Rabu, 06 Desember 2017

Semut-Semut di dalam Sepatu

Tadi pagi saya menemukan sepatu saya penuh dengan semut, lengkap dengan telur-telurnya, padahal sepatunya saya pakai juga kemarin dan semut-semut itu belum ada. Sepertinya mereka baru pindahan tadi malam. Saya baru menyadarinya saat sudah memakainya, serombongan semut berwarna coklat berukuran agak besar, keluar dari sepatu yang saya pakai. Dengan segera saya melepaskan sepatu saya, dan di kaus kaki saya sudah menempel telur-telur semut berwarna putih. Saat saya menumpahkan isi sepatu saya, di dalamnya lebih banyak lagi telur dan semut-semutnya. Bentuknya mirip semut rangrang tapi ukurannya lebih kecil dan warnanya lebih gelap.

Barangkali semut-semut itu sedang mencari rumah baru, kemudian menemukan sepatu saya sebagai tempat yang nyaman. Sayangnya mereka tidak tahu kalau sepatu itu masih saya pakai hampir setiap hari. Seharusnya mereka melakukan observasi dulu sebelum memutuskan untuk pindah ke dalam sepatu. Jika mereka bisa bahasa manusia, mereka bisa bertanya, “Hai Manusia, siapakah pemilik sepatu ini? Apakah pemiliknya masih memakainya? Jika tidak, bolehkah kami memanfaatkannya sebagai rumah kami?”. Tapi karena semut dan manusia tidak dapat berkomunikasi secara verbal, mau tidak mau semut harus mengamati apakah calon rumah baru mereka adalah tempat yang aman? Mungkin saja semut-semutnya sudah melakukan pengamatan, tapi sayangnya terlalu cepat membuat kesimpulan. Kalau menurut saya sendiri sebagai manusia, tinggal di dalam sepatu yang diletakkan di rak repatu jelas tidak aman sama sekali. Tapi semut-semut menganggap bahwa sepatu yang diletakkan semalaman adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat yang aman.

Ada juga jenis manusia yang seperti semut-semut itu, maksudnya jenis yang suka menganggap barang yang sedang diletakkan adalah sesuatu yang tidak berguna. Merasa menemukan sesuatu kemudian memutuskan untuk memilikinya tanpa mencari informasi tentang sesuatu itu. Misalnya tetangga yang mengambil begitu saja sesuatu yang diletakkan di pekarangan rumah, dia berpikir sesuatu itu diletakkan di situ karena tidak dipakai sehingga dia merasa berhak mengambilnya. Pernah juga ada kerabat yang melihat vespa di rumah jarang dipakai sehingga menganggap itu adalah barang yang bisa diminta begitu saja karena menurut dia sudah tidak dipakai, atau sepupu yang melihat di rumah saya ada dua gitar sehingga dia ingin memiliki salah satunya. Maksud saya begini, jika sesuatu itu diletakkan di area rumah, maka sudah pasti ada pemiliknya, entah orang yang menghuni rumah tersebut, atau orang yang kenal dengan penghuni rumah tersebut. Harusnya mereka tahu itu, mereka kan manusia, bukan semut. Sesuatu yang diletakkan di pinggir jalan saja sudah pasti ada pemiliknya, apalagi di rumah.

Mereka tentu boleh mempunyai keinginan memiliki jika mereka tertarik, tentunya dengan terlebih dulu meminta izin kepada pemiliknya. Mereka bisa berkomunikasi secara verbal. Apa susahnya memulai dengan pertanyaan sopan seperti menanyakan siapa pemilik benda itu, atau adakah rencana untuk menjual atau memberikannya kepada seseorang. Kalau menurut saya jika sesuatu masih disimpan, artinya pemiliknya masih membutuhkannya, baik secara fungsi maupun sebagai benda koleksi. Jika tidak pasti benda itu sudah diberikan kepada orang lain atau dibuang ke tempat sampah. Lagi pula jika masih disimpan meski tidak digunakan, siapa tahu karena pemiliknya mempunyai kenangan khusus dengan benda itu. Jadi bukan berarti bisa diambil atau diminta begitu saja.

Saya tidak bermaksud menyamakan manusia dengan semut, tapi kejadian pagi ini mengenai semut dan sepatu jadi mengingatkan saya tentang perilaku beberapa manusia. Tapi semut-semut tadi tidak bersalah, mereka hanya berusaha mencari tempat yang aman untuk tinggal. Lagi pula, barangkali di dunia ini semakin susah bagi semut-semut itu untuk mencari tempat berlindung yang alami. Akhirnya tadi saya memutuskan menggunakan sepatu saya yang lain. Sepatu yang sempat menjadi sarang semut itu saya bersihkan lalu saya jemur di bawah sinar matahari. Sebelum pergi, saya menaruh kapur barus di beberapa sepatu saya yang lain, sebagai tanda bahwa sepatu-sepatu itu ada pemiliknya agar komunitas semut atau serangga-serangga lain tidak berpikir untuk menjadikan sepatu-sepatu itu rumah mereka, sehingga mereka tidak perlu diusir secara paksa karena kepanikan saya. Maaf ya semut-semut.

1 komentar:

  1. Pagi ini saya juga menemukan banyak semut di dalam sepatu saya saat sedang ingin mencuci nya. Mengejutkan sekali.

    BalasHapus