Selasa, 20 Juni 2017

Menjelang Lebaran

Saya lagi bengong-bengong lucu di tempat kerja. Sebenarnya nggak lucu juga sih, soalnya nggak ada yang ketawa. Tiba-tiba saya ingat kalau bulan ini saya belum menulis di blog ini. Akhirnya saya mengetik dan menulis ini, tapi enaknya bahas apa ya? Hmm... berhubung sebentar lagi Lebaran, saya mau bahas yang ada hubungannya sama itu aja.

Beberapa hari menuju Lebaran biasanya saya menghindari tempat-tempat ramai. Jadi kalau nggak perlu-perlu banget ya saya nggak keluar rumah, di mana-mana ramai soalnya. Orang-orang dengan segala keperluannya memenuhi jalanan, pasar, mall. Pusing lihatnya. Tapi ya tetep aja ada saat di mana saya harus berada di keramaian itu. Misalnya pas pulang kerja di sore hari (belum libur soalnya), harus menjadi satu dengan banyak orang di jalanan yang lebih padat dari pada hari biasa, padahal hari biasa aja udah padat. Emang sih sore hari selama bulan Ramadan biasanya ramai banget, tapi pas mendekati Lebaran biasanya tambah ramai lagi. Meski menghindari keluar rumah, tapi saya nggak keberatan kalau ibu saya meminta tolong untuk diantar ke pasar atau ke supermarket untuk membeli bermacam kebutuhan selama libur Lebaran.

Kalau dipikir-pikir, saya juga udah lama nggak mengikuti tradisi membeli baju baru untuk Lebaran. Alasannya ya karena saya udah keseringan beli baju sampai menuh-menuhin lemari, ditambah lagi selalu ada baju-baju yang dibeli entah kapan tapi belum pernah dipakai. Kalau orang kayak saya sih aman soalnya baju-baju saya modelnya standart dan yang penting nyaman dan saya suka, jadi nggak mikirin soal ketinggalan zaman atau nggak ngetren lagi. Ditambah lagi, saya pengen mengurangi membeli sesuatu yang sebenernya nggak perlu. Kalau edisi Lebaran paling tinggal ditambah kerudung sederhana yang cuma ditempelin aja di kepala, kayak pake topi atau capuchon, simple dan nggak mengganggu mobilitas. Buat saya yang penting kenyamanan, dan nggak merugikan orang lain. Alasan lain nggak beli baju Lebaran ya karena males berdesakan sama orang-orang, belum lagi ngantre kasirnya.

Dulu setiap Lebaran, saya ikut ibu saya mudik ke kampung halamannya. Sejak kakek dan nenek saya meninggal, kadang-kadang kami masih mudik, tapi suasananya tentu saja nggak seindah dulu. Suasana Lebaran sekarang nggak seindah suasana Lebaran pas saya masih kecil dulu. Ada banyak faktor memang, beberapa diantaranya mungkin keadaan sosial yang sudah banyak berubah dan kondisi psikologis orang-orangnya, termasuk saya. Ya dunia memang selalu berubah sih, sesuatu yang dulu ada, sekarang nggak ada, dan sebaliknya. Saya yang sekarang semakin ngerasa nggak suka dengan ingar-bingar perayaan. Ya bagus sih ada perayaan semacam itu, bisa bertemu dengan keluarga di luar keluarga inti, saling beramah-tamah. Masalahnya saya suka nggak cocok sama gaya basa-basi mereka yang cenderung bikin nggak nyaman. Mungkin mereka pengen akrab, tapi topik yang mereka pilih sering nggak menarik sama sekali dan justru bikin saya pengen kabur. Rasanya jadi pengen pergi ke tempat tenang dan menyendiri saja.

Terus saya bengong lagi dong, nggak tau mau nulis apa lagi. Udah aja kayaknya. Selamat libur Lebaran ya, hati-hati di jalan buat yang mau mudik. Buat yang di hati, kapan kita piknik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar