Barangkali
semut-semut itu sedang mencari rumah baru, kemudian menemukan sepatu saya
sebagai tempat yang nyaman. Sayangnya mereka tidak tahu kalau sepatu itu masih
saya pakai hampir setiap hari. Seharusnya mereka melakukan observasi dulu
sebelum memutuskan untuk pindah ke dalam sepatu. Jika mereka bisa bahasa
manusia, mereka bisa bertanya, “Hai Manusia, siapakah pemilik sepatu ini? Apakah
pemiliknya masih memakainya? Jika tidak, bolehkah kami memanfaatkannya sebagai
rumah kami?”. Tapi karena semut dan manusia tidak dapat berkomunikasi secara
verbal, mau tidak mau semut harus mengamati apakah calon rumah baru mereka
adalah tempat yang aman? Mungkin saja semut-semutnya sudah melakukan
pengamatan, tapi sayangnya terlalu cepat membuat kesimpulan. Kalau menurut saya
sendiri sebagai manusia, tinggal di dalam sepatu yang diletakkan di rak repatu
jelas tidak aman sama sekali. Tapi semut-semut menganggap bahwa sepatu yang
diletakkan semalaman adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat yang
aman.
Ada juga jenis
manusia yang seperti semut-semut itu, maksudnya jenis yang suka menganggap barang yang sedang diletakkan adalah sesuatu yang tidak berguna. Merasa menemukan sesuatu kemudian memutuskan untuk
memilikinya tanpa mencari informasi tentang sesuatu itu. Misalnya tetangga yang
mengambil begitu saja sesuatu yang diletakkan di pekarangan rumah, dia berpikir
sesuatu itu diletakkan di situ karena tidak dipakai sehingga dia merasa berhak
mengambilnya. Pernah juga ada kerabat yang melihat vespa di rumah jarang
dipakai sehingga menganggap itu adalah barang yang bisa diminta begitu saja
karena menurut dia sudah tidak dipakai, atau sepupu yang melihat di rumah saya
ada dua gitar sehingga dia ingin memiliki salah satunya. Maksud saya begini,
jika sesuatu itu diletakkan di area rumah, maka sudah pasti ada pemiliknya,
entah orang yang menghuni rumah tersebut, atau orang yang kenal dengan penghuni
rumah tersebut. Harusnya mereka tahu itu, mereka kan manusia, bukan semut.
Sesuatu yang diletakkan di pinggir jalan saja sudah pasti ada pemiliknya,
apalagi di rumah.
Mereka tentu
boleh mempunyai keinginan memiliki jika mereka tertarik, tentunya dengan terlebih dulu meminta izin
kepada pemiliknya. Mereka bisa berkomunikasi secara verbal. Apa susahnya
memulai dengan pertanyaan sopan seperti menanyakan siapa pemilik benda itu,
atau adakah rencana untuk menjual atau memberikannya kepada seseorang. Kalau
menurut saya jika sesuatu masih disimpan, artinya pemiliknya masih
membutuhkannya, baik secara fungsi maupun sebagai benda koleksi. Jika tidak
pasti benda itu sudah diberikan kepada orang lain atau dibuang ke tempat
sampah. Lagi pula jika masih disimpan meski tidak digunakan, siapa tahu karena
pemiliknya mempunyai kenangan khusus dengan benda itu. Jadi bukan berarti bisa
diambil atau diminta begitu saja.
Saya tidak bermaksud menyamakan manusia dengan
semut, tapi kejadian pagi ini mengenai semut dan sepatu jadi mengingatkan saya tentang
perilaku beberapa manusia. Tapi semut-semut tadi tidak bersalah, mereka hanya
berusaha mencari tempat yang aman untuk tinggal. Lagi pula, barangkali di dunia
ini semakin susah bagi semut-semut itu untuk mencari tempat berlindung yang
alami. Akhirnya tadi saya memutuskan menggunakan sepatu saya yang lain. Sepatu
yang sempat menjadi sarang semut itu saya bersihkan lalu saya jemur di
bawah sinar matahari. Sebelum pergi, saya menaruh kapur barus di beberapa sepatu saya
yang lain, sebagai tanda bahwa sepatu-sepatu itu ada pemiliknya agar komunitas
semut atau serangga-serangga lain tidak berpikir untuk menjadikan sepatu-sepatu
itu rumah mereka, sehingga mereka tidak perlu diusir secara paksa karena
kepanikan saya. Maaf ya semut-semut.
Pagi ini saya juga menemukan banyak semut di dalam sepatu saya saat sedang ingin mencuci nya. Mengejutkan sekali.
BalasHapus