Suatu hari saya merasa suntuk di kantor, jadilah saya
jalan-jalan ke luar. Kalau bingung mau ke mana biasanya saya jalan ke toko buku
yang tidak jauh dari tempat saya bekerja. Lagi pula saat itu saya belum makan siang dan sedang
ingin makan gado-gado di belakang toko buku itu. Begitu memarkir motor, saya
langsung berjalan ke warung gado-gado itu dan memesan satu. Setelah beberapa saat, habis juga
gado-gado satu piring.
Selesai memberi makan perut, saya juga ingin memberi makan mata,
hati dan pikiran, dengan menjelajahi toko buku. Toko buku tersebut terdiri dari dua lantai. Di lantai satu saya
melihat-lihat tas, tempat minum, notebook dan beberapa pernak-pernik lainnya. Meski
hanya melihat-lihat, hal tersebut bisa membuat pikiran saya fresh dan seringkali dapat
memunculkan ide-ide baru untuk pekerjaan saya.
Setelah merasa cukup menjelajahi lantai satu saya naik ke lantai atas dan
mulai mengelilingi rak-rak buku dan memperhatikan buku-buku yang didisplay satu per satu.
Tentu saja ada beberapa buku yang menarik perhatian saya yang membuat
saya ingin membelinya. Setiap kali ke toko buku rasanya ingin memborong
banyak buku. Padahal di rumah, saya masih mempunyai beberapa buku yang belum saya
baca. Yah, namanya juga lapar mata (dan hati). Tentu saja saya menahan diri
untuk membeli buku-buku itu. Kenapa? Karena terlalu banyak yang ingin saya
beli. Kalau dipikir-pikir jika saya membeli semuanya, buku-buku itu juga tak
bisa saya baca sekaligus.
Barangkali itu salah satu yang sering menjadi masalah saya. Saya tidak ingin memilih satu diantara beberapa yang saya suka. Rasanya
saya harus mendapatkan semuanya atau tidak usah sama sekali. Di sisi lain saya
juga sadar bahwa kita tak bisa selalu memiliki semua yang kita inginkan
sekaligus. Padahal kalau mau bersabar saya bisa memilikinya satu per satu yang
kemudian pada akhirnya saya bisa memiliki semuanya. Hanya masalah waktu saja.
Tapi tetap saja, 'semua atau tidak sama sekali' itu masih sering saya terapkan di beberapa persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Harusnya bisa memilah-milah, mana persoalan yang harus diselesaikan tuntas dalam sekali waktu dan mana yang memang harus melalui proses yang panjang dan bertahap. Memang diperlukan keterampilan dalam me-manage keinginan-keinginan sendiri sehingga tak berlebihan pun tak kekurangan.
Tapi tetap saja, 'semua atau tidak sama sekali' itu masih sering saya terapkan di beberapa persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Harusnya bisa memilah-milah, mana persoalan yang harus diselesaikan tuntas dalam sekali waktu dan mana yang memang harus melalui proses yang panjang dan bertahap. Memang diperlukan keterampilan dalam me-manage keinginan-keinginan sendiri sehingga tak berlebihan pun tak kekurangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar