Rabu, 18 Oktober 2023

Kalimat-Kalimat Hari Ini

 "Tidak ada harapan. beberapa orang tidak tertolong. Bukan karena tidak ada yang bisa menolong, tapi karena mereka tidak mau ditolong untuk menjadi manusia dewasa seutuhnya."

"Ada masanya kau dituntut untuk berkompromi, padahal bukan kau yang mengucap janji sehidup semati."

"Susah payah menyembuhkan diri, untuk kemudian disakiti lagi."

"Kita bisa belajar di kelas yang sama, diajar oleh guru yang sama, diberikan pelajaran yang sama, tapi tetap saja setiap orang memproses pengetahuan dengan berbeda."

"Sikap baik akan selalu mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya."

"Beberapa orang membuat keputusan-keputusan yang salah, lalu menyalahkan orang lain ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginannya."

"Orang dewasa seharusnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan tidak bergantung dan menyusahkan orang lain."

"Kamu boleh menerima kebaikan orang lain, tapi jangan lupa membalas kebaikan tersebut, minimal dengan bersikap baik."

"Memanfaatkan orang lain dengan berlebihan dengan alasan ga mau rugi justru membuatmu lebih merugi di segala aspek kehidupan."

"Selalu ada kemungkinan menjadi bahagia tanpa menyusahkan, tapi tentu saja orang lain belum tentu berpikir sama."

Sabtu, 25 Februari 2023

Terima Kasih Ulang Tahun

Seingatku dari dulu aku tidak pernah ingin merayakan ulang tahun. Ketika semua teman-temanku merayakannya, aku justru tidak terlalu peduli dengan ulang tahunku sendiri.

Waktu SMA, teman-temanku mengadakan pesta besar sweet seventeen, dengan berbagai tema, dan door prize serupa undian berhadiah. Sedangkan aku bahkan tidak ingat apa yang kulakukan saat ulang tahunku yang ke-17. Tahun berikutnya aku justru ingat saat teman-temanku memutuskan untuk membiarkanku mencari kadoku sendiri dan membayar apapun yang aku pilih. Barangkali mereka terlalu bingung (atau malas) memikirkan tentang benda apa yang akan membuatku senang.

Aku melihat orang-orang akan merasa sedih jika tak seorang pun mengingat ulang tahun mereka dan memberi mereka ucapan selamat. Sedangkan aku tetap tidak merasa apa-apa bahkan jika aku sendiri lupa. Aku tidak sempat memikirkan siapa yang akan pertama mengucapkan selamat, atau hadiah apa yang akan kudapat. Aku tetap menjalani hidup seperti biasa.

Kadang ada masa di mana teman-temanku merayakannya untukku. Aku ingat beberapa kali saat aku masih kuliah, teman-temanku memberi kejutan ulang tahun, membawakan kue dengan lilin dan memberi hadiah, di depan banyak orang. Apa yang kurasakan saat itu adalah malu karena orang-orang tahu aku sedang berulang tahun. Barangkali karena aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Tapi aku tidak ingin teman-temanku kecewa, mereka telah memberikan waktu, energi, dan uang mereka untuk memberiku kejutan, jadi aku memilih meniup lilin dan bersenang-senang saja bersama mereka.

Aku memuji kado yang temanku berikan. Lalu ia bilang, "Aku tahu kamu bakal suka, soalnya itu adalah benda dengan model yang aneh". Menurut temanku, aku menyukai sesuatu yang aneh, bukan yang menurut mereka bagus atau lucu. Aku pun baru menyadarinya saat itu. Barangkali itu juga yang membuat teman-teman SMA-ku menyuruhku memilih kadoku sendiri. Padahal kado apapun yang diberikan, aku akan suka. Aku ingat saat kuliah, seorang teman memberiku kado jam tangan anak-anak berwarna merah bergambar 'Winnie the Pooh', katanya harganya tidak mahal. Aku dengan senang memakainya sampai rusak. Jika dipikir-pikir sepertinya aku kurang cukup berterima kasih pada teman-temanku saat itu. Semoga mereka hidup dengan baik, sehat, dan bahagia.

Beberapa teman dekatku di beberapa ulang tahun berkata bahwa mereka ingin merayakan ulang tahunku dengan mengajakku makan malam, atau menemaniku melakukan hal-hal yang kusuka. Mereka barangkali tidak tahu, tapi aku menyadari saat mereka menatapku sambil tersenyum melihatku bersenang-senang dan menikmati hari ulang tahunku. Terima kasih.

Minggu, 01 Januari 2023

Aku dan Malam Tahun Baru

Suasana akhir tahun selalu terasa seperti libur panjang meski sebenarnya tidak ada bedanya dengan akhir pekan biasa di mana aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Suasana hujan dengan udara sejuk selalu mengingatkanku pada hari-hari di mana aku pergi mendaki. Rasanya menyenangkan sekali meski hanya dengan mengingatnya.

Dulu saat remaja aku ingin punya teman yang banyak, membuat rencana bersama mereka di setiap akhir pekan, berkumpul dan merayakan tahun baru di suatu tempat yang menyenangkan. Kenyataannya aku baru mengalami hal seperti itu saat kuliah. Waktu SMA aku belum terlalu percaya diri untuk keluar rumah sendirian dan pulang malam, masih merasa terlalu kecil dan tidak ingin membuat orang tuaku khawatir. Selain itu, aku tidak punya kendaraan jadi terlalu merepotkan setiap kali pulang malam. Waktu itu juga belum ada ojek online. Ayahku ingin membelikanku motor tapi aku menolaknya karena yang kuinginkan adalah mobil. Aku cukup keras kepala soal keinginanku. Meski begitu, aku tidak marah atau mengamuk karena tidak dibelikan mobil. Aku tetap naik angkutan umum dan jalan kaki dengan senang hati. Saat remaja aku sudah punya pendirian dan pengendalian diri yang baik, berusaha untuk tidak merepotkan dan membuat orang lain cemas.

Saat SMP dan SMA aku hanya pulang malam ketika nonton konser dengan kakak perempuanku dan tentu saja berakhir dengan amarah orang tua saat kami pulang. Oh tunggu, aku ingat pernah pulang malam dari pesta ulang tahun kawanku yang ke-17, waktu itu aku diantar teman, dan ayahku marah dan berkata “Apa kata tetangga?”, aku menjawab dengan, “Kenapa lebih peduli dengan kata tetangga daripada kata anak sendiri?”, dan sejak itu ayahku tidak pernah membawa-bawa tetangga lagi ketika memarahiku.

Waktu aku kuliah, hari-hariku di kampus rasanya lebih bebas. Aku sering pulang malam karena ikut organisasi kampus dan sibuk nongkrong dengan teman-teman "touring"-ku. Meski rasanya cemas kalau akan dimarahi karena pulang malam, tapi tetap saja kulakukan. Aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka di luar kampus.

Suatu malam tahun baru, aku dan kelompok pertemananku yang lain yang di antaranya ada beberapa kawan SMA, mengadakan acara tahu baru di rumah salah satu dari kami. Meski tidak berencana pulang pagi tapi rasanya malas pulang, pikirku karena ini tahun baru harusnya tidak apa-apa jika aku pulang pagi, kuterima saja kalau nanti dimarahi. Saat aku pulang, sesuai dugaan, orang tuaku marah habis-habisan. Barangkali mereka takut aku terjerumus dan melakukan hal-hal buruk seperti pergaulan bebas. Tentu saja hal itu tidak terjadi karena aku pintar dan tidak mudah terpengaruh. Aku sama sekali tidak sedih atau takut dimarahi, tapi aku mengerti rasa khawatir mereka, apalagi ini pertama kali aku pulang pagi. Sejak hari itu aku malah sering mengulanginya, orang tuaku akhirnya tidak memarahiku lagi, barangkali bosan, atau mungkin sudah mulai menaruh rasa percaya. Meski begitu, setiap kali aku pulang terlambat atau pulang keesokan harinya, aku akan tetap memberi kabar, aku mencemaskan perasaan mereka.

Aku membuat mereka khawatir lagi pada saat aku pergi sendiri ke luar provinsi untuk mendaki. Itu pertama kalinya aku pergi jauh dan harus menginap, sendiri. Sejak itu aku bertemu dengan lebih banyak teman, dan beberapa kali menghabiskan malam tahun baru beramai-ramai di gunung. Kurasa harus ada yang pertama kali agar orang tuaku tidak perlu terus-terusan mengkhawatirkanku seumur hidup sehingga mereka bisa memikirkan kebahagiaan mereka sendiri. Aku berusaha menunjukkan sikap bahwa aku mampu bertanggung jawab atas diriku sendiri, agar mereka percaya bahwa anaknya ini akan baik-baik saja.

Aku pernah menghabiskan waktu malam tahun baru di jalanan macet tanpa tujuan, membuat acara bakar-bakaran di rumah teman, pernah berusaha mencapai puncak tertinggi kota untuk menyalakan kembang api lalu pulang, berkemah di lereng gunung dengan banyak orang. Setelah mengalami semua itu ternyata aku tidak cukup menikmatinya. Barangkali karena semua orang terlalu membesar-besarkannya, aku jadi merasa malam tahun baru tidak terlalu spesial. Seperti ganti bulan saja.

Belakangan aku hanya menghabiskan malam tahun baru di rumah, selayaknya hari biasa di mana aku melewati malam dengan menonton film, atau mengobrol dengan teman melalui pesan pendek atau telepon, bedanya hanya aku bisa mendengar suara kembang api dari kamarku, dan kadang melihatnya dari jendela. Aku akan liburan nanti jika orang-orang sudah selesai dan pulang kembali ke rutinitasnya.

Bagiku kini pergantian tahun sama saja dengan pergantian hari. Meski tidak terlalu peduli, kenyataan bahwa orang-orang selalu membahasnya di hari-hari akhir penghujung tahun, membuatku mengingat beberapa momen pergantian tahun yang kulalui sendiri atau bersama teman-temanku. Aku bersyukur bisa melalui berbagai jenis “perayaan” tahun baru yang akhirnya membuatku mengetahui bahwa bukan bergantinya tahun atau bergantinya hari yang penting, tapi perasaan kita saat ramai atau sepi, bersama atau sendiri.

Selamat Tahun Baru, semoga berlimpah harapan untuk menjalani hidup setiap hari.