Hari ini tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu. Sebenarnya
saya adalah tipe orang yang tak terlalu senang mengikuti perayaan-perayaan
tertentu, entahlah. Tapi saya pikir perayaan tetap perlu, untuk mengingatkan
orang-orang tentang sesuatu yang siapa tahu karena kesibukannya mereka lupa
akan sesuatu itu. Dan dengan diperingatinya hari Ibu ini paling tidak menjadi
momentum yang pas untuk menunjukkan kasih sayang kita, mengingat kembali apa
yang sudah dilakukan Ibu kepada kita dan bahwa tak ada satupun orang di dunia
ini yang bisa setulus itu melakukan segala sesuatunya untuk kita. Saya jarang
mengucapkan selamat hari Ibu secara langsung kepada Ibu saya. Mungkin tak lebih
dari lima kali semenjak saya dilahirkan. Tapi tentu saja itu tak mengurangi
perasaan sayang saya kepada Ibu saya. Dan Ibu saya pun tak terlalu suka jika
diucapi “Selamat Hari Ibu”
Hampir semua tayangan di televisi membahas tentang Hari Ibu,
bahkan menjadikannya tema utama acara tersebut. Mereka membahas tentang
jasa-jasa Ibu yang tak akan pernah tergantikan
dan kadang diiringi dengan tangisan-tangisan. Dan Ibu saya tak menyukainya.
Ketika saya menonton acara semacam itu bersama Ibu saya, dia berkata, “Kenapa
sih harus ada Hari Ibu?”. Kalau tidak salah, saya menjawabnya dengan, “Iya”. Saya
pikir kenapa Ibu saya tak menyukainya adalah karena dia juga seorang Ibu yang
menurutnya bahwa apa yang dilakukannya untuk anak-anaknya memang sudah
seharusnya dilakukan dan itu tak perlu dibesar-besarkan apalagi sampai
berlebihan.
Meskipun Ibu saya kelihatan seperti Ibu yang galak dan
serius, sebenarnya saya sering melihatnya seperti seorang anak-anak yang lucu. Semoga
Ibu saya tak marah jika tahu saya mengatainya seperti anak-anak. Tapi saya
diam-diam bersyukur, karena Ibu saya tak pernah benar-benar meninggalkan dunia
anak-anaknya. Ibu saya adalah orang dewasa ketika keadaan menuntutnya untuk
bersikap dewasa dan sesekali menjadi anak-anak tanpa dia menyadarinya.
Pagi ini saya membaca timeline twitter, lalu saya melihat
akun @radiobuku melemparkan pertanyaan kepada followers-nya tentang Ibu, seperti
ini >> “Booklovers, apa #PesanIbu padamu? Yuk,
diinget2 lagi...”, “#IBU
akan marah2 jika aku ___________” dan “#IBU
akan bangga jika aku ___________”. Dan dari jawaban-jawaban yang saya baca,
intinya adalah, Ibu akan merasa bahagia jika kita anak-anaknya juga bahagia, mau
memperhatikan kesehatan kita sendiri dan bisa berguna untuk orang lain.
Ibu saya sendiri, dia tak banyak menuntut apa-apa dari saya.
Saya boleh melakukan apapun yang saya suka. Dia mendukung semua cita-cita saya.
Dia percaya bahwa saya akan sukses dan berguna untuk orang lain. Dan meskipun
dia tak menuntut apapun, saya tetap ingin menjadi yang terbaik dan membuatnya
bangga dan bahagia.
“Selamat Hari Ibu Mum, terima kasih telah melahirkanku.”