Selasa, 15 November 2016

No Such Thing as Forever

pic source: here





















We can’t be happy forever
We can’t be sad forever
We can’t laugh forever
We can’t cry forever
We can’t talk forever
We can’t stay quiet forever
We can’t hide forever
We can’t run forever

And someday...

it will all be over.

Kamis, 10 November 2016

Mengesampingkan Ego Menyelesaikan Permasalahan

Ada banyak hal yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Hal-hal yang membuat kesal, bahkan menguras emosi. Terasa sekali kendali emosi berada pada level yang rendah, sehingga ketika ada sesuatu terjadi yang tidak sesuai keinginan atau kata-kata yang keluar dari mulut orang lain begitu menyakitkan, saya menjadi begitu emosional dan lupa untuk bersikap dengan sebagaimana mestinya karena terlalu sibuk dengan ego sendiri. Saya lupa untuk bersikap baik kepada orang lain dan cenderung mengabaikan karena merasa membutuhkan waktu lama untuk sendiri. Saya seringkali diam dan lebih senang menyendiri ketika sedang benar-benar marah, karena saya tahu jika tidak melakukannya saya justru akan menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata atau sikap yang tidak semestinya karena sedang berada di bawah kendali emosi.

Dalam keadaan menutup diri seperti itu, ada kalanya saya bertanya-tanya, untuk apa saya hidup di dunia ini. Sebagai manusia yang tak bisa lepas dari kehidupan sosial, saya semacam dipaksa melakukan ini dan itu, karena jika tidak, saya dianggap tidak ‘normal’. Bagi kebanyakan orang, sesuatu akan dianggap 'normal' jika dipikirkan atau dilakukan oleh mayoritas orang, sisanya biasanya akan dianggap aneh, atau istilah-istilah lain yang sejenis. Sampai sekarang saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan itu, berusaha menerima dan mengerti, berusaha menjalani hidup ‘normal’ seperti orang-orang lain. Bagi saya, menjalani hidup ‘normal’ seperti kebanyakan orang itu susah, karena membuat saya tak bisa menjadi diri sendiri. Selama ini saya memiliki semacam pedoman hidup yaitu bahwa saya bisa melakukan apapun sesuka hati saya, asal tak merugikan makhluk hidup lain. Pada prakteknya saya berusaha menjadi ‘normal’ dengan cara saya sendiri sambil terus berpikir bahwa dunia ini sepertinya tak relevan untuk manusia seperti saya atau mungkin sebaliknya, saya yang tak relevan dengan keadaan dunia ini, entahlah. Yang saya tahu, saya harus menerima menjadi manusia yang harus menjalani kehidupan di bumi, bagaimanapun keadaanya.

Bagi saya, salah satu hal yang susah dilakukan dalam menjalani hidup ini adalah berhubungan dengan manusia lain, karena manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ego, baik ego diri sendiri maupun ego manusia lain di sekitar kita. Seperti yang kita ketahui, setiap manusia memiliki ego dalam kadarnya masing-masing. Orang yang tidak memiliki ego, atau bisa mengendalikan egonya dengan baik, barangkali dia seorang manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sehingga setiap yang dilakukannya tidak sampai menyusahkan makhluk hidup lain, justru memudahkannya. Rasanya masih jarang sekali saya bertemu dengan manusia semacam itu. Saya sendiri rasanya masih memiliki ego yang tinggi. Ego manusia tidak selalu berbentuk sikap semena-mena atau sikap tidak peduli saat tahu sudah merugikan orang lain. Menutup diri ketika sedang bermasalah bisa jadi suatu hal yang baik, tapi itu bisa dikatakan egois ketika hal itu membuat kita jadi mengabaikan orang lain. Saya juga menyadari, menyendiri untuk menenangkan diri sendiri itu bagus, tapi jika terlalu lama, maka akan membuat kita menjadi asing dan berjarak terhadap dunia luar yang pada akhirnya malah menyusahkan diri sendiri.

Untuk menenangkan diri, hampir semua orang mungkin merasa perlu pergi menjauh meninggalkan rutinitas dan tempat hidup sehari-hari ketika sedang bermasalah, saya pun. Memang benar bahwa perjalanan dapat membuat kita terhindar dari stress, mendatangi tempat baru dapat membuat pikiran menjadi lebih fresh, tapi saya tahu bahwa hal itu tak membuat permasalahan yang sedang dialami lenyap begitu saja. Kita hanya lari sejenak, mencari pengalihan, menjernihkan pikiran. Masalah tidak akan selesai jika tidak diselesaikan. Pada saatnya, kita sendiri yang harus berperan untuk menyelesaikan masalah kita, juga menyingkirkan ego agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan pikiran yang jernih.