum selesai kubaca karena aku tidak ingin mempunyai beban menyimpan barang pinjaman yang seharusnya kukembalikan. Aku semakin tak mengerti dengan sikapmu dan kau begitu sulit dihubungi. Kupikir jika di kemudian hari kau memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan (seperti yang sudah sering kau lakukan) dan tak kembali lagi, aku tak ingin menyimpan barang yang kupinjam darimu. Bagiku rasanya sangat mengganggu ketika aku meminjam sesuatu dan tak mampu mengembalikannya. Juga ketika aku sudah berkata akan memberi sesuatu untukmu, maka aku harus memberikannya. Karena itu milikmu, maka harus kuberikan padamu. Aku tak ingin mempunyai semacam hutang. Aku ingin menjadi orang yang bisa bertanggung jawab dan menepati kata-kataku.

A, jika menurutmu aku perlu mengetahui sesuatu atau kau mempunyai gagasan tentang apapun itu, kau bisa mengatakannya padaku. Jika kau tak setuju dengan sikap dan pikiran-pikiranku atau kau tersinggung dengan kata-kataku, kau bisa memberitahuku. Kau tahu, komunikasi itu penting dan sudah lama kita tak berdiskusi dengan pikiran terbuka. Namun jika kau merasa tak perlu menjelaskan apapun, tentu aku tak bisa memaksamu. Mungkin kalimat di awal surat ini terlihat seperti basa-basi, tapi aku benar-benar mendoakan agar kau sehat dan baik. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Jika kau sedang punya banyak masalah, semoga kau mau berusaha menyelesaikannya satu per satu, karena jika kau membiarkannya, itu justru akan mempersulit hidupmu sendiri. Jika hatimu sedang terluka, semoga ia lekas sembuh dan menjadikanmu lebih kuat dari sebelumnya. Apapun yang kau lakukan, semoga itu adalah hal-hal yang baik dan bermanfaat. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca surat ini.


Salam,

R

Jumat, 02 Desember 2016

Mengolah Pikir Melalui Seni

Kita hidup pada zaman di mana arus informasi begitu deras menerpa kita. Kita bisa mendapatkan informasi dengan mudah dari media cetak, elektronik, terlebih di dunia digital informasi dapat dengan mudah menyebar. Kadang kita menganggap informasi itu penting atau tidak penting sama sekali, tergantung dari kebutuhan kita. Bahkan tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di dunia digital, informasi yang tidak benar pun bisa cepat tersebar. Biasanya tulisan seseorang dari media tak resmi atau opini berbentuk broadcast message yang ditulis oleh entah siapa. Jika informasi itu berguna tentu tak apa, tapi jika membuat kita bertindak tanpa berpikir maka berpotensi mengajak kita kepada keburukan yang seolah baik, dan cepat atau lambat akan menimbulkan kekacauan pola pikir. Korbannya biasanya adalah pembaca bertipe reaktif yang dengan serta merta mudah dipengaruhi melalui bahasa yang persuasif. Tanpa memastikan kebenaran tulisan; Apakah masuk akal? Apakah tulisan tersebut ditulis berdasarkan data dan fakta? Apakah didapat dari sumber yang jelas? Apakah hal tersebut bermanfaat? Tanpa berpikir ulang kemudian secara emosional menggandakannya dan membagikannya kepada banyak orang. Orang-orang seperti ini seringkali mudah dimanipulasi.

Tak hanya mudah dimanipulasi, orang-orang ini juga menutup diri pada informasi lain yang bertentangan. Padahal untuk mengetahui kebenaran, kita harus mengetahui sebanyak-banyaknya informasi. Ketika informasi-informasi yang dirasa perlu sudah dikumpulkan, barulah kita bisa mempelajari kumpulan data tersebut dengan teliti. Susah memang menghadapi orang-orang yang terbiasa menelan informasi mentah-mentah, menelan kalimat bulat-bulat, dengan cara pandang yang masih sebatas permukaan. Orang-orang jenis ini adalah orang yang tidak suka berpikir, barangkali karena terasa terlalu merepotkan. Padahal segala sesuatu tentu ada prosesnya. Tak ada salahnya jika meluangkan waktu lebih lama untuk berpikir sebelum mengaplikasikan pikiran kita dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Agar pada akhirnya ketika kita berkata dan berbuat, kita telah benar-benar mengerti dan memahami bahwa perkataan dan perbuatan kita itu tidak membawa keburukan, tapi justru memberikan manfaat.

Ada banyak cara untuk melatih pikiran, salah satunya dengan kesenian. Untuk itulah kesenian itu perlu, karena seni membuat kita berpikir, berimajinasi, menebak-nebak maksud seniman yang disampaikan melalui karyanya, entah itu karya lukis, tari, musik, film maupun sastra. Dalam kesenian, setiap orang dapat dengan bebas menginterpretasikan karya seni. Dalam kesenian, seseorang bebas menerjemahkan maksud. Seringkali antara satu orang dengan orang lainnya bisa menginterpretasikan karya seni dengan berbeda. Memang setiap orang bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda tergantung dari rasa ketertarikan, latar belakang pengalaman, dan referensi acuan. Jika terjadi perbedaan sudut pandang, dalam seni hal itu sudah biasa. Kesenian membuat kita tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Kesenian juga mengajarkan kita bahwa sesuatu dapat dilihat dari berbagai macam sisi yang ketika melihat salah satu sisi, kita bisa menganggap penilaian kita benar, namun tidak otomatis membuat pandangan dari sisi lainnya menjadi salah. Bahkan dua orang yang melihat sisi yang sama bisa mempunyai pandangan yang berbeda. Tak ada yang mutlak benar atau salah dalam seni, yang penting saling menghargai pandangan masing-masing. Seni mengajarkan kita bahwa perbedaan pandangan justru memperkaya. Seni membuat kita terbiasa berpikir dan tak mudah dimanipulasi.

Selasa, 15 November 2016

No Such Thing as Forever

pic source: here





















We can’t be happy forever
We can’t be sad forever
We can’t laugh forever
We can’t cry forever
We can’t talk forever
We can’t stay quiet forever
We can’t hide forever
We can’t run forever

And someday...

it will all be over.

Kamis, 10 November 2016

Mengesampingkan Ego Menyelesaikan Permasalahan

Ada banyak hal yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Hal-hal yang membuat kesal, bahkan menguras emosi. Terasa sekali kendali emosi berada pada level yang rendah, sehingga ketika ada sesuatu terjadi yang tidak sesuai keinginan atau kata-kata yang keluar dari mulut orang lain begitu menyakitkan, saya menjadi begitu emosional dan lupa untuk bersikap dengan sebagaimana mestinya karena terlalu sibuk dengan ego sendiri. Saya lupa untuk bersikap baik kepada orang lain dan cenderung mengabaikan karena merasa membutuhkan waktu lama untuk sendiri. Saya seringkali diam dan lebih senang menyendiri ketika sedang benar-benar marah, karena saya tahu jika tidak melakukannya saya justru akan menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata atau sikap yang tidak semestinya karena sedang berada di bawah kendali emosi.

Dalam keadaan menutup diri seperti itu, ada kalanya saya bertanya-tanya, untuk apa saya hidup di dunia ini. Sebagai manusia yang tak bisa lepas dari kehidupan sosial, saya semacam dipaksa melakukan ini dan itu, karena jika tidak, saya dianggap tidak ‘normal’. Bagi kebanyakan orang, sesuatu akan dianggap 'normal' jika dipikirkan atau dilakukan oleh mayoritas orang, sisanya biasanya akan dianggap aneh, atau istilah-istilah lain yang sejenis. Sampai sekarang saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan itu, berusaha menerima dan mengerti, berusaha menjalani hidup ‘normal’ seperti orang-orang lain. Bagi saya, menjalani hidup ‘normal’ seperti kebanyakan orang itu susah, karena membuat saya tak bisa menjadi diri sendiri. Selama ini saya memiliki semacam pedoman hidup yaitu bahwa saya bisa melakukan apapun sesuka hati saya, asal tak merugikan makhluk hidup lain. Pada prakteknya saya berusaha menjadi ‘normal’ dengan cara saya sendiri sambil terus berpikir bahwa dunia ini sepertinya tak relevan untuk manusia seperti saya atau mungkin sebaliknya, saya yang tak relevan dengan keadaan dunia ini, entahlah. Yang saya tahu, saya harus menerima menjadi manusia yang harus menjalani kehidupan di bumi, bagaimanapun keadaanya.

Bagi saya, salah satu hal yang susah dilakukan dalam menjalani hidup ini adalah berhubungan dengan manusia lain, karena manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ego, baik ego diri sendiri maupun ego manusia lain di sekitar kita. Seperti yang kita ketahui, setiap manusia memiliki ego dalam kadarnya masing-masing. Orang yang tidak memiliki ego, atau bisa mengendalikan egonya dengan baik, barangkali dia seorang manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sehingga setiap yang dilakukannya tidak sampai menyusahkan makhluk hidup lain, justru memudahkannya. Rasanya masih jarang sekali saya bertemu dengan manusia semacam itu. Saya sendiri rasanya masih memiliki ego yang tinggi. Ego manusia tidak selalu berbentuk sikap semena-mena atau sikap tidak peduli saat tahu sudah merugikan orang lain. Menutup diri ketika sedang bermasalah bisa jadi suatu hal yang baik, tapi itu bisa dikatakan egois ketika hal itu membuat kita jadi mengabaikan orang lain. Saya juga menyadari, menyendiri untuk menenangkan diri sendiri itu bagus, tapi jika terlalu lama, maka akan membuat kita menjadi asing dan berjarak terhadap dunia luar yang pada akhirnya malah menyusahkan diri sendiri.

Untuk menenangkan diri, hampir semua orang mungkin merasa perlu pergi menjauh meninggalkan rutinitas dan tempat hidup sehari-hari ketika sedang bermasalah, saya pun. Memang benar bahwa perjalanan dapat membuat kita terhindar dari stress, mendatangi tempat baru dapat membuat pikiran menjadi lebih fresh, tapi saya tahu bahwa hal itu tak membuat permasalahan yang sedang dialami lenyap begitu saja. Kita hanya lari sejenak, mencari pengalihan, menjernihkan pikiran. Masalah tidak akan selesai jika tidak diselesaikan. Pada saatnya, kita sendiri yang harus berperan untuk menyelesaikan masalah kita, juga menyingkirkan ego agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan pikiran yang jernih.

Jumat, 30 September 2016

Sampai Jumpa September

Ini adalah hari terakhir di bulan September. Setelah penantian yang lama, akhirnya bulan ini segera berakhir. Hanya satu bulan, tapi rasanya seperti seratus tahun lamanya. Perasaanku seakan terkuras habis untuk menantikan berakhirnya bulan ini, dan sekarang rasanya aku hampir lega karena September akan berakhir kurang dari 24 jam. Oke, aku tahu ini berlebihan. Aku benci bulan September, padahal dulu aku sangat menyukai bulan ini. Aku sadar, penyebab aku membenci September adalah karena aku pernah sangat menyukainya. Dan sekarang aku sangat kecewa karena September tak hanya memberiku kenangan yang indah tapi juga kenangan pahit. Rasanya seperti dipaksa minum jamu paling pahit tanpa penawar, rasa pahitnya akan hilang dalam jangka waktu yang sangat lama, dan aku harus bisa menerimanya, karena rasanya hanya itu yang dapat kulakukan.

Ini karena September mengingatkanku akan banyak hal yang membahagiakan dan menyedihkan. Bahagia karena di bulan ini pertama kalinya aku bertemu dengannya dan sedih karena pada akhirnya aku dan dia benar-benar harus berpisah di bulan ini juga. Bahkan hal-hal membahagiakan itu sekarang juga membuatku sedih karena aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan kesempatan lagi bahkan untuk sekadar mengobrol sebagai teman biasa. Aku tak sanggup. Aku ingin melupakan semua ini. Semuanya. Tapi tentu saja tak mungkin semudah itu, aku tahu. Belakangan ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri, mengurung diri di kamar, bermalas-malasan, memutar ulang ingatan-ingatan, merasakan semua kesedihan, mencoba menikmati rasa nyeri di dalam dada sambil tanpa sadar mataku sudah berair dan semakin lama semakin banyak sehingga kelopak mataku yang kecil ini tak mampu menampungnya. Air mataku jatuh tak terelakkan. Semua ini kerap terjadi setiap kali tanpa sadar aku mengingat kenangan-kenangan itu. Dan yang merepotkanku, seringkali hal ini terjadi secara tiba-tiba, di manapun aku berada, seperti ketika aku sedang berjalan kaki sendiri di kampus, saat sedang makan sendirian, saat harus mengerjakan tugas, bahkan di jalan raya ketika aku sedang menyetir motor. Biasanya ketika ini terjadi di tempat umum, aku akan mati-matian berusaha menahannya, meski kadang mataku sudah terlanjur panas dan aku yakin pasti warnanya sudah memerah. Jika sudah begitu, aku hanya bisa berharap tak ada temanku atau siapapun yang melihatku. Karena itu, jika sedang tak ada urusan di luar, kupikir akan lebih baik jika aku menyendiri di dalam kamar kosku sementara ini.

Aku bertemu dengannya pada bulan September dua tahun yang lalu dalam perjalanan untuk menyaksikan matahari terbit di sebuah tempat yang tak jauh dari kota di mana aku menetap beberapa tahun ini. Dia bersama rombongannya dan aku bersama rombonganku. Waktu itu dia bergerombol bersama teman-temannya. Dia termasuk orang yang mudah dikenali karena badannya lebih terlihat berisi dari pada yang lain, ramah dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Karena aku jarang berolahraga dan berjalan jauh tentu saja aku kewalahan. Aku merasa kelelahan padahal belum terlalu jauh dari tempat start. Mungkin karena terburu-buru aku lupa mengatur nafas sehingga membuatku mual dan rasanya ingin muntah. Padahal katanya perjalanan masih jauh dan jalurnya cukup terjal. Aku berhenti untuk beristirahat, meminum sedikit air dan mengatur nafas. Semua orang menungguiku. Tiba-tiba dia menawarkan bantuan untuk membawakan tasku. Meski baru mengenalnya, entah kenapa aku percaya saja dan langsung menyerahkan tasku padanya. Lagi pula aku terlalu pusing untuk memikirkan apakah tasku akan aman di tangannya atau tidak. Aku baru tahu kemudian bukan dia sendiri yang membawanya, dia menyerahkan tasku untuk dibawa temannya yang lain. Yang paling penting, dia bertanggungjawab dan mengembalikan tasku dalam keadaan utuh.

Tak berapa lama setelah pertemuan pertama itu, kami menjadi dekat dan sering bertukar pesan pendek. Dalam waktu yang singkat, kami pun saling menyukai. Terlalu cepat? Kurasa tidak. Sesungguhnya jatuh cinta adalah proses yang cepat, entah itu antara dua orang yang baru berkenalan atau memang sudah saling mengenal sebelumnya baru jatuh cinta. Yang membuatnya lama biasanya karena kita tak langsung menyadarinya, atau sudah menyadarinya tapi tak ingin mempercayai perasaan kita sendiri. Sehingga bukan menerimanya tapi justru mati-matian menghindarinya, berusaha menyangkal apa yang sudah terjadi. Ada juga yang sudah jatuh cinta tapi banyak sekali yang dipertimbangkan. Padahal, meski sudah ditimbang dan ternyata seseorang itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, jatuh cinta itu sendiri bukanlah sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja. Aku sendiri adalah tipe yang tak suka membohongi diri sendiri. Aku merasakannya dan aku tak meragukan perasaanku. Aku menyukainya, dia baik dan senang bercanda. Tipe orang yang dengan mudah menghadirkan suasana hangat di mana pun dia berada. Aku senang dia pun menyukaiku.

Suatu hari, aku menyadari sesuatu. Ada hal yang membuatku tiba-tiba merasa jauh darinya. Hal yang sudah lama ada sebelum kami saling mengenal, bahkan jauh sebelum itu. Pada akhirnya aku tahu hal itu membuatku tak bisa bersamanya selamanya. Perbedaan yang sering menjadi masalah bagi dua orang yang saling jatuh cinta di negeri ini. Ya, kami berbeda keyakinan. Masalah klasik, memang. Perbedaan kami adalah takdir yang harus kami jalani, kami tak bisa memilihnya, bahkan tak mampu lari darinya. Rasanya kepalaku menjadi pening setiap kali memikirkannya. Hal yang sudah pasti terjadi saat itu adalah, kami saling jatuh cinta. Kemudian, hal yang bisa dipastikan selanjutnya adalah, kami akan mengalami patah hati. Cepat atau lambat.

Meski dengan kesadaran bahwa hubungan kami bisa berakhir sewaktu-waktu, kami tetap menjalani hari-hari kami dengan normal. Menghabiskan waktu berdua atau ramai-ramai bersama teman-teman kami, saling bertukar kabar dan banyak hal. Dia sering mengerjaiku. Beberapa kali dia seolah tak bisa ikut acara bersama teman-teman, tapi kemudian dia muncul dan membuatku terkejut. Rasanya menyebalkan sekali. Tapi tentu saja aku senang dengan kehadirannya. Suatu hari aku pernah membalasnya dan aku berhasil membuatnya kaget seperti yang sering dia lakukan selama ini padaku. Salah satu yang paling berkesan untukku adalah ketika malam pergantian tahun. Aku dan teman-temanku berkemah bersama di sebuah tempat dengan banyak pohon di kaki gunung. Karena udara sangat dingin, kami menghangatkan diri dengan membuat api unggun, membakar jagung dan ubi untuk disantap dan memasak air untuk membuat kopi atau teh hangat. Suasana di tempat itu ramai sekali, apalagi saat malam tahun baru. Tiba-tiba dia muncul di hadapanku, setelah sebelumnya memberi tahuku bahwa dia tak bisa datang karena harus pergi ke tempat lain. Dia selalu membuatku kesal dan senang sekaligus. Aku melakukan semacam protes kecil dan dia hanya tertawa-tawa saja. Dia mengajakku berjalan-jalan di sekitar situ, mengunjungi teman-temannya yang lain yang juga berkemah di tempat itu. Sambil mengobrol, kami makan malam bersama dengan menu ikan bakar yang dimasak oleh teman-temannya itu. Selesai makan, kami berjalan-jalan lagi menikmati suasana malam tahun baru dalam udara dingin di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Tepat pukul 12 malam, seketika kami berhenti karena kembang api yang berwarna-warni mulai meledak-ledak di langit malam. Semua orang serentak mendongak ke atas, tak terkecuali aku dan dia. Dia merangkul pundakku dan kami menatap ke arah langit. Udara dingin tak lagi kurasakan. Justru ada kehangatan yang terasa di dalam hatiku. Aku merasa hatiku seperti kembang api itu, meledak-ledak dan berwarna-warni menghiasi langit pada malam pergantian tahun. Aku bahagia, rasanya aku tak dapat menahan perasaanku. Kembang apinya banyak sekali dengan bentuk dan warna yang bervariasi, meriah sekali. Selama beberapa menit kembang api terus meletup-letup tak habis-habis. Biarlah. Akupun tak ingin saat-saat seperti ini segera berakhir, pikirku.

Tanpa sadar aku mulai mengingat lagi kenangan-kenangan itu, dan rasanya menyebalkan. Berkali-kali aku berusaha memberitahu kepada diriku sendiri bahwa sekarang semuanya sudah berakhir dan kami tak mungkin bersama lagi. Kami resmi berpisah pada bulan Mei, dengan perasaan yang masih ada untuk satu sama lain. Ini yang paling menyedihkan, kami berpisah bukan karena tak saling cinta lagi, tapi karena keadaan yang memaksa kami. Aku tetap sedih meski sudah tahu akan berakhir begini. Siap atau tidak, hal yang menyedihkan tetap saja menyedihkan, kita tak mungkin menghindari perasaan sedih itu. Beberapa bulan kemudian, pada bulan September, dia menikah dengan seseorang. Kenapa secepat itu? Iya benar, rasanya terlalu cepat. Keluarganya ingin dia menikah tahun ini dan dia tak mungkin menolaknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan agar dia bahagia dengan hidup barunya. Selanjutnya aku berharap agar waktu segera berlalu sehingga aku dapat menjalani hari-hariku lagi dengan perasaan yang lebih damai.

Seperti yang kubilang tadi, rasanya seperti dipaksa minum jamu paling pahit tanpa penawar, yang rasa pahitnya akan hilang dalam jangka waktu yang sangat lama. Aku akan menunggu dengan sabar sampai rasa pahit itu benar-benar hilang. Tapi seperti yang semua orang ketahui, jamu yang pahit itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan orang yang meminumnya. Begitupun kesedihan dan kepahitan hidup yang bisa dirasakan manusia, bukan berarti tak ada manfaatnya. Kita mendapatkan pelajaran dari semua kesedihan. Bahwa justru kesedihan yang paling sedihlah yang menghasilkan pelajaran hidup yang paling berharga. Aku bersyukur telah dipertemukan dengannya, dia menjadi bagian dari kisah hidupku, aku menjadi bagian dari kisah hidupnya, saling berbagi kebaikan dan banyak hal. Aku pun akan berusaha menjadi lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Dia pasti juga menginginkan kebaikanku, kebahagiaanku. Kami akan sama-sama bahagia meski tak bersama. Semua ini adalah pelajaran agar aku bisa menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah dan terlatih untuk menghadapi ujian-ujian hidup selanjutnya.

Sampai jumpa lagi September, sedikit berbaik hatilah padaku tahun depan.


*cerpen ini saya tulis untuk seorang kawan 

Sabtu, 30 Juli 2016

Orang-Orang Menyebalkan

Mengapa banyak orang menyebalkan di dunia ini? Entah sejak kapan mereka ada. Apakah orang-orang zaman dulu juga menyebalkan? Atau hanya orang-orang di zaman ini?  Atau dulu mereka sedikit, kemudian berkembang biak menjadi banyak? Saya tidak tahu dan tidak (belum) ingin mencari tahu jawabannya. Yang pasti saya menyadari keberadaan orang-orang ini terutama semenjak saya sadar saya hidup sebagai manusia.

Barangkali di setiap zaman selalu ada orang-orang seperti ini, yang melakukan sesuatu yang mengganggu orang lain dengan sengaja atau tidak sengaja. Mereka ada di mana-mana, di jalanan, di mall, di pasar, di desa, di kota, di gunung, di pantai, bahkan di lingkup keluarga dan pertemanan kita.

Orang-orang menyebalkan itu melakukan hal-hal tidak menyenangkan yang mungkin tanpa mereka sadari itu mengganggu orang-orang disekitarnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka menyebalkan. Namun, ketidaktahuan selalu bisa dimaafkan, meski tetap saja itu menyebalkan. Barangkali dalam ketidaktahuan saya, saya juga menyebalkan.

Tapi dunia ini perlu keseimbangan. Selain orang-orang menyebalkan juga ada orang yang menyenangkan. Mereka ada agar kita lupa pada orang-orang menyebalkan itu. Mereka ada untuk memberi arti dalam hidup kita. Mereka ada untuk memberi tahu kita bahwa bumi tak sesuram itu. Mereka ada untuk membuat kita merasa lebih baik.

Saya tidak ingin menjadi orang yang menyebalkan. Saya mengamati orang-orang terutama orang-orang di sekitar saya, keluarga dan teman-teman saya, melihat apa yang mereka lakukan, mengetahui apa yang mengganggu mereka. Saya ingin mencegah kemungkinan saya membuat mereka sebal. Karena saya peduli, dan ingin tetap bersama mereka.

Untuk teman-teman atau siapapun yang membaca tulisan ini dan mengenal saya, tolong beri tahu saya jika saya melakukan hal-hal yang membuatmu sebal. Barangkali saya tidak menyadarinya dan menganggap apa yang saya lakukan itu baik-baik saja.

Rabu, 27 Juli 2016

Menghargai Sesama Manusia

Meski saya tidak suka dengan praktik-praktik patriarki, saya bukanlah seseorang yang mendukung praktik matriarki. Selama ini saya berusaha menghargai manusia, tanpa melihat latar belakangnya, jenis kelaminnya, pendidikan terakhirnya, sukunya, agamanya, pekerjaannya, fisiknya, merk sepatunya dan semua hal-hal lain yang kasat mata. Karena bagi saya, pada dasarnya menghargai sesama manusia itu wajib. Pada akhirnya, yang membedakan sikap kita pada manusia satu dengan yang lainnya adalah perilaku dan cara berpikirnya. Ketika bertemu orang baru, sudah sewajarnya kita menghargai, meski pada akhirnya penghargaan kita bisa menurun atau meningkat sesuai dengan bagaimana dia berperilaku. Tetapi meski perilakunya buruk, bukan berarti kita boleh merendahkan orang lain. Jika dia teman kita, mungkin kita bisa mengingatkan, namun jika tidak memungkinkan untuk diingatkan, lebih baik dihindari saja.

Saya sering mendengar bagaimana orang-orang menilai manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Bahwa perempuan selalu seperti 'ini' dan laki-laki sudah pasti seperti 'itu'. Mereka kerap kali melakukan generalisasi. Sesungguhnya saya malas membahas bagaimana orang-orang berdebat tentang siapa yang lebih hebat, perempuan atau laki-laki. Hal itu tak pernah membuat saya tertarik, karena justru menjadi jalan bagi dua kaum yang berdebat untuk menyombongkan diri. Entah kenapa, tapi mungkin saja mereka mendapat kebahagiaan dengan meninggikan diri sendiri dan merendahkan yang lain.

Saya bukan orang yang antusias terhadap perayaan-perayaan tentang perempuan, seperti hari ibu ataupun hari perempuan. Karena bagi saya rasanya tidak adil ketika banyak hari dijadikan peringatan untuk perempuan namun tak seharipun kita punya untuk memperingati laki-laki. Karena siapapun dia, mau perempuan atau laki-laki, pasti punya peran bagi diri sendiri, keluarganya, lingkungan sekitarnya maupun dalam lingkup yang lebih luas lagi. Tidak diperingati dengan segala puja-puji pun pada dasarnya mereka akan melakukan peran-peran yang memberi manfaat karena secara naluri, kita butuh mengaktualisasi diri dan ingin selalu berkembang untuk menjadi lebih baik sebagai manusia, perempuan maupun laki-laki.

Di tengah-tengah obrolan ketika sedang berdiskusi, bercanda atau membahas tentang permasalahan-permasalahan antar manusia, saya seringkali mendengar kalimat-kalimat ‘ejekan’ seperti “perempuan selalu benar” atau “perempuan suka dibohongi”. Terkadang ketika saya sedang berdiskusi tentang masalah tertentu bersama beberapa teman laki-laki, ketika kemudian mereka kalah argumen atau ketika mereka terlihat salah, mereka akan mengalihkan pembicaraan dan berkata semacam, “Hanya perempuan yang memikirkan masalah sepele seperti itu.” atau “Dasar wanita, suka banyak alasan!”. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya, seperti ketika para perempuan menganggap semua laki-laki sama, bahwa mereka brengsek, tukang bohong dan buaya darat, atau mengatai dengan kalimat "Dasar laki-laki! Mana ada kucing nolak ikan asin?!". Mereka sudah menyamakan laki-laki dengan binatang dan perempuan dengan bangkai hewan yang sudah diawetkan dan tidak bernyawa. Mereka sudah menggeneralisir perempuan dan laki-laki, juga tidak fokus pada permasalahan sebagai objek bahasan. Karena ego mereka yang tidak ingin terlihat salah atau kalah, mereka justru menunjukkan kualitas yang buruk sebagai manusia.

Tentu saya tidak keberatan jika ada yang mengatakan saya banyak alasan, jika memang saya membuat-buat alasan yang tidak masuk akal, atau jika saya secara sengaja atau tidak sengaja melakukan kesalahan, telah merugikan orang lain dan menyakiti perasaannya, saya akan mengakui dan meminta maaf. Tapi menyalahkan orang lain karena dia perempuan atau karena dia laki-laki adalah hal yang merendahkan dan justru semakin menunjukkan kebodohan. Karena semua manusia, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa melakukan hal buruk yang sama. Seharusnya manusia dilihat dari pribadinya, bukan dari label-label yang menempel padanya.

Mengapa ketika terjadi penindasan oleh laki-laki kepada perempuan seringkali orang-orang langsung sigap untuk membela, tapi tidak berlaku jika terjadi sebaliknya, perempuan menindas laki-laki? Sangat tidak adil. Bagi saya, siapapun yang mengalami penindasan perlu dibela, siapapun yang membutuhkan pertolongan perlu ditolong, tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan.

Jumat, 17 Juni 2016

Malas Menunggu

Sebagai seorang yang tinggal di ibukota provinsi, saya sudah terbiasa dengan hiruk pikuk kota. Meski kota yang saya tinggali sejak saya kecil, Semarang, dulu terkenal sebagai kota yang tenang dan jauh dari kerusuhan. Saking tenangnya sampai-sampai beberapa acara musik tingkat nasional malas menjadikan kota ini sebagai tempat tujuan roadshow karena antusiasme warganya cenderung rendah. Namun seperti kota-kota lain di Indonesia, Semarang pun menjadi kota yang mengalami perkembangan yang pesat. Salah satu tandanya dapat dilihat dari jumlah kendaraan bermotor di jalan. Pada hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu kendaraan-kendaraan tersebut tumpah ruah ke jalanan yang menyebabkan kemacetan, terutama di pusat kota. Hal ini tidak hanya terjadi di Semarang, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Sekarang ini di mana tempat yang tidak macet? Bahkan di gunung-gunung populer saat musim liburan, orang-orang harus mengantre saat sedang mendaki.

Di jalanan, terutama di tengah kemacetan kita bisa melihat berbagai macam tipe orang. Jalanan macet seringkali mampu membuat kita mengeluarkan sisi buruk kita. Misalnya memotong jalan dengan semena-mena, melewati marka sampai memenuhi badan jalan untuk arah yang berlawananan, menekan klakson berkali-kali seolah dia adalah satu-satunya orang penting yang harus didahulukan, meneriaki orang yang dianggap salah, bahkan mengumpat. Barangkali jalanan macet adalah tempat potensial yang dapat membantu manusia-manusia perkotaan untuk melampiaskan emosi mereka meski seringkali tidak pada tempatnya. Mereka tak suka didahului, mereka tak suka berhenti meski hanya satu-dua detik untuk mendahulukan para penyeberang jalan. Dan ketika itu terjadi, mereka marah dan memaki.

Di traffic light seringkali saya melihat orang-orang tidak sabar menanti lampu merah berubah menjadi hijau. Terlihat dari mereka yang sudah berjalan sebelum lampu hijau menyala, memutar-mutar/menginjak gas kendaraan bak pembalap hingga membunyikan klakson dengan emosional, seolah semua orang di sana buta dan tuli. Manusia-manusia modern itu ingin semua serba cepat tanpa peduli bahwa orang-orang lain di sana juga ingin melalui jalan yang sama dengan lancar. Saking ingin cepatnya, mereka kehilangan kepedulian satu sama lain. Kesabaran dan empati menjadi sesuatu yang langka di jalanan.

Barangkali semua itu terjadi karena kita semua tak suka menunggu, meski sebentar. Itu sebabnya budaya jam karet menjadi sesuatu yang biasa. Karena kebanyakan dari kita berpikir, “Dari pada menunggu, lebih baik datang terlambat”. Padahal dalam hidup, ada kalanya kita harus menunggu. Selalu ada hal-hal yang membuat kita harus menunggu. Bukan. Bukan karena kita tak mau berusaha maju, tapi karena untuk beberapa hal tertentu yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu. Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, memang. Tapi kita selalu bisa melakukan hal-hal lain sembari menunggu, melakukan hal-hal yang kita suka, misalnya. Lebih baik lagi jika sesuatu yang kita lakukan adalah hal yang berguna juga untuk orang-orang di sekitar kita.

Kemudian selalu ada pertanyaan “Sampai kapan akan menunggu?”. Pertanyaan itu biasanya muncul saat kita merasa lelah, bosan dan hilang kesabaran. Tentu kita sendiri yang tahu jawabannya. Kita bisa menunggu sampai yang ditunggu datang atau sampai kita merasa tak perlu lagi menunggu. 

Rabu, 01 Juni 2016

Menyembuhkan Diri Sendiri

Beberapa hari belakangan saya merasa sedih karena beberapa orang terdekat berkata dan bersikap dengan tidak semestinya. Saya tak ingin menyalahkan mereka atas kekecewaan saya, meski sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, saya menyalahkan mereka. Keadaan tidak ingin yang kemudian bertemu dengan kenyataan sebaliknya yang hampir tak bisa dikontrol, sehingga menjadi otomatis melakukan hal yang tidak diinginkan tersebut. Saya bukannya diam saja dengan ketidaksinkronan antara keinginan dan kenyataan yang terjadi. Seperti yang mungkin banyak dilakukan oleh orang-orang, jalan tengah untuk masalah ini adalah, menyalahkan diri sendiri.


Salah sendiri positif thinking sama mereka

Salah sendiri percaya

Salah sendiri kecewa

Siapa suruh?


Saya sedih, mereka berbicara hal-hal yang tidak baik tentang saya, bersikap yang tak seharusnya. Tentu saya merasa sakit hati, karena saya tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Mengapa semua ini menjadi penting? Karena mereka orang-orang terdekat saya. Mana mungkin saya berprasangka buruk pada orang terdekat saya? Mana mungkin saya tidak memercayai mereka? Mana mungkin saya tidak kecewa ketika orang terdekat saya melakukan hal buruk yang tidak pernah saya duga?

Tapi pada akhirnya saya sadar, saya tidak perlu melakukan apa-apa. Saya hanya butuh waktu untuk bersedih. Selanjutnya, kemudian saya harus menerima kenyataan ini. Karena tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mengubah yang telah terjadi. Seberapa sakit kita atas banyak hal, entah karena diri kita sendiri atau hal-hal di luar kita, tetap kitalah yang harus menyembuhkan diri sendiri. 

Selasa, 03 Mei 2016

Kita Masih Saling Mencari

Kita masih saling mencari. Kemudian merasa amat lelah ketika di penghujung hari belum juga saling menemukan. Entah sudah berapa kali kita berpapasan di jalan namun tak saling memerhatikan. Sejak kau hilang aku tak betah duduk berlama-lama di taman tempat kita biasa bertegur sapa dan bercerita. Sebelum bertemu denganmu aku bisa berjam-jam duduk diam memerhatikan sekitar, memandang ke arah birunya langit yang terhalangi pohon-pohon yang daunnya gemerisik tertiup angin, tempat di mana burung-burung bermain dengan riang.

Suatu hari, ketika  tanpa sengaja kita duduk di bangku yang sama, mengobrol berjam-jam sampai lupa waktu, semua terasa menyenangkan. Langit terlihat lebih indah, angin terasa lebih sejuk, nyanyian burung-burung terdengar lebih merdu. Beberapa kali tanpa sengaja kita duduk berdua, menghabiskan sore dengan bercerita, sesekali tertawa. Namun sejak kita tak saling berjumpa semua tak lagi sama. Barangkali kita masih sering mengunjungi taman yang sama, namun di waktu yang berbeda. Masih saling mencari, namun belum juga saling menemukan. Kini langit indah berwarna biru, angin yang menyejukkan kalbu dan nyanyian burung yang merdu di taman itu tak lagi dapat kunikmati seperti dahulu. Aku merasa gelisah setiap kali duduk sendiri di tempat kita biasa menghabiskan hari-hari.

Aku tahu, kita selalu dapat memutar ulang kenangan. Sesering mungkin. Sesuka kita. Tapi semakin lama dan semakin sering kuputar semakin terasa kurang. Aku ingin kenangan baru. Tidak. Aku membutuhkannya. Aku butuh kenangan baru. Barangkali memang benar bahwa manusia tak pernah merasa puas. Selalu merasa kurang, bahkan kadang sampai lupa bersyukur atas apa yang sudah dipunya. Tapi bukankah manusia harus punya keinginan dan harapan untuk tetap hidup? Tentu aku bersyukur sudah diijinkan memiliki dan memutar-mutar ulang kenangan. Tapi hidup terus berjalan, kita tetap harus membuat kenangan-kenangan baru, agar hati kita tetap penuh.

Kita masih saling mencari namun belum juga saling menemukan. Aku sudah mengumpulkan cukup banyak hal untuk kuceritakan. Namun selagi kita belum juga saling menemukan, aku akan menceritakannya pada diriku sendiri. Tapi tenanglah, aku akan tetap menceritakannya padamu nanti, saat pada akhirnya kita dipertemukan kembali.

Senin, 02 Mei 2016

Pertemanan Bisa Kedaluwarsa?

Apakah pertemanan bisa kedaluwarsa? Jika mengacu pada kalimat 'tak ada yang abadi' tentu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: bisa.

Apa itu kedaluwarsa? Menurut KBBI, kata kedaluwarsa memiliki tiga makna:

         1. Tidak model lagi (terkait baju, kendaraan dan sebagainya); tidak sesuai dengan
       zaman
         2. Sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya); habis
       tempo
         3. Terlewat dari batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (tentang
       makanan)

Dalam konteks pertemanan, makna kedaluwarsa yang cocok adalah yang kedua, ‘sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya); habis tempo’.
Mengapa pertemanan bisa kedaluwarsa, penyebabnya tentu bermacam-macam, beberapa diantaranya:

         1. Tidak ada kepentingan lagi
         2. Tidak cocok lagi secara pemikiran/kebiasaan (ada konflik)
         3. Bosan
         4. Punya teman (pacar) baru / sudah menikah
         5. Tak butuh teman lagi 

     Ada beberapa gejala yang terjadi saat teman kita tak ingin lagi berteman, diantaranya:

         1. Sering menolak ajakan, dengan alasan yang terlalu banyak
         2. Membatalkan janji tanpa reschedule
         3. Mengabaikan chat/telepon kita

Jika tak ada keinginan untuk berteman lagi namun tetap dipaksakan, yang akan terjadi adalah rasa canggung, obrolan tidak nyambung, kaku, dan lain sebagainya. Namun meski sudah kedaluwarsa, teman kita bisa tiba-tiba muncul karena beberapa hal:

         1. Butuh bantuan
   2. Ada urusan yang belum selesai
         3. Mengirim undangan pernikahan
         4. Kurang kerjaan
         5. Kesepian
   6. Sebab lain

Apakah pertemanan yang sudah kedaluwarsa bisa diperbarui? Tentu bisa jika ada keinginan dan usaha dari kedua belah pihak.

Itu semua berdasarkan pengamatan kecil saya. Saya sendiri inginnya hubungan pertemanan saya tak akan pernah kedaluwarsa. Saya ingin bisa berteman selamanya sampai tua, atau lebih baik dari itu. Jika saya ingin tetap berteman tapi teman saya tidak, ya apa boleh buat, saya tentu tak mau memaksa. Karena, hubungan apapun termasuk pertemanan, seharusnya saling menginginkan.

*kalau ada yang mau menambahkan silakan di kolom komentar