Tampilkan postingan dengan label isi kepala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isi kepala. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2025

Daya Terisi Penuh

Hai Kamu!

Pernah ga kamu mengalami pagi yang menyenangkan? Pagi yang hadir saat kamu bangun tidur setelah pulang dari melakukan hal-hal seru yang kamu suka di hari sebelumnya.

Kamu tahu kan apa yang aku suka? Berjalan-jalan di hutan, hujan-hujanan, sambil mengobrol, dengan suasana yang menyenangkan, tentu saja bersama orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang kurang-lebih sama. Saat ini aku sedang merasakan pagi seperti itu, setelah lama tidak. Aduh, menyenangkan sekali! Hati dan pikiranku seperti berbunga, penuh dengan ide-ide seru dan harapan-harapan baik tentang hari esok.

Melakukan hal-hal yang kita suka terasa seperti mengisi daya dan aku baru saja mengisi dayaku hingga penuh. Aku berharap energi ini cukup untuk setidaknya satu bulan ke depan. Sekarang aku menulis ini karena merasa energiku sedang besar sehingga aku bingung harus mulai melakukan apa dan dari mana. Jadi kupikir menulis saja dulu tentang perasaan ini.

Pada saat-saat seperti ini hidup terasa akan berjalan dengan baik dan membahagiakan. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dan kesemuanya terasa menyenangkan. Meski sedikit bertanya-tanya tentang bagaimana jika aku mengacaukannya. Kebiasaan terlalu banyak berpikir memang sering kali datang disaat yang tidak tepat. Dasar aku! Padahal hanya perlu melakukannya sesuai rencana kan? Haha.

Ya sudah segini dulu tulisannya. Kamu jangan lupa hidup dengan baik dan jaga kesehatan ya!

Minggu, 28 Januari 2024

Hidup Baru yang Baik-Baik Saja, Semoga.

Aku sudah pindah lagi ke rumah baru. Rumah orang tuaku yang dibangun selama beberapa bulan. Aku ikut serta dalam prosesnya yang kulalui dengan perasaan babak belur. Lelah sekali. Entah bagaimana, tapi begitulah, aku tidak ingin menceritakannya secara penuh, karena terus terang saja aku sedikit trauma.

Ada persoalan-persoalan yang meskipun kau sudah berusaha mengatasinya dengan sederhana, tapi tetap saja beberapa hal rasanya terlalu rumit untuk diselesaikan meskipun akhirnya teratasi juga dengan "berdarah-darah". Begitulah jika kau berurusan dengan beberapa manusia dengan pikiran-pikirannya yang kadang "ajaib" dan sedikit merepotkan. 

Kami pindah sejak akhir Oktober 2023. Rumah ini lebih jauh dari pusat kota, tapi sejauh ini cukup nyaman. Aku selalu merasa keadaan ikut berubah setiap kali kami pindah. Bukan hanya rumah yang berbeda, suasana yang berbeda, tapi kehidupan juga menjadi berbeda. Aku menjalani kehidupan yang sama dengan situasi yang berbeda. Setiap hari yang kulalui tidak lagi sama. Seperti memasuki fase lain dalam kehidupan.

Seperti umumnya manusia ketika memasuki kehidupan yang baru, tentu saja aku punya banyak sekali rencana. Tapi jangan tanya apakah aku akan mewujudkannya atau tidak. Yang pasti aku sedang berusaha. Usahaku mungkin sangat kecil, tapi aku berusaha. Pelan. Sangat pelan. Jika kau melihatku, mungkin kau tidak akan sabar.

Aku tidak tahu kemana lagi kehidupan akan membawaku. Peristiwa-peristiwa apa lagi yang akan membentur dan membentukku. Aku harap aku masih punya jatah bahagia, atau setidaknya hidup yang baik-baik saja. Jika kau membaca ini, aku berharap yang sama untukmu juga.

Senin, 24 Oktober 2022

Kemarahan, Diskriminasi, dan Kebebalan

Aku jarang membicarakan tentang kemarahan. Seperti halnya kesedihan, atau kegembiraan, kemarahan juga perlu diakomodasi, agar tidak menjadi pemicu dan menjadi bentuk-bentuk keburukan lain yang mengganggu. Tentu saja, perasaan marah adalah suatu yang tidak nyaman, apalagi jika didiamkan begitu saja. Tapi kita juga tidak dapat melampiaskan kemarahan kepada sesuatu yang tidak seharusnya. Hal-hal yang mengacu pada perbuatan abusif hendaknya dihindari, karena tentu saja hal itu merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Kadang ketika kau bertemu orang-orang, berbincang dengan mereka, tidak bisa dihindari ketika tiba-tiba mereka mengatakan sesuatu atau memberi opini yang diskriminatif lalu membuatmu marah. Bukan, bukan karena kau tidak menyetujui perbedaan pendapat, tapi karena pola pikir mereka beracun dan berdampak buruk bagi rasa keadilan siapapun yang menjadi bagian dari masyarakat yang rentan dan seringkali terkena dampak buruknya.

Ada jenis orang-orang yang mengecilkan orang lain hanya untuk merasa lebih baik. Sebagian besar bahkan melakukannya tanpa sadar. Mereka barangkali merasa hal-hal semacam itu normal dilakukan. Memberi label kepada orang lain, menggeneralisasi dari jenis kelamin, tingkat pendidikan, atau status sosialnya, lalu mengejek hanya karena dirinya bukan bagian dari kelompok tersebut.

Orang-orang kebanyakan tidak memiliki kemampuan untuk berempati. Mereka bahkan tidak akan mengerti sebelum benar-benar mengalami, atau telah mengalami tapi menyangkal perasaannya sendiri. Mereka tidak memahami bahwa diskriminasi terjadi setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil. Mereka kadang menjadi korban, kadang menjadi pelaku, dengan atau tanpa mereka sadari. Tentu saja lingkungan semacam itu bukanlah tempat yang bagus bagi siapapun untuk menjalani hidup.

Rasanya bukan hal yang mudah untuk mengubah sesuatu yang telah dianggap normal dan telah tumbuh di masyarakat selama bertahun-tahun lamanya dan masih diwariskan secara turun temurun hingga kini. Kau tidak bisa lahir ke dunia ini dan tiba-tiba ingin mengubah tatanan yang ada—bahkan meski tatanan itu berdampak buruk bagi semua makhluk. Perlu usaha kolektif yang memerlukan waktu yang panjang dan melelahkan. Masalahnya tidak semua orang memiliki energi yang cukup besar untuk berhadapan dengan kebebalan.

Senin, 22 Agustus 2022

Hai Kamu

Hai!

Tentunya aku sedang menyapa pembaca blog ini, termasuk aku sendiri (atau mungkin malah aku satu-satunya pembaca? Hehe). Aku kadang suka membaca tulisanku sendiri. Ada beragam perasaan ketika membaca ulang tulisan-tulisanku. Kadang merasa aneh, merasa tulisanku tidak penting, merasa senang, atau bahkan takjub dengan tulisan-tulisan sendiri. Kadang menggumam dalam hati, “Bisa-bisanya aku menulis seperti ini?” atau “Ga jelas banget deh tulisan ini!”. Begitulah. Beberapa tulisan-tulisan di sini memang kebanyakan ekspresi perasaan, puisi-puisian, cerpen, prosa, atau surat yang ditujukan untuk seseorang yang tidak bisa dijangkau lagi keberadaannya. Untuk yang terakhir aku sebutkan, tidak ada dendam atau apapun ya, aku cuma ingin menuang kata-kata untuk mereka di sini.

Hari ini sebenarnya aku ingin menulis tentang kekecewaan (lagi). Semoga kamu ga bosan ya? Haha. Tapi kalau dipikir-pikir aku yang bosan sebenarnya. Bosan merasakannya. Bisa ga pas merasa bahagia, dijadiin permanen saja perasaannya? Pertanyaan barusan sebenarnya sudah ada jawabannya di tulisan-tulisan sebelum ini. Ya kadang aku memang suka menanyakan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya, sebagai bentuk mengomel ke diri sendiri. Hehe.

Aku ga jadi menulis tentang kekecewaan deh, mau ngobrol sama kamu aja boleh? Kamu apa kabar? Gimana suasana hatimu hari ini? Lagi ada masalah ga? Sini cerita biar aku ga merasa jadi satu-satunya orang yang punya masalah. Hehe. Eh tapi, kalau kamu lagi bahagia juga boleh cerita lho, siapa tahu aku juga ikutan bahagia.

Ngomong-ngomong, semua orang berpotensi melakukan hal yang mengecewakan sih, termasuk aku dan kamu. Tapi ada hal yang menentukan kekecewaan itu akan menjadi sesuatu yang menjauhkan atau mendekatkan tergantung bagaimana kita menanganinya. Entah disengaja atau tidak, kita bisa membuat orang lain kecewa. Keadaan barangkali bisa menjadi lebih baik, jika kedua pihak secara sadar ingin memperbaikinya. Jika tidak ya mau tidak mau kita harus berusaha memperbaiki suasana hati kita sendiri.

Sebenarnya kita bisa mencegah kekecewaan yang mungkin kita timbulkan kepada orang lain. Caranya dengan menjadi manusia yang bertanggung jawab, saling menghargai, punya empati yang tinggi, berperilaku yang tidak mengganggu dan merugikan. Kalau telanjur bersikap mengecewakan ya minta maaf dan berusaha tidak mengulangnya. Sederhana kan sebenarnya? Memang kadang yang membuatnya jadi rumit adalah ego kita sendiri. Aku pikir hal-hal dasar semacam itu harusnya diketahui semua orang, tapi kenyataannya banyak yang tidak tahu, atau tahu tapi tidak peduli. Menyebalkan memang. Kenapa orang-orang bisa hidup tenang dengan meninggalkan perasaan tidak nyaman kepada orang lain? Maaf aku mengomel lagi, haha.

Eh, kamu masih baca kan? Kan? Hehe. Maaf ya, padahal tadi aku meminta kamu bercerita, malah aku sendiri yang cerita. Tapi terima kasih lho kamu sudah mau membaca. Pokoknya kalau kamu mau cerita, cerita aja. Tapi kalau kamu bersikap mengecewakan dan tidak berusaha memperbaikinya, mungkin kita akan kembali menjadi orang asing. Mungkin. Kalau itu sampai terjadi, ya sudah, semoga kamu bisa hidup dengan lebih baik dan tidak mengulangnya ke orang lain lagi.

Sudah dulu ya, sampai ketemu lagi di lain kesempatan!

Rabu, 06 Mei 2020

Masa Terberat

Ada sebuah masa yang barangkali paling terasa berat sepanjang hidup di dunia. Mungkin perasaan sedih, cemas, takut, merasa tidak aman, ingin marah, yang dirasakan tidak pernah seperti sebelumnya. Rasanya semua perasaan tak mengenakkan itu berkumpul menjadi satu. Bayangkan, kau tidak bisa hidup dengan tenang, kehilangan selera makan, bahkan tidur yang seringkali bisa membuatmu bisa sejenak menghilang dari kenyataan, tidak dapat dengan mudah kau lakukan. Pada saat itu hampir setiap hari kau terbangun sekitar pukul tiga pagi, dan merasakan kepalamu pusing dan dadamu sakit sekali. Kau tidak bisa menikmati lagu, membaca buku, bercanda, atau mendaki dengan kawan-kawanmu. Semua hal yang biasanya bisa sedikit menghibur seketika lenyap. Kau menjadi lebih sering menangis, bahkan di siang hari. Lalu kau bertanya-tanya, "Apakah saking sedihnya manusia bisa mati?". Tapi kemudian kau menyesal telah berpikir seperti itu. Kau tahu bahwa kau masih bisa berjuang, atau setidaknya bertahan dengan harapan-harapan baik di masa depan.

Senin, 11 November 2019

Saya Kembali

Sebenarnya saya sedikit merasa bersalah karena lama meninggalkan blog ini, lama nggak nulis, eh pas balik tau-tau bahas soal kekecewaan lagi. Ya gimana ya, hidup manusia ya memang muternya di situ-situ aja. Maksudnya dengan kegiatan yang berganti-ganti, permasalahan datang dan pergi, yang dirasain ya muter aja, semacam siklus, kalo nggak sedih, kecewa, marah, bahagia, tenang, damai, dan sebagainya.

Jadi kenapa lama nggak nulis? Karena pikiran dan perasaan saya disibukkan dengan hal lain, dan memang mau fokus sama hal lain itu. Selain vakum nulis, saya juga lama nggak membaca. Tahun ini nggak membaca satu bukupun. Tahun kemarin terakhir kali membaca buku, kurang 200an halaman. Tenang, nanti saya lanjutin bacanya. Kenapa nggak selesai baca bukunya? Karena saya nggak mau perasaan yang saya rasakan saat itu terkontaminasi hal lain. Ceritanya saya ingin fokus menikmati perasaan saya itu, jadi saya berhenti melakukan hal lain.

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk berpikir positif kepada seseorang, memutuskan untuk mempercayai juga orang-orang lain, dengan harapan yang banyak. Padahal saya sudah memikirkan kemungkinan buruknya, tapi tetap saja sakit saat tau bahwa kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi. Lalu menyadari bahwa saya terlalu mentolerir sikap tidak menyenangkan darinya, padahal sudah terjadi beberapa kali. Barangkali ini yang namanya cinta buta, dan tuli. Hahaha, kalau saya sudah bisa menertawakan diri sendiri seperti sekarang, berarti sudah baik-baik saja.

Sebelumnya tentu saja sudah melalui fase menyalahkan diri sendiri karena itu adalah hal yang paling mudah dilakukan, seperti biasa. Sesungguhnya menyalahkan diri sendiri adalah hal yang paling menguras energi, tapi tetap dilakukan, karena seringnya memang terjadi secara otomatis. Saya juga berusaha menjaga jarak dengan orang-orang untuk memulihkan diri. Saya pikir cara itu membantu saya merasa lebih baik.

Harapan memang kadang membuat kita terbang melayang-layang, sampai akhirnya bertemu realita yang tidak pernah diharapkan tapi harus diterima. Sedih, jengkel, terus merasa perlu off dari beberapa hal yang berkaitan dengan perasaan. Rasanya lelah sekali, ingin berhenti sebentar saja. Saya sampai keluar dari beberapa grup pertemanan, saya bilang pada teman saya ingin recovery dulu.

Harapan memang kadang membuat kita jatuh, tapi kan katanya hidup tetap harus punya harapan agar tetap mempunyai sesuatu untuk dituju. Iya kan? Terus momen ini pas banget ketemu lagunya Kunto Aji yang berjudul Rehat. Tempo lagunya pelan, tapi memberi semangat. Terima kasih Mz Kun!

Selasa, 30 Mei 2017

Forgive Yourself, Be in Peace

Everything that has happened can’t be erased, can’t just disappear. Some may choose to leave, run, try to distance themselves from the problem (or something they thought the source of the problem). Perhaps it is true that you are apart of space and time with something you call the problem. But don’t you realize that from the beginning the problem is always with you? There in your head. Of course you know that human is given a mind, you can solve it if you want, but you choose to save it without doing anything. Thinking about it again when suddenly you remember it, then save it again without any effort to find a solution. Let it mold you into a useless, hopeless person. You can do better than that.

Apologize. Apologize to yourself. You didn't realize that you've made your body suffer for all your negative thoughts. Your body has to endure the pain of your excessive ego. Sorry. Is that hard to say this word to yourself? Are you so weak that you are easily defeated by something called Ego? Apologize to yourself, then forgive yourself, be in peace. Solve the problem, then be happy. You know how to be happy? It starts by not letting in too much of every problem. If it is still difficult, write something, express your feelings, or you can talk to someone.

Sabtu, 30 Juli 2016

Orang-Orang Menyebalkan

Mengapa banyak orang menyebalkan di dunia ini? Entah sejak kapan mereka ada. Apakah orang-orang zaman dulu juga menyebalkan? Atau hanya orang-orang di zaman ini?  Atau dulu mereka sedikit, kemudian berkembang biak menjadi banyak? Saya tidak tahu dan tidak (belum) ingin mencari tahu jawabannya. Yang pasti saya menyadari keberadaan orang-orang ini terutama semenjak saya sadar saya hidup sebagai manusia.

Barangkali di setiap zaman selalu ada orang-orang seperti ini, yang melakukan sesuatu yang mengganggu orang lain dengan sengaja atau tidak sengaja. Mereka ada di mana-mana, di jalanan, di mall, di pasar, di desa, di kota, di gunung, di pantai, bahkan di lingkup keluarga dan pertemanan kita.

Orang-orang menyebalkan itu melakukan hal-hal tidak menyenangkan yang mungkin tanpa mereka sadari itu mengganggu orang-orang disekitarnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka menyebalkan. Namun, ketidaktahuan selalu bisa dimaafkan, meski tetap saja itu menyebalkan. Barangkali dalam ketidaktahuan saya, saya juga menyebalkan.

Tapi dunia ini perlu keseimbangan. Selain orang-orang menyebalkan juga ada orang yang menyenangkan. Mereka ada agar kita lupa pada orang-orang menyebalkan itu. Mereka ada untuk memberi arti dalam hidup kita. Mereka ada untuk memberi tahu kita bahwa bumi tak sesuram itu. Mereka ada untuk membuat kita merasa lebih baik.

Saya tidak ingin menjadi orang yang menyebalkan. Saya mengamati orang-orang terutama orang-orang di sekitar saya, keluarga dan teman-teman saya, melihat apa yang mereka lakukan, mengetahui apa yang mengganggu mereka. Saya ingin mencegah kemungkinan saya membuat mereka sebal. Karena saya peduli, dan ingin tetap bersama mereka.

Untuk teman-teman atau siapapun yang membaca tulisan ini dan mengenal saya, tolong beri tahu saya jika saya melakukan hal-hal yang membuatmu sebal. Barangkali saya tidak menyadarinya dan menganggap apa yang saya lakukan itu baik-baik saja.

Rabu, 27 Juli 2016

Menghargai Sesama Manusia

Meski saya tidak suka dengan praktik-praktik patriarki, saya bukanlah seseorang yang mendukung praktik matriarki. Selama ini saya berusaha menghargai manusia, tanpa melihat latar belakangnya, jenis kelaminnya, pendidikan terakhirnya, sukunya, agamanya, pekerjaannya, fisiknya, merk sepatunya dan semua hal-hal lain yang kasat mata. Karena bagi saya, pada dasarnya menghargai sesama manusia itu wajib. Pada akhirnya, yang membedakan sikap kita pada manusia satu dengan yang lainnya adalah perilaku dan cara berpikirnya. Ketika bertemu orang baru, sudah sewajarnya kita menghargai, meski pada akhirnya penghargaan kita bisa menurun atau meningkat sesuai dengan bagaimana dia berperilaku. Tetapi meski perilakunya buruk, bukan berarti kita boleh merendahkan orang lain. Jika dia teman kita, mungkin kita bisa mengingatkan, namun jika tidak memungkinkan untuk diingatkan, lebih baik dihindari saja.

Saya sering mendengar bagaimana orang-orang menilai manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Bahwa perempuan selalu seperti 'ini' dan laki-laki sudah pasti seperti 'itu'. Mereka kerap kali melakukan generalisasi. Sesungguhnya saya malas membahas bagaimana orang-orang berdebat tentang siapa yang lebih hebat, perempuan atau laki-laki. Hal itu tak pernah membuat saya tertarik, karena justru menjadi jalan bagi dua kaum yang berdebat untuk menyombongkan diri. Entah kenapa, tapi mungkin saja mereka mendapat kebahagiaan dengan meninggikan diri sendiri dan merendahkan yang lain.

Saya bukan orang yang antusias terhadap perayaan-perayaan tentang perempuan, seperti hari ibu ataupun hari perempuan. Karena bagi saya rasanya tidak adil ketika banyak hari dijadikan peringatan untuk perempuan namun tak seharipun kita punya untuk memperingati laki-laki. Karena siapapun dia, mau perempuan atau laki-laki, pasti punya peran bagi diri sendiri, keluarganya, lingkungan sekitarnya maupun dalam lingkup yang lebih luas lagi. Tidak diperingati dengan segala puja-puji pun pada dasarnya mereka akan melakukan peran-peran yang memberi manfaat karena secara naluri, kita butuh mengaktualisasi diri dan ingin selalu berkembang untuk menjadi lebih baik sebagai manusia, perempuan maupun laki-laki.

Di tengah-tengah obrolan ketika sedang berdiskusi, bercanda atau membahas tentang permasalahan-permasalahan antar manusia, saya seringkali mendengar kalimat-kalimat ‘ejekan’ seperti “perempuan selalu benar” atau “perempuan suka dibohongi”. Terkadang ketika saya sedang berdiskusi tentang masalah tertentu bersama beberapa teman laki-laki, ketika kemudian mereka kalah argumen atau ketika mereka terlihat salah, mereka akan mengalihkan pembicaraan dan berkata semacam, “Hanya perempuan yang memikirkan masalah sepele seperti itu.” atau “Dasar wanita, suka banyak alasan!”. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya, seperti ketika para perempuan menganggap semua laki-laki sama, bahwa mereka brengsek, tukang bohong dan buaya darat, atau mengatai dengan kalimat "Dasar laki-laki! Mana ada kucing nolak ikan asin?!". Mereka sudah menyamakan laki-laki dengan binatang dan perempuan dengan bangkai hewan yang sudah diawetkan dan tidak bernyawa. Mereka sudah menggeneralisir perempuan dan laki-laki, juga tidak fokus pada permasalahan sebagai objek bahasan. Karena ego mereka yang tidak ingin terlihat salah atau kalah, mereka justru menunjukkan kualitas yang buruk sebagai manusia.

Tentu saya tidak keberatan jika ada yang mengatakan saya banyak alasan, jika memang saya membuat-buat alasan yang tidak masuk akal, atau jika saya secara sengaja atau tidak sengaja melakukan kesalahan, telah merugikan orang lain dan menyakiti perasaannya, saya akan mengakui dan meminta maaf. Tapi menyalahkan orang lain karena dia perempuan atau karena dia laki-laki adalah hal yang merendahkan dan justru semakin menunjukkan kebodohan. Karena semua manusia, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa melakukan hal buruk yang sama. Seharusnya manusia dilihat dari pribadinya, bukan dari label-label yang menempel padanya.

Mengapa ketika terjadi penindasan oleh laki-laki kepada perempuan seringkali orang-orang langsung sigap untuk membela, tapi tidak berlaku jika terjadi sebaliknya, perempuan menindas laki-laki? Sangat tidak adil. Bagi saya, siapapun yang mengalami penindasan perlu dibela, siapapun yang membutuhkan pertolongan perlu ditolong, tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan.

Rabu, 30 Maret 2016

Menikmati Kebersamaan

Mengapa kita tak bisa berteman dengan santai? Seharusnya kita terbuka untuk setiap pertemanan. Jika tujuan pertemanan berbeda tentu kita akan berpisah di persimpangan dan kembali melanjutkan perjalanan masing-masing. Bukankah cepat atau lambat kita memang akan berpisah? Entah atas keinginan sendiri atau memang dipaksa pisah oleh suatu kondisi. Jadi apa yang kita cemaskan? Selagi diberi waktu bersama, mengapa tak kita nikmati saja kebersamaan ini?

Jumat, 12 Februari 2016

Hari Pelukan

Pernah mendengar tentang Hari Pelukan? Saya baru mendengar beberapa tahun belakangan bahwa Hari Pelukan jatuh pada tanggal 12 Februari, itu artinya hari ini (sumber lain menyebutkan hari pelukan diperingati pada tanggal 21 Januari). Tentu saya senang karena 12 Februari adalah hari ulang tahun saya. Saya pikir, meski saya tak merayakan hari ulang tahun, dan terlepas dari penting atau tidaknya ada hari pelukan, saya senang jika hari ini ada lebih banyak orang berpelukan.

Secara psikologis pelukan memiliki banyak manfaat. Pelukan dapat memberikan rasa aman, tenang, bahagia, meningkatkan rasa percaya diri karena kita akan merasa dicintai dan meningkatkan empati. Pelukan juga mengajarkan kita tentang memberi dan menerima, bagaimana kasih sayang berjalan dari dua arah.

Pelukan pertama hari ini saya dapatkan dari Ibu saya. Tadi pagi dia mengucapkan selamat ulang tahun sambil mencium dan memeluk saya diiringi dengan do’a-do’a yang otomatis saya Aamiin-i semuanya. Saya senang, sekaligus sedih. Senang karena Ibu saya memperlihatkan rasa sayangnya kepada saya. Sedih saat dia berkata maaf karena tidak bisa memberikan apa-apa untuk saya. Padahal yang dia berikan selama ini sudah lebih dari cukup. Semua kasih sayang dan perhatiannya, dukungan penuh untuk cita-cita saya. Dia adalah orang yang selalu percaya dan yakin bahwa saya akan sukses dan menjadi orang yang berguna. Dia juga teman mengobrol yang asik. Kami sering berbicara tentang banyak hal, tentang keluarga, isu-isu sosial, musik, hingga politik. Yang membuat saya lebih sedih lagi adalah saat menyadari kenyataan bahwa saya belum mampu memberi banyak untuknya. Belum bisa membantunya menghilangkan kegelisahannya, kekhawatirannya terhadap banyak hal. Belum bisa memenuhi harapan-harapannya. Tapi saya berusaha agar dia selalu bahagia.

Ayah saya juga mengucapkan selamat ulang tahun tadi pagi sebelum saya berangkat bekerja. Dia mengucapkannya dengan cool, saya pikir dia tak suka jika harus mengucapkannya dengan manis. Sayapun menanggapinya juga dengan cool. Haha… tapi saya tahu, dia sayang saya, saya juga sayang dia. Kadang kita mengekspresikan rasa sayang yang sama dengan cara yang berbeda. Salah satu harapan Ayah saya adalah, dia ingin saya menikah. Baiklah. Saya hanya bisa berdo’a agar dia tak terlalu mencemaskan banyak hal dalam hidup. Sama seperti harapan saya untuk Ibu, saya ingin dia selalu bahagia.

Hari ini banyak keluarga dan teman-teman yang memeluk saya dengan ucapan-ucapan, harapan dan do’a. Kami saling mendo’akan. Saya senang mereka mengingat saya. Terima kasih. Saya sayang kalian.

Selamat Hari Pelukan!

Senin, 21 Desember 2015

Melakukan Apa yang Seharusnya Dilakukan

Saya lagi capek banget nih, nggak tau kenapa. Padahal tadi udah makan lho, nasi kuning, beli di I-Point. Nggak tau deh, lagi pengen makan nasi kuning aja. Dan di siang hari, saya nggak tau di mana beli nasi kuning, terus inget kalo di I-Point jualan nasi kuning juga. Sayangnya nggak ada lauk kering tempe dan telur dadar iris. Tapi tetep enak sih. Oke cukup bahas nasi kuningnya.

Jadi sebenernya saya lagi capek banget. Sama apa? Sama hidup mungkin. Jadi saya kan kemarin habis patah hati, terus udah sembuh, terus ya udah, balik lagi jadi tawar, nggak ada rasa apa-apa. Nah, pas nggak lagi jatuh cinta atau patah hati, saya jadi ngerasa hidup ini monoton aja. Tiap hari, bangun pagi, kerja, pulang sore agak malem, atau kalo ada ajakan nongkrong saya nongkrong dulu ampe malem terus pulang. Gitu terus. Jadi sebenarnya, jatuh cinta, patah hati atau banyak hal menyenangkan dan menyedihkan lainnya harusnya disyukuri, karena kalo itu nggak terjadi, hidup akan terasa sangat membosankan dan nggak berwarna.

Saya juga nggak tau nih kenapa saya jadi nggak ada semangat? Pada saat seperti ini saya jadi inget kalo banyak hal yang harus saya lakuin tapi belum saya lakuin, kayak cita-cita nulis buku dan bikin film dan banyak lagi sebenernya. Cuma ya itu, saya banyak alasan, dan lagi saya butuh banyak banget energi buat itu (iya saya tau, yang barusan itu juga alasan).

Atau jangan-jangan saya cuma kangen naik gunung. Terakhir kali naik gunung udah lama, dua bulan yang lalu, ke Gunung Lawu. Saya termasuk orang yang kecanduan naik gunung. Orang-orang yang nggak suka naik gunung mungkin heran atau nggak ngerti apa enaknya naik gunung. Tapi terserah mereka aja. Semoga mereka juga punya hobi sendiri dan bisa memaklumi ketika orang lain nggak ngerti hobi mereka.

Tapi mungkin aja saya ngerasa nggak semangat karena saya sering menunda-nunda sesuatu yang jadi keinginan saya. Biasanya sih gitu, karena menunda itu membuat orang jadi malas melakukan apapun. Padahal kalo dilakuin itu bisa bikin tenang hati dan pikiran. Jadi solusinya, sepertinya sekarang saya harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan, beberapa diantaranya yaitu mulai serius berusaha mewujudkan cita-cita saya. Selain itu, nggak lupa naik gunung setiap kali ada kesempatan. :)

Selasa, 27 Oktober 2015

Selasa Nelangsa


Hari ini saya sedang malas. Jika teman-teman saya mendengar saya berkata seperti itu pasti mereka akan berkomentar, “Bukannya kamu memang setiap hari sudah malas?”. Iya, memang hampir setiap hari saya malas. Saya ingat salah satu teman saya ada yang berkata, “Saya tahu kapan kamu tidak malas, yaitu ketika kamu sakit perut dan ingin buang air besar.”, saya hanya tertawa dan berkata, “Tentu saja! Itu adalah hal yang hampir tak mungkin ditahan.".

Saya termasuk orang yang moody, mood saya bisa berubah-ubah dalam hitungan detik. Saya bisa senang, sedih, marah, malas, melankolis dan bersemangat dalam satu hari. Tapi memang yang paling banyak dilihat oleh teman-teman saya adalah saya yang pemalas. Ah sudahlah, saya memang sedang malas hari ini. Hari ini suasana hati saya sedang didominasi oleh rasa malas. Itu artinya hari ini saya lebih malas dari hari-hari biasanya.

Kadang saya berpikir bahwa hidup saya berantakan sekali, dan tentu ada keinginan untuk merapikannya. Jika pikiran saya terasa penuh hingga mengganggu pekerjaan sehari-hari, baru terasa bahwa saya mempunyai masalah yang harus diselesaikan. Maka saya akan berusaha menyelesaikan masalah saya satu per satu. Tiba-tiba saya bisa bersemangat.

Tapi yang namanya permasalahan, tak semua bisa diselesaikan dengan mudah dan begitu saja. Kadang ketika faktor dari dalam diri kita sudah bersiap akan menyelesaikan masalah, ada saja faktor dari luar yang tak mendukung. Misalnya saja seperti orang-orang yang berhubungan langsung dengan pokok permasalahan tidak dapat meluangkan waktunya untuk membantu kita menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal yang kita tahu dia adalah satu-satunya orang yang dapat membantu. Tapi tentu kita tak mungkin memaksa. Kadang memang susah berhubungan dengan manusia. Kalau sudah begini rasanya jadi lemas, tak bersemangat lagi. Seperti sudah jauh berjalan di jalan yang kita yakini benar, tapi ternyata buntu. Melelahkan.

Lelah, tak ingin melakukan apapun. Rasanya tenaga langsung terkuras oleh harapan yang ternyata kosong. Saya menjadi lebih banyak diam, berpikir, dan sambil menunggu hati saya pulih, saya melakukan tugas-tugas saya dengan malas-malasan. Mirip seperti orang patah hati. Tentu saya akan bersemangat lagi, mencapai keinginan dan cita-cita saya lagi, tapi kan itu perlu waktu, dan ini adalah masa transisi. Eh, bukankah mood saya mudah berubah? Berarti ini tak akan lama. Akan selalu ada jalan. Tentu jalan yang kita pilih adalah yang baik dan tak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.

*Iya, saya tahu judulnya memang berlebihan, tulisan ini tak senelangsa itu. :p

Sabtu, 05 September 2015

Bunga-Bunga Berseri, Kupu-Kupu Menari-Nari

Ada sesuatu dalam diri kita
saling berkomunikasi
dalam bahasa
yang bahkan kita sendiri
tak mengerti.

Aku sudah lama
memutuskan untuk pergi.
Namun tanpa kuduga
kita bertemu lagi.

Seketika bunga-bunga bermekaran
saat senyummu mengembang,
membuat semua kupu-kupu
yang telah lama kubiarkan mati
hidup lagi.

Sesuatu dalam diri kita
kembali saling bicara,
dalam bahasa
yang entah apa.

Meski tak mengerti,
aku tak mampu
untuk tak peduli.
Malah membuatku menanti
hari di mana kita
akan bertemu lagi.

Akan kita buat
lebih banyak lagi
bunga-bunga berseri
dan kupu-kupu
menari-nari.


Semarang, 2015

Selasa, 25 November 2014

Waktu Singkat

Terakhir kita bertemu, aku menyesal waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya aku bisa memperlambatnya. Maksudku, aku bisa saja mencari alasan untuk bersamamu lebih lama. Harusnya aku mengajakmu menemaniku makan saat itu, karena sebelumnya perutku lapar sekali. Lagi pula langit sedang gerimis, pasti suasana akan terasa romantis. Tapi saat kita berjalan berdua di waktu yang singkat itu, aku tak ingat kalau aku sedang sangat lapar. Aku bahkan tak ingat untuk meminta nomor teleponmu. Aku juga tak memperhatikan ekspresi wajahmu. Rasanya aku tak peduli apapun saat itu, karena terlalu menikmati momen itu. Untuk sesaat aku lupa diri. Sampai saat aku menulis ini, waktu singkat itu sudah kuputar ulang berkali-kali.

Semarang, 2014

Di Pikiranku

Aku sering berpikir, membayangkan tanpa sengaja tiba-tiba bertemu denganmu di jalan saat kau sedang berjalan-jalan sendirian, lalu dengan spontan kita memutuskan untuk makan siang bersama. Sambil menunggu pesanan, kita akan mengobrol tentang banyak hal. Saat pesanan sudah datang, kita tetap mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan. Sampai tak terasa makanan kita sudah habis, kita tetap mengobrol, sambil tertawa-tawa bahagia. Senang sekali bertemu denganmu siang itu. Di Pikiranku.

Semarang, 2014

Rabu, 12 Februari 2014

Menjaga Hari Ini Tetap Istimewa



Tanggal 12 Februari adalah hari ulang tahun saya. Saya bukan termasuk orang yang suka berlebihan terhadap hari ulang tahun sih, tapi saya tetap ingin bahwa hari lahir saya tetap istimewa. Entah kenapa Facebook membuat Hari Ulang Tahun menjadi tak seistimewa dulu, mugkin karena semua orang yang berteman dengan kita di Facebook, kenal atau tidak kenal, dekat atau tidak dekat, semuanya mengucapkan selamat karena diberitahu oleh Facebook jika ada teman yang berulang tahun. Saya sendiri sudah beberapa tahun ini menyembunyikan tanggal lahir saya di Facebook, kenapa? karena saya ingin hari ulang tahun saya tetap istimewa. Beberapa teman mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya pada hari ulang tahun saya, bukan karena diingatkan oleh Facebook tapi karena mereka ingat. Rasanya lebih menyenangkan karena mereka ingat, atau bahkan jika mereka diingatkan oleh reminder ulang tahun di telepon selular mereka rasanya tetap saja menyenangkan karena mereka sendiri yang menyimpan dan memasang reminder itu. Untuk teman-teman yang tidak ingat, bukan masalah untuk saya dan tak berkurang sedikitpun perasaan sayang saya kepada mereka karena seperti yang saya bilang tadi, saya tak suka berlebihan terhadap hari ulang tahun. Dan tidak mengingat hari ulang tahun seorang teman tak berarti bukan teman yang baik. Bahwa mereka mau berteman dengan saya, itu sudah suatu hal yang harus disyukuri. Untuk semua teman yang sudah ingat dan peduli, terima kasih.

*make a wish*

Aamiin.


"Selamat Ulang Tahun, semoga hari ini selalu istimewa."