Jumat, 10 Februari 2017

Hidup dengan Pelan

#februaringeblogtiaphari | 10

Hidup saya berjalan lebih pelan dari pada kebanyakan orang. Namun ada kalanya saya bergerak lebih cepat ketika, 1. Terlambat menghadiri acara penting; 2. Saya tahu saya sedang ditunggu. Itu pun tetap jenis terburu-buru yang aman, tidak sampai hilang fokus apalagi ugal-ugalan. Selebihnya saya bergerak dengan santai, tidak terburu-buru. Kadang berhenti beberapa waktu, karena menyadari bahwa jeda itu perlu. Meski santai, saya tahu saat saya harus melakukan ini dan itu. Saya tahu saat saya harus terus berjalan atau berhenti, berbelok ke kanan atau ke kiri. Saya berusaha tak mengabaikan tanggung jawab saya.

Waktu bergerak dengan cepat, dunia berubah seperti dalam sekerjap mata. Apa yang hari ini menjadi sesuatu yang hits, di hari esok bisa menjadi sesuatu yang basi. Apa yang hari ini diagung-agungkan orang, esok bisa menjadi sesuatu yang tak ada harganya sama sekali. Masih ingat fenomena ikan lohan, tanaman gelombang cinta dan batu akik yang pernah dihargai ratusan juta itu? Sekarang bagaimana kabarnya? Fenomena-fenommena tersebut adalah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa waktu dapat dengan mudah membolak-balikkan keadaan. Sesuatu yang kita punya dan banggakan di depan orang-orang hari ini bisa jadi hilang dan tak berarti bagi mereka di kemudian hari. Ini juga merupakan salah satu bukti bahwa sesuatu yang mengalami kejayaan dalam proses yang terlalu cepat dan tergesa seringkali tak dapat bertahan lama.

Hidup saya berjalan lebih pelan jika dibandingkan teman-teman lain seusia saya. Entah mengapa tapi saya butuh waktu lebih lama untuk menerima bahwa sesuatu itu perlu. Saya merasa lebih menikmati hidup dengan berjalan pelan, merasakan embusan angin, melihat pohon-pohon menari dengan suara daun-daunnya yang bersentuhan satu sama lain. Bayangkan jika pemandangan seperti itu terjadi dengan pelan. Seperti yang sering kita lihat di film-film, adegan apapun dengan slow motion terasa lebih puitis. Entah itu adegan dua orang yang bertemu untuk pertama kalinya dan kelak saling jatuh cinta, adegan seorang jagoan berjalan pelan menjauhi ledakan besar yang ada di belakangnya, atau rumput yang bergoyang pelan tertiup angin. Bahkan saya percaya ketika seseorang memutar ulang kenangan dia akan melihat adegan di masa lalu dalam gerak lambat di dalam kepalanya. Mengapa? Karena kita mengingat setiap detail kenangan itu. Jadi, bergerak lebih pelan salah satunya adalah untuk merasakan suatu kejadian secara keseluruhan, mengambil pelajaran pada setiap detailnya, karena hidup adalah pengetahuan. Intinya meskipun hidup saya berjalan pelan, saya justru lebih menikmatinya dan yang penting saya yakin, saya selalu sampai ke titik di mana saya seharusnya berada, tepat pada waktunya. Tepat waktu untuk setiap orang kan berbeda, karena yang sedang kita jalani adalah kehidupan.

Karena saya tahu persis bahwa saya tak mungkin melawan ganasnya waktu, saya memilih untuk pelan saja. Karena secepat apapun kita, waktu terus berjalan dengan lebih cepat, tak pernah berhenti. Jika kita menghabiskan hidup hanya untuk berlomba dengan waktu, kita justru akan kehilangan makna. Kadang saya merasa terjebak di masa lalu atau bingung mencemaskan hari esok, sehingga mengabaikan hari ini, padahal saya tahu bahwa saya hidup pada hari ini, saat ini. Kadang juga saya lupa, hal-hal yang ada pada hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan saya di masa lalu. Pada akhirnya saya harus selalu ingat untuk berusaha melakukan hal yang benar hari ini, sehingga hari esok tak perlu dicemaskan lagi. Hidup dengan pelan, bisa jadi merupakan wujud rasa syukur pada setiap detik yang kita punya dalam hidup ini. Hidup dengan pelan membuat saya lebih tenang, mampu berpikir dengan jernih dan dapat meminimalisir kecemasan-kecemasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar