Aku hanya sedang
tak tahu apa yang kulakukan, aku bosan. Itu sesuatu yang wajar bukan? Di kepalaku
banyak pikiran yang berlalu lalang. Aku berbicara pada diriku sendiri. Mungkin kau
berpikir aku gila, tapi kalau iya memangnya kenapa? Aku kan tidak merugikan
siapa-siapa. Lagi pula, jika aku mengajakmu berbicara memangnya kau mau
mendengarkan?
Baiklah
aku mengaku, aku merindukanmu meski aku tak tahu kau ada di mana. Barangkali
percuma, tapi orang-orang bijak akan berkata, “semua pasti ada hikmahnya”. Aku
hanya merindukanmu, bukan menunggumu. Aku sudah bilang kan, aku sedang tidak
menunggu apapun atau siapapun. Aku benci harus merasakan hal seperti ini. Tapi
apa boleh buat, harus kuterima meski berat.
Sambil mendengarkan musik aku melihat ke langit-langit. Aku pikir mungkin
sudah waktunya aku pergi melihat langit yang sesungguhnya dari tempat yang
tenang dan damai, langit yang ketika malam penuh bintang dan siangnya berwarna biru
dan meneduhkan, kemudian di antaranya ada fajar dan senja yang menyimpan banyak
cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar