Kamis, 25 September 2014

Awal Mula Tulisan Alay (Versi Saya)

Saya baru membaca tulisan @sepatumerah tentang penulisan jaman sekarang yang mengkombinasikan huruf besar kecil dan angka yang menjadi trend di kalangan remaja. Tulisannya bisa dibaca di sini. Nah, dari tulisan itu, saya jadi ingin menuliskan tulisan ini. Kebetulan beberapa waktu lalu saya juga membahas soal ini bersama seorang teman. Saya jelaskan padanya mengenai asal-usul tulisan semacam itu dari pengalaman saya sendiri.

Dulu saya juga pernah mengalami menulis dengan cara seperti itu. Kalau saya menulis di kertas dengan komposisi huruf besar dan kecil secara bergantian memang untuk alasan gaya-gayaan saja, biar unyu. Itu juga sebelum tulisan semacam itu dikatai ‘alay’.

Tapi saat menulis di handphone saya menggunakan komposisi tersebut agar lebih cepat saja menulisnya. Sebenarnya ini efek keypad 3x4 yang kita gunakan dulu sebelum ada keypad 'qwerty'. Bahwa huruf 'a', 'b' dan 'c' terletak di satu tombol yang sama. Jika saya ingin menulis kata 'babi' misalnya, untuk mengetik tiga huruf yang sama dalam satu tombol keypad akan memakan banyak waktu yaitu setelah mengetik huruf 'b' harus menunggu beberapa detik untuk menulis huruf 'a' dan seterusnya, jadi biar mempercepat saya akan menulismya dengan menekan capslock atau mengganti huruf 'a' dengan angka '4'. Seperti juga kalau saya ingin menulis 'no' karena huruf 'n' dan 'o' terletak di satu tombol keypad yang sama, jadi setelah menuliskan huruf 'n' saya akan menggunakan huruf 'o' kapital atau angka 'nol'. Biar cepat.

Mungkin dulu awalnya seperti itu, sampai pada akhirnya menjadi trend tanpa tahu maksud yang sebenarnya sampai-sampai ditambah dengan huruf yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga membuatnya jadi tak nyaman dibaca seperti "cH3muNgUudh eaa qAq4a" yang sebenarnya bisa dituliskan dengan "semangat ya kakak".

Pada akhirnya setelah tulisan seperti itu menjadi ‘alay’ meski saya menulis pesan menggunakan hp dengan keypad 3x4, saya berusaha untuk menulis dengan huruf-huruf yang normal karena saya tak mau dianggap ‘alay’. Hehe.

Itu dari pengalaman saya saja sih. Mungkin beda orang, beda juga motivasinya menulis dengan cara seperti itu. Kalau sekarang, karena saya menggunakan keypad qwerty jadi kalau menulis dengan komposisi huruf besar-kecil ditambah angka-angka bukannya mempercepat tapi malah jadi memperlambat.

Rabu, 17 September 2014

Angin

Sedari mula aku menemukanmu di belantara, aku tahu kau sungguh berbeda. Hangat dan dingin pada saat yang sama. Mendadak aku merasa beberapa bagian usang dari diriku terlepas dari raga. Hanya saja saat itu aku tak merasa merdeka. Kau angin kecil, lembut menerpa sukma saat kemarau mendahaga. Sepasang mataku terpejam, merasakan hembusan. Kau tak selalu terlihat, namun dapat kudengar dan rasakan.

Saat musim panas datang, matahari terasa terik menantang. Aku ingin kau datang membawa hujan. Sebelum aku meranggas dan daun-daunku berguguran. Sesaat kemudian kaupun datang, dengan suara lirih menenangkan. Kau tak membawa hujan, tapi melihatku kegerahan, hembusan kecilmu perlahan mengencang. Tanpa sadar, kau berubah membadai, membuatku hampir tumbang.

Sejak saat itu kaupun menghilang. Aku menunggumu di tanah lapang, tempat kita biasa bertemu. Sendirian. Hari demi hari kau tak pernah datang. Aku menunggu hingga perlahan kaki-kaki kecilku semakin erat mencengkeram jagat. Kemana kau angin kecilku? Aku kini tumbuh dewasa, kaki-kakiku pun tumbuh kuat. Aku tak akan tumbang jika kau datang dan meniupku kencang.


Semarang, 2014