Jumat, 23 Mei 2014

Tempat Impian dan Secuil Harapan


Sumber foto : http://favim.com/image/347709/

Di hari Minggu yang cerah ini, aku tak ada rencana untuk pergi ke manapun. Sedang ingin bermalas-malasan saja di kamar sambil mendengarkan playlist lagu favorit. Lagu berjudul ‘Come Back Be Here’ dari Taylor Swift mengalun dari player yang sedang kuputar.

And this is when the feeling sinks in,
I don't wanna miss you like this,
Come back... be here, come back... be here.
I guess you're in London today,
I don't wanna need you this way,
Come back... be here, come back... be here.
This is falling in love in the cruelest way,
This is falling for you and you are worlds away.

Lirik lagu itu mengingatkanku padanya, pada setiap detik aku menjalani hari-hariku semenjak aku bertemu dengannya. Terasa menyebalkan. Aku baru menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya setelah beberapa lama. Setelah aku merasakan kehilangan yang membuat perasaanku tak nyaman. Dan bodohnya, aku bahkan tak menanyakan bagaimana aku bisa menghubunginya, tak meminta nomor teleponnya, atau apapun yang bisa memberiku informasi tentangnya. Aku hanya tahu nama panggilannya saja saat kami berkenalan.

Aku bertemu dengannya ketika aku sedang melakukan perjalanan ke Jakarta untuk mengunjungi seorang kawan. Saat itu aku tak tahu bahwa kelak aku akan merindukan hari itu. Kami duduk sebangku. Awalnya karena melihatku kesusahan menaruh tas di bagian atas tempat duduk kami, dia membantuku. Kami mulai mengobrol dan entah kenapa aku menyukainya. Mengobrol dengan orang asing kadang menyenangkan, apalagi jika kita memiliki ketertarikan yang sama tentang sesuatu dengan orang itu. Dia juga akan ke Jakarta untuk mengurus sesuatu di sana. Kemudian aku tahu bahwa beberapa hari lagi dia akan kembali ke Inggris, tepatnya di kota London untuk kuliah, setelah beberapa minggu berlibur di tempat asalnya, Surabaya. Mendengar kata ‘Inggris’, hatiku berteriak senang. What?? Inggris?! Tempat yang sangat-sangat ingin kudatangi, yang kutulis pada urutan pertama di bucket list-ku! Aku semakin tertarik mendengarkan ceritanya. Aku memperhatikan benar caranya bercerita, ekspresi wajahnya dan matanya yang berbinar penuh semangat. Tiba-tiba udara di sekitarku mulai menghangat, aku baru menyadarinya ketika beberapa hari sesudahnya kejadian itu kuingat-ingat. Hari-hari sesudah pertemuan itu aku merasa bahagia, rasanya berbunga-bunga seperti sedang jatuh cinta meski belum sadar sepenuhnya karena apa. Perasaan bahagia itu tak bertahan lama, karena semakin hari aku mengingat pertemuanku dengannya aku menjadi semakin ingin mengulangnya. Sedikit demi sedikit muncul harapan untuk bertemu dengannya lagi dan tak mungkin kuabaikan karena semakin hari rasanya menjadi semakin menyesakkan. Hidupku menjadi tak setenang sebelum aku bertemu dengannya. Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya lagi, mengobrol dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersamanya. Rasanya memang tak masuk akal, aku tahu, tapi bukankah cinta memang seperti itu?

Kupikir untuk apa merasakan jatuh cinta jika tak diungkapkan. Banyak orang berharap bisa jatuh cinta, dan aku beruntung bisa merasakannya sekarang. Orang-orang menunggu kesempatan seperti ini, saat dimana kita bertemu seseorang dan hati kita kemudian mengatakan, dialah orangnya, dialah yang kau cari selama ini. Lalu ketika hal yang aku tunggu-tunggu itu datang padaku, aku tahu aku tak boleh mengabaikannya. Aku tak boleh melewatkannya. Ya, aku harus memberitahunya. Aku harus mengejar cintaku, meski aku belum tahu apakah dia menyukaiku. Aku tak peduli, yang kutahu sekarang adalah aku harus melakukannya. Hatiku mengatakan aku harus pergi ke Inggris dan mengungkapkan semuanya. Aku tak tahu di sudut mana dia berada di kota London, tapi aku yakin akan menemukannya.

Dari dulu aku sangat ingin mengunjungi Inggris, aku ingin pergi ke tempat-tempat menakjubkan di sana yang seringkali hanya bisa aku nikmati melalui televisi atau internet. Aku tahu suatu hari, entah kapan, aku akan berada di sana. Dan sekarang aku tak percaya bahwa seseorang yang tak bisa seharipun kulewati tanpa memikirkannya juga ada di sana. Ini membuat keinginanku untuk mengunjungi Inggris semakin besar setiap harinya. Oh Tuhan, ini kebetulan atau apa? Kurasa aku mulai gila. Aku sudah membayangkan diriku berada di sana, di Inggris bersamanya. Kami menghabiskan hari-hari dengan berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat impianku di Inggris. Berjalan-jalan bersamanya menyusuri Trafalgar Square sambil saling bercerita dan tertawa-tawa bahagia. Kemudian berkeliling menggunakan classic London bus, bus tingkat berwarna merah yang menjadi salah satu ikon kota London, sambil menikmati fish and chips, makanan tradisional asli Inggris yang terbuat dari ikan dan kentang. Sebagai penikmat musik yang hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu The Beatles yang sampai sekarang musiknya tak pernah lekang dimakan jaman, tentu saja aku tak akan melewatkan untuk berkunjung ke The Beatles Story, museum yang berisi segala hal tentang The Beatles itu. Lalu tentu saja Old Trafford Stadium adalah salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi. Sebagai penggemar militan Manchester United, aku harus ke sana. Harus. Pasti akan sangat seru dan tentu saja semua itu akan lebih menyenangkan karena aku melakukannya bersama seseorang yang dapat membuatku merasa nyaman. Kemudian kami akan menghabiskan sore hari di tepi sungai Thames dan menikmati langit berwarna oranye saat matahari terbenam dengan latar Westminster Bridge dan Big Ben. Ah, romantis sekali… sampai tiba-tiba aku tersadar dari lamunan dan merasakan pedih, rasa sesak di dada muncul kembali. Dengan samar terdengar salah satu bait lagu berjudul ‘Real Love’ dari The Beatles dari music player-ku.

Thought I’d been in love before
But in my heart, I wanted more
Seems like all I really was doing
Was waiting for you

Oh yes, I waited all my life for a real love like this. Now I just have to reach and grab it. Inggris, tunggu kedatanganku!


* Tulisan ini saya buat dalam rangka mengikuti Blog Competition NGEMIL EKSIS PERGI KE INGGRIS #InggrisGratis dari Mister Potato.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar