Meski saya tidak suka dengan praktik-praktik patriarki, saya bukanlah seseorang yang mendukung praktik matriarki. Selama ini saya berusaha menghargai manusia, tanpa melihat latar belakangnya, jenis kelaminnya, pendidikan terakhirnya, sukunya, agamanya, pekerjaannya, fisiknya, merk sepatunya dan semua hal-hal lain yang kasat mata. Karena bagi saya, pada dasarnya menghargai sesama manusia itu wajib. Pada akhirnya, yang membedakan sikap kita pada manusia satu dengan yang lainnya adalah perilaku dan cara berpikirnya. Ketika bertemu orang baru, sudah sewajarnya kita menghargai, meski pada akhirnya penghargaan kita bisa menurun atau meningkat sesuai dengan bagaimana dia berperilaku. Tetapi meski perilakunya buruk, bukan berarti kita boleh merendahkan orang lain. Jika dia teman kita, mungkin kita bisa mengingatkan, namun jika tidak memungkinkan untuk diingatkan, lebih baik dihindari saja.
Saya sering mendengar bagaimana orang-orang menilai manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Bahwa perempuan selalu seperti 'ini' dan laki-laki sudah pasti seperti 'itu'. Mereka kerap kali melakukan generalisasi. Sesungguhnya saya malas membahas bagaimana orang-orang berdebat tentang siapa yang lebih hebat, perempuan atau laki-laki. Hal itu tak pernah membuat saya tertarik, karena justru menjadi jalan bagi dua kaum yang berdebat untuk menyombongkan diri. Entah kenapa, tapi mungkin saja mereka mendapat kebahagiaan dengan meninggikan diri sendiri dan merendahkan yang lain.
Saya bukan orang yang antusias terhadap perayaan-perayaan tentang perempuan, seperti hari ibu ataupun hari perempuan. Karena bagi saya rasanya tidak adil ketika banyak hari dijadikan peringatan untuk perempuan namun tak seharipun kita punya untuk memperingati laki-laki. Karena siapapun dia, mau perempuan atau laki-laki, pasti punya peran bagi diri sendiri, keluarganya, lingkungan sekitarnya maupun dalam lingkup yang lebih luas lagi. Tidak diperingati dengan segala puja-puji pun pada dasarnya mereka akan melakukan peran-peran yang memberi manfaat karena secara naluri, kita butuh mengaktualisasi diri dan ingin selalu berkembang untuk menjadi lebih baik sebagai manusia, perempuan maupun laki-laki.
Di tengah-tengah obrolan ketika sedang berdiskusi, bercanda atau membahas tentang permasalahan-permasalahan antar manusia, saya seringkali mendengar kalimat-kalimat ‘ejekan’ seperti “perempuan selalu benar” atau “perempuan suka dibohongi”. Terkadang ketika saya sedang berdiskusi tentang masalah tertentu bersama beberapa teman laki-laki, ketika kemudian mereka kalah argumen atau ketika mereka terlihat salah, mereka akan mengalihkan pembicaraan dan berkata semacam, “Hanya perempuan yang memikirkan masalah sepele seperti itu.” atau “Dasar wanita, suka banyak alasan!”. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya, seperti ketika para perempuan menganggap semua laki-laki sama, bahwa mereka brengsek, tukang bohong dan buaya darat, atau mengatai dengan kalimat "Dasar laki-laki! Mana ada kucing nolak ikan asin?!". Mereka sudah menyamakan laki-laki dengan binatang dan perempuan dengan bangkai hewan yang sudah diawetkan dan tidak bernyawa. Mereka sudah menggeneralisir perempuan dan laki-laki, juga tidak fokus pada permasalahan sebagai objek bahasan. Karena ego mereka yang tidak ingin terlihat salah atau kalah, mereka justru menunjukkan kualitas yang buruk sebagai manusia.
Tentu saya tidak keberatan jika ada yang mengatakan saya banyak alasan, jika memang saya membuat-buat alasan yang tidak masuk akal, atau jika saya secara sengaja atau tidak sengaja melakukan kesalahan, telah merugikan orang lain dan menyakiti perasaannya, saya akan mengakui dan meminta maaf. Tapi menyalahkan orang lain karena dia perempuan atau karena dia laki-laki adalah hal yang merendahkan dan justru semakin menunjukkan kebodohan. Karena semua manusia, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa melakukan hal buruk yang sama. Seharusnya manusia dilihat dari pribadinya, bukan dari label-label yang menempel padanya.
Mengapa ketika terjadi penindasan oleh laki-laki kepada perempuan seringkali orang-orang langsung sigap untuk membela, tapi tidak berlaku jika terjadi sebaliknya, perempuan menindas laki-laki? Sangat tidak adil. Bagi saya, siapapun yang mengalami penindasan perlu dibela, siapapun yang membutuhkan pertolongan perlu ditolong, tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan.
hendaklah kita menolong yang membutuhkan
BalasHapuskita menolong kaum yang lemah ..
---
Supplier Tas Batam