Selasa, 09 Februari 2016

Tentang Baper

Setuju nggak kalo istilah ‘baper’ booming banget tahun 2015 lalu mengalahkan istilah ‘galau’ yang sudah booming tahun-tahun sebelumnya? Kalau menurut KBBI, galau(a) berarti sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Namun dalam prakteknya kata galau mengalami penyempitan makna karena seringkali digunakan sebagai pengganti kacaunya pikiran karena patah hati, merindukan seseorang yang disukai, atau perasaan sedih karena jomlo. Pokoknya kata galau sering diidentikkan dengan kegelisahan tentang cinta.

Sedangkan ‘baper’ adalah akronim dari ‘bawa perasaan’. Penyebab baper tentunya karena seseorang mempunyai perasaan yang sensitif terhadap suatu hal. Dalam hal ini nggak jauh berbeda dengan kata galau yang sering digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kegelisahan dunia percintaan. Nah biasanya ketika kita sedang melihat atau mendengar sesuatu yang dapat mengingatkan kita tentang seseorang yang kita suka seperti gebetan, pacar atau mantan pacar yang seringkali membuat perasaan menjadi melankolis, kita akan menyebutnya sebagai ‘baper’.

Kemarin siang saya mengajak beberapa teman melalui multichat untuk menonton film di bioskop. Salah satu teman saya yang bernama Maulina menolak dengan alasan bahwa itu adalah film Indonesia yang berpotensi baper. Padahal setahu saya salah satu hobi teman saya itu adalah membaca buku-buku yang menurut saya berkali lipat lebih baper dari film-film yang saya sebutkan (semoga dia nggak marah waktu membaca tulisan ini :p). Akhirnya mulailah chat gaje (gak jelas) antara saya dan dia yang saling berbalas sajak bertema baper.

Saya            : “Sesungguhnya baper ada di apa yang terlihat matamu dan apa yang terdengar telingamu, di manapun, kapanpun.”

Maulina       : “Sesungguhnya rindu bukan diciptakan oleh jarak namun karena ia telah ada dan menetap di dalam kamu.”

Saya            : “Mungkin dia tak punya tempat mengungsi, kutampung saja sampai dia pergi sendiri. Mungkin baper itu perlu, siapa tahu aku bosan, dan bisa mulai dengan yang baru.”

Ya, sepertinya kami sedang kumat baper-nya. Kemudian topik obrolan kami berganti lagi dengan tema yang lain, kadang penting kadang nggak sama sekali. Tak perlu tema yang berat-berat, yang penting kami stay in touch, saling ada untuk satu sama lain dan semoga long lasting. Hidup baper!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar