Mereka terus berkata padaku bahwa aku harus mencarimu tapi
tidak pernah memberitahuku di mana keberadaanmu. Kau tahu, tanpa mereka
menyuruhku pun aku tetap akan mencarimu. Ini semacam misi penting yang
diberikan kepadaku bahkan sebelum aku menyadari hidupku sebagai manusia,
mungkin jauh sebelum itu. Aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapapun.
Bercerita terlalu banyak kepada orang yang tidak benar-benar peduli hanya akan
mengacaukan suasana harimu. Mereka akan berkomentar sesuka hati dan tidak akan
pernah mau berusaha mengerti.
Aku menoleh ke arahmu yang memakai kaus berwarna ungu,
celana pendek berwarna kemiri, tanpa alas kaki. Kau masih tidak bergerak, masih
menatap matahari yang semakin lama semakin menyilaukan. “Apakah matamu tidak
sakit? Atau kau sedang menahannya?”. Barangkali kau sedang bersenang-senang
dalam kesunyian itu. Kesunyian yang belum tentu sepi, kesunyian yang mungkin ramai
dan hanya kau yang bisa mendengar keramaian itu. Aku kembali memalingkan
wajahku ke arah batang-batang pohon yang bergoyang perlahan mengikuti arah
angin. Aku bisa seharian diam dan menikmati suasana tenang semacam ini.
Angin dingin menyapu wajah dan seluruh tubuhku. Kabut tipis
turun perlahan menyelimuti seluruh permukaan bukit, menyamarkan rupa pohon berukuran
raksasa di hadapanku menjadi siluet berwarna abu-abu. Aku menyukai sekaligus
membenci hal-hal samar semacam itu. Aku bisa berlama-lama menikmatinya, namun
dalam waktu yang bersamaan, hal itu juga membuatku bertanya-tanya dan merasa bimbang saat jawaban dari rasa penasaranku tak juga kutemukan. Kadang kupikir
lebih baik aku melihat keseluruhannya atau tidak melihatnya sama sekali. Kuputuskan
untuk memejamkan mata. Seringkali aku merasa bisa melihat dengan lebih jelas
saat mataku terpejam.
Aku melihat pohon yang sama, hanya saja daun-daunnya
berwarna merah. Kulihat langit bagaikan kubah raksasa berwarna jingga. Mendadak
aku merasa hawa menjadi sangat panas. Kulihat tidak ada siapapun di tempat ini
kecuali aku. Aku duduk terdiam sambil terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana
aku bisa sampai di tempat aneh tapi tidak asing ini. Sebuah tangan
muncul di depan wajahku mengulurkan botol kecil berisi air. Sedikit mengagetkanku. Aku menoleh demi
mengetahui siapa sosok itu. Seorang laki-laki yang baru pertama kulihat tapi
rasanya sudah lama aku mengenalnya, tersenyum akrab. Setelah aku mengambil
botol itu dan meminum separuh isinya, laki-laki berkaus kuning itu berkata,
“Ayo pulang!”.
Saat aku membuka mata, kabut sudah menghilang. Aku menyadari
baru saja aku bermimpi. Aku ingat itu adalah mimpi yang sama yang pernah
kualami beberapa kali tahun-tahun belakangan ini. Aku sering
mengalami mimpi aneh saat tidur sehingga aku tidak pernah terlalu memikirkan
mimpi-mimpi itu sebelumnya karena kupikir itu adalah hal yang biasa. Setelah
benar-benar sadar dari tidur, aku melihat ke tempat di mana kau
duduk tadi. Tidak ada. Aku menyapu pandanganku mengelilingi bukit, kau tidak
ada di manapun. Aku terdiam sejenak. Kuputuskan bahwa aku tidak perlu mencarimu
lagi. Aku lelah dan ingin pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar