Rabu, 17 September 2014

Angin

Sedari mula aku menemukanmu di belantara, aku tahu kau sungguh berbeda. Hangat dan dingin pada saat yang sama. Mendadak aku merasa beberapa bagian usang dari diriku terlepas dari raga. Hanya saja saat itu aku tak merasa merdeka. Kau angin kecil, lembut menerpa sukma saat kemarau mendahaga. Sepasang mataku terpejam, merasakan hembusan. Kau tak selalu terlihat, namun dapat kudengar dan rasakan.

Saat musim panas datang, matahari terasa terik menantang. Aku ingin kau datang membawa hujan. Sebelum aku meranggas dan daun-daunku berguguran. Sesaat kemudian kaupun datang, dengan suara lirih menenangkan. Kau tak membawa hujan, tapi melihatku kegerahan, hembusan kecilmu perlahan mengencang. Tanpa sadar, kau berubah membadai, membuatku hampir tumbang.

Sejak saat itu kaupun menghilang. Aku menunggumu di tanah lapang, tempat kita biasa bertemu. Sendirian. Hari demi hari kau tak pernah datang. Aku menunggu hingga perlahan kaki-kaki kecilku semakin erat mencengkeram jagat. Kemana kau angin kecilku? Aku kini tumbuh dewasa, kaki-kakiku pun tumbuh kuat. Aku tak akan tumbang jika kau datang dan meniupku kencang.


Semarang, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar