Halo?
Ya… sudah makan belum?
Belum, kenapa?
Aku di depan rumahmu. Kamu bisa ke sini?
Oke aku ke sana.
Di depan rumahku ada sebuah warung makan, Bakmi Surabaya. Sebelumnya
dia sudah dua kali memberitahuku bahwa dia sedang makan di situ tapi tidak kutemui
entah kenapa, dan ini adalah kali ketiga. Dia tidak pernah sejelas ini memintaku
datang untuk menemaninya. Setelah menutup telepon itu aku menghampirinya.
Kami berdua berbincang seperti biasa. Dia menyuruhku memesan
makanan, tapi aku hanya memesan es teh. Dia sedikit protes, tapi aku memang
sedang malas makan saat itu. Usai menghabiskan makanannya kami berpindah ke teras rumahku dan meneruskan
obrolan kami.
Dia sempat berbicara tentang hutangku yang belum kubayar. Beberapa waktu lalu aku memang pernah menjanjikan sesuatu padanya dan belum kulakukan. Dia bilang dia sudah
menghapuskannya. Dia sering berkata bahwa aku takperlu membayarnya,
tapi aku tentu saja tetap ingin membayarnya karena sudah berjanji, hanya belum menemukan waktu yang tepat saja.
Dia tidak benar-benar menghapuskannya karena dia buru-buru
meralat bahwa dia hanya menghapuskan setengahnya saja. Aku pikir percakapan tentang
hutang itu hanyalah caranya untuk mengingatkanku bahwa aku memang harus
membayarnya.
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar