Sedari mula aku menemukanmu di belantara, aku tahu kau sungguh
berbeda. Hangat dan dingin pada saat yang sama. Mendadak aku merasa beberapa bagian
usang dari diriku terlepas dari raga. Hanya saja saat itu aku tak merasa
merdeka. Kau angin kecil, lembut menerpa sukma saat kemarau mendahaga. Sepasang
mataku terpejam, merasakan hembusan. Kau tak selalu terlihat, namun dapat kudengar
dan rasakan.
Saat musim panas datang, matahari terasa terik menantang.
Aku ingin kau datang membawa hujan. Sebelum aku meranggas dan daun-daunku
berguguran. Sesaat kemudian kaupun datang, dengan suara lirih menenangkan. Kau
tak membawa hujan, tapi melihatku kegerahan, hembusan kecilmu perlahan
mengencang. Tanpa sadar, kau berubah membadai, membuatku hampir tumbang.
Sejak saat itu kaupun menghilang. Aku menunggumu di tanah
lapang, tempat kita biasa bertemu. Sendirian. Hari demi hari kau tak pernah
datang. Aku menunggu hingga perlahan kaki-kaki kecilku semakin erat
mencengkeram jagat. Kemana kau angin kecilku? Aku kini tumbuh dewasa,
kaki-kakiku pun tumbuh kuat. Aku tak akan tumbang jika kau datang dan meniupku
kencang.
Semarang, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar