Setelah mengisolasi diri beberapa
bulan belakangan ini karena kecewa pada banyak hal, saya pikir saya telah
kembali ke diri saya yang biasanya. Saya sempat merasa hampa alias tidak merasa
apa-apa, menjadi seperti seseorang yang tanpa gairah. Malas melakukan banyak
hal termasuk mengobrol dengan teman. Tetap makan, minum, mandi, kerja, tidur,
itu juga rasanya seperti robot yang telah diprogram, semua seperti otomatis
saja, tanpa rasa. Meskipun begitu, saya tetap berusaha ada ketika ada orang
lain yang memerlukan bantuan saya. Berusaha tidak egois dan hanya memikirkan
diri sendiri.
Sekarang saya kembali mengobrol dengan orang-orang, menyapa teman
lama, dan sebagainya. Saya kembali menikmati hidup, tidak lagi hanya mendengarkan
musik yang melankolis saja, tapi juga musik-musik favorit saya yang lain
seperti biasa, menonton film dan menjiwai jalan ceritanya, tertawa saat ada
yang lucu, menangis saat ada yang menyedihkan dan ikut merasa khawatir saat
tokoh di dalam film mengalami masa kritis dan sebagainya. Melegakan bahwa
perasaan saya kembali bekerja dengan baik.
Dari dulu saya selalu merasa membutuhkan teman meskipun saya bisa
menerima jika tak ada seorangpun yang menemani saya ketika saya membutuhkan.
Maka dari itu saya berusaha untuk selalu menghargai kebersamaan bersama teman,
karena itu adalah hal yang tidak dapat diulang, karena menurut saya semua hal
hanya terjadi satu kali. Di lain waktu semuanya akan berbeda, padahal lain
waktu itu juga belum tentu ada. Hal-hal yang direncanakan saja bisa batal
apalagi yang tidak.
Saya berusaha tidak melewatkan kebersamaan dengan teman-teman.
Jika ada ajakan bertemu sebisa mungkin saya datang, meski mungkin saya sedang
malas. Karena saya berpikir, ada waktu-waktu ketika saya butuh mereka padahal
mereka sedang ingin sendiri misalnya. Sedih juga ketika saya butuh teman tapi
tak satupun teman ada bersama saya. Karena itu saya tidak ingin membuat teman
saya merasa sedih jika saya tidak menemaninya ketika dia memerlukan kehadiran
saya. Hubungan yang baik perlu dipelihara, pertemuan perlu diusahakan.
Kadang kita hanya butuh satu teman yang pas. Satu teman di mana
kita bisa saling percaya, merasa nyaman setiap kali berbagi cerita dan mampu
mendengarkan tanpa menghakimi. Saya punya beberapa teman yang pas, tapi mereka
tidak selalu ada. Kadang ketika kita merasa butuh, yang kita butuhkan tidak
ada, dan sebaliknya. Hal semacam itu biasa terjadi karena memang bukan hanya
saya yang hidup dan mempunyai urusan di dunia ini, teman-teman saya pun. Saya
hanya berharap setidaknya ada satu saja teman yang pas yang sering (meski tidak
selalu) ada untuk saya dan sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar