Selasa, 25 November 2014

Waktu Singkat

Terakhir kita bertemu, aku menyesal waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya aku bisa memperlambatnya. Maksudku, aku bisa saja mencari alasan untuk bersamamu lebih lama. Harusnya aku mengajakmu menemaniku makan saat itu, karena sebelumnya perutku lapar sekali. Lagi pula langit sedang gerimis, pasti suasana akan terasa romantis. Tapi saat kita berjalan berdua di waktu yang singkat itu, aku tak ingat kalau aku sedang sangat lapar. Aku bahkan tak ingat untuk meminta nomor teleponmu. Aku juga tak memperhatikan ekspresi wajahmu. Rasanya aku tak peduli apapun saat itu, karena terlalu menikmati momen itu. Untuk sesaat aku lupa diri. Sampai saat aku menulis ini, waktu singkat itu sudah kuputar ulang berkali-kali.

Semarang, 2014

Di Pikiranku

Aku sering berpikir, membayangkan tanpa sengaja tiba-tiba bertemu denganmu di jalan saat kau sedang berjalan-jalan sendirian, lalu dengan spontan kita memutuskan untuk makan siang bersama. Sambil menunggu pesanan, kita akan mengobrol tentang banyak hal. Saat pesanan sudah datang, kita tetap mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Sampai tak terasa makanan kita sudah habis, kita tetap mengobrol, sambil tertawa-tawa bahagia. Senang sekali bertemu denganmu siang itu. Di Pikiranku.

Semarang, 2014

Selasa, 04 November 2014

Percakapan Malam-Malam

Kenapa malam?
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.

Kenapa malam?
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.

Kenapa malam?
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.

Kenapa malam?
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.

Kenapa malam?
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.

Kenapa malam?
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.

Kenapa malam?
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.

Kenapa malam?
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.


Semarang, 2014

Kamis, 25 September 2014

Awal Mula Tulisan Alay (Versi Saya)

Saya baru membaca tulisan @sepatumerah tentang penulisan jaman sekarang yang mengkombinasikan huruf besar kecil dan angka yang menjadi trend di kalangan remaja. Tulisannya bisa dibaca di sini. Nah, dari tulisan itu, saya jadi ingin menuliskan tulisan ini. Kebetulan beberapa waktu lalu saya juga membahas soal ini bersama seorang teman. Saya jelaskan padanya mengenai asal-usul tulisan semacam itu dari pengalaman saya sendiri.

Dulu saya juga pernah mengalami menulis dengan cara seperti itu. Kalau saya menulis di kertas dengan komposisi huruf besar dan kecil secara bergantian memang untuk alasan gaya-gayaan saja, biar unyu. Itu juga sebelum tulisan semacam itu dikatai ‘alay’.

Tapi saat menulis di handphone saya menggunakan komposisi tersebut agar lebih cepat saja menulisnya. Sebenarnya ini efek keypad 3x4 yang kita gunakan dulu sebelum ada keypad 'qwerty'. Bahwa huruf 'a', 'b' dan 'c' terletak di satu tombol yang sama. Jika saya ingin menulis kata 'babi' misalnya, untuk mengetik tiga huruf yang sama dalam satu tombol keypad akan memakan banyak waktu yaitu setelah mengetik huruf 'b' harus menunggu beberapa detik untuk menulis huruf 'a' dan seterusnya, jadi biar mempercepat saya akan menulismya dengan menekan capslock atau mengganti huruf 'a' dengan angka '4'. Seperti juga kalau saya ingin menulis 'no' karena huruf 'n' dan 'o' terletak di satu tombol keypad yang sama, jadi setelah menuliskan huruf 'n' saya akan menggunakan huruf 'o' kapital atau angka 'nol'. Biar cepat.

Mungkin dulu awalnya seperti itu, sampai pada akhirnya menjadi trend tanpa tahu maksud yang sebenarnya sampai-sampai ditambah dengan huruf yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga membuatnya jadi tak nyaman dibaca seperti "cH3muNgUudh eaa qAq4a" yang sebenarnya bisa dituliskan dengan "semangat ya kakak".

Pada akhirnya setelah tulisan seperti itu menjadi ‘alay’ meski saya menulis pesan menggunakan hp dengan keypad 3x4, saya berusaha untuk menulis dengan huruf-huruf yang normal karena saya tak mau dianggap ‘alay’. Hehe.

Itu dari pengalaman saya saja sih. Mungkin beda orang, beda juga motivasinya menulis dengan cara seperti itu. Kalau sekarang, karena saya menggunakan keypad qwerty jadi kalau menulis dengan komposisi huruf besar-kecil ditambah angka-angka bukannya mempercepat tapi malah jadi memperlambat.

Rabu, 17 September 2014

Angin

Sedari mula aku menemukanmu di belantara, aku tahu kau sungguh berbeda. Hangat dan dingin pada saat yang sama. Mendadak aku merasa beberapa bagian usang dari diriku terlepas dari raga. Hanya saja saat itu aku tak merasa merdeka. Kau angin kecil, lembut menerpa sukma saat kemarau mendahaga. Sepasang mataku terpejam, merasakan hembusan. Kau tak selalu terlihat, namun dapat kudengar dan rasakan.

Saat musim panas datang, matahari terasa terik menantang. Aku ingin kau datang membawa hujan. Sebelum aku meranggas dan daun-daunku berguguran. Sesaat kemudian kaupun datang, dengan suara lirih menenangkan. Kau tak membawa hujan, tapi melihatku kegerahan, hembusan kecilmu perlahan mengencang. Tanpa sadar, kau berubah membadai, membuatku hampir tumbang.

Sejak saat itu kaupun menghilang. Aku menunggumu di tanah lapang, tempat kita biasa bertemu. Sendirian. Hari demi hari kau tak pernah datang. Aku menunggu hingga perlahan kaki-kaki kecilku semakin erat mencengkeram jagat. Kemana kau angin kecilku? Aku kini tumbuh dewasa, kaki-kakiku pun tumbuh kuat. Aku tak akan tumbang jika kau datang dan meniupku kencang.


Semarang, 2014

Jumat, 23 Mei 2014

Tempat Impian dan Secuil Harapan


Sumber foto : http://favim.com/image/347709/

Di hari Minggu yang cerah ini, aku tak ada rencana untuk pergi ke manapun. Sedang ingin bermalas-malasan saja di kamar sambil mendengarkan playlist lagu favorit. Lagu berjudul ‘Come Back Be Here’ dari Taylor Swift mengalun dari player yang sedang kuputar.

And this is when the feeling sinks in,
I don't wanna miss you like this,
Come back... be here, come back... be here.
I guess you're in London today,
I don't wanna need you this way,
Come back... be here, come back... be here.
This is falling in love in the cruelest way,
This is falling for you and you are worlds away.

Lirik lagu itu mengingatkanku padanya, pada setiap detik aku menjalani hari-hariku semenjak aku bertemu dengannya. Terasa menyebalkan. Aku baru menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya setelah beberapa lama. Setelah aku merasakan kehilangan yang membuat perasaanku tak nyaman. Dan bodohnya, aku bahkan tak menanyakan bagaimana aku bisa menghubunginya, tak meminta nomor teleponnya, atau apapun yang bisa memberiku informasi tentangnya. Aku hanya tahu nama panggilannya saja saat kami berkenalan.

Aku bertemu dengannya ketika aku sedang melakukan perjalanan ke Jakarta untuk mengunjungi seorang kawan. Saat itu aku tak tahu bahwa kelak aku akan merindukan hari itu. Kami duduk sebangku. Awalnya karena melihatku kesusahan menaruh tas di bagian atas tempat duduk kami, dia membantuku. Kami mulai mengobrol dan entah kenapa aku menyukainya. Mengobrol dengan orang asing kadang menyenangkan, apalagi jika kita memiliki ketertarikan yang sama tentang sesuatu dengan orang itu. Dia juga akan ke Jakarta untuk mengurus sesuatu di sana. Kemudian aku tahu bahwa beberapa hari lagi dia akan kembali ke Inggris, tepatnya di kota London untuk kuliah, setelah beberapa minggu berlibur di tempat asalnya, Surabaya. Mendengar kata ‘Inggris’, hatiku berteriak senang. What?? Inggris?! Tempat yang sangat-sangat ingin kudatangi, yang kutulis pada urutan pertama di bucket list-ku! Aku semakin tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memperhatikan benar caranya bercerita, ekspresi wajahnya dan matanya yang berbinar penuh semangat. Tiba-tiba udara di sekitarku mulai menghangat, aku baru menyadarinya ketika beberapa hari sesudahnya kejadian itu kuingat-ingat. Hari-hari sesudah pertemuan itu aku merasa bahagia, rasanya berbunga-bunga seperti sedang jatuh cinta meski belum sadar sepenuhnya karena apa. Perasaan bahagia itu tak bertahan lama, karena semakin hari aku mengingat pertemuanku dengannya aku menjadi semakin ingin mengulangnya. Sedikit demi sedikit muncul harapan untuk bertemu dengannya lagi dan tak mungkin kuabaikan karena semakin hari rasanya menjadi semakin menyesakkan. Hidupku menjadi tak setenang sebelum aku bertemu dengannya. Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya lagi, mengobrol dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersamanya. Rasanya memang tak masuk akal, aku tahu, tapi bukankah cinta memang seperti itu?

Kupikir untuk apa merasakan jatuh cinta jika tak diungkapkan. Banyak orang berharap bisa jatuh cinta, dan aku beruntung bisa merasakannya sekarang. Orang-orang menunggu kesempatan seperti ini, saat dimana kita bertemu seseorang dan hati kita kemudian mengatakan, dialah orangnya, dialah yang kau cari selama ini. Lalu ketika hal yang aku tunggu-tunggu itu datang padaku, aku tahu aku tak boleh mengabaikannya. Aku tak boleh melewatkannya. Ya, aku harus memberitahunya. Aku harus mengejar cintaku, meski aku belum tahu apakah dia menyukaiku. Aku tak peduli, yang kutahu sekarang adalah aku harus melakukannya. Hatiku mengatakan aku harus pergi ke Inggris dan mengungkapkan semuanya. Aku tak tahu di sudut mana dia berada di kota London, tapi aku yakin akan menemukannya.

Dari dulu aku sangat ingin mengunjungi Inggris, aku ingin pergi ke tempat-tempat menakjubkan di sana yang seringkali hanya bisa aku nikmati melalui televisi atau internet. Aku tahu suatu hari, entah kapan, aku akan berada di sana. Dan sekarang aku tak percaya bahwa seseorang yang tak bisa seharipun kulewati tanpa memikirkannya juga ada di sana. Ini membuat keinginanku untuk mengunjungi Inggris semakin besar setiap harinya. Oh Tuhan, ini kebetulan atau apa? Kurasa aku mulai gila. Aku sudah membayangkan diriku berada di sana, di Inggris bersamanya. Kami menghabiskan hari-hari dengan berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat impianku di Inggris. Berjalan-jalan bersamanya menyusuri Trafalgar Square sambil saling bercerita dan tertawa-tawa bahagia. Kemudian berkeliling menggunakan classic London bus, bus tingkat berwarna merah yang menjadi salah satu ikon kota London, sambil menikmati fish and chips, makanan tradisional asli Inggris yang terbuat dari ikan dan kentang. Sebagai penikmat musik yang hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu The Beatles yang sampai sekarang musiknya tak pernah lekang dimakan jaman, tentu saja aku tak akan melewatkan untuk berkunjung ke The Beatles Story, museum yang berisi segala hal tentang The Beatles itu. Lalu tentu saja Old Trafford Stadium adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi. Sebagai penggemar militan Manchester United, aku harus ke sana. Harus. Pasti akan sangat seru dan tentu saja semua itu akan lebih menyenangkan karena aku melakukannya bersama seseorang yang dapat membuatku merasa nyaman. Kemudian kami akan menghabiskan sore hari di tepi sungai Thames dan menikmati langit berwarna oranye saat matahari terbenam dengan latar Westminster Bridge dan Big Ben. Ah, romantis sekali… sampai tiba-tiba aku tersadar dari lamunan dan merasakan pedih, rasa sesak di dada muncul kembali. Dengan samar terdengar salah satu bait lagu berjudul ‘Real Love’ dari The Beatles dari music player-ku.

Thought I’d been in love before
But in my heart, I wanted more
Seems like all I really was doing
Was waiting for you

Oh yes, I waited all my life for a real love like this. Now I just have to reach and grab it. Inggris, tunggu kedatanganku!


* Tulisan ini saya buat dalam rangka mengikuti Blog Competition NGEMIL EKSIS PERGI KE INGGRIS #InggrisGratis dari Mister Potato.

Jumat, 09 Mei 2014

Almost Pangrango


Gunung Pangrango yang tertutup kabut

Selagi belum terlalu lama berlalu saya ingin menuliskan cerita liburan saya pada bulan April yang sudah saya tunda-tunda terus. Liburan akhir pekan yang panjang April lalu saya isi dengan mendaki gunung di Jawa Barat, Gunung Pangrango, dengan ketinggian 3019 mdpl. Gunung Pangrango adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 mdpl. Saya memang sudah lama ingin mendaki tapi selama ini belum ada kesempatan untuk mewujudkannya. Kebetulan seorang kawan saya, Ardi yang mempunyai hobi mendaki mengajak saya. Tentu saja saya penasaran dan ingin mencobanya meski awalnya sedikit ragu. Sebelumnya, akhir tahun lalu, Ardi juga mengajak saya mendaki Gunung Semeru, tapi karena pekerjaan saya sedang banyak, maka saya menolaknya.

Rencana awal, kami akan mendaki pada tanggal 5-6 April 2014, tapi ternyata kuota sudah penuh untuk tanggal itu, akhirnya mundur menjadi tanggal 12-13 April 2014 yang pada akhirnya gagal juga. Kawan saya itu kelihatanya sudah sedikit putus asa karena dua kali rencananya gagal. Waktu itu saya santai-santai saja karena saya belum membeli tiket kereta. Sampai pada akhirnya, Ardi memberi tahu saya bahwa kami bisa mendaki akhir minggu ketiga di bulan April, tanggal 18-19 April 2014. Kebetulan saat itu hari Jumatnya adalah hari libur nasional. Saya bilang, Oke.

Gunung Pangrango berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Ada 6 pintu wisata menuju kawasan TNGGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Saya dan beberapa kawan mendaki Gunung Pangrango melalui jalur Cibodas. Cibodas berjarak 100 km dari Jakarta. Saya yang berdomisili di Semarang dan menuju Jakarta menggunakan kereta pada Kamis Pagi. Sampai di Stasuin Jakarta Pasar Senen pukul 15.00 WIB. Keluar dari Stasiun Pasar Senen, saya langsung naik bus menuju Terminal Kampung Rambutan dimana Ardi sudah menunggu saya di sana.
Dari Terminal Kampung Rambutan, saya dan Ardi langsung naik Bus menuju Puncak Bogor. Perjalanan kira-kira sekitar 3 jam. Jalanan lumayan padat karena long weekendDi perjalanan pemandangan lumayan bagus. Larik-larik awan berpadu dengan senja yang kekuningan menghiasi penampakan Gunung Salak di kanan jalan tol Jagorawi. Saya juga sempat melihat penampakan Gunung Gede dan Pangrango di sebelah kiri jalan yang samar-samar tertutup awan dan kabut sebelum langit berubah gelap. Sisanya? Saya tidur sampai Ardi membangunkan saya karena sudah hampir sampai di sebuah daerah bernama Cimacan.

Sesampainya di Cimacan, Ardi mengajak saya ke rumah salah satu temannya dimana kawan-kawan lain yang akan ikut mendaki sedang packing dan mempersiapkan diri. Karena beberapa kali tertunda, tim pendakian kami menyusut menjadi empat orang saja, Ardi, Ari, Deli dan Saya. Jadi, rencananya kami akan berangkat Jumat pagi, tapi karena satu dan lain hal, jadinya kami mulai mendaki Sabtu pagi. Kamis malam, kami menginap di rumah teman Ardi itu.

Jumat sorenya kami mendirikan tenda dan bermalam di semacam camping ground bernama Komodo, tak jauh dari pintu masuk TNGGP. Di sana pemandangannya bagus, dimana-mana hijau. Banyak pepohonan, padang rumput yang lumayan luas, danau lengkap dengan perahunya dan suhu udara yang tentu saja dingin. Setelah mengisi perut dengan mie instan yang dimasak oleh Deli kami mengisi waktu dengan bermain kartu, lalu tak lama kemudian kami tidur.

Komodo Camping Ground

Pagi-pagi sekali kami bangun, membereskan barang-barang dan melipat tenda untuk kemudian memulai pendakian. Ada beberapa titik menarik yang akan kami lewati dalam perjalanan kami menuju ke puncak gunung, diantaranya, Rawa Gayonggong, Air Panas, Camping Ground Kandang Batu dan Kandang Badak.

Kami melalui jalur berbatu yang menanjak. Pada awal pendakian, langkah saya masih ringan. Di kanan kiri hanya hutan yang penuh pepohonan, selama beberapa saat saya melewati jalur dengan bau khas kayu pohon yang segar yang tak saya temukan pada jalur sebelum dan sesudahnya. Semakin lama tanjakan yang kami lewati semakin curam dan jarak antara satu batu dengan batu lainnya semakin panjang. Perlu tenaga ekstra untuk mengangkat kaki dan menjejak satu demi satu bebatuan yang ada. Tak jarang juga kami beristirahat sebentar untuk minum dan mengatur nafas. Rasanya seperti berada dalam satu game yang semakin bertambah level, semakin bertambah pula tantangannya. Tas ransel yang semula tak terlalu berat rasanya menjadi semakin membebani pundak. Sayapun mengeluarkan keringat, meskipun rasanya tetap dingin. Kami banyak berpapasan dengan pendaki lain, saling menyapa dan memberi semangat.

dari kiri: dua pendaki lain yang juga beristirahat, saya, Deli, Ari dan Ardi

Saat melalui Rawa Gayonggong, saya dan kawan-kawan berhenti sebentar untuk berfoto-foto. Tempat ini memang spot yang bagus untuk berfoto. Rawa Gayonggong adalah cekungan bekas kawah mati yang sekarang menjadi rawa yang banyak ditumbuhi rumput gayonggong. Di sepanjang rawa terdapat jembatan panjang yang berkelok-kelok yang terbuat dari besi dan beton.

Setelah melalui Rawa Gayonggong sebelum menuju Air Panas, karena jalurnya yang mulai menguras tenaga, mental saya mulai drop, semakin tak sabar untuk cepat-cepat sampai, ingin segera merebahkan diri, tapi pada kenyataannya perjalanan masih sangat jauh. Semakin dekat tempat tujuan, rasanya malah semakin jauh. Langkah saya mulai pelan, semakin berat rasanya menapakkan kaki pada bebatuan yang tersusun dengan curam itu. Sebentar-sebentar kaki saya mulai kram. Untuk sesaat saya berpikir bahwa kapan-kapan saya tak mau mendaki Gunung ini lagi. Pada saat itu saya tak mungkin berhenti di tengah jalan, apalagi untuk kembali. Bisa saja sebenarnya saya kembali, tapi saya tak rela karena sudah mendaki separuh jalan dengan menguras tenaga. Saya sendiri adalah tipe orang yang meskipun dalam kepala saya terlintas pikiran untuk menyerah, tapi saya tahu saya tidak akan melakukannya.

Ardi yang melihat saya kelelahan dan mulai kehilangan orientasi, mencoba membantu saya dengan menarik tangan saya. Dan kebiasaan saya dalam kondisi yang kehilangan orientasi seperti itu adalah, bercerita tentang apapun yang ada di pikiran saya. Apapun. Entah Ardi paham atau tidak dengan segala yang saya ceritakan. Meskipun saya tahu bahwa banyak bicara malah akan membuat saya bertambah lelah tapi itu membantu saya mengalihkan pikiran saya dari perasaan tak sabar saya yang ingin semua ini segera berakhir. Sempat juga Ardi membawakan tas saya untuk sesaat, tapi saya pikir lagi, dia pasti lelah juga dan membawakan tas saya hanya akan menambah bebannya, jadi saya meminta tas saya kembali untuk saya bawa sendiri.

Setelah melalui Sumber Air Panas, kami sampai di Kandang Batu, kami beristirahat sebentar dan memasak mie instan untuk makan siang. Saya tiduran sambil melihat pepohonan hutan, memperhatikannya sambil mengambil beberapa foto. Sebenarnya kami akan mendirikan tenda di Kandang Batu dan bermalam di situ, tapi tak ada tanah datar yang cukup nyaman. Kami lalu mendaki lagi lebih tinggi menuju Kandang Badak yang tidak terlalu jauh, tapi bagi saya yang kelelahan tetap saja itu jauh sekali, apalagi dengan jalur terjal berbatu dan menanjak itu.

Kondisi saya masih belum pulih. Selain kaki saya yang otot-ototnya kaku, yang untuk melangkah saja perlu tekad yang kuat, dan pundak saya yang pegal-pegal, perasaan ingin menyerah tapi tak mungkin juga masih menghantui. Tapi di sisi lain, saya juga tak ingin menyusahkan teman-teman saya. Sambil masih ditarik oleh Ardi, saya bertanya dengan nada putus asa, “Mana siiiih?” (Kandang Badaknya). Lalu ada seseorang yang berpapasan dengan kami bilang “Sepuluh menit lagi. Beneran!” Dia bilang “beneran!” berarti kemungkinan besar memang benar. Masalahnya setiap kami berpapasan dengan pendaki lain, selalu ada yang bilang, “setengah jam lagi”, “dua belokan lagi”, “satu tanjakan lagi” yang kemungkinan besar itu bohong, hanya untuk memberi semangat orang-orang yang mulai putus asa seperti saya. Baiklah, berarti sebentar lagi sampai, asik!

Benar ternyata apa yang orang itu bilang, tak lama kemudian memang kami sampai di pertigaan Kandang Badak yang jika kita mengambil jalur ke kanan berarti menuju puncak Gede, jika ke kiri berarti ke Puncak Pangrango. Sudah banyak sekali tenda yang berdiri di Kandang Badak. Kami mencari tanah kosong yang datar untuk mendirikan tenda juga. Akhirnya ketemu, meski sedikit miring dan berbatu, tapi lokasinya lumayan dekat dengan sumber air. Setelah tenda berdiri dan memasukkan barang-barang ke dalam tenda, kami masuk juga dan merebahkan diri hingga tertidur sore itu.

Sebentar saja saya tertidur karena tak nyaman rasanya tidur diatas bebatuan yang meskipun kecil-kecil, karena saya kurus jadi tetap saja rasanya sakit. Tak lama kemudian, beberapa saat sebelum matahari terbenam, yang lain juga bangun dari tidurnya. Begitu hari sudah gelap, kami memasak makan malam. Atas usul dari saya, kali ini kami memasak bubur untuk makan malam. Proses memasaknya lama sekali, bumbunya apa lagi kalau bukan garam dan kecap. Berkali-kali kami menambah air untuk mendapatkan tekstur yang pas meskipun setelah matang, masih terasa butiran-butiran beras yang kasar. Yah, namanya juga di gunung, enak atau tidak, suka atau tidak, apapun tetap dimakan.

Tak lama setelah makan, kamipun bersiap untuk tidur. Keesokan paginya kami bangun tak terlalu pagi karena kami sudah memutuskan untuk tak melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Pangrango. Sebenarnya sedih juga karena tinggal sedikit lagi perjalanan untuk mencapai ke puncak. Tapi karena kaki saya sudah sangat kaku, bahkan untuk melangkah pada jalan yang datar saja rasanya sakit, ini karena saya sudah lama tak rutin olahraga, sehingga otot-otot di kaki saya kaget dengan medan yang sebegitu terjalnya. Selain itu saya sudah memesan tiket kereta untuk pulang ke Semarang yang berangkat Minggu malam dari Stasiun Bandung yang kira-kira menghabiskan sekitar 3 jam perjalanan. Jika saja kami mulai mendaki hari Jumat pagi… Ah sudahlah, tak apa. Saya bilang pada kawan saya, tak apa-apa saya tak sampai puncak, nanti kapan-kapan saya ke sini lagi. Iya, saya mau mendaki Gunung Pangrango lagi, saya mau ke Lembah Mandala Wangi yang saya tau pertama kali dari puisinya Soe Hok Gie yang belum sempat saya kunjungi itu. Saya Mau.

atas: Rawa Gayonggong, bawah: perjalanan turun dari  Kandang Badak

Perjalanan turun Gunung tetap melelahkan, meskipun saya berjalan lebih cepat, bahkan tak jarang saya berlari. Mental saya sudah pulih. Saya pikir saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri. Bahkan ada seseorang, sesama pendaki yang mengira saya sudah sering mendaki gunung, karena waktu saya turun terasa cepat sekali. Sebelum turun kami memang sudah sepakat akan menghabiskan waktu tiga jam saja untuk turun. Kata Ari, “Turun tiga jam ya?”. Saya bilang, “Oke!”. Di tengah perjalanan turun hujan yang lumayan deras yang meskipun saya sudah memakai jas hujan, celana dan sepatu saya tetap saja basah. Kami mulai turun kira-kira pukul 10.00 WIB dan sampai di pintu gerbang pukul 02.00 WIB. Padahal kemarin saat naik, kami menghabiskan waktu sekitar enam jam, sepertinya karena saya kelelahan sehingga kecepatan kami lambat.

Dari pintu gerbang ke jalan keluar saya berjalan pelan sekali. Tentu saja karena tadi kaki saya yang masih belum pulih itu saya paksakan untuk berjalan, menuruni bebatuan terjal dan tak jarang sambil berlari. Kawan saya Ardi malah menertawakan saya, padahal saya tahu kakinya sakit juga, meski tak sesakit saya. Kemudian kami menuju rumah orang tua Ardi untuk mandi dan beristirahat sebentar sebelum akhirnya saya diantar Ardi melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

Ada sekitar 3 kali naik turun angkot dan bus, berjalan kaki beberapa meter sebelum akhirnya naik motor menuju Stasiun Bandung. Pas sekali kereta baru akan berangkat ketika saya tiba. Sepanjang perjalanan pulang ke Semarang saya hanya tidur saja sambil sesekali terjaga. Saya tiba di rumah sekitar pukul 6 kemudian istirahat sebentar lalu bersiap untuk berangkat kerja pukul 9.

Selanjutnya selama beberapa hari saya hanya memakai celana kain saja, karena kegiatan memakai dan melepas skinny jeans terlalu menyakitkan untuk kaki saya. Oh, dan saya tak susah tidur lagi malam harinya. Pukul 8 malam saya sudah mengantuk. Mungkin bagi yang susah tidur di malam hari bisa mencoba mendaki gunung yang jalurnya sedikit ekstrim, hehehe.

Meskipun rencana kami untuk sampai puncak gagal, tapi saya tetap senang dan ingin kembali ke sana suatu hari nanti lagi untuk menyelesaikan misi yang belum sempat terpenuhi. Selanjutnya, mungkin saya akan mendaki gunung-gunung lain dulu sebelum kembali ke sana lagi.



Rabu, 12 Maret 2014

Datang Ketika Senja, Pulang Pada Senja Berikutnya



Sore itu kira-kira satu tahun yang lalu saya mendapat SMS dari seorang teman, namanya Natalia. Natalia ini teman saya dari SMA, kami cukup dekat dan sering mengobrol tentang banyak hal. Di SMS itu Natalia mengajak saya untuk menonton pertunjukan teater di Muntilan, tepatnya di sebuah desa di kaki gunung Merapi. Dia bilang, dia belum tahu tempatnya dan tidak tahu jalan. Saya langsung membayangkan sebuah desa di tempat yang pelosok dan harus melalui hutan yang gelap gulita. Natalia bilang, kalau saya mau ikut, dia akan menghubungi dua temannya yang berada di Jogja agar kami berdua bisa menumpang motor mereka. Kebetulan saya sedang tidak bekerja karena baru saja resign beberapa hari sebelumnya. Saya bingung juga karena sebenarnya keesokan harinya saya sudah punya acara. Tapi saya justru tertarik dengan ketidakjelasan rencana dadakan Natalia yang tempat tujuannya sepertinya misterius itu. Saya memang sering menyukai hal-hal yang kurang jelas dan berbau petualangan seperti itu. Jadi karena sepertinya seru, saya memutuskan untuk ikut dan membatalkan acara saya sendiri.

Waktu itu rencananya kami akan berangkat sekitar jam 12 siang, tapi karena hujan,  kami baru berangkat jam dua. Perjalanan dari Semarang ke Jogja dengan bus terasa lama sekali. Kebetulan sedang ada perbaikan jalan di jalur itu sehingga macet dan bus mengambil jalan memutar melewati jalur yang lebih jauh. Kami baru tiba di Terminal Jombor di saat senja tiba.

Sesampainya di terminal, kami menunggu dua orang teman Natalia yang dengan baik hati mau mengantarkan kami. Langit sudah gelap dan lampu-lampu di Terminal baru saja menyala ketika teman Natalia yang bernama Danang tiba. Natalia memperkenalkan Danang pada saya lalu kami bertiga menunggu seorang lagi teman Natalia yang bernama Nunu sambil memesan makanan di warung makan di terminal tersebut. Nunu baru datang kira-kira satu jam kemudian. Kami bersalaman, kemudian dia memesan makanan. Sementara itu kami masih belum memutuskan apakah akan tetap datang menonton teater di desa itu atau tidak karena menurut jadwal, acara dimulai pukul 19.30 WIB, artinya setengah jam lagi dan kemungkinan saat kami sampai, acara sudah separuh jalan atau mungkin sudah selesai, ditambah lagi tak satupun diantara kami yang tahu jalan menuju ke sana. Natalia sendiri, yang mengajak kami hanya tahu ancer-ancernya saja. Tadinya kami berpikir untuk menonton acara lain di dalam kota. Saya sendiri sibuk scrolling timeline Twitter, mencari-cari event dalam kota yang mungkin bisa kami datangi. Tapi, pada akhirnya kami memutuskan untuk datang ke pertunjukan teater di desa bernama Tutup Ngisor tersebut.

Kami berangkat kira-kira pukul delapan, menuju utara, ke arah Magelang. Natalia membonceng Danang dan saya membonceng Nunu yang ternyata footstep motor untuk pembonceng tidak dipasang sehingga tidak ada sesuatu yang bisa menopang kaki saya dengan nyaman. Natalia menawarkan saya untuk bertukar boncengan, tapi karena kaki kiri Natalia belum sembuh sepenuhnya dari patah tulang akibat jatuh dari tangga, saya menolaknya. Pegal juga kaki saya karena perjalanan lumayan jauh. Di perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk menanyakan arah jalan. Sempat sedikit tersesat juga, tapi tak lama kami kembali lagi ke jalan yang benar. Bayangan saya tentang hutan yang gelap gulita ternyata salah karena sepanjang perjalanan hanya ada rumah-rumah, sawah, sungai dan Gunung Merapi yang terlihat samar. Dan setelah saya sampai, desa itu bukanlah desa pelosok di tengah hutan seperti yang saya bayangkan.

Kira-kira pukul 21.30 WIB kami sampai di desa tersebut, suasana terlihat ramai, tapi ternyata acara belum juga dimulai. Senang sekali rasanya berada di desa di kaki gunung yang berhawa dingin. Selain itu karena tak terlalu banyak polusi cahaya seperti di kota, bintang-bintang di langit malam terlihat jelas sekali. Bagus. Saya masih ingat ketika para penduduk desa berkata sumuk (gerah), padahal menurut saya dan Natalia, udara di sana dingin sekali. Ya maklum saja kami kan terbiasa tinggal di kota yang panas.

Pertunjukan teater dilaksanakan di semacam pendopo yang tidak terlalu besar. Tak lama setelah kami sampai, pertunjukan dimulai. Saya lupa judulnya, tapi itu adalah cerita yang diadaptasi dari karya William Shakespear yang dimainkan oleh anak-anak SMA di desa itu. Sutradara pertunjukan ini adalah seorang wanita dari Perancis, dan sebenarnya itulah alasan yang membuat Natalia tertarik ingin menonton dan mengajak kami. Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 12 malam kami kembali ke Jogja.

Perjalanan dari Muntilan ke Jogja lumayan cepat dan lancar,tentu saja karena kami sudah mengetahui jalannya jadi tak perlu tersesat lagi. Tadinya saya dan Natalia berencana menginap di rumah saudara Natalia di Magelang, tapi akhirnya kami menginap di rumah kontrakan Nunu. Sebelum menginap di rumah Nunu kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah lama berputar-putar, kami akhirnya memilih untuk makan Ketoprak di Jalan Seturan. Sambil makan kami mengobrol tentang rencana pagi ini akan ke pantai di Gunung Kidul atau di Goa Pindul sambil berpikir apakah kami bisa bangun untuk mengejar matahari terbit, sementara perjalanan ke sana lumayan jauh, sekitar 2-3 jam. Tentu saja rencana ini batal karena kami baru pulang jam 2 pagi dan tidur menjelang subuh sehingga ketika bangun, hari sudah siang.

Siang harinya, selesai mandi dan bersiap-siap kami mencari warung makan untuk mengisi perut kami terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami memutuskan untuk mengunjungi museum yang berada di daerah Kaliurang yang katanya bagus, namanya Museum Ullen Sentalu. Perjalanan dari Jogja kota menuju Kaliurang kira-kira sekitar satu jam. Oh iya, saya tidak lagi membonceng motor Nunu yang tidak ber-footstep itu. Nunu mengendarai motor satunya lagi, semacam Honda CB atau sejenisnya, saya lupa. Tentu saja motor itu ada footstep-nya di bagian pembonceng jadi kaki saya tidak terlalu pegal, tapi sebagai gantinya, sadel tempat memboncengnya terlalu kecil sehingga gantian pantat saya yang terasa pegal dan kaku.

Sesampainya di halaman depan museum, terlihat pintu masuk yang dihiasi akar-akar gantung, seperti gua dalam cerita dongeng yang menyimpan harta karun di dalamnya, sejuk dan asri karena banyak pepohonan. Saya pikir pembangunan Museum itu  menyesuaikan kontur tanah yang naik turun sehingga terlihat alami. Kami lalu membeli tiket masuk dan mulai menjelajahi isi museum deitemani Tour Guide. Isi museum tersebut adalah tentang sejarah Keraton Solo dan Yogyakarta. Dari mulai cerita-cerita tentang keluarga kerajaan, kisah cinta para puteri Keraton, kesenian sampai adat istiadat. Bangunan Museumnya bagus, saya suka. Di sana kami juga mendapat minuman yang pada jaman dahulu diramu oleh salah satu Permaisuri Keraton. Rasanya segar dan hangat, terbuat dari rebusan rempah-rempah tradisional. Selesai tour, kami berfoto-foto sebentar lalu pulang.

Saya di depan pintu masuk Ullen Sentalu

Natalia dan Saya

Foto dulu di depan replika panil Candi Borobudur

Nunu dan Danang foto bareng 'Dum-Dum'

Meski rambut lepek, tetep selfie :p
Hari sudah sore ketika kami meninggalkan Museum Ullen Sentalu. Kami buru-buru pulang karena takut ketinggalan bus. Danang dan Nunu mengantarkan kami kembali ke terminal Jombor. Untung masih ada bus yang belum berangkat. Setelah membeli tiket, saya dan Natalia berpamitan kepada Danang dan Nunu dan mengucapkan terima kasih. Bus mulai berangkat ketika matahari hampir terbenam. Perjalanan terasa lebih cepat, tidak macet dan bus tak mengambil jalan memutar. Saya tiba di rumah sekitar pukul 9 malam dan langsung mandi dan tidur. Esoknya kaki saya pegal-pegal tapi saya merasa senang. Melakukan perjalanan selalu terasa menyenangkan apalagi ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi, terlebih lagi jika kita melakukannya bersama teman yang kita suka, jadi karena keseruannya, kita tak akan pernah lupa.