Terakhir
kita bertemu, aku menyesal waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya aku bisa memperlambatnya. Maksudku, aku bisa saja mencari alasan untuk bersamamu lebih lama. Harusnya aku
mengajakmu menemaniku makan saat itu, karena sebelumnya perutku lapar sekali. Lagi
pula langit sedang gerimis, pasti suasana akan terasa romantis. Tapi saat kita
berjalan berdua di waktu yang singkat itu, aku tak ingat kalau aku sedang
sangat lapar. Aku bahkan tak ingat untuk meminta nomor teleponmu. Aku juga tak
memperhatikan ekspresi wajahmu. Rasanya aku tak peduli apapun saat itu, karena
terlalu menikmati momen itu. Untuk sesaat aku lupa diri. Sampai saat aku
menulis ini, waktu singkat itu sudah kuputar ulang berkali-kali.
Semarang, 2014
Selasa, 25 November 2014
Di Pikiranku
Aku sering berpikir, membayangkan tanpa sengaja tiba-tiba bertemu denganmu di
jalan saat kau sedang berjalan-jalan sendirian, lalu dengan spontan kita memutuskan untuk makan siang bersama. Sambil
menunggu pesanan, kita akan mengobrol tentang banyak hal. Saat pesanan sudah
datang, kita tetap mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Sampai tak
terasa makanan kita sudah habis, kita tetap mengobrol, sambil tertawa-tawa
bahagia. Senang sekali bertemu denganmu siang itu. Di Pikiranku.
Semarang, 2014
Semarang, 2014
Selasa, 04 November 2014
Percakapan Malam-Malam
Kenapa malam?
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.
Karena saat itu seharusnya kita tidur
tapi malah sering tak merasakan kantuk.
Kenapa malam?
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.
Karena malam adalah dimensi waktu
yang terasa seperti milik kita sendiri.
Kenapa malam?
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.
Karena itu adalah satu-satunya waktu
dimana aku bisa bebas menjadi diriku,
dan kau bebas menjadi dirimu.
Kenapa malam?
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.
Karena berbicara denganmu
semacam mendengarkan dongeng sebelum tidur,
jika bukan aku sendiri yang menceritakan dongengnya.
Kenapa malam?
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.
Karena nada suaramu
berbeda pada malam hari
dan telingaku sering lapar ingin mendengarnya.
Kenapa malam?
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.
Kau tau? Di kepalaku tinggal beberapa makhluk
dan mereka ribut sekali pada malam hari.
Tapi aku sering mengabaikan mereka
dan memilih berbicara denganmu.
Kenapa malam?
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.
Karena malam bisa menghubungkanku dengan banyak hal.
Jika kau tak ada, entah ke mana,
aku akan tetap melakukan percakapan malam-malam
dengan isi kepalaku atau berjalan-jalan
menyelami isi kepala orang-orang tanpa mereka sadari.
Kenapa malam?
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.
Karena itu adalah waktu
di mana aku bisa menyampaikan hampir semua hal.
Kelak jika suatu malam kita tak berbicara lagi,
lalu turun hujan, ingatlah, dia datang membawa pesanku.
Kau bisa berbicara dengannya tentangku.
Semarang, 2014
Kamis, 25 September 2014
Awal Mula Tulisan Alay (Versi Saya)
Saya baru membaca tulisan @sepatumerah tentang penulisan
jaman sekarang yang mengkombinasikan huruf besar kecil dan angka yang menjadi
trend di kalangan remaja. Tulisannya bisa dibaca di sini. Nah, dari tulisan itu, saya jadi ingin menuliskan tulisan ini. Kebetulan beberapa waktu lalu saya juga membahas soal ini bersama seorang
teman. Saya jelaskan padanya mengenai asal-usul tulisan semacam itu dari
pengalaman saya sendiri.
Dulu saya juga pernah mengalami menulis dengan cara seperti
itu. Kalau saya menulis di kertas dengan komposisi huruf besar dan kecil secara
bergantian memang untuk alasan gaya-gayaan saja, biar unyu. Itu juga sebelum
tulisan semacam itu dikatai ‘alay’.
Tapi saat menulis di handphone saya menggunakan komposisi
tersebut agar lebih cepat saja menulisnya. Sebenarnya ini efek keypad 3x4 yang
kita gunakan dulu sebelum ada keypad 'qwerty'. Bahwa huruf 'a', 'b' dan 'c'
terletak di satu tombol yang sama. Jika saya ingin menulis kata 'babi'
misalnya, untuk mengetik tiga huruf yang sama dalam satu tombol keypad akan memakan
banyak waktu yaitu setelah mengetik huruf 'b' harus menunggu beberapa detik untuk
menulis huruf 'a' dan seterusnya, jadi biar mempercepat saya akan menulismya
dengan menekan capslock atau mengganti huruf 'a' dengan angka '4'. Seperti juga
kalau saya ingin menulis 'no' karena huruf 'n' dan 'o' terletak di satu tombol
keypad yang sama, jadi setelah menuliskan huruf 'n' saya akan menggunakan huruf
'o' kapital atau angka 'nol'. Biar cepat.
Mungkin dulu awalnya seperti itu, sampai pada akhirnya
menjadi trend tanpa tahu maksud yang sebenarnya sampai-sampai ditambah dengan
huruf yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga membuatnya
jadi tak nyaman dibaca seperti "cH3muNgUudh eaa qAq4a" yang
sebenarnya bisa dituliskan dengan "semangat ya kakak".
Pada akhirnya setelah tulisan seperti itu menjadi ‘alay’
meski saya menulis pesan menggunakan hp dengan keypad 3x4, saya berusaha untuk
menulis dengan huruf-huruf yang normal karena saya tak mau dianggap ‘alay’. Hehe.
Itu dari pengalaman saya saja sih. Mungkin beda
orang, beda juga motivasinya menulis dengan cara seperti itu. Kalau sekarang, karena
saya menggunakan keypad qwerty jadi kalau menulis dengan komposisi huruf besar-kecil ditambah angka-angka bukannya mempercepat tapi malah jadi memperlambat.
Rabu, 17 September 2014
Angin
Sedari mula aku menemukanmu di belantara, aku tahu kau sungguh
berbeda. Hangat dan dingin pada saat yang sama. Mendadak aku merasa beberapa bagian
usang dari diriku terlepas dari raga. Hanya saja saat itu aku tak merasa
merdeka. Kau angin kecil, lembut menerpa sukma saat kemarau mendahaga. Sepasang
mataku terpejam, merasakan hembusan. Kau tak selalu terlihat, namun dapat kudengar
dan rasakan.
Saat musim panas datang, matahari terasa terik menantang.
Aku ingin kau datang membawa hujan. Sebelum aku meranggas dan daun-daunku
berguguran. Sesaat kemudian kaupun datang, dengan suara lirih menenangkan. Kau
tak membawa hujan, tapi melihatku kegerahan, hembusan kecilmu perlahan
mengencang. Tanpa sadar, kau berubah membadai, membuatku hampir tumbang.
Sejak saat itu kaupun menghilang. Aku menunggumu di tanah
lapang, tempat kita biasa bertemu. Sendirian. Hari demi hari kau tak pernah
datang. Aku menunggu hingga perlahan kaki-kaki kecilku semakin erat
mencengkeram jagat. Kemana kau angin kecilku? Aku kini tumbuh dewasa,
kaki-kakiku pun tumbuh kuat. Aku tak akan tumbang jika kau datang dan meniupku
kencang.
Semarang, 2014
Jumat, 23 Mei 2014
Tempat Impian dan Secuil Harapan
![]() |
| Sumber foto : http://favim.com/image/347709/ |
Di hari Minggu yang cerah ini, aku tak ada rencana untuk pergi ke manapun.
Sedang ingin bermalas-malasan saja di kamar sambil mendengarkan playlist lagu
favorit. Lagu berjudul ‘Come Back Be Here’ dari Taylor Swift mengalun dari
player yang sedang kuputar.
And this is when the
feeling sinks in,
I don't wanna miss you
like this,
Come back... be here,
come back... be here.
I guess you're in
London today,
I don't wanna need you
this way,
Come back... be here,
come back... be here.
This is falling in
love in the cruelest way,
This is falling for
you and you are worlds away.
Lirik lagu itu mengingatkanku padanya, pada setiap detik aku
menjalani hari-hariku semenjak aku bertemu dengannya. Terasa menyebalkan. Aku
baru menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya setelah beberapa lama. Setelah aku
merasakan kehilangan yang membuat perasaanku tak nyaman. Dan bodohnya, aku
bahkan tak menanyakan bagaimana aku bisa menghubunginya, tak meminta nomor
teleponnya, atau apapun yang bisa memberiku informasi tentangnya. Aku hanya
tahu nama panggilannya saja saat kami berkenalan.
Aku bertemu dengannya ketika aku sedang melakukan perjalanan ke Jakarta
untuk mengunjungi seorang kawan. Saat itu aku tak tahu bahwa kelak aku akan
merindukan hari itu. Kami duduk sebangku. Awalnya karena melihatku kesusahan menaruh
tas di bagian atas tempat duduk kami, dia membantuku. Kami mulai mengobrol dan
entah kenapa aku menyukainya. Mengobrol dengan orang asing kadang menyenangkan,
apalagi jika kita memiliki ketertarikan yang sama tentang sesuatu dengan orang
itu. Dia juga akan ke Jakarta untuk mengurus sesuatu di sana. Kemudian aku tahu bahwa beberapa hari lagi dia akan kembali ke Inggris, tepatnya di kota
London untuk kuliah, setelah beberapa minggu berlibur di tempat asalnya,
Surabaya. Mendengar kata ‘Inggris’, hatiku berteriak senang. What?? Inggris?! Tempat
yang sangat-sangat ingin kudatangi, yang kutulis pada urutan pertama di bucket list-ku! Aku
semakin tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memperhatikan benar caranya
bercerita, ekspresi wajahnya dan matanya yang berbinar penuh semangat. Tiba-tiba
udara di sekitarku mulai menghangat, aku baru menyadarinya ketika beberapa hari
sesudahnya kejadian itu kuingat-ingat. Hari-hari sesudah pertemuan itu aku
merasa bahagia, rasanya berbunga-bunga seperti sedang jatuh cinta meski belum
sadar sepenuhnya karena apa. Perasaan bahagia itu tak bertahan lama, karena
semakin hari aku mengingat pertemuanku dengannya aku menjadi semakin ingin
mengulangnya. Sedikit demi sedikit muncul harapan untuk bertemu dengannya lagi
dan tak mungkin kuabaikan karena semakin hari rasanya menjadi semakin
menyesakkan. Hidupku menjadi tak setenang sebelum aku bertemu dengannya. Aku
merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya lagi, mengobrol dan menghabiskan
waktu lebih banyak lagi bersamanya. Rasanya memang tak masuk akal, aku tahu,
tapi bukankah cinta memang seperti itu?
Kupikir untuk apa merasakan jatuh cinta jika tak
diungkapkan. Banyak orang berharap bisa jatuh cinta, dan aku beruntung bisa
merasakannya sekarang. Orang-orang menunggu kesempatan seperti ini, saat dimana
kita bertemu seseorang dan hati kita kemudian mengatakan, dialah orangnya,
dialah yang kau cari selama ini. Lalu ketika hal yang aku tunggu-tunggu itu
datang padaku, aku tahu aku tak boleh mengabaikannya. Aku tak boleh
melewatkannya. Ya, aku harus memberitahunya. Aku harus mengejar cintaku, meski
aku belum tahu apakah dia menyukaiku. Aku tak peduli, yang kutahu sekarang
adalah aku harus melakukannya. Hatiku mengatakan aku harus pergi ke Inggris dan
mengungkapkan semuanya. Aku tak tahu di sudut mana dia berada di kota London,
tapi aku yakin akan menemukannya.
Dari dulu aku sangat ingin mengunjungi Inggris, aku ingin pergi
ke tempat-tempat menakjubkan di sana yang seringkali hanya bisa aku nikmati
melalui televisi atau internet. Aku tahu suatu hari, entah kapan, aku akan
berada di sana. Dan sekarang aku tak percaya bahwa seseorang yang tak bisa
seharipun kulewati tanpa memikirkannya juga ada di sana. Ini membuat
keinginanku untuk mengunjungi Inggris semakin besar setiap harinya. Oh Tuhan, ini
kebetulan atau apa? Kurasa aku mulai gila. Aku sudah membayangkan diriku berada
di sana, di Inggris bersamanya. Kami menghabiskan hari-hari dengan
berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat impianku di Inggris. Berjalan-jalan bersamanya
menyusuri Trafalgar Square sambil saling bercerita dan tertawa-tawa bahagia.
Kemudian berkeliling menggunakan classic London bus, bus tingkat berwarna merah
yang menjadi salah satu ikon kota London, sambil menikmati fish and chips, makanan tradisional asli Inggris yang terbuat dari
ikan dan kentang. Sebagai penikmat musik yang hampir setiap hari mendengarkan
lagu-lagu The Beatles yang sampai sekarang musiknya tak pernah lekang dimakan
jaman, tentu saja aku tak akan melewatkan untuk berkunjung ke The Beatles Story,
museum yang berisi segala hal tentang The Beatles itu. Lalu tentu saja Old
Trafford Stadium adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi. Sebagai
penggemar militan Manchester United, aku harus ke sana. Harus. Pasti akan
sangat seru dan tentu saja semua itu akan lebih menyenangkan karena aku
melakukannya bersama seseorang yang dapat membuatku merasa nyaman. Kemudian kami
akan menghabiskan sore hari di tepi sungai Thames dan menikmati langit berwarna
oranye saat matahari terbenam dengan latar Westminster Bridge dan Big Ben. Ah,
romantis sekali… sampai tiba-tiba aku tersadar dari lamunan dan merasakan pedih, rasa sesak di dada muncul kembali. Dengan samar terdengar salah satu bait lagu berjudul ‘Real
Love’ dari The Beatles dari music player-ku.
Thought I’d been in
love before
But in my heart, I
wanted more
Seems like all I
really was doing
Was waiting for you
Oh yes, I waited all my life for a real love like this.
Now I just have to reach and grab it. Inggris, tunggu kedatanganku!
Jumat, 09 Mei 2014
Almost Pangrango
![]() |
| Gunung Pangrango yang tertutup kabut |
Selagi belum terlalu lama berlalu saya ingin menuliskan
cerita liburan saya pada bulan April yang sudah saya tunda-tunda terus. Liburan
akhir pekan yang panjang April lalu saya isi dengan mendaki gunung di Jawa
Barat, Gunung Pangrango, dengan ketinggian 3019 mdpl. Gunung Pangrango adalah
gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai dengan ketinggian
3078 mdpl. Saya memang sudah lama ingin mendaki tapi selama ini belum ada
kesempatan untuk mewujudkannya. Kebetulan seorang kawan saya, Ardi yang
mempunyai hobi mendaki mengajak saya. Tentu saja saya penasaran dan ingin
mencobanya meski awalnya sedikit ragu. Sebelumnya, akhir tahun lalu, Ardi juga
mengajak saya mendaki Gunung Semeru, tapi karena pekerjaan saya sedang banyak,
maka saya menolaknya.
Rencana awal, kami akan mendaki pada tanggal 5-6 April 2014,
tapi ternyata kuota sudah penuh untuk tanggal itu, akhirnya mundur menjadi
tanggal 12-13 April 2014 yang pada akhirnya gagal juga. Kawan saya itu
kelihatanya sudah sedikit putus asa karena dua kali rencananya gagal. Waktu itu
saya santai-santai saja karena saya belum membeli tiket kereta. Sampai pada
akhirnya, Ardi memberi tahu saya bahwa kami bisa mendaki akhir minggu ketiga di
bulan April, tanggal 18-19 April 2014. Kebetulan saat itu hari Jumatnya adalah
hari libur nasional. Saya bilang, Oke.
Gunung Pangrango berada di kawasan Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango (TNGGP). Ada 6 pintu wisata menuju kawasan TNGGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri,
Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Saya dan beberapa kawan mendaki
Gunung Pangrango melalui jalur Cibodas. Cibodas berjarak 100 km dari Jakarta.
Saya yang berdomisili di Semarang dan menuju Jakarta menggunakan kereta pada
Kamis Pagi. Sampai di Stasuin Jakarta Pasar Senen pukul 15.00 WIB. Keluar dari
Stasiun Pasar Senen, saya langsung naik bus menuju Terminal Kampung Rambutan
dimana Ardi sudah menunggu saya di sana.
Dari
Terminal Kampung Rambutan, saya dan Ardi langsung naik Bus menuju Puncak Bogor.
Perjalanan kira-kira sekitar 3 jam. Jalanan lumayan padat karena long weekend. Di perjalanan pemandangan
lumayan bagus. Larik-larik awan berpadu dengan senja yang kekuningan menghiasi
penampakan Gunung Salak di kanan jalan tol Jagorawi. Saya juga sempat melihat
penampakan Gunung Gede dan Pangrango di sebelah kiri jalan yang samar-samar
tertutup awan dan kabut sebelum langit berubah gelap. Sisanya? Saya tidur
sampai Ardi membangunkan saya karena sudah hampir sampai di sebuah daerah
bernama Cimacan.
Sesampainya
di Cimacan, Ardi mengajak saya ke rumah salah satu temannya dimana kawan-kawan
lain yang akan ikut mendaki sedang packing
dan mempersiapkan diri. Karena beberapa kali tertunda, tim pendakian kami
menyusut menjadi empat orang saja, Ardi, Ari, Deli dan Saya. Jadi, rencananya kami akan berangkat Jumat pagi, tapi karena satu dan
lain hal, jadinya kami mulai mendaki Sabtu pagi. Kamis malam, kami menginap di
rumah teman Ardi itu.
Jumat
sorenya kami mendirikan tenda dan bermalam di semacam camping ground bernama Komodo,
tak jauh dari pintu masuk TNGGP. Di sana pemandangannya bagus, dimana-mana
hijau. Banyak pepohonan, padang rumput yang lumayan luas, danau lengkap dengan
perahunya dan suhu udara yang tentu saja dingin. Setelah mengisi perut dengan
mie instan yang dimasak oleh Deli kami mengisi waktu dengan bermain kartu, lalu
tak lama kemudian kami tidur.
![]() |
| Komodo Camping Ground |
Pagi-pagi
sekali kami bangun, membereskan barang-barang dan melipat tenda untuk kemudian
memulai pendakian. Ada beberapa titik menarik yang akan kami lewati dalam
perjalanan kami menuju ke puncak gunung, diantaranya, Rawa Gayonggong, Air
Panas, Camping Ground Kandang Batu dan Kandang Badak.
Kami
melalui jalur berbatu yang menanjak. Pada awal pendakian, langkah saya masih
ringan. Di kanan kiri hanya hutan yang penuh pepohonan, selama beberapa saat
saya melewati jalur dengan bau khas kayu pohon yang segar yang tak saya temukan
pada jalur sebelum dan sesudahnya. Semakin lama tanjakan yang kami lewati
semakin curam dan jarak antara satu batu dengan batu lainnya semakin panjang.
Perlu tenaga ekstra untuk mengangkat kaki dan menjejak satu demi satu bebatuan
yang ada. Tak jarang juga kami beristirahat sebentar untuk minum dan mengatur
nafas. Rasanya seperti berada dalam satu game yang semakin bertambah level,
semakin bertambah pula tantangannya. Tas ransel yang semula tak terlalu berat
rasanya menjadi semakin membebani pundak. Sayapun mengeluarkan keringat,
meskipun rasanya tetap dingin. Kami banyak berpapasan dengan pendaki lain,
saling menyapa dan memberi semangat.
![]() |
| dari kiri: dua pendaki lain yang juga beristirahat, saya, Deli, Ari dan Ardi |
Saat
melalui Rawa Gayonggong, saya dan kawan-kawan berhenti sebentar untuk
berfoto-foto. Tempat ini memang spot yang bagus untuk berfoto. Rawa Gayonggong
adalah cekungan bekas kawah mati yang sekarang menjadi rawa yang banyak
ditumbuhi rumput gayonggong. Di sepanjang rawa terdapat jembatan panjang yang
berkelok-kelok yang terbuat dari besi dan beton.
Setelah
melalui Rawa Gayonggong sebelum menuju Air Panas, karena jalurnya yang mulai
menguras tenaga, mental saya mulai drop, semakin tak sabar untuk cepat-cepat
sampai, ingin segera merebahkan diri, tapi pada kenyataannya perjalanan masih
sangat jauh. Semakin dekat tempat tujuan, rasanya malah semakin jauh. Langkah
saya mulai pelan, semakin berat rasanya menapakkan kaki pada bebatuan yang
tersusun dengan curam itu. Sebentar-sebentar kaki saya mulai kram. Untuk sesaat
saya berpikir bahwa kapan-kapan saya tak mau mendaki Gunung ini lagi. Pada saat
itu saya tak mungkin berhenti di tengah jalan, apalagi untuk kembali. Bisa saja
sebenarnya saya kembali, tapi saya tak rela karena sudah mendaki separuh jalan
dengan menguras tenaga. Saya sendiri adalah tipe orang yang meskipun dalam
kepala saya terlintas pikiran untuk menyerah, tapi saya tahu saya tidak akan
melakukannya.
Ardi
yang melihat saya kelelahan dan mulai kehilangan orientasi, mencoba membantu
saya dengan menarik tangan saya. Dan kebiasaan saya dalam kondisi yang
kehilangan orientasi seperti itu adalah, bercerita tentang apapun yang ada di
pikiran saya. Apapun. Entah Ardi paham atau tidak dengan segala yang saya
ceritakan. Meskipun saya tahu bahwa banyak bicara malah akan membuat saya
bertambah lelah tapi itu membantu saya mengalihkan pikiran saya dari perasaan
tak sabar saya yang ingin semua ini segera berakhir. Sempat juga Ardi
membawakan tas saya untuk sesaat, tapi saya pikir lagi, dia pasti lelah juga
dan membawakan tas saya hanya akan menambah bebannya, jadi saya meminta tas
saya kembali untuk saya bawa sendiri.
Setelah
melalui Sumber Air Panas, kami sampai di Kandang Batu, kami beristirahat
sebentar dan memasak mie instan untuk makan siang. Saya tiduran sambil melihat
pepohonan hutan, memperhatikannya sambil mengambil beberapa foto. Sebenarnya
kami akan mendirikan tenda di Kandang Batu dan bermalam di situ, tapi tak ada
tanah datar yang cukup nyaman. Kami lalu mendaki lagi lebih tinggi menuju
Kandang Badak yang tidak terlalu jauh, tapi bagi saya yang kelelahan tetap saja
itu jauh sekali, apalagi dengan jalur terjal berbatu dan menanjak itu.
Kondisi
saya masih belum pulih. Selain kaki saya yang otot-ototnya kaku, yang untuk
melangkah saja perlu tekad yang kuat, dan pundak saya yang pegal-pegal,
perasaan ingin menyerah tapi tak mungkin juga masih menghantui. Tapi di sisi
lain, saya juga tak ingin menyusahkan teman-teman saya. Sambil masih ditarik
oleh Ardi, saya bertanya dengan nada putus asa, “Mana siiiih?” (Kandang
Badaknya). Lalu ada seseorang yang berpapasan dengan kami bilang “Sepuluh menit
lagi. Beneran!” Dia bilang “beneran!” berarti kemungkinan besar memang benar.
Masalahnya setiap kami berpapasan dengan pendaki lain, selalu ada yang bilang,
“setengah jam lagi”, “dua belokan lagi”, “satu tanjakan lagi” yang kemungkinan
besar itu bohong, hanya untuk memberi semangat orang-orang yang mulai putus asa
seperti saya. Baiklah, berarti sebentar lagi sampai, asik!
Benar
ternyata apa yang orang itu bilang, tak lama kemudian memang kami sampai di
pertigaan Kandang Badak yang jika kita mengambil jalur ke kanan berarti menuju
puncak Gede, jika ke kiri berarti ke Puncak Pangrango. Sudah banyak sekali
tenda yang berdiri di Kandang Badak. Kami mencari tanah kosong yang datar untuk
mendirikan tenda juga. Akhirnya ketemu, meski sedikit miring dan berbatu, tapi
lokasinya lumayan dekat dengan sumber air. Setelah tenda berdiri dan memasukkan
barang-barang ke dalam tenda, kami masuk juga dan merebahkan diri hingga
tertidur sore itu.
Sebentar
saja saya tertidur karena tak nyaman rasanya tidur diatas bebatuan yang
meskipun kecil-kecil, karena saya kurus jadi tetap saja rasanya sakit. Tak lama
kemudian, beberapa saat sebelum matahari terbenam, yang lain juga bangun dari
tidurnya. Begitu hari sudah gelap, kami memasak makan malam. Atas usul dari
saya, kali ini kami memasak bubur untuk makan malam. Proses memasaknya lama
sekali, bumbunya apa lagi kalau bukan garam dan kecap. Berkali-kali kami
menambah air untuk mendapatkan tekstur yang pas meskipun setelah matang, masih
terasa butiran-butiran beras yang kasar. Yah, namanya juga di gunung, enak atau
tidak, suka atau tidak, apapun tetap dimakan.
Tak
lama setelah makan, kamipun bersiap untuk tidur. Keesokan paginya kami bangun
tak terlalu pagi karena kami sudah memutuskan untuk tak melanjutkan perjalanan
ke puncak gunung Pangrango. Sebenarnya sedih juga karena tinggal sedikit lagi
perjalanan untuk mencapai ke puncak. Tapi karena kaki saya sudah sangat kaku,
bahkan untuk melangkah pada jalan yang datar saja rasanya sakit, ini karena
saya sudah lama tak rutin olahraga, sehingga otot-otot di kaki saya kaget
dengan medan yang sebegitu terjalnya. Selain itu saya sudah memesan tiket
kereta untuk pulang ke Semarang yang berangkat Minggu malam dari Stasiun
Bandung yang kira-kira menghabiskan sekitar 3 jam perjalanan. Jika saja kami
mulai mendaki hari Jumat pagi… Ah sudahlah, tak apa. Saya bilang pada kawan
saya, tak apa-apa saya tak sampai puncak, nanti kapan-kapan saya ke sini lagi.
Iya, saya mau mendaki Gunung Pangrango lagi, saya mau ke Lembah Mandala Wangi
yang saya tau pertama kali dari puisinya Soe Hok Gie yang belum sempat saya
kunjungi itu. Saya Mau.
![]() |
| atas: Rawa Gayonggong, bawah: perjalanan turun dari Kandang Badak |
Perjalanan
turun Gunung tetap melelahkan, meskipun saya berjalan lebih cepat, bahkan tak
jarang saya berlari. Mental saya sudah pulih. Saya pikir saya berhasil
mengalahkan diri saya sendiri. Bahkan ada seseorang, sesama pendaki yang
mengira saya sudah sering mendaki gunung, karena waktu saya turun terasa cepat
sekali. Sebelum turun kami memang sudah sepakat akan menghabiskan waktu tiga
jam saja untuk turun. Kata Ari, “Turun tiga jam ya?”. Saya bilang, “Oke!”. Di
tengah perjalanan turun hujan yang lumayan deras yang meskipun saya sudah
memakai jas hujan, celana dan sepatu saya tetap saja basah. Kami mulai turun
kira-kira pukul 10.00 WIB dan sampai di pintu gerbang pukul 02.00 WIB. Padahal
kemarin saat naik, kami menghabiskan waktu sekitar enam jam, sepertinya karena
saya kelelahan sehingga kecepatan kami lambat.
Dari
pintu gerbang ke jalan keluar saya berjalan pelan sekali. Tentu saja karena tadi
kaki saya yang masih belum pulih itu saya paksakan untuk berjalan, menuruni
bebatuan terjal dan tak jarang sambil berlari. Kawan saya Ardi malah
menertawakan saya, padahal saya tahu kakinya sakit juga, meski tak sesakit
saya. Kemudian kami menuju rumah orang tua Ardi untuk mandi dan beristirahat
sebentar sebelum akhirnya saya diantar Ardi melanjutkan perjalanan menuju
Bandung.
Ada
sekitar 3 kali naik turun angkot dan bus, berjalan kaki beberapa meter sebelum
akhirnya naik motor menuju Stasiun Bandung. Pas sekali kereta baru akan
berangkat ketika saya tiba. Sepanjang perjalanan pulang ke Semarang saya hanya
tidur saja sambil sesekali terjaga. Saya tiba di rumah sekitar pukul 6 kemudian
istirahat sebentar lalu bersiap untuk berangkat kerja pukul 9.
Selanjutnya
selama beberapa hari saya hanya memakai celana kain saja, karena kegiatan
memakai dan melepas skinny jeans terlalu menyakitkan untuk kaki saya. Oh, dan
saya tak susah tidur lagi malam harinya. Pukul 8 malam saya sudah mengantuk.
Mungkin bagi yang susah tidur di malam hari bisa mencoba mendaki gunung yang
jalurnya sedikit ekstrim, hehehe.
Meskipun
rencana kami untuk sampai puncak gagal, tapi saya tetap senang dan ingin
kembali ke sana suatu hari nanti lagi untuk menyelesaikan misi yang belum
sempat terpenuhi. Selanjutnya, mungkin saya akan mendaki gunung-gunung lain
dulu sebelum kembali ke sana lagi.
Rabu, 12 Maret 2014
Datang Ketika Senja, Pulang Pada Senja Berikutnya
Sore itu kira-kira satu tahun yang lalu saya mendapat SMS
dari seorang teman, namanya Natalia. Natalia ini teman saya dari SMA, kami
cukup dekat dan sering mengobrol tentang banyak hal. Di SMS itu Natalia
mengajak saya untuk menonton pertunjukan teater di Muntilan, tepatnya di sebuah
desa di kaki gunung Merapi. Dia bilang, dia belum tahu tempatnya dan tidak tahu
jalan. Saya langsung membayangkan sebuah desa di tempat yang pelosok dan harus
melalui hutan yang gelap gulita. Natalia bilang, kalau saya mau ikut, dia akan
menghubungi dua temannya yang berada di Jogja agar kami berdua bisa menumpang
motor mereka. Kebetulan saya sedang tidak bekerja karena baru saja resign
beberapa hari sebelumnya. Saya bingung juga karena sebenarnya keesokan harinya
saya sudah punya acara. Tapi saya justru tertarik dengan ketidakjelasan rencana
dadakan Natalia yang tempat tujuannya sepertinya misterius itu. Saya memang
sering menyukai hal-hal yang kurang jelas dan berbau petualangan seperti itu.
Jadi karena sepertinya seru, saya memutuskan untuk ikut dan membatalkan acara
saya sendiri.
Waktu itu rencananya kami akan berangkat sekitar jam 12
siang, tapi karena hujan, kami baru
berangkat jam dua. Perjalanan dari Semarang ke Jogja dengan bus terasa lama
sekali. Kebetulan sedang ada perbaikan jalan di jalur itu sehingga macet dan
bus mengambil jalan memutar melewati jalur yang lebih jauh. Kami baru tiba di
Terminal Jombor di saat senja tiba.
Sesampainya di terminal, kami menunggu dua orang teman
Natalia yang dengan baik hati mau mengantarkan kami. Langit sudah gelap dan
lampu-lampu di Terminal baru saja menyala ketika teman Natalia yang bernama
Danang tiba. Natalia memperkenalkan Danang pada saya lalu kami bertiga menunggu
seorang lagi teman Natalia yang bernama Nunu sambil memesan makanan di warung
makan di terminal tersebut. Nunu baru datang kira-kira satu jam kemudian. Kami
bersalaman, kemudian dia memesan makanan. Sementara itu kami masih belum memutuskan
apakah akan tetap datang menonton teater di desa itu atau tidak karena menurut
jadwal, acara dimulai pukul 19.30 WIB, artinya setengah jam lagi dan
kemungkinan saat kami sampai, acara sudah separuh jalan atau mungkin sudah
selesai, ditambah lagi tak satupun diantara kami yang tahu jalan menuju ke
sana. Natalia sendiri, yang mengajak kami hanya tahu ancer-ancernya saja.
Tadinya kami berpikir untuk menonton acara lain di dalam kota. Saya sendiri
sibuk scrolling timeline Twitter, mencari-cari event dalam kota yang mungkin
bisa kami datangi. Tapi, pada akhirnya kami memutuskan untuk datang ke
pertunjukan teater di desa bernama Tutup Ngisor tersebut.
Kami berangkat kira-kira pukul delapan, menuju utara, ke arah Magelang.
Natalia membonceng Danang dan saya membonceng Nunu yang ternyata footstep motor
untuk pembonceng tidak dipasang sehingga tidak ada sesuatu yang bisa menopang
kaki saya dengan nyaman. Natalia menawarkan saya untuk bertukar boncengan, tapi
karena kaki kiri Natalia belum sembuh sepenuhnya dari patah tulang akibat jatuh
dari tangga, saya menolaknya. Pegal juga kaki saya karena perjalanan lumayan
jauh. Di perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk menanyakan arah jalan.
Sempat sedikit tersesat juga, tapi tak lama kami kembali lagi ke jalan yang
benar. Bayangan saya tentang hutan yang gelap gulita ternyata salah karena
sepanjang perjalanan hanya ada rumah-rumah, sawah, sungai dan Gunung Merapi
yang terlihat samar. Dan setelah saya sampai, desa itu bukanlah desa pelosok di
tengah hutan seperti yang saya bayangkan.
Kira-kira pukul 21.30 WIB kami sampai di desa tersebut,
suasana terlihat ramai, tapi ternyata acara belum juga dimulai. Senang sekali
rasanya berada di desa di kaki gunung yang berhawa dingin. Selain itu karena
tak terlalu banyak polusi cahaya seperti di kota, bintang-bintang di langit
malam terlihat jelas sekali. Bagus. Saya masih ingat ketika para penduduk desa
berkata sumuk (gerah), padahal menurut saya dan Natalia, udara di sana dingin
sekali. Ya maklum saja kami kan terbiasa tinggal di kota yang panas.
Pertunjukan teater dilaksanakan di semacam pendopo yang
tidak terlalu besar. Tak lama setelah kami sampai, pertunjukan dimulai. Saya
lupa judulnya, tapi itu adalah cerita yang diadaptasi dari karya William
Shakespear yang dimainkan oleh anak-anak SMA di desa itu. Sutradara
pertunjukan ini adalah seorang wanita dari Perancis, dan sebenarnya itulah
alasan yang membuat Natalia tertarik ingin menonton dan mengajak kami.
Pertunjukan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Sekitar pukul 12 malam kami
kembali ke Jogja.
Perjalanan dari Muntilan ke Jogja lumayan cepat dan
lancar,tentu saja karena kami sudah mengetahui jalannya jadi tak perlu tersesat
lagi. Tadinya saya dan Natalia berencana menginap di rumah saudara Natalia di
Magelang, tapi akhirnya kami menginap di rumah kontrakan Nunu. Sebelum menginap
di rumah Nunu kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Setelah lama
berputar-putar, kami akhirnya memilih untuk makan Ketoprak di Jalan Seturan.
Sambil makan kami mengobrol tentang rencana pagi ini akan ke pantai di Gunung
Kidul atau di Goa Pindul sambil berpikir apakah kami bisa bangun untuk mengejar
matahari terbit, sementara perjalanan ke sana lumayan jauh, sekitar 2-3 jam.
Tentu saja rencana ini batal karena kami baru pulang jam 2 pagi dan tidur
menjelang subuh sehingga ketika bangun, hari sudah siang.
Siang harinya, selesai mandi dan bersiap-siap kami mencari
warung makan untuk mengisi perut kami terlebih dahulu. Sambil makan siang, kami
memutuskan untuk mengunjungi museum yang berada di daerah Kaliurang yang katanya
bagus, namanya Museum Ullen Sentalu. Perjalanan dari Jogja kota menuju
Kaliurang kira-kira sekitar satu jam. Oh iya, saya tidak lagi membonceng motor
Nunu yang tidak ber-footstep itu. Nunu mengendarai motor satunya lagi, semacam
Honda CB atau sejenisnya, saya lupa. Tentu saja motor itu ada footstep-nya di
bagian pembonceng jadi kaki saya tidak terlalu pegal, tapi sebagai gantinya,
sadel tempat memboncengnya terlalu kecil sehingga gantian pantat saya yang terasa
pegal dan kaku.
Sesampainya di halaman depan museum, terlihat pintu masuk
yang dihiasi akar-akar gantung, seperti gua dalam cerita dongeng yang menyimpan
harta karun di dalamnya, sejuk dan asri karena banyak pepohonan. Saya pikir
pembangunan Museum itu menyesuaikan
kontur tanah yang naik turun sehingga terlihat alami. Kami lalu membeli tiket
masuk dan mulai menjelajahi isi museum deitemani Tour Guide. Isi museum tersebut
adalah tentang sejarah Keraton Solo dan Yogyakarta. Dari mulai cerita-cerita tentang
keluarga kerajaan, kisah cinta para puteri Keraton, kesenian sampai adat istiadat. Bangunan
Museumnya bagus, saya suka. Di sana kami juga mendapat minuman yang pada jaman
dahulu diramu oleh salah satu Permaisuri Keraton. Rasanya segar dan hangat,
terbuat dari rebusan rempah-rempah tradisional. Selesai tour, kami
berfoto-foto sebentar lalu pulang.
| Saya di depan pintu masuk Ullen Sentalu |
| Natalia dan Saya |
| Foto dulu di depan replika panil Candi Borobudur |
| Nunu dan Danang foto bareng 'Dum-Dum' |
| Meski rambut lepek, tetep selfie :p |
Hari sudah sore ketika kami meninggalkan Museum Ullen
Sentalu. Kami buru-buru pulang karena takut ketinggalan bus. Danang dan Nunu
mengantarkan kami kembali ke terminal Jombor. Untung masih ada bus yang belum
berangkat. Setelah membeli tiket, saya dan Natalia berpamitan kepada Danang dan
Nunu dan mengucapkan terima kasih. Bus mulai berangkat ketika matahari hampir
terbenam. Perjalanan terasa lebih cepat, tidak macet dan bus tak mengambil
jalan memutar. Saya tiba di rumah sekitar pukul 9 malam dan langsung mandi dan
tidur. Esoknya kaki saya pegal-pegal tapi saya merasa senang. Melakukan perjalanan
selalu terasa menyenangkan apalagi ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi,
terlebih lagi jika kita melakukannya bersama teman yang kita suka, jadi karena
keseruannya, kita tak akan pernah lupa.
Langganan:
Komentar (Atom)





