Minggu, 30 Juli 2017

Dari Penantian Satu ke Penantian Lain

Awan Altocumulus yang saya foto di Kartasura 29 Juli 2017

Akhir pekan kemarin saya memutuskan untuk bepergian lagi. Tidak jauh, saya berkunjung ke tempat seorang teman di kota Klaten sekaligus mengembalikan sebuah benda yang saya pinjam dari teman saya yang lain yang juga tinggal di Klaten. Awalnya saya ragu untuk berangkat atau tidak, bisa kapan-kapan lagi pikir saya, tapi saya pikir lagi nanti di kesempatan lain barangkali saya, atau malah teman saya yang tak punya waktu. Lagi pula saya tidak ingin terlalu lama menyimpan barang yang saya pinjam. Akhirnya saya berangkat.

Hari sudah siang saat saya beranjak dari rumah, sekitar pukul satu. Saya tahu, perjalanan dengan angkutan umum bisa menghabiskan waktu lebih lama karena saya harus berpindah-pindah angkutan dan faktor lain seperti bus yang sering berhenti untuk penumpang lain yang akan turun atau naik, belum lagi saat angkutan tersebut melewati beberapa titik yang rawan kemacetan. Badan bus yang besar tentu tidak bisa lincah membelah jalanan yang padat merayap. Saya naik bus Jurusan Semarang-Solo. Kira-kira pukul dua, bus yang saya tumpangi mulai meninggalkan Semarang dan baru sampai di Kartasura pada pukul setengah lima.

Saya berjalan kaki dari tempat saya turun dari bus Semarang-Solo menuju ke tempat pemberhentian bus ke arah Yogyakarta. Memang tidak ada bus yang langsung ke arah Klaten dari Semarang. Saya senang berjalan kaki, terutama pada pagi dan sore hari. Berjalan kaki memungkinkan kita untuk melihat lebih jelas keadaan suatu daerah. Saya pikir ini juga salah satu alasan saya senang mendaki. Saya tidak banyak memiliki aktivitas berjalan kaki karena setiap hari saya mengendarai sepeda motor. Kadang saya sengaja berangkat kerja naik angkutan umum hanya agar bisa melakukan aktivitas berjalan kaki sambil menikmati suasana kota di pagi dan sore hari.

Saya menunggu bus Solo-Jogja sekitar satu jam lamanya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat menunggu, misalnya bermain ponsel seperti yang dilakukan oleh seorang laki-laki muda di sebelah kanan saya atau berjongkok sambil mengomel karena bus yang ditunggu tidak juga datang seperti yang dilakukan oleh perempuan muda di sebelah kiri saya. Tidak jauh dari situ ada seorang yang sedang mengobrol dengan teman yang mengantarnya, ada juga ibu-ibu yang menunggu dengan tenang. Saya memilih mengamati mereka semua sambil sesekali melihat ke arah langit dan berkali-kali mengarahkan mata saya ke kelokan di mana bus yang saya tunggu akan muncul.

Saya selalu senang melihat ke arah langit, selalu membuat saya merasa tenang. Tiba-tiba ada yang melintas di pikiran saya pada saat itu, tentang penantian. Bahwa barangkali hidup ini memang terdiri dari penantian-penantian. Kita selalu menanti sesuatu yang kita inginkan, atau sesuatu yang kita pikir akan datang. Kita semua sedang menanti sesuatu, meski tidak semua merasa sedang menanti. Ada yang menanti dengan cemas, ada yang menanti sambil melakukan sesuatu yang lain sehingga tidak terasa sedang menanti. Kira-kira lebih dari satu jam kemudian, bus yang kami tunggu akhirnya datang, orang-orang langsung menyerbu masuk ke dalam bus itu. Saya pun masuk dan mendapat tempat duduk kemudian melanjutkan perjalanan dan kembali melakukan aktivitas menanti di dalam bus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar