Minggu, 01 Januari 2023

Aku dan Malam Tahun Baru

Suasana akhir tahun selalu terasa seperti libur panjang meski sebenarnya tidak ada bedanya dengan akhir pekan biasa di mana aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Suasana hujan dengan udara sejuk selalu mengingatkanku pada hari-hari di mana aku pergi mendaki. Rasanya menyenangkan sekali meski hanya dengan mengingatnya.

Dulu saat remaja aku ingin punya teman yang banyak, membuat rencana bersama mereka di setiap akhir pekan, berkumpul dan merayakan tahun baru di suatu tempat yang menyenangkan. Kenyataannya aku baru mengalami hal seperti itu saat kuliah. Waktu SMA aku belum terlalu percaya diri untuk keluar rumah sendirian dan pulang malam, masih merasa terlalu kecil dan tidak ingin membuat orang tuaku khawatir. Selain itu, aku tidak punya kendaraan jadi terlalu merepotkan setiap kali pulang malam. Waktu itu juga belum ada ojek online. Ayahku ingin membelikanku motor tapi aku menolaknya karena yang kuinginkan adalah mobil. Aku cukup keras kepala soal keinginanku. Meski begitu, aku tidak marah atau mengamuk karena tidak dibelikan mobil. Aku tetap naik angkutan umum dan jalan kaki dengan senang hati. Saat remaja aku sudah punya pendirian dan pengendalian diri yang baik, berusaha untuk tidak merepotkan dan membuat orang lain cemas.

Saat SMP dan SMA aku hanya pulang malam ketika nonton konser dengan kakak perempuanku dan tentu saja berakhir dengan amarah orang tua saat kami pulang. Oh tunggu, aku ingat pernah pulang malam dari pesta ulang tahun kawanku yang ke-17, waktu itu aku diantar teman, dan ayahku marah dan berkata “Apa kata tetangga?”, aku menjawab dengan, “Kenapa lebih peduli dengan kata tetangga daripada kata anak sendiri?”, dan sejak itu ayahku tidak pernah membawa-bawa tetangga lagi ketika memarahiku.

Waktu aku kuliah, hari-hariku di kampus rasanya lebih bebas. Aku sering pulang malam karena ikut organisasi kampus dan sibuk nongkrong dengan teman-teman "touring"-ku. Meski rasanya cemas kalau akan dimarahi karena pulang malam, tapi tetap saja kulakukan. Aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka di luar kampus.

Suatu malam tahun baru, aku dan kelompok pertemananku yang lain yang di antaranya ada beberapa kawan SMA, mengadakan acara tahu baru di rumah salah satu dari kami. Meski tidak berencana pulang pagi tapi rasanya malas pulang, pikirku karena ini tahun baru harusnya tidak apa-apa jika aku pulang pagi, kuterima saja kalau nanti dimarahi. Saat aku pulang, sesuai dugaan, orang tuaku marah habis-habisan. Barangkali mereka takut aku terjerumus dan melakukan hal-hal buruk seperti pergaulan bebas. Tentu saja hal itu tidak terjadi karena aku pintar dan tidak mudah terpengaruh. Aku sama sekali tidak sedih atau takut dimarahi, tapi aku mengerti rasa khawatir mereka, apalagi ini pertama kali aku pulang pagi. Sejak hari itu aku malah sering mengulanginya, orang tuaku akhirnya tidak memarahiku lagi, barangkali bosan, atau mungkin sudah mulai menaruh rasa percaya. Meski begitu, setiap kali aku pulang terlambat atau pulang keesokan harinya, aku akan tetap memberi kabar, aku mencemaskan perasaan mereka.

Aku membuat mereka khawatir lagi pada saat aku pergi sendiri ke luar provinsi untuk mendaki. Itu pertama kalinya aku pergi jauh dan harus menginap, sendiri. Sejak itu aku bertemu dengan lebih banyak teman, dan beberapa kali menghabiskan malam tahun baru beramai-ramai di gunung. Kurasa harus ada yang pertama kali agar orang tuaku tidak perlu terus-terusan mengkhawatirkanku seumur hidup sehingga mereka bisa memikirkan kebahagiaan mereka sendiri. Aku berusaha menunjukkan sikap bahwa aku mampu bertanggung jawab atas diriku sendiri, agar mereka percaya bahwa anaknya ini akan baik-baik saja.

Aku pernah menghabiskan waktu malam tahun baru di jalanan macet tanpa tujuan, membuat acara bakar-bakaran di rumah teman, pernah berusaha mencapai puncak tertinggi kota untuk menyalakan kembang api lalu pulang, berkemah di lereng gunung dengan banyak orang. Setelah mengalami semua itu ternyata aku tidak cukup menikmatinya. Barangkali karena semua orang terlalu membesar-besarkannya, aku jadi merasa malam tahun baru tidak terlalu spesial. Seperti ganti bulan saja.

Belakangan aku hanya menghabiskan malam tahun baru di rumah, selayaknya hari biasa di mana aku melewati malam dengan menonton film, atau mengobrol dengan teman melalui pesan pendek atau telepon, bedanya hanya aku bisa mendengar suara kembang api dari kamarku, dan kadang melihatnya dari jendela. Aku akan liburan nanti jika orang-orang sudah selesai dan pulang kembali ke rutinitasnya.

Bagiku kini pergantian tahun sama saja dengan pergantian hari. Meski tidak terlalu peduli, kenyataan bahwa orang-orang selalu membahasnya di hari-hari akhir penghujung tahun, membuatku mengingat beberapa momen pergantian tahun yang kulalui sendiri atau bersama teman-temanku. Aku bersyukur bisa melalui berbagai jenis “perayaan” tahun baru yang akhirnya membuatku mengetahui bahwa bukan bergantinya tahun atau bergantinya hari yang penting, tapi perasaan kita saat ramai atau sepi, bersama atau sendiri.

Selamat Tahun Baru, semoga berlimpah harapan untuk menjalani hidup setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar