Ada banyak hal yang terjadi dalam satu bulan terakhir.
Hal-hal yang membuat kesal, bahkan menguras emosi. Terasa sekali kendali emosi
berada pada level yang rendah, sehingga ketika ada sesuatu terjadi yang tidak
sesuai keinginan atau kata-kata yang keluar dari mulut orang lain begitu
menyakitkan, saya menjadi begitu emosional dan lupa untuk bersikap dengan sebagaimana mestinya
karena terlalu sibuk dengan ego sendiri. Saya lupa untuk bersikap baik kepada
orang lain dan cenderung mengabaikan karena merasa membutuhkan waktu lama untuk sendiri. Saya seringkali diam dan lebih senang menyendiri ketika sedang benar-benar marah, karena saya
tahu jika tidak melakukannya saya justru akan menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata atau sikap yang tidak semestinya karena sedang berada di bawah kendali emosi.
Dalam keadaan menutup diri seperti itu, ada kalanya saya bertanya-tanya,
untuk apa saya hidup di dunia ini. Sebagai manusia yang tak bisa lepas dari
kehidupan sosial, saya semacam dipaksa melakukan ini dan itu, karena jika
tidak, saya dianggap tidak ‘normal’. Bagi kebanyakan orang, sesuatu akan dianggap 'normal' jika dipikirkan atau dilakukan oleh mayoritas orang, sisanya biasanya akan dianggap aneh, atau istilah-istilah lain yang sejenis. Sampai sekarang saya masih berusaha
menyesuaikan diri dengan itu, berusaha menerima dan mengerti, berusaha
menjalani hidup ‘normal’ seperti orang-orang lain. Bagi
saya, menjalani hidup ‘normal’ seperti kebanyakan orang itu susah, karena
membuat saya tak bisa menjadi diri sendiri. Selama ini saya memiliki semacam
pedoman hidup yaitu bahwa saya bisa melakukan apapun sesuka hati saya, asal tak merugikan makhluk hidup lain. Pada prakteknya saya berusaha
menjadi ‘normal’ dengan cara saya sendiri sambil terus berpikir bahwa dunia ini
sepertinya tak relevan untuk manusia seperti saya atau mungkin sebaliknya, saya
yang tak relevan dengan keadaan dunia ini, entahlah. Yang saya tahu, saya harus menerima
menjadi manusia yang harus menjalani kehidupan di bumi, bagaimanapun keadaanya.
Bagi saya, salah satu hal yang susah dilakukan dalam
menjalani hidup ini adalah berhubungan dengan manusia lain, karena manusia
tidak bisa lepas dari yang namanya ego, baik ego diri sendiri maupun ego
manusia lain di sekitar kita. Seperti yang kita ketahui,
setiap manusia memiliki ego dalam kadarnya masing-masing. Orang yang tidak
memiliki ego, atau bisa mengendalikan egonya dengan baik, barangkali dia seorang manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sehingga setiap yang
dilakukannya tidak sampai menyusahkan makhluk hidup lain, justru memudahkannya. Rasanya masih jarang sekali saya bertemu dengan manusia semacam itu. Saya
sendiri rasanya masih memiliki ego yang tinggi. Ego manusia tidak selalu
berbentuk sikap semena-mena atau sikap tidak peduli saat tahu sudah merugikan
orang lain. Menutup diri
ketika sedang bermasalah bisa jadi suatu hal yang baik, tapi itu bisa dikatakan
egois ketika hal itu membuat kita jadi mengabaikan orang lain. Saya juga menyadari,
menyendiri untuk menenangkan diri sendiri itu bagus, tapi jika terlalu lama,
maka akan membuat kita menjadi asing dan berjarak terhadap dunia luar yang pada
akhirnya malah menyusahkan diri sendiri.
Untuk menenangkan diri, hampir semua
orang mungkin merasa perlu pergi menjauh meninggalkan rutinitas dan tempat hidup sehari-hari ketika sedang bermasalah, saya pun. Memang benar bahwa
perjalanan dapat membuat kita terhindar dari stress, mendatangi tempat baru dapat
membuat pikiran menjadi lebih fresh, tapi saya tahu bahwa hal itu tak membuat
permasalahan yang sedang dialami lenyap begitu saja. Kita hanya lari sejenak, mencari pengalihan,
menjernihkan pikiran. Masalah tidak akan selesai jika tidak diselesaikan. Pada
saatnya, kita sendiri yang harus berperan untuk menyelesaikan masalah kita, juga menyingkirkan ego agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan
pikiran yang jernih.