Selasa, 20 Desember 2016

Berjalan Lagi

Foto ini saya ambil saat turun dari Pasar Bubrah 18 Des 2016.

Senang ketika akhirnya memiliki kesempatan untuk mendaki lagi setelah sekian lama. Sebelum ini saya mendaki gunung Ungaran pada bulan Agustus 2016. Baru empat bulan yang lalu tapi rasanya sudah lama sekali. Setelah yang sudah seringkali terjadi beberapa bulan ini, rencana-rencana perjalanan seringkali gagal karena berbagai macam alasan, akhirnya pendakian ke gunung Merapi tanggal 17-18 Desember 2016 ini terealisasi. Ini adalah kali kedua pendakian saya ke gunung Merapi yang ketinggiannya mencapai 2930 mdpl. Rasanya tak ada yang lebih melegakan ketika pada akhirnya kita mampu menyelesaikan sesuatu yang kita rencanakan.

Saya berangkat dari Semarang pukul 08.00 pagi, berdua dengan seorang kawan, kemudian bertemu dengan lima kawan lainnya yang berasal dari kota Solo di Pasar Cepogo. Setelah saling menyapa, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kami menuju Pasar Selo yang searah dengan Basecamp gunung Merapi. Saya makan Soto bersama beberapa kawan, sedangkan beberapa yang lain memilih makan Bakso. Selesai makan, kami menuju Basecamp. Sesampainya di sana, kami mempersiapkan diri, memastikan kembali peralatan dan perbekalan yang perlu dibawa kemudian melakukan registrasi. Setelah berdoa kami memulai pendakian.

Kami berdelapan mulai mendaki sekitar pukul 14.30 dari Basecamp. Awal pendakian berjalan dengan lancar, fisik saya dalam keadaan sehat, kaki saya dalam keadaan baik. Seperti biasa kami mendaki dengan gembira dan saling bercanda satu sama lain. Awal pendakian memang terasa berat dan melelahkan, apalagi bentuk gunung Merapi yang mengerucut membuat jalurnya terus menanjak, minim sekali jalur yang datar, tapi begitu otot-otot kaki dan pernafasan berhasil beradaptasi dengan jalur dan menemukan ritme yang sesuai maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi asal kita bisa mempertahankan ritme tersebut dan tetap berhati-hati dalam melangkah.

Sesekali di tengah pendakian kami berhenti untuk beristirahat, minum air atau sekadar mengatur nafas. Membahagiakan sekali rasanya ketika angin berembus di sela-sela pepohonan, sejuk dan menyegarkan. Meski merasa bahagia, bukan berarti saya jadi melupakan masalah-masalah saya. Saya tetap mengingatnya, hanya saja rasanya menjadi tidak menyakitkan sama sekali. Itu karena pikiran saya lebih terfokus pada bagaimana saya berjalan, bagaimana mengatur nafas, menentukan pijakan, mengangkat beban fisik. Itulah bagaimana ajaibnya berkegiatan fisik di alam terbuka mampu meringankan beban pikiran. Selain itu keberadaan kita di tempat terbuka yang luas penuh dengan pepohonan membuat kita menyadari bahwa alam semesta ini begitu besar dan kita begitu kecil sehingga rasanya masalah kita tak ada apa-apanya.

Menjelang sore, kabut mulai turun, langit berwarna putih, embusan angin mulai kencang dan membawa titik-titik kabut. Menyenangkan ketika perasaan menjadi damai saat terpaan angin dingin seketika dapat menyingkirkan rasa lelah. Selama pendakian kami berhenti sejenak di beberapa pos. Rencananya sebelum hari mulai gelap, kami akan mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah poin terakhir sebelum puncak. Hujan mulai turun dengan deras, kami berhenti untuk memakai jas hujan. Melihat angin yang berembus semakin kencang dan berpotensi badai, kami berpikir untuk mendirikan tenda di wilayah sebelum Pasar Bubrah yang masih ditumbuhi pepohonan. Kami mendirikan tenda di samping kanan jalur pendakian, di dekat batu besar. Ketika hari menjelang gelap, tenda sudah berdiri. Kami mulai merapikan barang-barang dan memasak makanan dan minuman hangat. Langit masih mengguyurkan airnya dengan deras ke arah kami, disertai angin yang berembus dengan semangat sekali, seperti sedang terburu-buru.

Kami memutuskan untuk tidur karena rasanya tak ada yang bisa dilakukan lagi, hujan badai masih juga belum berhenti. Lebih baik menutup tenda agar terlindungi dari angin yang semakin lama semakin bertambah dingin. Saya mulai rebah dalam kantung tidur dan memejamkan mata. Beberapa kali saya terbangun, badai belum berhenti, saya memejam lagi. Tak lama perut saya mual dan rasanya ingin muntah. Saya mencoba menahannya dan berusaha memejam lagi tapi rasanya susah. Akhirnya saya mencari plastik dan saya muntahkan semua makanan yang tadi sudah saya makan. Setelah itu saya berhasil tertidur lagi sampai pagi. Semalaman hujan tak berhenti, ditambah angin yang berkali-kali menabrak tenda-tenda kami. 

Akhirnya pagi menjelang. Badai telah berlalu, berganti dengan langit cerah berwarna biru. Saat melihat ke arah utara, terlihat gunung Merbabu yang letaknya berdekatan dengan gunung Merapi, sedangkan di arah barat saya dapat melihat gunung Slamet, Sumbing, Sindoro dan gunung Prau dari kejauhan. Kami mulai memasak air untuk minum dan memakan makanan ringan kemudian menjemur beberapa barang-barang kami yang basah karena hujan. Beberapa dari kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak gunung, termasuk saya. Dua orang menjaga tenda dan memasak makanan untuk kami semua. Kami berenam mulai berjalan ke arah puncak. Pada setengah perjalanan, saya sedikit merasa tidak enak perut. Rasanya mual lagi. Saya pikir sudah tak ada masalah setelah muntah tadi malam. Saya tetap berjalan menyusuri jalan yang menanjak dengan tenang.

Sampai di Pasar Bubrah saya sempat berkata pada kawan-kawan saya bahwa saya sampai di situ saja, saya akan menunggu mereka sementara mereka berlima melanjutkan ke puncak gunung. Mereka malah mengurungkan niatnya untuk ke puncak. Saya tak ingin jika gara-gara saya mereka jadi tidak sampai puncak, tapi perut saya mual sekali, kemudian saya bilang, “Saya muntah dulu sebentar.”. Setelah muntah, saya bilang, “Ayo ke puncak!”. “Yakin kuat?”, tanya seorang kawan, “Iya, kan sudah muntah.”, jawab saya. Saya kira memang sudah tak apa-apa, tapi belum lama saya mendaki lagi rasanya perut saya kambuh lagi. Angin yang berkali-kali menerpa rasanya membuat fisik saya menjadi semakin lemah. Kemudian saya berkata bahwa saya ingin kembali ke tenda, sendirian saja. Dari raut wajahnya mereka sepertinya agak ragu dengan keinginan saya, sedikit khawatir mungkin. Saya berusaha meyakinkan mereka, “Tak apa, jalurnya ramai dan tak terlalu jauh.”, kata saya. Kemudian saya turun menuju perkemahan kami.

Dalam perjalanan kembali ke tenda saya muntah lagi. Setelah sampai di tenda, saya muntah sekali lagi. Saya belum pernah muntah berkali-kali seperti ini di gunung, padahal saya pikir saya mendaki dengan keadaan fisik yang baik. Badai semalam juga bukan yang pertama kali saya alami. Di tenda saya berusaha untuk memulihkan kondisi, membuat minuman hangat yang kira-kira tidak akan ditolak oleh lambung saya, memakan makanan dan minum Tolak Angin kemudian tidur beberapa saat. Alhamdulillah setelah bangun kondisi saya pulih. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain sudah kembali dari puncak, mereka beristirahat dan mengisi perut, sementara saya dan beberapa yang lain mulai memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk persiapan turun.

Salah seorang kawan yang telah beberapa kali mendaki bersama saya berkata, saya lupa tepatnya tapi intinya begini, “Beban kamu berat ya, padahal setahu saya kamu orang yang kuat.”. Entah apa maksudnya, mungkin agar saya lebih bersemangat. Selama perjalanan turun saya jadi memikirkan kata-kata kawan saya itu. Mungkin saja kata-katanya benar. Saya menginterpretasikan bahwa beban yang dimaksud bukanlah beban fisik, tapi beban pikiran. Saya mendaki dengan kondisi fisik yang cukup baik tapi mengapa tiba-tiba saya menjadi lemah? Saya kira ini mungkin ada hubungannya dengan kondisi psikologis saya. Pada awalnya kondisi fisik saya memang baik, tapi saya mendaki dengan membawa beban pikiran dan itu memengaruhi kondisi fisik saya. Mungkin begitu. Apapun itu, semoga itu adalah pelajaran yang dapat membuat saya menjadi lebih baik.

Selalu ada banyak pengetahuan yang saya dapat seusai melakukan perjalanan. Bagaimanapun, perjalanan selalu bisa menyegarkan kembali pikiran, memperkuat fisik, membantu kita untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Ada satu lagi hal yang sudah sering saya alami tapi saya baru menyadarinya kemarin. Sehari setelah mendaki, ketika bangun dari tidur yang lama, setelah mandi, saat saya makan, makanan di rumah rasanya lebih enak berkali lipat dari biasanya, padahal bukan menu yang istimewa. Kebahagian yang sederhana tapi berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar